
"Mbak, bukan Yakub yang jahat tapi sebagai seorang Ibu nggak bisa kasih pelajaran buat anakmu terutama Dalsa. Beruntung kamu punya anak seperti Yakub," tegur Cindy dengan nada serius.
Melihat respon Cindy, seketika membuat Candini terkejut tak menyangka adiknya sendiri akan membela salah satu anaknya tapi bukan Dalsa yang sekarang ini sedang ia bela mati-matian.
Candini mulai meradang, darahnya mendidih tatkala Cindy tak sepihak dengan dirinya.
"Kenapa kau jadi membela Yakub, anak seperti itu kau bela. Bukannya kau ini lebih dekat sama Dalsa ketimbang anak-anakku yang lain?" tanya Candini menatap heran.
"Aku akui memang aku lebih dekat dengan anakmu Dalsa tapi untuk masalah seperti ini aku nggak bisa membela orang yang jelas-jelas salah, kasihan Yakub apalagi Rival posisi dia sanbat sulit tapi beruntung Yakub punya ketegasan yang luar biasa," jawab Cindy dengan terus terang.
Kedua mata Candini makin memicing keheranan, semua ucapan Cindy tak lagi masuk ditelinganya apalagi dalam relung hatinya.
"Kamu pikir perasaan Yakub nggak hancur waktu tahu adiknya sudah bunuh orang, kau pikir saat menyeret Dalsa ke kantor polisi dia nggak menangis?" tanya Cindy dengan nada bicaranya yang mulai tinggi.
"Aku memang tak berada di saat kejadian itu tapi aku tahu perasaan Yakub saat itu, aku mengenal mereka sejak kecil jadi aku tahu Yakub seperti apa. Jangan karena anak pertama mu yang menyeret Dalsa jadinya kau membencinya Mbak, jangan," ucap Cindy panjang lebar.
"Apa maksud semua ucapan mu tadi?" tanya Candini sembari mengerutkan keningnya.
Semua ucapan Cindy hanya berlalu melintasi dari telinga kiri ke telinga kanan, begitu seterusnya. Sungguh hanya sekedar mendengarkan ocehannya saja ia sudah sangat malas apalagi memahami ucapannya.
"Pantas saja Yakub marah besar, kau sebagai seorang Ibu nggak punya ketegasan sama anak bungsu mu. Buka matamu anak bungsu mu itu sudah bunuh orang Mbak," ujar Cindy dengan nada bicara sedikit menekan.
"Jaga bicara mu ya," bentak Candini langsung menunjuk muka Cindy dengan jari telunjukknya.
Ia sudah tak tahan lagi mendengar ocehan Cindy yang tak ada habisnya mencela Dalsa pada setiap kalimat, tak habis pikir dengan Cindy yang tak lagi sepihak dengannya untuk pertama kali dalam hidup.
"Dalsa nggak akan bunuh Rajani kalau Rajani nggak mulai duluan, sudah jelas kata pepatah nggak ada asap kalau nggak ada api," bentak Candini kembali.
"Arghhh, aku jadi malas di sini. Aku pikir dengan numpang tinggal di sini bisa buat kepalaku sedikit dingin ternyata malah bikin makin panas," getutu Candini begegas kembali ke arah kamar tamu yang ditempatinya.
"Mbak-mbak jangan begitu, aku cuma nggak mau kamu salah langkah dan salah menempatkan posisi mu sebagai seorang Ibu," ucap Cindy berusaha menahan Candini.
"Kamu tau apa tentang langkah dan posisi seorang Ibu, sebelum kau lahir aku sudah lebih dulu lahir merasakan kejamnya dunia jadi jangan sok nasehati aku," sahut Candini dengan nada ketus.
Tak lagi menggubris rengekan Cindy, Candini begegas masuk ke dalam kamar lalu cepat-cepat mempaking beberapa barang yang terlanjur keluar dari lopernya.
Ia sudah benar-benar tak nyaman berada di rumah ini, jika Cindy saja sudah tak sefrekuensi dengannya sudah dapat dipastikan seisi rumah ini pun begitu.
__ADS_1
*********
POV Rival
Di teras rumah Rival dan Yakub masih terduduk santai menikmati hawa sejuk sore hari dengan ditemani segelas kopi panas.
"Jadi setelah ini Dalsa gimana Kak?" tanya Rival mulai perlahaan membahas tentang kecemasannya pada sang adik.
"Ya nggak gimana-gimana, jalani saja hukumannya," jawab Yakub dengan santainya, sangking santainya bahkan tak melirik Rival sedikitpun.
Ia tak terkejut lagi mendengar jawaban ini, sudah ia duga-duga sejak lama namun masih saja ada rasa, tak menyangka Yakub akan tetap konsisten dengan ketegasannya dalam mendidik adik-adiknya.
"Apa kakak nggak mau sewa lawyer buat bantu kasus Dalsa?" tanya Rival masih berharap Yakub mau memperjuangkan Dalsa.
Untuk pertanyaan yang kali ini Yakub langsung menoleh ke arah Rival dengan tatapan terkejut, beberapa detik hanya terlibat saling tatap di antara keduanya. Karena memiliki beberapa persen frekuensi yang sama, Rival tahu sekarang ini Yakub tengah kecewa dengan pertanyaannya barusan.
"Kalau kita sewa lawyer sama saja kita bantu buat membela Dalsa lalu membantu untuk keringanan hukumnya. Dari point pertama saja sudah salah, aku nggak mau dia malah menyerang keluarga Revalina dengan kekuatan lawyer pada sidang nanti padahal jelas-jelas sendiri yang salah," jelas Yakub dengan sejelas-jelasnya.
