
Sekejap pandangan mata Revalina terpaku pada Rival, ia berdiri kaku terkejut melihat Rival kembali mau berbicara dengannya setelah semalam saling treat silent dan saling memberi punggung.
"Reva," panggil Rival kembali.
Panggilan Rival yang kedua kali ini semakin meyakinkan Revalina jika suaminya saat ini tengah ingin mengajaknya berbicara.
"I-iya Mas," sahut Revalina gugup, perlahan menggerakkan tungkainya menuju ke arah Rival.
Tiba di hadapan Rival, Revalina langsung menekuk kakinya mensejajarkan pandangan mata.
"Ada apa Mas?" tanya Revalina dengan hati bergetar.
Rival tak langsung menjawab, dia justru tengah menjamah palung hati Revalina dari balik matanya.
"Mas, butuh bantuan?" tanya Revalina kembali.
Kepala Rival langsung menggeleng, menandakan bahwa dia tak memerlukan bantuan.
"Lalu?" tanya Revalina kebingungan.
"Aku cuma mau bilang, aku kasih izin kamu kerja," ujar Rival lirih.
"Serius?" tanya Revalina terkejut mendengar ucapan Rival.
"Hustt," desis Rival sambil menutup mulutnya dengan satu jari.
Seketika Revalina membungkam mulutnya meski rasanya ingin teriak kegirangan saat itu juga, ia sangat bersyukur Rival telah mengizinkannya untuk bekerja setelah dari semalam mendiamkannya seribu bahasa.
"Tapi ada syaratnya," ucap Rival tersenyum kecut.
Kebahagiaan yang memuncak ketik Rival mengizinkannya bekerja kini mendadak jatuh ketika mendengar kata "syarat."
"Apa?" tanya Revalina dengan nada lemas.
"Kamu nggak boleh capek dan jangan pernah tinggalkan aku," jawab Rival dengan jelas.
Seketika bibir Revalina terngaga mendengar jawaban Rival yang hanya meminta syarat sebatas itu saja sedangkan pikirannya sejak saat itu sudah terlanjur melanglang buana.
"Cuma itu saja?" tanya Revalina sembari menaikkan sebelah alisnya.
Rival mengangguk lirih. Melihat respon baik dari Rival hari itu juga ia menghubungi Rafa mmrberi tahunya jika ia akan masuk ke kantor besok dengan membawa turut serta sang suami.
***
Keesokan harinya Revalina bangun lebih pagi, mengurus kebersihan rumah serta kebutuhan yang ada di rumah itu. Semua lakukan sebelum adzan subuh berkumandang demi tidak terlambat di hari pertamanya masuk kerja, meski di perusahaan sendiri namun tentu ia ingin menjadi contoh baik bagi karyawan yang lain.
Revalina sibuk menyapu, mengepel rumah sambil menunggu mesin cuci yang masih berputar mencuci pakaian juga menunggu magic jar di dapur selesai memasak nasi. Dengan berbagai cara ia lakukan demi mempersingkat waktu.
Sama halnya dengan Sarah, dia datang tepat pukul 6 di saat jam-jam suaminya belum berangkat kerja sangat berbeda seperti sebelumnya.
Beruntung ia memiliki ipar yang baik hati seperti Sarah, seinggan bisa di ajak kompromi.
Pagi itu setelah berpamitan dengan Candini dan Sarah, ia pun bergegas ke kantor dengan membawa Rival dan beberapa barang yang ia perlukan di sana.
"Mbak Sarah, aku berangkat dulu ya," pamit Revalina pada Sarah yang mengantarkannya sampai depan.
"Iya, hati-hati ya. Semangat untuk hari petamanya, kabari Mbak kalau ada apa-apa," ucap Sarah sambil tersenyum ke arah keduanya.
"Iya Mbak," sahut Revalina.
Bgghhh.
Revalina mulai masuk ke dalam mobil, menutup pintu dengan lembut. Di dalam mobil ia sudah di sambut senyum tertahan dari bibir Rival.
"Sudah siap?" tanya Revalina pada Rival.
"Sudah," jawab Rival singkat.
"Let's go!" seru Revalina beriringan dengan tancapan gas pada kakinya.
Revalina mulai melajukan mobil dengan kecepatan rendah, ia yakin waktu yang ia perkirakan akan pas tidak mungkin terlambat.
