
"Eh eh jangan," Revalina panik langsung terbangun dari tidurnya.
Proses bangunnya yang tiba-tiba membuat kepala jadi keliyengan, rasanya ingin marah saat itu namun bayang-bayang pernikahan masih melekat di otaknya. Akan sangat tidak lucu jika seorang pengantin baru ribut hanya karena masalah seperti ini, toh Rival mengajaknya sholat bukan mengajak ke hal yang buruk.
Tak ingin terlewat waktu subuh Revalina bergegas menuju kamar mandi, mengambil air wudhu dan mengganti pakaiannya.
"Jangan mandi ya, makan waktu nanti subuhnya hilang," ucap Rival dari luar.
"Iya," sahut Revalina sedikit kesal.
"Nggak perlu kamu kasih tahu aku juga sudah tahu kalau waktu subuh hampir habis, nggak mungkin aku mandi," gerutu Revalina lirih.
Setelah selesai wudhu ia pun bergegas menuju ke sajadah yang sudah digelar Rival, mereka pun mulai melaksanakan sholat subuh berjamaah. Seperti sebelumnya sholat ia lakukan dengan khusyuk di akhiri dengan doa untuk memantapkan hati untuk menjalani setiap langkah terlebih keputusan yang sudah ia ambil sebelumnya.
Pagi itu semua keluarga sudah berada di lobi, beberapa mengambil mobil masing-masing.
"Reva, kapan-kapan kita main ya sama Umi Chesy juga," ajak Candini sambil menggenggam tangan menantunya.
"Iya Ma, nanti kita atur waktunya ya," jawab Revalina tersenyum manis ke arahnya.
Tak lama mobil Yakub datang, Candini pun menciumi kedua sisi pipi Revalina sebelum meninggalkannya sedang Revalina membalas dengan ciuman tangan pada punggung tangan Candini.
"Hati-hati ya Ma, kabari kalau sudah sampai," ucap Revalina.
"Iya Nak," sahut Candini.
Candini dan Dalsa pun bergegas masuk ke dalam mobil, dari belakang terlihat mobil Rafa datang menggantikan posisi mobil Yakub yang kini sudah melaju pergi.
"Rival mana lama sekali," Chesy melirik ke arah parkiran mobil.
"Mungkin dia parkir di parkiran paling atas jadi lama, Umi duluan saja," sahut Revalina dengan santai.
"Ah nggak mau Umi, nanti kamu diculik gimana," sahut Chesy mengerutkan keningnya.
"Hahahaha," tawa lepas Revalina menertawakan ucapan Chesy.
Tawa Revalina sontak memantik rasa kebingungan Chesy. "kenapa ketawa?"
"Ya habisnya Umi lucu sekali, mana ada penculik di sini. Di depan saja penjagaan ketat sekali kalau pun ada penculik itu pasti lagi cari mati," ujar Revalina sambil menahan tawa.
__ADS_1
"Sudah Umi pulang duluan saja istirahat, aku bisa tunggu Rival sendiri sebentar lagi juga keluar," ucap Revalina berusaha membujuk Chesy untuk segera pulang.
"Baiklah kalau begitu, nanti kalau ada apa-apa langsung kabari Umi ya," ucap Chesy pasrah namun tetap cemas.
"Iyaaa," jawab Revalina panjang.
Akhirnya Chesy pun masuk ke dalam mobil, memberikan lambaian tangannya ketika mobil mulai melaju. Raut wajahnya nampak masih khawatir, berbeda dengan Rafa yang terlihat biasa saja.
"Salah kalau Umi khawatir sama aku harusnya Umi khawatir sama Rival," gumam Revalina menatap mobil Chesy yang perlahan menghilang dari pandangan matanya.
Tak berselang lama yang ditunggu-tunggu sudah datang, Revalina pun bergegas menghampirinya namun Rival justru keluar dari mobil membukakan pintu untuknya.
"Silahkan tuan Putri," ucap Rival dengan senyum termanisnya.
"Emm, aku lagi kepengen bawa mobil. Boleh kan aku yang bawa mobilnya kali ini?" tanya Revalina menatap Rival dengan tatapan dalam, berharap tatapannya mampu membius.
"Capek Rev, sudahlah biar aku yang bawa mobilnya," tolak Rival secara halus.