Rival menggeleng, ia masih tak mengerti dengan Yakub yang seakan tak punya belas kasihan pada Dalsa. Baginya Kertayasa Yakub terlalu over untuk adik kesayangan mereka.
"Kak, Dalsa itu dituntut dengan pasal pembunuhan berencana ini berat hukumannya Kak bisa seumur hidup kurungan penjara atau malah hukuman mati," ucap Rival coba mengingatkan Yakub tentang hal ini.
Tapi sayang agaknya bujukannya tak berbuah manis, Taun terus menggelengkan kepalanya sebagai kode bahwa dia kekeh tak mau menyewa lawyer.
"Itu pelajaran untuknya, kalau saja dia mau merendahkan hatinya sedikit saja untuk meminta maaf sama keluarga Revalina pasti kejadiannya tak akan seperti ini," sahut Yakub dengan raut wajah yang terlihat berbeda seperti tengah menahan keresahan.
Kali ini Rival akui memang hati adiknya sekeras batu sekaligus bodoh tak memanfaatkan sebuah keringanan terbesar ada di maaf keluarga korban.
'Aku harus lakukan apa Tuhan supaya Dalsa bisa kembali tapi dengan karakter dan hati yang baik bukan yang angkuh seperti sekarang ini,' ucap Rival dalam hati bertanya-tanya menatap langit yang begitu indah dan cerah meski matahari perlahan mulai tenggelam.
Seribu kali Rival coba membujuk Yakub tapi lagi-lagi tak berhasil juga, pada akhirnya ketika semua jalanan komplek perumahan lampu-lampu rumah dan jalanan sudah terpencar secara otomatis.
Saat itu juga Rival dan Yakub begegas masuk ke dalam rumah untuk menghabiskan waktu dengan istri masing-masing.
Di dalam rumah Rival dan Yakub auto menampilkannya wajah ceritanya diharapa para istri, berusaha untuk menutupi segala yang ada di kepalanya.
"Wah, masak apa malam ini?" tanya Yakub mulai masuk ke dalam dapur menemani Sarah yang tengah sibuk memotong-motong bumbu.
__ADS_1
Sementara itu Rival menghentikan kursi rodanya tepat di samping Revalina yang duduk di kursi yang hanya berjarak beberapa meter saja dapur.
"Reva, cepat sekali kau istirahatnya," tegur Rival.
"Lama-lama juga capek Mas, lapar juga," sahut Revalina sembari memegangi perutnya.
"Sabar ya, masih di masakin Mbak Sarah tuh," ucap Rival sembari melirik ke arah Sarah.
"Enak saja harus bayar ya nggak mau tahu," sahut Sarah dengan nada becanda.
"Lah, kita disuruh bayar padahal kita yang cari uang buat bikin dapur ini ngebul," ledek Yakub mengajak bicara Rival.
Seketika kedua mata Sarah mendelik, terkejut dengan ucapan suaminya sendiri yang agaknya begitu mencampuri berbagai hal.
"Iya ya," sahut Rival terkikih mendengar ucapan Yakub.
Dalam hati Rival begitu merasakan peran suami sesungguhnya yang harus siap siaga, terus terlihat tegas dan ceria di hadapan istri tak peduli apapun di balik ini yang coba menyerang pertahanannya.
Dipandanginya dengan pasti wajah Revalina ketika tertawa begitu terlihat sangat cantik dan dibalik kecantikan dari senyum manisnya ia tak pernah tahu apa yang ada di dalam hati Revalina saat ii, terbukti sebulan menikah dengannya mereka sama-sama belum menuangkan dua kepala menjadi satu, sama-sama masih memikul dan merasakan rasa sakit seorang dari.
Dari sana barulah Rival sadar jika dirinya terlalu egois pada orang yang telah rela menikah dengannya, meninggalkan keluarga hanya untuk hidup bersamanya namun justru tak mendapatkan hal yang jadi impian seluruh wanita pada umumnya.
'Maafkan aku Reva, aku tak pinya ketegasan sama sekali untuk masalah ini. Aku masih berat menghadapi kenyataan bahwa Dalsa adikku bersalah, dan puncaknya kini ada pada proses hukum Dalsa dan berseteru dengan Mama,' ucap Rival dalam hati sembari memandangi wajah ayu Revalina.
"Mas, tadi itu aku mau ke belakang kan mau jemur lap yang baru aku cuci. Eh kata Mbak Sarah malah suruh buang padahal udah bagus lagi karena aku cuci," ucap Revalina mulai mengadu pada Rival.
Rival terkikih lirih, tak hanya Rival tapi juga Sarah yang namanya tengah diadukan pun juga terkikih.
"Memang kebiasaan Mbak Sarah itu sama seperti kebiasaan Mama suka buang lap yang udah kotor, makanya di belakang tuh banyak stok lap kain," sahut Rival dengan sejelas-jelasnya.
"Ini kenapa jadi bahas lap, dari masakan bisa ke lap," celetuk Yakub sembari menggelengkan kepalanya.
"Hihihi, namanya juga perempuan. Ini nggak lama pembicaraan bakal merembet ke gosip artis terkini," sahut Sarah sambil terkikih.
Mendengar ucapan Sarah, kedua mata Revalina langsung membesar seperti baru saja teringat akan sesuatu hal.
"Oh iya Mbak sudah tahu belum gosip pemain dari film The blackmoon?" tanya Revalina mulai mengajak ke pembahasan itu.
__ADS_1
"Nah kan," ucap Sarah tersenyum lebar sembari menunjuk ke arah Revalina.
"Aduh, ampuni istri-istri kita Tuhan," ucap Yakub sembari memegangi kedua tangannya.