
POV Dalsa
Di dalam kamar kos, Dalsa sudah bersama dengan Candini yang tengah berkabar dengan Rival. Sejak siang tadi mereka berada di kamar kos bercerita banyak tentang lika-liku hidup sebagai buronan, sembari bercerita Candini memesankan banyak makanan dan minuman untuknya.
Sembari menunggu Candini memberi kabar pada Rival, Dalsa melanjutkan santapannya mengambil makanan ini itu tanpa memikirkan sisa untuk nanti atau besok lagi.
"Syukurlah Rival mau mengerti, tapi Mama harus pulang sebelum jam sepuluh," ucap Candini pada Dalsa sesaat setelah menutup telfonnya.
"Yah, padahal aku masih kangen sama Mama," ucap Dalsa sedih.
Perlahan usapan lembut tangan Candini mendarat di kepala Dalsa, dia pun nampak sedih melihat dirinya sedih.
"Mama juga masih kangen sama anak kesayangan Mama ini, tapi mau gimana lagi," sahut Candini.
"Mama tahu kamu salah sayang, tapi bukan berarti kamu dapat hukuman penjara. Mama nggak rela anak Mama di penjara," ujar Candini kembali.
"Emm, terimakasih ya Ma. Mama selalu melindungiku," sahut Dalsa meleleh mendengar ucapan Candini.
Ia langsung memeluk erat tubuh Ibu tiga anak itu, menikmati setiap detik berada di dalam dekapan hangatnya sebelum ia tak lagi bisa merasakan dekapan itu setiap saat.
"Mama akan sering-sering kesini bawakan makan untuk mu, tapi untuk sementara waktu Mama kasih uang dulu," ucap Candini sembari terus mrmrblai rambut Dalsa.
Perlahan Dalsa mulai melepas pelukannya bersamaan dengan Candini yang ikut melepaskan pelukannya pula.
"Tapi bukan masakannya Revalina kan Ma?" tanya Dalsa khawatir.
"Bukan, di rumah yang selalu masak itu Sarah," jawab Candini sembari tersenyum.
"Oh syukurlah kalau begitu," sahut Dalsa lega mendengar jawaban Candini.
Namun tak lama otak Dalsa kembali jernih, reflek langsung mencerna kembali jawaban Candini yang rasanya terdapat kejanggalan mengingat Yakub sudah memiliki rumah sendiri.
"Loh, kenapa Mbak Sarah yang masak Ma. Memangnya dia sama Kak Yakub sekarang tinggal di rumah Mama?" tanya Dalsa kebingungan.
"Enggak, Saraf datang cuma pagi sampai sore tapi kalau Yakub lagi libur kerja baru menginap di rumah," jawab Candini dengan jelas.
__ADS_1
Jelas bagi Candini namun tetap tak jelas bagi Dalsa, ia masih belum paham dengan jawaban itu. Lebih tak paham lagi dengan fungsi Revalina di rumah itu.
"Kenapa Mbak Sarah jadi repot bolak-balik ke rumah Mama, masak pula. Memangnya Reva ngapain?" tanya Dalsa denfan nada sengit.
Entah kenapa setiap kali mengingat apalagi menyebut namanya saja emosiny mendadak membumbung tinggi, teringat betapa liciknya Revalina dan keluarganya.
"Semenjak Reva kerja, Sarah jadi masak di rumah sama temani Mama di rumah. Rival tetap dia yang urus, dia bawa ke kantor," jawab Candini dengan jelas.
Meski terdengar Revalina terpontang-panting mengurus Rival dan bekerja akan tetapi tetap saja ada celah buruk bagi orang-orang yang tak menyukai termasuk dirinya saat ini yang merasa Revalina tak pantas bersanding dengan Kakaknya yang baginya perfect itu.
"Kasihan Kak Rival harus di bawa-bawa ke kantor padahal dia lagi sakit, Reva apa nggak mikir kesehatan suaminya. Kenapa dia memikirkan egonya sendiri," gumam Dalsa kesal.
Ia kesal membayangkan bagaimana lelahnya Rival ikut Revalina ke kantor dari pagi sampai sore, bahkan kabarnya orang yang bekerja di kantor sering lembur sampai malam.
"Ya begitulah, Mama mau larang juga nggak mampu. Kakak mu itu terlanjur jatuh cinta setengah mati kalau nggak di tunggu Reva dia nggak mau makan dan nggak mau minum obat," ujar Candini ikut mencela anak dan menantunya.
"Pasti dia pakai pelet makanya Kak Rival bisa secinta itu, kalau aku jadi dia sudah aku penjarakan si Reva itu," ucap Dalsa makin kesal.
Tiba-tiba Candini terdiam, menatap Dalsa dengan kedua matanya tak tak berkedip. Entah apa yang ada di dalam pikirkannya sekarang Dalsa hanya bisa menunggu Candini kembali bersuara.
'Apa aku salah bicara ya sampai Mama diam begini,' ucap Dalsa dalam hatinya bertanya-tanya.