Mungkin Rival memberinya izin masih setengah hati, namun selama dalam perjalanan Revalina coba untuk mengajaknya berbicara agar suasana menjadi enjoy tak setegang ketika ujian skripsi.
"Mas, nanti itu di ruangan kerja ku ada tempat tidur khusus. Aku yang minta jadi kalau kau kecapekan kau bisa terbaring di sana," ucap Revalina sedikit bingung hendak memulai pembicaraan dengan pembahasan apa.
Rival masih melamun dengan tatapan lurus ke depan.
"Nggak guna ada tempat tidur di ruangan mu itu, nggak aku pakai juga. Lebih baik di bongkar saja," sahut Rival dengan nada bicara datar, sedatar mukanya.
__ADS_1
"Yee, itu kan buat kamu masa mau di bongkar sih," gerutu Revalina kesal dengan tanggapan Rival.
Namun sekejap ia tersadarkan dengan izin Rival yang susah untuk di dapatkan, ia tak mungkin membuat kepercayaan itu cacat karena perdebatan-perdebatan semacam ini apalagi ketika Revalina melimpali tanggapannya, dia kembali terdiam seribu bahasa.
"Emh, ya sudah nggak papa nanti aku minta Kaka Rafa buat gimana caranya itu di bongkar," ujar Ravalina mengalah.
"Tapi kalau perpustakaan kecil, kau pasti nggak bisa menolak. Di ruangan ku kata Kak Rata sudah di sediin tak khusus dengan berbagai macam buku," ucap Revalina dengan cerianya.
Tak lama Rival mau menoleh ke arah Revalina, menatapnya dengan tatapan yang sangat dalam. Saat itu Revalina yang tengah menyetir mobil sesekali melirik ke Rival.
"Aku mau tanya, kamu di perusahaan dapat bagian apa?" tanya Rival mengalihkan pembicaraan awal.
"Hah, emm katanya sih aku dapat jabatan jadi sisten pimpinan," jawab Revalina dengan sejujur-jujurnya, sesuai dengan yang di janjikan Rafa padanya.
Rival kembali diam, entah apa yang ada di kepalanya sekarang sampai membuatnya seperti ini.
"Dengan jabatanmu di kantor yang seperti itu, apa kamu masih sanggup urus aku dan urus rumah?" tanya Rival.
"Mungkin kau sekarang dengan semangatnya bilang kalau kau sanggup, tapi one day kamu pasti capek dan aku takut hal itu terjadi," sambung Rival dengan wajah kusutnya.
Seketika Revalina tahu apa yang dipikirkan Rival sejak tadi sampi membuat sikapnya kembali dingin sedingin salju.
"Tenanglah Mas, nggak usah memikirkan apa yang terjadi ke depan. Lihat saja sekarang apa aku pernah mengeluh mengurus mu, aku tak pernah mengeluh sedikitpun aku sangat menikmati detik-detik bersamamu," jelas Revalina dengan nada bicara sedikit menekan berharap Rival mau mengerti.
Mendengar penjelasan Revalina, Rival langsung menggeleng. Menikah mentah-mentah apa yang sudah Revalina jelaskan, apapun itu.
"Orang itu harus berpikir panjang, ke depannya akan terjadi seperti apa agar di saat-saat sekarang bisa mempersiapkan segala sesuatunya yang paling utama adalah menyiapkan perasaan dan mental yang akan jadi garda terdepan melawan masalah itu," ujar Rival panjang labar menjelaskan pada Revalina.
Sama halnya dengan Revalina, ia tak setuju dengan penjelasan Rival karena tak sesuai dengan kenyataan pada cerita mereka. Menggunakan metode itu baginya hanya berlaku pada hukum di dunia pekerjaan tidak dengan dunia nyata yang mereka jalani.
"Nggak, kalau begitu terus yang ada kita berantem karena terlalu memikirkan hal-hal semacam itu tadi," tolak Revalina.
"Terserah lah, kenapa kita jadi berantem begini," ufao Rival pasrah pada akhirnya.
Saat itu juga Revalina bisa mengghembuskan nafas leganya setelah menangkan perdebatan sengit ini.
"Akhirnya," ucap Revalina sambil tersenyum-senyum melirik Rival.
