
Fatih mengambil gelas berisi teh dan menyeruput teh buatan menantunya. Dahinya sontak mengernyit hebat setelah menelan satu tegukan.
Melihat ekspresi mertuanya, Chesy kebingungan. Kenapa ekspresi meneguk teh hangat seperti orang sedang meneguk perasan jeruk nipis begitu?
"Kenapa asin sekali?" Fatih bergidik.
"Hah?" Chesy membelalak.
Duh, ini bagaimana sih? Mau ambil perhatian mertua saja susahnya minta ampun. Niat cari muka malah ketiban sial. Jadi tadi dua sendok warna putih yang dia masukkan ke gelas itu adalah garam?
"Maf, ayah! Heee.." Chesy mengangkat gelas dan membawanya pergi dengan muka memerah menahan pipis. Satu tangannya memukuli pelipisnya sendiri.
Byurrr..
Gelas terhuyung dan airnya malah bertengger manis di atas kepala pemuda yang tengah duduk di dapur mengiris daun bawang.
"Aduh!" Pemuda itu memegangi kepalanya.
__ADS_1
"Maaf." Chesy nyengir kuda. Untungnya tangannya gerak cepat meraih gelas hingga benda keras itu tidak ikut meluncur jatuh di atas kepala pemuda itu. Gara- gara salah tingkah, sampai tidak melihat jalan di depan lalu kesandung. Akibatnya malah begini. Ceroboh!
Pemuda yang duduk dengan air menetes- netes di rambutnya itu malah nyengir lebar. "Nggak apa-apa, mbak."
"Kamu bersihin rambutmu di kamar mandi ya." Chesy kemudian berlalu pergi. Ia langsung mencuci gelas di wastafel.
"Aku melihatmu mengobrol dengan ayah tadi." Cazim menghampiri Chesy sambil mengunyah pentol bakso. Suaranya agak rendah supaya tidak kedengaran oleh ayahnya yang barang kali muncul sewaktu-waktu.
"Ayah minta supaya kita menemui orang tua kandungmu, jadi merekalah yang seharusnya menemui abi, bukan ayah. Ini menurutku supaya nggak terjadi konflik di kemudian hari. Pemikiran ayah cukup matang," jawab Chesy.
Cazim tampak pasrah. Semua sisi memaksanya untuk bertemu dengan orang tua kandungnya. Baik ayahnya, juga Chesy. Apa yang bisa ia perbuat jika bukan menuruti kemauan istrinya? Bisa- bisa ia tidak mendapat senyum istri lagi jika menolak kemauannya. Dia berada di sini karena menuruti Chesy yang mengharapkan restu abinya, bisa batal urusannya jika ia tidak membawa papanya pulang ke rumah abi.
"Nah, begitu kan lebih baik. Kamu harus belajar berdamai dengan situasi. Melupakan masa lalu dan menyingkirkan dendam." Chesy tersenyum lebar.
Oh ya ampun, melihat Chesy tersenyum lepas begini, Cazim merasa puas.
"Kalian sedang runding apa?" tanya Fatih yang baru saja muncul.
__ADS_1
"Eh, ayah." Chesy tersenyum kaku, ingat tadi sudah menyuguhkan teh rasa asin. Ia memang tidak bakat menjadi menantu kelas VIP, bisanya kelas ekonomi. Heeeh... "Ini aku sedang ajakin Mas Cazim buat nemuin orang tua kandungnya."
"Lalu? Bagaimana Cazim? Kamu setuju?" tanya Fatih. "Selain dia itu ayah kandungmu, dia juga punya tanggung jawab atasmu. Biarkan dia yang menuntaskan tanggung jawab sebagai orang tua. Dan satu lagi, ini supaya kamu belajar menghapus dendam. Supaya kamu bisa memaafkan orang tuamu. Tanpa dia, kamu itu tidak ada di dunia ini."
Cazim memutar mata, wajahnya datar saja. Sama sekali tidak tertarik dengan topik itu.
"Kalian pergilah temui Pak Diatma, dia adalah ayah kandungnya Cazim. Cazim sudah tahu letak persis rumahnya," ucap Fatih yang terkesan sudah lebih bersahabat. Meski tatapan matanya masih dingin dan tidak ada kehangatan minimal Chesy sudah melihat perdamaian dari dalam diri Fatih.
Benar apa kata Fatih, hanya butuh waktu untuk menerima keadaan. Seiring berjalannya waktu, pasti lama kelamaan Fatih akan menerima Chesy. Bukan lantas Fatih bukan orang tua kandung Cazim lalu Chesy tak peduli atas restu yang tidak dia dapatkan dari Fatih. Oh, tidak begitu hukumnya. Justru Chesy merasa peduli pada Fatih karena sosok Fatih jauh memiliki jasa besar dalam hidup Cazim.
"Baiklah, aku pergi ayah!" Cazim mengucap salam dan berlalu. Sedangkan Chesy mengangguk dengan senyum ke arah Fatih sambil berkata lirih, "Soal teh asin tadi aku minta maaf, ayah."
Fatih hanya tersenyum kecil.
Chesy kemudian menyusul ke luar mengikuti Cazim.
***
__ADS_1
Bersambung