
"Sampai detik ini Cazim tidak mencintaimu, Chesy. Sejak awal, dia hanya kasihan padamu, dia hanya merasa hutang nyawa saat tahu ternyata kamu adalah keluarga dari korban yang dia lenyapkan. Ditambah kamu menyelamatkan dia. makanya dia ingin balas budi dengan mengasihanimu. Pertanyaannya, maukah kamu hidup dalam kebohongan dan kepalsuan? Miris!" Senja menatap nanar.
Chesy mengusap wajah. Antara percaya dan tidak.
"Silakan tanyakan ke Cazim, siapa yang telah membunuh ibumu? Aku juga perempuan, aku merasa apa yang kamu rasakan. Pura-pura dicintai. Semoga kamu belum melepas mahkotamu pada Cazim ya! Setahuku Cazim tidak menyukaimu, Cazim hanya mencintaiku, kasihanilah dirimu." Senja melangkah pergi.
Chesy menggeggam tangannya sendiri. Tubuhnya mendadak memanas. Ada yang menggejolak di dalam dada.
Kata-kata Senja yang bilang bahwa Cazim hanya mencintai Senja, membuatnya terbakar api cemburu.
***
Prang prang….
Bik Parti yang sedang ngepel sampai terpeleset gara-gara suara dentuman yang ramai sekali.
“Apa itu, Rel?” Bik Parti menatap Darel yang sedang menggaruk rambut keribonya sambil mikir.
“Mana aku tahu. Ayo, kita lihat!” Darel dan Bik Parti berlari menuju ke sumber suara.
Mereka kaget melihat Chesy yang membawa gagang sapu dan dilayangkan ke berbagai peralatan di ruangan itu. Pot bunga pecah, meja kaca pecah, bingkai foto berjatuhan dan pecah.
Gubrak! prang!
__ADS_1
Rame sekali.
“Duh, ini Non Chesy kesurupan apa ya? Kok bisa ngamuk begitu?” Darel ngumpet di ketiak Bi Parti. Kemudian menutup hidung karena tercium aroma aneh.
Mereka di balik pintu sekarang.
“Hus, cepetan tenangin Non Chesy! Jangan malah sembunyi! Bisa habis barang-barang di rumah ini!” Bik Parti panik.
“Bibik aja sono! Salah-salah malah kenong nonong eike yang kena samber gagang sapu!”
Bik Parti terpaksa menghambur mendekati Chesy yang masih terus menghantamkan gagang sapu ke segala penjuru.
Gludak!
Chesy sebenarnya masih ingin meneruskan kemarahannya dengan menghancurkan smeua peralatan di depan mata dengan membabi buta, tapi melihat Bik Parti terkapar, terpaksa ia menghampiri asisten rumah tangganya itu.
“Bangun, Bik! Jangan pingsan dulu!” Emosi Chesy masih memuncak, kesal juga melihat Bik Parti yang malah terkapar di saat yang tidak tepat.
Chesy membantu Bik Parti berdiri.
“Non, kenapa? Ada apa kok marah begini?” tanya Bik Parti rada takut.
Darel masih mengintip di balik pintu.
__ADS_1
Bukannya menjawab, Chesy malah teringat dengan Cazim. Dia sungguh ingin meremas wajah suaminya itu. benarkah dia pembunuh? Benarkah dia buronan? Benarkah dia mafia? Benarkah dia masih mencintai Senja dan hanya berpura-pura mencintai Chesy? Lalu apa yang dilakukan pria itu setiap malam? Cumbuan dan sikap lembut itu apa? Bahkan dia terlihat dipenuhi hasrat setiap kali mengajak jungkir balik.
Lagi-lagi Chesy mengayunkan gagang sapu. Bik Parti merundukkan badan, takut kena sambar lagi. Cuma punya satu kepala, takut lepas.
Prang prang!
Chesy meluapkan kekesalan dan emosinya.
“Istighfar, Non. Istighfar! Jangan ngamuk-ngamuk begini!” Bik Parti jongkok sambil menutup kedua telinganya. Tidak ada kata-kata yang bisa dia ucapkan untuk menenangkan, takut salah ngomong dan akhirnya malah kena imbasnya.
Chesy menangis. Mengamuk memang cara ampuh untuk membuat hati jadi lega dan plong. Terbukti Chesy tampak jauh lebih lega sekarang. Tubuhnya ambruk terduduk di lantai dan menangis dengan keringat berurai di wajah.
“Chesy!”
Suara itu?
Chesy mengangkat wajah menatap Cazim yang berdiri di ambang pintu.
“Mendingan cabut! Drama bakalan panjang!” Bik Parti beringsut mundur dan kabur.
Tatapan Chesy dipenuhi dengan kilat amarah, menatap Cazim yang melangkah mendekat dan jongkok di hadapannya. Sungguh muak hatinya. Dia sangat ingin memaki Cazim. Atau menonjok jantung pria itu dengan sabit.
Bersambung
__ADS_1