
Perlahan tatapan Rival hanya menyorot ke arah Revalina, semakin lama tatapan itu semakin terasa menakutkan.
"Berdua saja?" tanya Rival beralih menatap Joseph.
"Iya," jawab Joseph.
Rival langsung terdiam hingga sampai di rumah terus diam, mendorong kursi rodanya sendiri dengan putaran kedua tangannya.
"Mas, mau makan malam dulu atau mandi dulu?" tanya Revalina menatap punggung sang suami sembari melangkah cepat mengikuti arah perginya.
Rival tak menjawab, dia langsung masuk kamar tanpa menutup pintu atau bahkan membantingnya seperti di film-film.
Sarah yang berada di ruang tengah melihat hal itu sontak terkejut, melongo menatap ke arah Revalina.
"Reva, ada apa?" tanya Sarah lirih.
Ia benar-benar pusing sekarang, mendadak tak punya tenaga untuk menjawab pertanyaan Sarah. Ia hanya bisa menggeleng dengan kening yang makin mengerut tajam.
"Selesaikan," ucap Sarah kembali.
Mendengar aba-aba dari Sarah, Revalina pun bergegas masuk ke dalam kamar menutup pintu rapat-rapat supaya tak ada yang mendengar pertikaiannya dengan Rival.
Ketika sudah memastikan pintu tertutup sempurna perlahan ia mulai membalikkan badan menatap ke arah Rival yang kini tengah memunggunginya dengan posisi duduk yang sudah berada di sudut atas ranjang.
'Cepat sekali dia pindah ke ranjang,' ucap Revalina dam hati keheranan.
'Ah kenapa aku jadi malah berpikir kemana-kemana, masalah satu ini saja belum selesai,' ucap Revalina kembali dalam hatinya.
Dengan meletakkan hati di bagian dasar paling bawah, membuang seluruh egonya sebagai karakter bawaan seorang perempuan ia mulai mendekati Rival duduk di belakangnya lalu perlahan kedua tangannya mulai melingkar di perut sixpack itu.
"Mas, kamu marah ya?" tanya Revalina dengan nada merengek.
"Aku nggak marah, cuma kecewa saja kenapa kamu nggak bilang sama aku," jawab Rival langsung to the point.
Perlahan Rival mulai mau menengok ke arah Revalina, agaknya dengan cara memeluk dan bertanya dengan nada selembut ini bisa membuat emosinya menurun.
"Bukannya aku nggak mau bilang Mas, aku mau bilang cuma masih cari waktu yang pas aku takut kamu akan marah seperti ini," jawab Revalina terus memeluk erat tubuh Rival dari belakang.
Tiba-tiba Rival melepaskan kedua tangan Revalina yang melingkar di perutnya, perlahan membalikkan badan menakutkan pandangan mata.
__ADS_1
"Justru yang bikin aku marah seperti ini karena kamu nggak bilang dari awal, aku dengar ini dari orang lain. Rasanya aku tadi seperti orang bodoh di antara dua orang yang saling tahu tugas Minggu depan itu aku nggak suka caranya bukan tugas keluar kotanya," ujar Rival dengan jelas.
Kedua mata Revalina mendadak sungkan menatap mata Rival, perlu diakui memang ia telah salah mengambil sikap seharusnya dari awal lebih berani berbicara ketimbang mengulur-ngulur waktu yang ada hanya membuat semua semakin runyam.
"Maafkan aku Mas, aku cuma takut," ucap Revalina lirih sedih.
Tak disangka Rival langsung memeluknya, mendekapnya dengan hangat. Reflek kepalanya langsung tersadar pada dada bidangnya disusul belaian lembut pada kepalanya yang semakin membuatnya nyaman berada dalam pelukan mantan Dosen itu.
"Maafkan aku," ucap Revalina kembali, merengek maaf dari Rival.
"Aku maafkan dan aku izinkan kamu pergi tugas ke luar kota Minggu depan, tapi ingat jaga kepercayaan yang sudah aku berikan dan jangan ulangi lagi kesalahan hari ini," ucap Rival lirih lembut.
Masih dalam dekapan Rival, kedua mata Revalina mendelik terkejut mendengar kata "izin" yang diucapkannya.
'Ya Tuhan, semudah inikah, mendapat izin dari Mas Rival aku pikir bakal susah sekali,' ucap Revalina dalam hati.
Ia masih tak menyangka, ternyata ketakutannya selama ini dipatahkan oleh ucapan Rival yang langsung mengizinkannya tanpa ada perdebatan panas seperti yang ia bayangkan selama ini.
"Terimakasih Mas, aku akan jaga kepercayaanmu," sahut Revalina.
