Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Sudah Tiada


__ADS_3

Untuk sesaat sepasang suami istri itu bertukar pandang dengan Cazim.


Namun segera Cazim memalingkan pandangan.


 "Cazim!" 


Diatma menjulurkan tangan ke arah Cazim dan segera di tampik oleh Cazim.


"Anda siapa?" tanya Cazim. 


"Jangan lakukan ini pada papa. Papa minta maaf karena sudah meninggalkanmu dan ibumu, ini semua tidak akan terjadi jika pap tidak bodoh." Diatma tampak menyesal.


Cazim tersenyum sinis. "Semuanya sudah terlambat, biarkan aku dan keluarga kecilku hidup bahagia tanpa dibayang- bayangi kehidupan buruk," sahut Cazim. "Tanpa kalian semua, kami bahagia. Jadi tolong jangan usik kami."


"Cazim, untuk apa kekayaan kami jika bukan untuk keturunan, dan iyu adalah kau. Juga anak- anakmu ini. Mereka adalah pemilik harta dan kekayaan kami," sambung Diatma.


"Sumbangkan saja semua kekayaan itu, hibahkan pada kepentingan sosial, itu akan lebih bermanfaat untuk menolong kalian, jadikan ladang amal. Tidak perlu diberikan kepada kami, sebab kami tetap akan bisa hidup tanpa uluran tangan kalian. Kami bisa cari makan sendiri. Sekarang, jalanilah hidup kalian, kami pun jalani hidup kami tanpa ada kalian."


"Kau ingin memutus hubungan keluarga?" Diatma bersuara rendah.

__ADS_1


"Sudah sejak dulu Anda memutusnya. Bukan dari sekarang." 


"Tolong, tolong biarkan kami melihat cucu cucu kami ini tumbuh besar. Jangan pisahkan kami dari mereka." Diatma menatap tiga wajah menggemaskan yang menatap polos.


"Kemana saja Anda selama ini? Kenapa baru sekarang mengakui mereka sebagai cucu? Sudahlah Chesy, bawa anak- anak pergi dari sini!" pinta Cazim.


Chesy tak dapat membantah, dia mengajak anak anak keluar dari ruangan, mengambil alih Revalina dari gendongan Cazim. Namun Rafa masih tertinggal di ruangan itu. Tidak ada yang menyadarinya.


Chesy berpapasan dengan ajudan alias pengawalnya Diatma di pintu. Ia ingat pernah berurusan dengan para pengawal itu beberapa tahun silam. Para pengawal hanya menatap datar dan menyingkir saat Chesy melintas.


"Katakanlah aku ini pendendam, aku tidak bisa membuka pintu maaf. Jadikanlah itu sebagai dosaku. Tidak perlu diurus. Mulai sekarang jangan cari kami lagi." Cazim kesal.


"Kalau rindu, kemana saja Anda selama ini? Disaat aku mendatangi rumahmu dan satpam di rumah anda mengusirku. Kemana saat aku datang ke rumahmu dan menitipkan pesan ke resepsionis yang pesan itu dititipkan ke sekretaris Anda? Kemana anda saat Hamdan menemui istri Anda dan meminta supaya anda menemuiku? Anda tidak pernah hadir untukku. Lalu haruskah aku mengakuimu?" geram Cazim.


"Tunggu dulu, untuk masalah satpam yang mengusirmu, aku sama sekali tidak tahu hal itu. Biarlah aku memecatnya dan mengganti dengan satpam yang baru atas perlakuannya itu. Lalu soal sekretarisku, dia tidak pernah menitipkan pesan kepadaku tentangmu."


"Ya, sebab dia malah melaporkan aku ke polisi, akibatnya aku dipenjara setahun lebih. Apakah Anda tahu itu?"


Diatma tampak marah, wajahnya memerah. "Tidak ada yang boleh menyakiti putraku. Aku akan memecat sekretarisku yang sudah menjerumuskanmu." Diatma marah.

__ADS_1


"Semuanya sudah terlambat, waktuku sudah habis dipenjara."


"Maafkan papa. Ini di luar pengetahuan papa. Jika papa tahu soal ini, papa pasti tidak akan membiarkan ini terjadi. Sejak dulu, kaulah yang papa harapkan, tidak ada yang lain. Lalu kenapa papa harus menyia- nyiakan kesempatan untuk bisa membantumu jika papa bisa lakukan? Dan soal pesan yang Hamdan sampaikan kepada Mama Rebecca, memang belum sempat mama mu sampaikan waktu itu, sebab papa berada di luar negeri untuk melakukan pengobatan jantung. Cukup lama papa berada di luat negeri, sakit keras. Hanya terbaring di ICU. Mama Rebecca juga menyusul mama ke luar negeri. Beberapa tahun lamanya papa menjalani proses pengobatan dan perawatan, sampai akhirnya sekarang kami kembali setelah proses itu berjalan dengan baik dan dokter menyatakan bahwa kesehatan jantung papa sudah pulih delapan puluh persen, papa diijinkan untuk melakukan aktifitas sehari- hari. Setelah sembuh, barulah mamamu menceritakan semuanya."


Cazim tidak tahu lagi harus marah atau memaklumi. Tapi ia memang ingin lepas dari masa lalunya memuakkan itu. Ia ingin menjalani hidup tanpa bayang- bayang orang tua yang telah zalim terhadapnya. Apa salahnya ia menjauh dari kedua orang tuanya itu dan kedua orang tuanya juga menjalani hidup tanpanya. Mungkin ini akan terasa adil.


"Abi, nenek ini nggak bergerak," celetuk Rafa yang berdiri di dekat Candrawati.


Sejurus pandangan tertuju pada Candrawati. Di tengah kegaduhan, mereka sampai lupa dengan kondisi Candrawati. Wanita tua itu terpejam, tak bergerak.


"Mami!" Diatma menghambur mendekati ibunya. Wanita tua itu sudah menghembuskan napas terakhir. Diatma tampak sedih, namun ikhlas. "Mami sudah tiada."


Tangis Rebecca pecah.


Rafa menghambur ke pelukan Cazim.


***


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2