Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Masih Berjuang


__ADS_3

"Kenapa, Reva?" tanya Rafa.


Sontak suara itu membuat Revalina langsung beralih pandang dan kembali membenarkan posisi duduknya.


"Itu tadi ada apa kok mobil di garisi police line, aku pikir ada kecelakaan," jawab Revalina mengungkapkan rasa penasarannya namun dalam konteks yang berbeda, padahal ia tahu jika mobil itu milik Akram.


"Tabrakan tunggal mungkin," tebak Rafa.


"Mungkin ya," sahut Revalina.


Beberapa lama kemudian akhirnya mereka tiba di rumah, ketika mobil terhenti tepat di depan garasi tiba-tiba jantung Revalina kembali berdegup kencang, tangannya gemetar ketakutan, ia benar-benar belum siap menghadapi Chesy sekarang.


"Ayo turun," ajak Rafa yang sudah melepas seatbeltnya.


"Kak, aku takut," rengek Revalina masih tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi padanya jika ia berhadapan dengan Chesy.


"Hadapi Reva, kau bisa. Aku ada di samping mu," ucap Rafa berusaha memberi semangat pada Revalina.


Tak hanya semangat Rafa dengan sigap membukakan pintu untuk Revalina, melihat hal itu Revalina tak bisa terus duduk diam di dalam mobil ia pun terpaksa keluar dengan langkah terseret-seret.


Setelah berhasil turun dari mobil Rafa langsung menyeretnya masuk ke dalam rumah.


"Sudah pulang anak itu," ucap seseorang dari belakang tepat ketika Revalina baru saja masuk ke dalam rumah.


Jantung bukan lagi berdegup kencang tapi hampir saja mau copot mendengar suara itu, darah seakan berhenti mengalir membuat dada terasa sangat sesak, yang ada di pikirannya hanya Chesy.


Tak mungkin terus membelakangi si pemilik suara perlahan Revalina mulai memberanikan diri untuk memutar badannya, perlahan demi perlahan dengan dibantu Rafa dan benar memang Chesy lah yang ada di belakang mereka, dia tengah duduk santai di ruang tamu, agaknya sejak tadi menunggu kedatangannya karena tak pernah sekalipun seorang Chesy duduk di ruang tamu sementara' tak ada tamu yang ditemuinya.


"Umi," panggi Revalina bergegas mencium tangan Chesy.


Beruntung Chesy membiarkan tangannya dicium, tak menepis tangan Revalina. Akan sangat hancur jika itu sampai terjadi padanya.


"Sudah berani kau menginjakkan kaki di rumah ini lagi?" tanya Chesy dengan nada ketus.


"Mi, jangan tanya seperti itu. Ini kan rumah Revalina juga," tegur Rafa sambil memegangi kedua lengan Revalina.


"Rumah dia dari mana, ini rumah hasil kerja Umi Abi mu dan hanya diwariskan untuk anak-anak yang baik bukan anak kriminal seperti dia," jelas Chesy mulai meninggikan nada bicaranya.


Seketika Revalina menelan saliva dengan kasar, seperti yang ia duga sebelumnya Chesy akan bersikap demikian. Sebagai seorang yang salah ia tak mungkin mengelak apalagi menentang ucapan Chesy, yang bisa ia lakukan sekarang hanya menunduk diam menerima semua amukan Chesy.


Tak lama Chesy mulai beranjak dari duduknya berjalan mendekati Revalina dengan wajah geramnya.


"Umi nggak pernah ajari kamu untuk berlaku kriminal seperti itu, entah dosa apa Umi selama ini sampai bisa punya anak seperti mu," ungkap kekecewaan Chesy.


"Maaf Umi," ucap Revalina lirih sedih.


Tak ada rasa sakit akan ucapan selain ini, saat ini ia begitu sakit mendengar penyesalan Chesy telah memiliki anak sepertinya yang ia tahu itu adalah puncak kemarahan orang tua. 


'Luapkan saja Umi, supaya tidak ada lagi amaarah yang tersisa di hati mu. Lalu setelah itu aku pengen peluk Umi lagi,' ucap Revalina dalam hati.


"Kenapa selama ini kamu nggak melibatkan Umi atau Kakak mu untuk hal seperti ini, kau mau cari pelaku pembunuh Rajani tapi kau lupa kalau kita adalah keluarga yang harusnya tahu satu sama lain, kau malah berjalan sendiri dengan pemikiran mu. Sejak awal Umi sudah bilang jangan terlalu dekat dengan Akram tapi kau tak mau dengar, sekarang lihatlah perasaaan Umi mu yang tak pernah salah," amuk Chesy dengan sorot mata menusuk.


