Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Usul Yang Ditolak


__ADS_3

Sore itu Yunus tengah kedatangan tamu.  Beberapa kolega dari berbagai pihak bertamu untuk membicarakan hal penting mengenai acara keagamaan yang dilangsungkan di salah satu ponpes.  Mereka membahas detil program mulai dari pengisi pengajian, syuting pas acara, dana, dan banyak hal lainnya.


Mereka mengobrol sambil menikmati minuman hangat yang disuguhkan oleh Bik Parti.


Di tengah pembicaraan hangat, Chesy melintas.  Membuat salah seorang menyeletuk, “Pak Yunus, kenapa pernikahan putrinya tidak diadakan syukuran.  Mengundang banyak orang untuk turut serta mendoakan pernikahan putri bapak?”


“Benar itu.  semakin banyak yang mendoakan, akan semakin baik bukan?” sahut yang lain.


“Saya juga sudah pikirkan itu.  tapi masih ada banyak pekerjaan yang perlu diselesaikan.  Setelah senggang, maka saya akan segera langsungkan,” sahut Yunus bersemangat.  


“Menantu bapak yang mana?”


“Sekarang sedang di masjd, tadi saya suruh menggantikan saya untuk mengajar anak- anak mengaji di masjid,” jawab Yunus.  Masjid yang dimaksud adalah masjid yang tak jauh dari perumahannya, yaitu masjid yang awal mulanya tanahnya merupakan tanah wakaf Yunus.


“Alhamdulillah punya mantu yang paham agama, bisa mengajari anak- anak mengaji.  Amal jariyah itu.  setiap ilmu Al Quran yang anak- anak bacakan nantinya tentu akan menjadi amalan baginya.”

__ADS_1


“Alhamdulillah…”  Yunus mengangguk dengan senyum.  “Itu loh, mantu saya tuh yang pernah memberikan pengajian di ponpes Darul Ulum sebulan lalu.”


“Ooh… Cazim?”


“Benar sekali.”  Yunus mengangguk senang.


“Masyaa Allah.  Saya merekam pengajian waktu itu.  kajian yang dia sampaikan benar- benar dalam ilmunya.  Bagus!  Anak itu berpotensi.”


Hampir satu jam obrolan hangat mereka berlangsung.  Dan berakhir ketika menjelang maghrib, mereka beranjak ke masjid bersama- sama dengan Yunus.


“Chesy!” panggil Yunus setengah berteriak.


“Ya, abi!”  Chesy muncul sambil mengunyah kerupuk.  “Ada apa?” Sekilas ia menatap Cazim yang mengenakan baju koko putih, kopiah hitam dan celana seperti sarung.  


Duh, pria itu benar- benar terlihat seperti manusia alim yang tidak ada cacat.  Pantas saja semua orang percaya akan kealimannya meskipun itu palsu.

__ADS_1


“Ayo, kemari duduk!”  Yunus mengajak Cazim dan Chesy duduk di sofa.


Tanpa sadar, ternyata Chesy duduk bersisian dengan Cazim.  Ia bahkan baru menyadari sudah duduk bersisian ketika pinggangnya bersentuhan dengan pinggang Cazim.  


Chesy sedikit menggeser duduk ke samping, ingin menjauh dari Cazim, tapi malah kepentok sandaran tangan di bagian samping. Terpaksa ia duduk berhimpitan dengan pria itu.  padahal sisa sofa di sebelah Cazim masih banyak, tapi pria itu duduk di tengah- tengah sofa, andai saja Cazim menggeser duduk, mereka tentu tidak akan bersempit- sempitan begini.


“Jadi abi akan membuat acara syukuran untuk pernikahan kalian.  Dan itu akan dilangsungkan dalam waktu dekat.  Hal ini sudah abi pikirkan matang- matang,” ucap Yunus dengan senyum lebar.


“Buang- buang duit aja, abi.  Mendingan uangnya dipakai untuk hal bermanfaat lainnya,” celetuk Chesy keberatan.


Dalam hidupnya, ia tidak pernah berpikir akan memiliki suami seperti Cazim.  Dia memiliki angan- angan memiliki suami seperti opa- opa Korea yang perhatian, bucin dan selalu memanjakannya.  Lah Cazim?  Pria itu galak dan kejam.  Jauh dari angan- angan.  Lalu untuk apa pernikahan yang tidak dia inginkan itu harus disebar luaskan?


“Aku tidak menentang adanya syukuran yang akan abi adakan, tapi sepertinya lebih baik tidak perlu diadakan acara itu,” sahut Cazim.  “Dalam pernikahan, syarat sahnya adalah adanya dua mempelai yang tidak haram untuk dinikahi, wali, dua saksi, ijab qabul.  Tidak sedang dalam keadaan melaksanakan ibadah haji umrah atau pun haji.  Jadi tidak ada keharusan untuk acara seperti ini.  Jika sudah sah, ya sudah.”


Kali ini Chesy sependapat dengan Cazim.  Tumben saja lelaki itu sepihak dengannya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2