"Aku tak menyangka kita ternyata sefrekuensi juga ya, aku sempat bicarakan hal itu sama Yakub. Aku ingin daftarkan laporan buat Reva yang sudah celakai Rival tapi sama Kakak mu Yakub itu di larang keras sampai kita berdebat hebat," ujar Candini sembari terus menatao Dalsa.
Mendengar Candini yang merasa sefrekuensi dengannya membuatnya sedikit terkejut dan tersadar akan hal itu, sedangkan untuk mendengar bahwa Yakub melarang Candini untuk membuat daftar laporan ke polisi unttk Revalina, ia tak terkejut lagi.
Sejak mengetahui kerasnya Yakub saat itu dengan alasan untuk mendidiknya, memberi pelajaran padanya. Ia jadi tahu jika Yakub tak pernah berada di pihaknya.
Apalagi Rival, lebih parah lagi. Dia yang sudah mengusirnya dan sepetinya mendukung pelaporan yang dilakukan Rafa ke polisi sehingga membuatnya menjadi buronan sekarang.
"Kak Yakub memang tegas orangnya, tapi ketegasannya kali ini kelewat batas dia nggak bisa membedakan mana adik kandung dan mana adik ipar. Sama seperti Kak Rival yang malah berada di pihak istri durhaka seperti Revalina," ucap Dalsa dengan nada kesal.
"Tenang, masih ada Sarah. Mama yakin dia setuju sama ucapan Mama ketimbang ucapan suaminya," sahut Candini dengan santainya.
Sontak kedua mata Dalsa memicing kebingungan mendengar ucapan Candini yang berbanding jauh dengan kenyataan yang ia lihat pada malam itu.
__ADS_1
"Mungkin Mama lihatnya Mbak Sarah diam-diam saja ketika melihat persoalan ini, tapi sebenarnya dia itu sama Kak Yakub itu sama cuma dia versi lebih banyak diam," tolak Dalsa, tak setuju dengan ucapan Candini.
Candini manggut-manggut merenungi ucapan Dalsa, namun tiba-tiba ia kembali mendongakkan kepalanya sembari menggeleng.
Melihat perubahan gerakan kepala yang begitu cepat membuat Dalsa kebingungan tentang mana yang benar setuju atau tidak setuju.
"Nggak, Mama yakin Sarah bisa di doktrin dan akan lebih percaya ucapan Mama. Dengan begitu dia bisa bujuk Yakub supaya bagaimana caranya laporan Rafa di kantor polisi bisa dicabut," ucap Candini dengan penuh keyakinan dalam dirinya.
"Terserah Mama, pesan aku Mama harus hati-hati jangan sampai buat semua orang mencium keberadaan ku," ucap Dalsa pasrah.
Tak lama terdengar suara banyak langkah melintas di depan kamarnya diringi suara-suara candaan berikut dengan tawa khas wanita-wanita pekerja keras yang tengah melepas penatnya.
"Itu teman-teman kos mu di sini?" tanya Candini lirih.
"Iya Ma, tapi aku cuma sekali dua kali berinteraksi sama mereka. Aku nggak mau memancing penasaran mereka tentang ku," jawab Dalsa lirih juga.
Sadar akan kedua sisi tembok kamar kosnya yang tipis rentan dengan telinga-telinga yang coba menguping pembicaraan.
"Mama tadi mau bilang syukur, ternyata kamu cuma sekali dua kali berinteraksi sama mereka. Jadinya kamu kesepian di sini ya," ucap Candini menatap sedih.
Bibir Candini mulai cemberut, sepetinya tengah membayangkan bagaimana siksa itu menyerang Daksa dari berbagai sisi mulai dari mental, perasaan dan juga perut.
"Dan Mama tahu siapa yang sudah buat hidupku menderita seperti ini?" tanya Dalsa kembali membakar amarah Candini.
Sengaja ia ulang berkali-kali sejak saat mereka bertemu, menangis bersama dan berada di sisa-sisa akhir waktu mereka ia terus mengingatkan siapa yang sudah membuat hidupnya seperti ini agar Candini terus mengingatnya sebagai orang yang pantas untuk bertukar posisi dengannya sekarang.
Terlihat Candini mulai terpancing dengan percikan yang di buat Dalsa, terlihat dari dadanya yang mulai membumbung tinggi serta kedua matanya yang memerah padam.
"Reva," jawab Candini lirih, kesal.
Keduanya terus beradu pandang seperti adu mata para banteng yang hendak menyeruduk para lawan, tajam dan menusuk.
Ini saat yang tepat untuk Dalsa menyuarakan kegondokan dalam hatinya pada Revalina yang menjadi ujung dari permasalahan saat ini.
"Mama tahu apa yang harus Mama lakukan sama orang itu, Mama tahu apa yang bisa menebus semua penderitaan ku," ucap Dalsa sembari menatap kedua mata Candini dengan sedikit tajam berusaha mentransfer amarah dan dendamnya melalui kedua mata Candini.
__ADS_1
Bersambung
Ada yg punya apli kasi G00DN0VEL? Yuk baca novel MENJADI ISTRI RAHASIA CEO DINGIN di sana.