Revalina terus menunduk, sangat amat takut menatap Chesy. Dalam hati ia mengakui semua yang dikatakan Chesy padanya tak ada sedikitpun bantahan, memang ia sudah sangat bersalah dalam hal apapun.


"Itu salah satu kekecewaan ku sama Umi, Reva. Andai kamu selalu melibatkan keluarga dalam hal apapun pasti kejadiannya nggak akan seperti ini. Kalau dibilang marah ya marah, kita juga kepengen tahu siapa pelakunya tapi semua dilakukan dengan cara yang halus dan sangat memikirkan bukti yang jelas bukan hanya sekedar ucapan orang bahwa orang ini salah orang itu salah," tegur Rafa di hadapan Chesy namun masih dengan nada bicaranya yang lembut, dia benar-benar tak mau memarahi Revalina dengan nada tinggi seolah masih menunjukkan takaran rasa sayangnya lebih besar dari apapun itu.


"Asal kau tahu, selama ini aku pun juga mencari pelaku itu tapi aku tak pernah mendapatkan bukti yang akurat, mungkin kau selangkah lebih maju dalam mendapati Dalsa adalah dalang dari semuanya tapi kau melakukan itu dengan sangat ceroboh tanpa pertimbangan yang matang, kalau pertimbangan mu sudah matang tak mungkin bisa salah sasaran," tegur Rafa kembali.


"Aishh, apapun itu Umi nggak suka kalian berdua cari-cari siapa palaku itu apalagi kamu Reva Umi sangat nggak suka. Bagi Umi menyerahkan kasus itu ke polisi adalah langkah yang paling tepat, jangan sia-siakan didikan Umi dan almarhum Abi mu selama ini," ucap Chesy dengan menentang dua aksi berbeda dari kedua anaknya.


"Sekarang coba pikirkan Kelakuan mu kemarin, yang katanya dendam pelampiasan dan yang katanya balasan buat pelaku. Cara mu itu nggak ada bedanya sama pelaku itu dan sekarang kau pun jadi pelaku Reva," amuk Chesy kembali.


"Mimpi apa Umi punya anak seperti mu," ucap Kekecewaan Chesy yang terdalam.


Blarrrrr.


Seketika jantung seakan tersambar petir di siang bolong, tak diduga kalimat ini akan keluar dari mulut seorang Ibu yang selama ini memperlakukannya dengan sangat baik bahkan terbilang memanjakannya.


Revalina langsung tersungkur di hadapan Chesy, berlutut di hadapannya sambil terus menunduk.


"Maafkan Reva Mi, maafkan Reva," ucap Revalina seribu kali telah meminta maaf pada Chesy.


Namun Chesy malah acuh, tak menggubris permintaan maaf Revalina dia justru sibuk memalingkan wajahnya. Sedangkan Rafa berusaha menarik Revalina untuk kembali berdiri.


"Reva, jangan seperti ini ati bangun," ajak Rafa dengan tutur kata lembut.


"Enggak Kak, aku mau dapat maaf dari Umi," sahut Revalina menepis tangan Rafa yang coba membangunkannya.


"Sekarang Umi mau tanya," ucap Chesy kembali bersuara.


Saat itu juga Rafa langsung melepas kedua tangannya membiarkan Revalina tetap berlutut dihadapan Chesy, sedangkan Revalina kini makin menunduk mengakui segala kesalahan yang sudah ia perbuat.


"Apa pernikahan mu dengan Rival itu bukan karena niat mu untuk menikah tai untuk balas dendam?" tanya Chesy dengan suara bergetar.


Pertanyaan ini tak sanggup Revalina jawab, ia takut kenyataan akan jawabannya bisa melukai hati Uminya untuk yang kesekian kali. Tapi jika berbohong pun tetap akan melukainya juga, akan sangat lucu jika ia menjawab bahwa menikahi Rival karena cinta.


"Jawab Reva, jangan ada yang kau tutupi kalau kau memang menginginkan maaf dari ku," bentak Chesy namun tak terlalu keras.


Revalina tertunduk lemas, perlahan menggeleng-gelengkan kepalanya. Sungguh ia tak sanggup menjawab pertanyaan Chesy kali ini.


