
Semua terkejut melihat Rafa tiba-tiba masuk ke dalam rumah, menenteng satu paper bag polos lalu meletakkannya ke atas meja yang ada di tengah-tengah mereka.
"Assalamualaikum," ucap salam Rafa.
"Waalaikumsalam," sahut salam semua.
"Silahkan duduk Kak," ucap Rival mempersilahkan Rafa untuk duduk di sofa yang ada di sebelahnya.
"Terimakasih," sahut Rafa perlahan terduduk di samping Rival yang berarti berhadapan dengan Revalina dan Sarah.
"Kakak jangan main masuk rumah orang begitu, nggak enak aku jadinya Kak," tegur Revalina lirih.
"Nggak Papa Reva, ini rumah Kak Rafa juga," timpal Rival tak setuju dengan teguran Revalina.
Tetap saja Revalina tak enak dengan Rival dan Sarah, kedatangan Rafa yang langsung masuk ke dalam rumah terkesan lancang dan tak bermoral tapi masih bisa-bisanya dia tetap tersenyum seakan tak punya dosa.
"Maaf semuanya, aku tadi sudah panggil-panggil di depan tapi nggak ada yang menyahut. Lihat pintu terbuka langsung saja aku masuk," ucap Rafa sembari menatap mereka satu persatu.
"Nggak papa Kak, serius," sahut Rival menganggukkan kepalanya.
"Oh iya Kak, ada apa ini tumben malam-malam main ke sini?" tanya Rival mulai mengalihkan pembicaraan.
Tiba-tiba lirikan mata Rafa tertuju padanya, dari gerak-gerik menunjukkan bahwa tengah mencoba untuk mengajaknya berbicara melalui bahasa isyarat mata.
'Jangan sampai Kak Rafa bahas tentang Dalsa apalagi Mama Candini,' ucap Revalina dalam hati.
"Aku kesini sebenarnya mau membesuk Mama mu untuk yang kesekian kalinya tapi sepertinya gagal lagi karena aku lihat Mama mu ada di jalan tadi," ujar Rafa dengan santainya.
Sementara itu Rival shock mendengar ucapan Rafa, kedua matanya terbelalak sampai terlihat seperti mau keluar.
"Maksudmu?" tanya Rival.
"Iya maksudku Mama mu ada di jalanan pinggir kota lagi bawa banyak belanjaan, makanya aku coba pastikan kesini kalian sudah pindah rumah atau bagaimana," jelas Rafa dengan sejelas-jelasnya.
Reflek Revalina dan Sarah saling beradu pandang untuk beberapa detik, sama-sama merasakan kejanggalan dengan mertua mereka.
'Bukannya tadi katanya mau ke mall, mana ada mall di pinggir kota. Pulang-pulang juga cuma bawa satu belanjaan itu pun seringnya beli di sekitar sini, jadi sebenarnya Mama belanja banyak itu untuk siapa,' ucap Revalina dalam hati bertanya-tanya.
"Enggak, kita nggak pindah rumah," ujar Rival menatap bingung.
"Mungkin Mama lagi ketemu sama teman-temannya," sahut Sarah menyela pembicaraan.
"Mungkin ya," ucap Rival namun tetap kebingungan.
"Ah, sudahlah kenapa aku jadi bikin kalian over thinking begini. Ya sudah kalau kalian nggak pindah aku jadi lega," ucap Rafa berusaha menutup obrolan ini.
Obrolan mereka pun berganti ke rumah sakit tempat Rival fisioterapi yang menjadi perdebatan tadi saat Rafa baru menampakkan kakinya di rumah ini.
__ADS_1
Semua mengatakan secara terbuka pada Rafa, masing-masing membawa opininya tak terkecuali Rival yang masih ngotot tetap melakukan fisioterapi di rumah sakit itu sedangkan Revalina kekeh meminta Rival dipindahkan.
"Bagaimana menurutmu Kak, siapa yang benar menurut Kakak?" tanya Revalina sembari melipat kedua tangannya.
"Jujur aku tim Rival," jawab Rafa dengan entengnya.
Sontak jawaban Rafa membuatnya terkejut, setelah rasanya semua berada di pihaknya kini ada satu orang berada di pihak Rival.
"Tuh kan, apa aku bilang," ledek Rival sembari tersenyum-senyum.
"Baru juga satu ada di pihak mu, jangan senang dulu Mas aku ada dua," sahut Revalina tak mau kalah sombong.
Nampak Rafa menatap kebingungan melirik Revalina dan Rival berulang kali, sementara Sarah hanya terdiam sudah terbiasa melihat pemandangan seperti ini.
"Lama-lama aku ruqyah juga kalian berdua," ucap Rafa masih menatap bingung keduanya.
Semua langsung tertawa mendengar ucapan Rafa yang begitu serius, sedangkan Revalina dan Rival sendiri hanya bercanda.
Malam itu mereka semua saking bertukar candaan, Sarah yang semula sedikit kaku perlahan mencair dan mampu masuk ke dalam candaan mereka berempat hingga larut malam tiba memaksa Rafa untuk menyudahi bertamu di sini.
"Hati-hati di jalan Kak," ucap Revalina sembari melambaikan tangannya ke arah Rafa yang sudah berada di dalam mobil.
"Iya," sahut Rafa.