"Reva, Reva lihat ke depan!" teriak Rival tiba-tiba.
Melihat Rival yang berteriak sembari menunjuk ke arah dengan, dengan cepat Revalina beralih pandang dan betapa terkejutnya ia melihat mobil yang ia kendarai sudah melewati zebra cross, sontak ia langsung panik menghentikan laju mobilnya secara mendadak.
Bunyi rem
"Ya ampun, hampir saja," ucap Revalina sambil menghembuskan nafas leganya melihat mobil yang ia kendarai bisa berhenti tepat sebelum di perempatan jalan.
"Bisa-bisanya lampu merah mau diterabas," gerutu Rival.
"Aku nggak tahu Mas, tadi dari jauh itu hijau jadi aku santai lirik sana lirik sini," jelas Revalina enggan di salahkan.
"Tetap saja ceroboh," sahut Rival.
Namun masalah tak berhenti di sana, Revalina harus di hadapkan dengan dua orang polisi berbadan gempal menghampirinya dengan wajah kaku menakutkan.
Tok tok tok tok.
Polisi itu mulai mengetuk jendela kaca mobil.
Seketika Revalina langsung panik, gusar sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya Rival.
"Mas gimana ini Mas?" tahta Revalina.
"Bukan saja jendelanya, kau harus hadapi," jawab Rival dengan santainya.
Mendengar jawaban Rival seketika kedua mata Revalina terbelalak, terkejut tak menyangka sang suami akan memintanya untuk menghadapi polisi seram itu.
"Nggak mau, aku takut," rengek Revalina makin mencengkram lengan baju Rival dengan kuat.
"Nggak perlu takut, dia cuma kasih teguran percaya sama aku," ucap Rival masih begitu tenang.
Tok tok tok tok tok.
Polisi itu kembali mengetuk jendela kaca mobilnya makin keras lagi.
Tak ada pilihan lain, benar kata Rival. Ia harus menghadapi polisi ini tak mungkin terus bersembunyi di balik rasa takutnya.
Perlahan Revalina mulai membuka kaca mobil.
"Selamat pagi," sapa Polisi sesaat setelah kaca mobil terbuka.
__ADS_1
"Pagi Pak," sapa balik Revalina dengan senyum palsu.
Tiba-tiba seorang polwan datang menulis sesuatu pada secarik keras khusus, lalu melirik plat mobil milik Revalina. Saat itu juga ia merasa jika dirinya sudah kena tilang dan agaknya tak ada kata damai di tempat.
"Tahu apa kesalahan anda?" tanya Polisi dengan suara garangnya.
"Ta-tahu Pak," jawab Revalina gugup.
"Jelaskan sekarang sambil keluarkan KTP, STNK, dan SIM!" perintah Polisi.
Tak ada waktu untuk menengok Rival, ia sudah terlanjur begini terpaksa menuruti perintah Polisi ini. Dengan tangan gemetar ketakutan ia mulai mengambil apa saja yang diminta olehnya.
"Saya sudah berhenti di tengah zebra cross Pak," ucap Revalina memaparkan kesalahannya dalam berkendara sambil memberikan yang diminta polisi itu.
"Apa tadi kamu bermain ponsel saat berkendara sampai tak fokus hampir melewati zebra cross?" tanya Polisi sambil melirik-lirik ke dalam mobil.
Reflek Revalina langsung menggelengkan kepalanya "enggak Pak, saya tadi cuma lagi nggak fokus saja."
"Baik, untuk sementara KTP anda saya sita. Silahkan ambil di polres setelah mengambil surat sidang," jelas Polisi memberikan secarik surat tilang untuk Revalina.
Melihat surat tilang itu sudah berada di tangan rasanya dada seperti tertimpa beban yang membuatnya sesak tak tertahankan.
"Pak, nggak bisa damai di sini saja Pak?" tanya Revalina merengek, meminta Polisi yang ada di hadapannya ini bisa melunak dengan uang seperti hal nya cerita-cerita temannya di kampus dulu.
"Nggak bisa, damai hanya ada di kantor jadi kalau mau damai silahkan ke kantor polres," jawab Polisi itu dengan lugas.
Benar-benar sudah tidak ada lagi harapan, STNK dan SIMnya sudah kembali ke tangan sementara polisi pun mulai menepi.