"Jawab!" bentak Chesy untuk yang kesekian kalinya.


"Aku, aku," ucap Revalina terbata-bata.


"Aku menikahi Rival untuk melancarkan dendam ku," jawab Revalina lirih takut.

__ADS_1


"Astaghfirullahalazim, ya Allah Tuhan, ya Allah Tuhan," ucap Chesy lemas.


"Umi Umi," panggil Rafa panik


Mendengar kepanikan Rafa, lantas Revalina segera mengangkat kepalanya melihat apa yang sedang terjadi dan betapa terkejutnya ia melihat Chesy tak lemah tak sadarkan diri di pangkuan Rafa. 


"Umi," teriak histeris Revalina segera menghampiri Chesy.


"Astagfirullah ampuni aku ya Allah," ucap Chesy berulang-ulang.


"Reva, tolong minggir aku mau angkat Umi ke kamar," pinta Rafa.


Revalina langsung menepi membiarkan Rafa mengangkat tubuh Chesy, sementara itu ia berperan untuk menghubungi Dokter panggilan dalam benaknya terus ketakutan tak mau kehilangan orang tuanya untuk yang kedua kali.


Selama menunggu kedatangan Dokter, Revalina tak berhenti menggenggam tangan Chesy seraya meminta pertolongan pada Allah mengharapkan kesembuhan untuk Chesy.


Sedangkan Rafa sibuk mengompres kening Chesy yang sangat panas, sepetinya dari segala pengakuan yang ia katakan hanya pengakuan terakhir tadi yang membuat jiwa Chesy terguncang. 


"Maafkan Reva Mi, Reva menyesal," ucap Revalina sambil terus mengusap-usap tangan dingin Chesy.


"Tadi Dokter bilang apa Rev?" tanya Rafa dengan wajah paniknya.


"Dokter bilang kalau dia langsung kesini," jawab Revalina.


"Gimana Kak, Umi gimana?" tanya Revalina cemas.


"Masih panas, Kakak jadi takut," jawab Rafa sambil kembali sibuk mengompres kening Chesy.


Penasaran dengan kesibukan Rafa mengompres kening Chesy berulang kali, akhirnya Revalina mencoba sendiri dan ternyata ia menemukan hal aneh dimana sangking panasnya kening Chesy membuat kain kompres itu langsung berubah hangat, membuatnya harus kembali mencelupkan kompres itu kembali.


Sementara Rafa bolak-balik mengganti baskom air dengan yang baru.


"Umi jangan seperti ini, Reva takut," rengek Revalina.


Tak lama Dokter datang langsung memeriksakan kondisi Chesy lalu mengatakan bahwa kondisi psikis Chesy sangat menghawatirkan namun tak perlu membawanya ke rumah sakit berobat jalan pun cukup.


Mendengar hal itu rasanya hati Revalina kembali terpatahkan, remuk hancur sehancur-hancurnya. Chesy seperti ini karenanya dan semua memang salahnya.


"Kak," panggil Revalina sedih mendengarkan semua penuturan Dokter.


Beruntung, Rafa dengan sigap merangkul sang adik dengan usapan lembut di punggungnya berharap Reva bisa tenang menghadapi ini.


"Baik Dok, terimakasih setelah ini saya akan tebus resep obat ini," ucap Rafa lalu berakhir mengantarkannya sampai ke depan rumah.


Perlahan mobil Dokter mulai pergi dari pekarangan rumah mereka, saat itu juga Rafa mulai melepas rangkulannya.


"Reva, kamu jaga Umi ya biar aku yang pergi tebus obatnya," pamit Rafa pada Revalina.


"Iya Kak, hati-hati," sahut Revalina sedih.


Rafa pun bergegas pergi dengan menaiki motor kesayangannya, saat hendak kakinya bergerak kembali masuk ke dalam rumah tiba-tiba tak sengaja ia melihat ada seseorang dari balik bonsai beringin milik Chesy yang terletak tepat di pinggiran jalan.


Perlahan langkahnya mulai tergerak untuk mendekatinya, perlahan namun pasti tapi tiba-tiba orang itu berlari sekencang-kencangnya agaknya tahu pergerakan Revalina saat ini. Melihat hal itu sontak Revalina panik langsung berlari keluar dari pekarangan rumahnya.


"Yah, ketinggalan jejak," ucap kecewa Revalina.


Tak lama sekujur tubuhnya mendadak merinding ketika kemungkinan-kemungkinan akan siapa orang itu terlintas di kepalanya.