Perlahan mobil Rafa mulai melaju keluar dari halaman rumah, detik-detik melihat mobil sang Kakak pergi dari pandangan matanya Revalina mulai merasa sedih teringat dulunya mereka bisa bertemu setiap hari ini hanya bisa bertemu beberapa jam saja, tak sadar jika di kantor selalu bertemu mesti intensitas bertemu tak sama ketika satu atap.
'Dulu Kak Rafa baru bergabung di perusahaan langsung dapat tanggung jawab buat tugas ke luar kota dan sekarang giliran ku tapi dengan beban yang berbeda tentunya di bawah Kak Rafa,' gumam Revalina dalam hati.
"Mbak Sarah kenapa nggak mau pulang bareng Kak Rafa saja, sudah larut malam begini Kak Yakub pasti jemput atau enggak?" tanya Rival khawatir.
"Pasti, tadi itu aku sudah hubungi dia katanya sudah on the way," jawab Sarah dengan santainya.
"Ya sudah Mbak, tunggu di dalam rumah saja," ajak Revalina tak ingin semuanya masuk angin termasuk Rival yang kini tengah memakai kaos lengan pendek.
Mereka bergegas masuk ke dalam rumah, menunggu kedatangan Yakub dan Candini di ruang tamu seperti biasanya.
"Mbak, coba kamu hubungi Mama sudah sampai mana?* tanya Revalina mulai khawatir dengan mertuanya yang untuk kesekian kalinya pulang larut malam.
"Iya," sahut Sarah cepat-cepat mengeluarkan ponselnya.
Sarah mulai menghubungi Candini melalui pesan singkat, tak lama dia mendapatkan jawaban tak hanya dari Candini melainkan dari suaminya pula yang mengatakan keduanya tak bisa pulang malam ini.
Ibu dan anak yang kompak, satu tak pulang yang satunya lagi pun tak pulang juga.
"Menginap di mana Mama, Mbak?" tanya Rival makin khawatir.
"Katanya di rumah saudara," jawab Sarah melirik layar ponselnya.
__ADS_1
"Hah, saudara mana yang tinggal di pinggir kota," ucap Rival bertanya-tanya.
Jika seorang anak saja masih bertanya-tanya tentang orang tuanya apalagi menantunya ini, lebih baik semua bergerak secara sembunyi-sembunyi saja.
"Kalau Kak Yakub?" tanya Rival beralih penasaran pada alasan Yakub.
"Kalau Yakub langsung ke luar kota malam ini, katanya sih mendadak karena tahu besok pagi-pagi akan ada meeting di sana sementara dia lembur hari ini jadi langsung saja," jawab Sarah dengan jelas.
"Dia sendiri Kak?" tanya Rival khawatir.
"Sama temannya yang punya driver," jawab Sarah kembali.
Terlihat Rival langsung menghembuskan nafas leganya setelah mendengar Rival berangkat dengan teman yang seorang driver.
"Syukurlah kalau begitu, ya sudah kalau Mama sama Kak Yakub sudah aman. Kita tidur saja," ucap Rival.
Tak lama Rival lebih dulu masuk ke dalam kamar tak lama disusul okeh Revalina, namun beberapa menit terbaring di atas ranjang Revalina baru sadar jika dirinya belum mengambil air minum yang biasa ia sediakan di meja yang ada pada sebelah ranjangnya.
Terpaksa ia kembali keluar, bergegas menuju ke dapur. Setibanya di dapur secara kebetulan Sarah juga ada di sana tengah membuat minuman dingin pada cangkir lucu.
"Mbak, belum tidur?" tanya Revalina sembari mengambil gelas yang ada di rak.
"Belum," jawab Sarah.
"Sepertinya aku bakal nggak bisa tidur lagi malam ini," ujar Sarah melirik Revalina yang saat ini tengah mengambil air putih dari dispenser.
Revalina tak terkejut lagi, ia tahu apa yang mengganjal di hati Sarah sekarang. Bukan tentang soal suaminya lagi tapi tentang Candini yang lagi-lagi selalu menimbulkan kecurigaan.
"Pasti kamu lagi kepikiran tentang Mama ya Mbak?" tanya Revalina meski sudah tahu apa jawabannya.
Dan benar, Sarah langsung menganggukkan kepalanya mengiyakan pertanyaan Revalina.
Nampak pada mata Sarah menyimpan keresahan yang tak dapat ditunjukkan secara gamblang bahwa dia resah memikirkan hal ini, beberapa tahun menjadi menantu kesayangan Candini rasanya pantas saja Sarah begitu kepikiran dengan Candini sekarang.
"Mbak jangan terlalu memikirkan Mama, Mama bukan anak kecil lagi beliau tahu apa yang harus dilakukan dan yang tidak. Mas Rival saja sekarang sudah tak tenang harusnya Mbak Sarah pun begitu," ucap Revalina berusaha untuk mengusir kegelisahan Sarah meski dirinya sendiri sebenarnya gelisah.
Sarah terdiam, tak langsung menyahut ucapan Revalina entah apa yang sedang ada dalam pikirannya sekarang Sarah justru mulai masuk dalam fase melamun.
"Bukan gimana-gimana ya Mbak, tapi Mama kan bilang menginap di rumah saudaranya jadi ya sudah jelas aman Mama sekarang," ucap Revalina kembali.
"Masalahnya, Mama tak punya saudara yang tinggal di pinggir kota," ujar Sarah.
Seketika Revalina terdiam kaku mendengar ucapan Sarah yang secara telak membungkam ucapan positifnya sejak tadi.
Bersambung
__ADS_1