
Sebuah mobil melaju kencang. Di dalamnya ada satu keluarga kecil, tak lain keluarga kecil Cazim.
Chesy sesekali melirik ke belakang, pada Revalina yang terbaring di kursi tengah. sedangkan Rajani dan Rafa duduk di kursi paling belakang.
Tidak ada keributan. Si tukang ribut sedang tidur. Semenjak proses penyembuhan, Revalina tidak lagi pecicilan seperti dulu. Dia sedang sakit, jadi lebih banyak diam. Tapi mulutnya tetap cerewet ketika tidak di posisi tidur.
Deringan telepon memecah keheningan. Chesy meraih hp, melihat nama penelepon. Candrawati. Tak lain pemilik restoran.
“Bos menelepon. Aku jawab dulu.” Chesy menjawab telepon. “Halo, Nyonya! Loh, ini siapa? Kok hp nyonya ada samamu? Apa? nyonya sakit? Oh iya, iya. Aku akan segera ke sana sekarang.” Chesy menutup sambungan telepon.
“Ada apa?” tanya Cazim.
“Bosku sakit. Aku mau jenguk ke sana. Antar ya!”
“Oke.”
Nah, apa sih yang enggak buat Chesy? Cazim tidak pernah protes, selalu mengikuti kemauan istrinya. Betapa senang punya suami begini.
Mobil melaju hingga sampai ke rumah sakit yang disebutkan setelah melewati jarak cukup jauh.
Mereka semua turun dari mobil, berjalan cepat mengikuti Chesy yang menggandeng Rajani di koridor rumah sakit. Cazim menggendong Revalina. Rafa mengikuti di belakang.
Mereka kemudian memasuki sebuah kamar sesuai petunjuk perawat.
__ADS_1
“Nyonya!” Chesy langsung menghampiri wanita tua yang terbaring lemah di bed. Meski usianya sudah sangat tua, namun ia tetap terlihat bugar, gemuk dan segar. “Bagaimana kondisi nyonya?”
Wanita tua itu hanya mengedipkan mata saja.
Cazim tertegun menatap wajah wanita tua yang dipanggil Nyonya oleh Chesy, wajahnya seketika memerah.
“Chesy, ayo pergi!” Cazim menarik lengan Chesy.
“Loh, kita baru sampe ini loh, Mas?” Chesy bingung.
“Cazim! Kemarilah, Nak. Kemari! Oma ingin memelukmu.” Suara wanita tua itu terdengar parau.
Chesy pun terkejut. Oma?
Ya ampun, jadi bosnya Chesy adalah neneknya Cazim? Kenapa dunia sesempit ini?
“Atau jangan- jangan kau sudah tahu bahwa wanita itu adalah Omaku, Chesy?” Cazim menatap tegas.
“Nggak, Mas. Aku sama sekali nggak tau soal ini.”
“Atau jangan- jangan malah Oma Candrawati yang sedang mendekati Chesy karena tahu bahwa Chesy ini adalah istriku?” Tatapan Cazim tegas ke wajah Candrawati.
“Ini semua di luar kesadaran Oma, kalau Oma tahu bahwa Chesy itu adalah istrimu, tidak akan Oma biarkan dia menjadi pegawai di restoran Oma. Justru Oma akan berikan restoran itu untuknya,” ucap Candrawati dengan suara bergetar hebat.
__ADS_1
“Munafik!” Cazim keceplosan mengatakan itu. seharusnya ia tidak mengatakannya di depan anak- anaknya. Karena itu berdampak buruk bagi pendidikan anak- anaknya. Namun emosi tidak terkontrol, membuatnya keceplosan. “Aku sudah lelah melupakan masa lalu. Jadi jangan kembalikan aku pada masa lalu buruk itu. aku kehilangan ibu juga karena wanita tua ini!”
“Maafkan Oma. Di usia Oma yang sudah tua begini. Apa lagi yang bisa Oma harapkan jika bukan kedamaian? Oma tidak bisa berharap apa-apa, kecuali pintu maaf darimu, nak.”
Chesy kasihan melihat Candrawati memohon begitu. Sejauh ini, ia mengenal Candrawati sebagai orang yang baik meski terkesan cerewet dan sering marah bila pekerjaan tidak sesuai. Namun jangan ditanya bagaimana caranya menyantuni dan menyayangi orang lain saat dia sudah terlanjur mencintai. Seperti perlakuannya terhadap Chesy selama ini, dia sangat baik. Tapi tetap saja bisa marah besar bila Chesy keliru.
“Mas Cazim, aku pernah di posisimu. Aku berusaha untuk melupakan masa lalu, berdamai dengan situasi. Sekarang apa lagi yang harus dipersoalkan sementara Oma kamu sudah tua begini?” lirih Chesy.
“Kau suruh aku memaafkannya, begitu? Aku tidak sudi. Sejarah tidak akan bisa diulang lagi. Semua hal yang telah terjadi membuatku berangkat menjadi pribadi seperti ini,” tegas Cazim. “Sudahlah, ayo kita pergi dari sini. Putuskan pekerjaanmu dengan dia.”
“Tapi, Mas. Kamu…”
“Kalau kamu membantah, berarti sama saja kamu membenarkan perilaku wanita tua itu,” potong Cazim.
“Bukan begitu. Ini soal nurani. Apa lagi yang akan kamu dendami dari nenek setua ini? Kamu hanya akan menimbun dosa dengan tidak memberikan maaf. anggaplah semua ini takdir. Jalan Tuhan untuk menjadikanmu sebagai manusia yang kuat.”
“Biarlah aku menelan dosa dengan tidak memaafkannya, itu menjadi urusanku dengan Tuhan.”
“Ya Tuhan! Mas, aku sedih dengar kamu ngomong begini.” Chesy menatap iba. Kenapa hati Cazim begitu keras? Kenapa dia tidak bisa mengamalkan apa yang sering dia sampaikan dan dia pelajari. Ternyata memang benar, mengamalkan ilmu itu sulit jika hati tidak lapang.
Tepat saat itu, muncul wanita berpenampilan modis bersama dengan pria yang tak kalah klimis. Diatma Hartawan dan Rebecca. Sepasang suami istri yang datang ke dua kalinya untuk menjenguk Candrawati.
Bersambung
__ADS_1