"Jadi takut di sini ada maling atau orang jahat, aku harus masuk ke dalam rumah dan kunci semua pintu," ucap Revalina bergegas masuk ke dalam rumah.


Di dalam rumah Revalina dengan paniknya mengunci semua pintu dan jendela, lalu berlari ke belakang untuk mengunci pintu belakang pula. Tak hanya itu garasi dan seluruh pintu di lantai satu maupun lantai dua juga ia kunci lalu berakhir pada cek berkala.


"Nafas Revalina terengah-engah setelah selesai menutup pintu terakhir yang ada di lantai atas.


"Tak akan ku biarkan maling masuk rumah ini," ucap Revalina dengan nada kesal.


Padahal sebenarnya ia tengah dilanda ketakutan yang luar biasa mengingat tak ada Rafa di rumah, dua wanita lemah di rumah ini bisa apa.


"Ting ting ting ting," dering telfon berbunyi.


Dengan cepat Revalina mengeluarkan ponsel dari saku celananya, terlihat nama kontak Mbak Sarah tengah menghubunginya.


"Pasti Mbak Sarah mau kasih kabar tentang Mas Rival," tebal Revalina.


Cepat-cepat mengangkat telfon itu.


Revalina: hallo, assalamualaikum.


Sarah: waalaikumsalam.


Revalina: ada apa Mbak, apa semua baik-baik saja?


Sarah: Alhamdulillah baik, Mbak cuma mau kasih kabar kalau Rival sudah mau makan dan sekarang dia sedang tidur di kamarnya.


Revalina: Alhamdulillah, syukur kalau begitu aku ikut senang.


Revalina: kalau kakinya gimana Mbak?


Sarah: masih seperti yang kamu lihat tadi, dia masih belum bisa di gerakkan. Sabar Reva, Allah pasti menolong Rival dan menolong pernikahan mu.


Revalina: terimakasih atas doanya Mbak, aku harap Rival cepat sembuh. Sudah itu saja aku nggak mau yang lain.


Setelah berbincang cukup panjang dan berujung saling mendoakan kini Revalina mulai memberanikan diri untuk bercerita dengan Sarah tentang apa yang terjadi hari ini.


Revalina: Mbak, aku mau cerita.

__ADS_1


Sarah: iya, cerita apa?


Sarah bertanya dengan penuh antusias.


Revalina: Umi tadi pingsan Mbak, sakit gara-gara Reva.


Sarah: sakit, sakit kenapa?


Revalina: gara-gara Reva pulang dan mengakui semuanya jadi Umi shock, Umi sedih punya anak seperti Reva.


Sarah: ya Allah, kamu yang sabar Reva. Minta maaf sama Umi mu, Mbak doakan dari sini semoga Umi mu cepat sembuh.


Revalina: Terimakasih Mbak Sarah.


Beberapa lama kemudian mereka akhirnya mengakhiri perbincangan melalui telfon, setelah itu ia bergegas turun ke lantai bawah menuju ke kamar Chesy.


Terlihat Chesy masih tertidur, perlahan Revalina kembali masuk ke dalam dan mulai menarik selimut sampai ke dada Chesy.


"Maafkan aku ya Umi, cepat sembuh ya," bisik Revalina berujung mendaratkan kecupan tepat di kening Chesy.


Rasa sesak kembali menyerang dadanya, tak sanggup rasanya melihat Umi yang melahirkannya, yang membesarkannya kini terbaring sakit karenanya.


Setelah memastikan Chesy aman di kamarnya, Revalina beralih ke kamar pribadinya yang tak ia tengok beberapa hari. Ia sangat rindu dengan kamar yang menemaninya dari kecil sekaligus jadi saksi bisu perjalanan hidupnya.


Perlahan langkah kaki menyusuri ruang kamar sambil mengusap lembut dinding-dinding yang menyaksikan jutaan air mata yang telah ia tumpahkan di setiap malam.


Revalina tersungkur ke lantai, menunduk, menangis, meraung. Kembali meluapkan kesedihannya.


"Aku menyesal Tuhan, aku sudah lalai, aku mengabaikan petunjuk-petunjuk mu selama ini. Beri aku kesempatan Tuhan untuk memperbaiki kerusakan yang sudah ku perbuat," ucap Revalina.