"Yahh, aku kepingin bawa kamu ke suatu tempat dan aku maunya yang bawa mobil," rengek Revalina.
Mendengar hal itu tak lama Rival pasrah mengizinkan Revalina untuk mengambil alih kemudi, kini Rival hanya terduduk diam di samping Revalina membiarkannya membawa mobil ini entah kemana.
"Kalau lagi nyetir mobil jangan main handphone," tegur Rival dengan lirikan tajam.
"Iya," sahut Revalina lirih, konsentrasinya benar-benar terbagi saat ini.
"Lagi chatingan sama siapa sih, sini biar aku yang chat kamu nyetir saja," Rival mendadak meraih ponsel Revalina.
Dengan kekuatan panik Revalina berhasil merampas balik ponselnya, ketakutan takut Rival tahu jika ia tengah chatingan dengan Akram.
Sementara Rival tak kalah terkejutnya, keterkejutannya perlahan berangsur menghilang berganti dengan tatapan curiga.
"Kenapa kamu?" tanya Rival dengan nada bicara yang berbeda.
"Enggak kenapa-kenapa, cuma nggak suka saja handphone ku dipegang-pegang orang. Ini kan privasi," jawab Revalina berusaha santai.
"Lah, aku kan suami mu," ucap Rival dengan nada kesal.
"Iya aku tahu kamu suami ku, tapi banyak pasangan bisa saling jaga privasi toh juga nggak ada yang aneh-aneh," sahut Revalina makin santai.
__ADS_1
Rival terdiam beberapa detik namun masih menatap Revalina dengan tatapan menusuk.
"Tapi respon mu tadi seperti orang panik, lebih tepatnya seperti orang panik hampir ke gep selingkuh," ujar Rival makin kesal dengan anggapannya sendiri.
Revalina terkejut, tak menyangka Rival akan berpikir sejauh itu padahal mereka baru saja menikah.
"Gila, mana mungkin aku begitu," ucap Revalina dengan nada tinggi.
"Aku nggak nuduh ya, cuma membandingkan respon mu dengan respon kebanyakan orang saja kalau enggak ya alhamdulilah aku senang," jelas Rival sebelum semua jadi merembet kemana-mana.
"Aku harap kamu percaya, aku nggak mungkin seperti itu," ucap Revalina yang masih berharap Rival percaya padanya, membuang semua pikiran-pikiran negatif tentang dirinya.
Beberapa lama perjalanan Rival mulai menanyakan akan kemana mereka, namun Revalina terus menjawab bahwa ini rahasia terus menerus begitu sampai tiba di jalan tikus yang sepi bahkan tak ada rumah penduduk di sana hanya ada pohon-pohon menjulang tinggi di sepanjang jalan.
"Rev, kenapa lewat jalan tikus tadi jalanan kan nggak macet sama sekali?" tanya Rival menatap bingung.
Tiba-tiba Revalina menghentikan mobil dan langsung melepas seatbelt yang melindungi tubuhnya.
Nampak Rival makin kebingungan, ia masih terduduk melihat Revalina yang mulai keluar dari mobil.
"Rev, kenapa ada masalah di mobil?" tanya Rival kembali, makin kebingungan.
Revalina tak menghiraukan pertanyaan-pertanyaan Rival ia terus melenggang menuju ke pintu mobil sisi kiri, namun ketika Muhar Rival hendak keluar dengan cepat ia berlari lalu berhasil menahannya untuk tetap duduk.
"Husttt, diamlah aku ingin menghabiskan waktu bersama mu di sini," ucap Revalina sambil menyentuh bibir Rival.
Seketika Rival terpaku tak mampu berkata-kata, tubuhnya pun ikut kaku bahkan matanya tak sanggup berkedip.
"Ta-tapi nggak di sini juga Re," ucap Rival gugup.
"Aku nggak minta banyak Mas, cuma sedikit saja," rengek Revalina sambil perlahan mengeluarkan sapu tangan dari kantung belakang rok jeans miliknya.
Terlihat jelas dari leher, Rival tengah menelan ludah. Tatapannya makin terpaku tak mampu berpindah dari tatap mata Revalina.
Sementara itu Revalina mulai merasa ini adalah saat yang tepat, dengan secepat kilat ia membekap mulut sekaligus hidung Rival dengan sapu tangannya.
"Hppppp."
Bersambung
__ADS_1