Beberapa detik kemudian lampu sudah berganti hijau, tak bisa terus bingung dengan masalah yang ada dengan cepat Revalina melajukan mobil dengan kecepatan rendah takut kena tilang kembali karena kecepatannya yang melebihi standar berkendara.
"Mas, gimana ini kenapa harus KTP sih. Coba kalau itu SIM aku kan bisa nggak usah ambil saja," resah Revalina tak berhenti memikirkan hal itu.
"Ya sudah sih, hadapi saja kau tadi kan juga salah dan nggak ada salahnya mengakui serta menyelesaikan semuanya," sahut Rival dengan nada santainya.
"Lagi pun kau nggak akan di perlakukan seperti tersangka, kau ini beda cuma memang kalau proses sidangnya nanti di beratkan ya bisa jadi," sambung Rival.
"Bisa jadi apa?" tanya Revalina terus merengek kesal.
"Bisa jadi masuk penjara," jawab Rival dengan senyumnya yang tertahan.
Lagi-lagi kedua mata Revalina dibuat terbelalak olehnya, ia tak menyangka akan sedalam ini masalahnya.
"Aaaa, tuh kan," rengek Revalina kembali.
"Hihihi, enggak-enggak aku tadi cuma bercanda. Tapi enggak juga sih ada yang seperti itu," jelas Rival sembari terkekeh.
"Gimana sih, jadi makin nggak jelas begini," gerutu Revalina kesal.
Beberapa lama kemudian akhirnya ia tiba di kantor, saat itu juga ia berusaha untuk menutupi sisa-sisa panik yang masih menguasai dirinya.
Nampak Rafa sudah berdiri di lobi menunggu kedatangannya dengan senyum termanisnya ketik a tahu mobil Revalina datang.
Tibalah mereka di depan lobi, cepat-cepat Rara membukakan pintu untuk sang ipar.
"Selamat pagi pengantin baru," sapa Rafa sambil tersenyum lebar.
"Sudah lama kali Kak," ucap Revalina.
"Oh sudah lama ya, tapi kenapa hawanya masih seperti pengantin baru ya," sahut Rafa dengan nafa meledek.
"Ah sudah-sudah ayo kita masuk," ajak Rafa.
Perlahan Revalina dengan dibantu Rafa mulai memindahkan Rival ke kursi rodanya tak peduli disaksikan puluhan pasang mata mereka tetap melakukan itu.
"Kasih kunci mu ke satpam biar dia yang parkirkan," perintah Rafa.
"Siap Kak," sahut Revalina langsung memberi remote kuncinya pada satpam yang berdiri tak jauh dari dirinya.
Setelah itu mereka pun bergegas masuk ke dalam kantor dengan di sambut seluruh karyawan yang ada di dekat mereka hingga lift tertutup masih nampak mereka semua memberi sapaan pada Revalina yang bergabung di perusahaan peninggalan Abinya.
"Reva, aku sudah jelaskan kemarin ya. Aku nggak kasih kamu posisi yang tinggi di sini karena ini perusahaan bukan tempat buat coba-coba, kamu harus bisa merangkak sendiri sampai kau bisa buktikan padaku kalau kau bisa menduduki jabatan paling tinggi sekalipun di perusahaan ini," ujar Rafa kembali menjelaskan pada sang adik.
"Iya Kak, aku mengerti. Aku sadar aku baru lulus kuliah nggak lucu rasanya kalau langsung jadi CEO," sahut Revalina langsung bisa menerima penjelasan Rafa.
Meski cara Rafa begitu mendidik bisa di katakan sedikit keras padanya, namun dia dengan effort tinggi mau merombak ruangan seorang asisten lebih bagus dan nyaman dari pada ruangannya sendiri. Terbukti kasih sayangnya tercurahkan di sana.
"Kak, jadi yang pegang jabatan CEO itu siapa?" tanya Rival penasaran.
"Ada, nanti kau akan tahu sendiri," jawab Rafa sambil terus mendorong kursi roda Rival.
__ADS_1
Jangankan Rival, Revalina sendiri saja tak tahu siapa CEO itu. Sejak kemarin ia hanya fokus pada diri sendiri sampai tak terpikir untuk bertanya kembali tentang siapa sosok CEO itu.