Satu hari yang begitu menyiksa Revalina lalui dengan hati yang lapang, sesekali Rafa datang membawakan makanan untuknya. Meski semua sia-sia,  tak punya daya dan nafsu untuk menyantap makanan itu sejak kepulangan Rafa dari apotek dan merasa Chesy lebih aman di tangannya,  ia pun terus berada di atas sajadah sampai sekarang.


Dalam sujud memohon ampun pada Tuhan atas segala perbuatan keji yang sudah ia lakukan pada Rival juga imbas dari perbuatannya yang telah melukai banyak orang. 


Hati serasa tersungkur ke tempat yang paling bawah, ia begitu menyesali perbuatannya dan kembali menangisi dosa-dosanya. Tak terasa ketika bersujud matanya mulai mengantuk, sekuat tenaga ia tahan namun terus mengantuk.


***


"Reva, bangun Reva," panggil Rafa terdengar samar-samar terdengar.


Perlahan Revalina membuka kedua matanya, terlihat Rafa berada disampingnya tengah membangunkan dirinya.


"Kak Rafa," panggil Revalina lirih dengan nyawa yang belum sepenuhnya terkumpul.


"Bangun," ucap Rafa.


"Emhhh," desah Revalina menggeliat.


Rafa mulai beranjak sambil terus memandangi Revalina, tak lama netranya berpindah memandang ke arah ranjang.


"Kamu semalaman tidur di bawah?" tanya Rafa sedih.


"Ketiduran kak," jawab Revalina berharap Rafa tak khawatir dengannya.


Netra Rafa terpaku menatap Revalina, berulang kali menghembuskan nafas berat seakan tak tega melihat Revalina semalaman tidur di bawah lantai.


"Aku kesiangan ya bangunnya, Umi gimana Kak sudah sarapan belum?" tanya Revalina cepat-cepat membuka mukenanya, melipatnya lalu meletakkannya ke atas meja secara asal.


"Belum, aku mana bisa masak," jawab Rafa.


Mendengar hal itu Revalina bergegas menuju dapur, mengeluarkan bahan-bahan masakan yang ada di kulkasnya. Tak lama ia teringat dengan sup buatannya yang sangat disukai Chesy.


"Aku tahu harus masak apa," gumam Revalina.


Ia mulai bertarung di dapur memasak dengan rasa cinta, sesuai dengan ucapan Chesy padanya waktu itu jika memasak apapun itu akan terasa lebih enak jika dimasak dengan rasa cinta.


Dari laci dapur ia mulai mengeluarkan satu rantang, dan satu mangkuk kecil. Di saat yang bersamaan Rafa datang sambil membawa resep obat.


"Reva, kalau anjuran obat itu satu kali minum dalam sehari itu di minum pagi atau malam?" tanya Rafa sambil menunjuk obat itu pada Revalina.


"Mana, coba lihat obatnya," Revalina mulai meminta obat itu dari tangan Rafa.


Setelah melihat obatnya Revalina langsung tahu kapan seharunya obay itu diminum.


"Oh, ini diminum pagi Kak," ujar Revalina sambil mengembalikan tablet obat itu ke tangan Rafa.


Rafa mengangguk sambil memandangi obat itu. "Oh."


Tak lama Rafa mulai memperhatikan kesibukan Revalina sekarang, perlahan beralih posisi dengan berdiri di sebelah Revalina.


"Ini kau mau masak apa?" tanya Rafa penasaran.


"Masak sup daging sama sayur," jawab Revalina dengan cerianya.


"Terus kenapa ada rantang di sini?" tanya Rafa yang salah fokus dengan rantang yang ada di atas meja.


Reflek Revalina ikut melirik ke arah rantang itu padahal ia tahu sebab dirinya lah yang meletakkan rantang itu di sana.


"Oh itu, aku mau bawakan buat Mas Rival," jawab Revalina sambil terus tersenyum, enggan menunjukkan kesedihannya pada Rafa.


Meski begitu hati seorang saudara tetap memiliki koneksi rasa yang sama, satu sakit yang satunya lagi pun ikut merasakan sakit begitu pun sebaliknya.


"Nanti aku antar ya," ucap Rafa dengan nada lirih, sedih.


"Nggak perlu, Kakak jaga Umi saja di rumah. Kasihan kalau Umi sendirian," sahut Revalina.

__ADS_1


Pagi itu setelah Revalina menyuapi Chesy, ia langsung bergegas menuju ke rumah Candini untuk mengantarkan serantang sarapan untuk Rival.


Bersambung


__ADS_2