Malam itu mereka berakhir damai, keluar-keluar dari kamar keduanya sudah bersih-bersih dan sudah memakai baju santai siap untuk makan malam bersama.
Dari arah dapur Sarah masih dengan tatapan kebingungannya melihat Revalina dan Rival, lagi-lagi kedua tangannya reflek berhenti melakukan aktivitas.
"Aku masak ayam rempah," jawab Sarah dengan mulut ternganga.
"Wah, pasti enak sekali," ucap Revalina bergegas membantu Sarah menyiapkan makan malam.
Ia cepat-cepat mengambil empat piring dan empat set alat makan dari dapur, meninggalkan Sarah yang masih ternganga di sana.
"Kenapa Mbak, ada yang salah?" tanya Rival sembari tersenyum-senyum.
Seketika ekspresi wajah Sarah langsung berubah dengan sekali kedipan, seperti baru tersadar dari lamunan.
"Oh enggak cuma masih bingung saja kalian tumben pulang sampai malam begini biasanya kan sore sudah pulang," jawab Sarah kembali sibuk menuangkan air minum ke tiga gelas.
Revalina yang masih melangkah dari arah dapur menuju ke ruang makan hanya bisa tersenyum-senyum melihat ekspresi wajah Sarah sebab tahu apa yang menjadi kebingungannya sekarang.
'Kasihan Mbak Sarah punya adik ipar bipolar sepetiku hahahaha,' ucap Revalina dalam hati.
__ADS_1
Tibalah Revalina di ruang makan, ia langsung meletakkan piring dan alat makan sesuai dengan posisi masing-masing.
"Eh, kenapa ambil piring empat?" tanya Sarah menegur Revalina.
Seketika kebingungan itu berpindah ke Revalina, ia bingung dengan pertanyaan Sarah yang aneh kali ini.
"Memangnya kenapa Mbak?" tanya Revalina balik.
Saat itu ia baru sadar jika Sarah sendiri hanya menyiapkan tiga gelas air minum, tak seperti biasanya.
"Mama keluar dari tadi siang, katanya mau beli panci katanya ada promo besar-besaran terus tadi sore telfon katanya Mama mau pulang malam," jawab Sarah dengan santainya.
"Hah, masa belanja panci sampai malam begini Mbak?" tanya Rival bingung, terkejut.
Kini kebingungan Sarah yang berpindah ke Revalina kini kembali berpindah ke Rival dengan suara hebohnya yang kira-kira tetangga pun dengar suaranya.
"Memangnya Mama beli panci dimana?" tanya Revalina ikut mencecar Sarah dengan pertanyaannya.
Meski dirinya termasuk menantu yang kurang dianggap tapi ia tetap khawatir dengan sosok Ibu kedua yang juga sangat disayanginya itu.
Sarah menoleh ke arah Rival dan Revalina secara berulang-ulang, nampak kebingungan dengan keduanya yang saling bertanya padanya tanpa jeda.
"Satu-satu tanyanya, aku jadi pusing," keluh Sarah sembari memegangi keningnya.
"Jadi begini tadi itu Mama nggak bilang apa-apa cuma mau pergi beli panci katanya ada promo, terus pas di telfon sore tadi bilang masih mau muter mall jadi sepertinya tempat yang dituju Mama dari awal ya di mall itu," jawab Sarah dengan jelas.
"Ya Tuhan, apa nggak capek muter mall dari siang sampai malam begini. Aku jadi khawatir Mama kan masih belum sehat betul," ucap Rival dengan keningnya yang kembali mengerut tajam.
Sementara Revalina masih terdiam, ia teringat sesuatu yang ada hubungannya dengan apa yang Candini lakukan saat ini.
"Tapi aku rasa kita nggak perlu khawatir, justru harusnya dukung karena berarti shopping yang bisa buat Mama happy lagi," ucap Revalina mendadak setuju dengan apa yang dilakukan sang mertua.
"Nggak bisa aku tetap khawatir, Mama kemarin keluar beli piring saja aku sebenarnya tidak setuju tapi nggak enak saja mau bilangnya lah apalagi ini sampai malam begini belum pulang," sahut Rival sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
Wajah Rival terus kusut sejak pertama kali mendengar kabar Candini pergi dan pamit akan pulang malam hari ini, tiba-tiba tangannya mulai meraih ponsel yang di letakkannya di atas meja makan lalu bergegas pergi mendorong roda pada kursinya menjauh dari ruangan makan.
Bersambung
Baca novel emma shu judul
__ADS_1
Menjadi Istri Rahasia CEO Dingin
di G00DN0VEL