
Krek.
Mobil terayun turun bersamaan dengan derakan batang kayu yang hampir terlepas dari pangkalnya.
"Hah?" Chesy kaget. Ia berpegangan erat pada pundak Cazim. Otomatis badannya menempel sempurna pada badan kokoh suaminya. Dan sesaat ia baru tersadar bahwa badannya berada dalam dekapan lengan kokoh suaminya.
Ya, Cazim spontan memeluk badan mungil Chesy. Mereka bersitatap dengan napas yang saling bertukar. Ini adalah posisi paling dekat diantara sebelumnya. Bibir Cazim bahkan menempel di pipi dekat telinga Chesy.
Andai saja situasinya tidak dalam kondisi mencengangkan, tentu Chesy berharap waktu berputar lebih lama lagi di posisi seperti ini.
"Bertahanlah!" bisik Chesy meski dengan wajah memucat ketakutan. Bayangan saat mobil terjun bebas dan nyawa ada di ujung tanduk telah mendarat di kepalanya.
"Pergilah! Kau pikir bisa mengeluarkan aku dari sini? Ini tidak mudah untukmu!" tegas Cazim.
"Aku bisa melakukannya."
"Kau bisa mati!" hardik Cazim.
"Kalau aku mati maka masalah kita akan selesai."
"Gadis bodoh!"
__ADS_1
Chesy kembali meraih dongkrak dan berusaha mendorong dashboard supaya area Cazim meluas. Chesy mengerahkan tenaganya sekuat mungkin hingga keringatnya bercucuran.
"Tinggalkan aku!" hardik Cazim.
"Kamu nggak mau mati konyol kan? Seenggaknya ada usaha untuk bertahan hidup, bukan menyerah, pria bahlul!"
Keterlaluan! Dia mengataiku bahlul! Pikir Cazim.
Ada sebatang pokok berukuran cukup besar seukuran betis orang dewasa yang menusuk dari arah depan sampai ke bawah kursi Cazim.
Chesy terus berusaha mendorong dashboard yang menjepit Cazim supaya bergerak maju, namun setelah tenaga dikerahkan dan keringat pun membasuh wajah seperti disiram air, usahanya belum membuahkan hasil.
Sementara di luar sana, terdengar jerit tangisan Senja. Gadis itu memanggil- manggil nama Cazim.
Chesy terus berusaha dengan sekuat tenaga, tapi ia yakin semua itu akan sia- sia.
"Keluarlah!" titah Cazim.
Chesy menggeleng.
Cazim akhirnya meraih dongkrak di tangan Chesy, membantu wanita itu mengangkat dashboard. Keduanya mengerahkan tenaga untuk mendongkrak. Dan saat dashboard sedikit terangkat, Cazim pun berusaha sekuat tenaga untuk mengeluarkan kakinya dari jepitan. Ia mengangkat pahanya keluar. Berhasil.
__ADS_1
Chesy menarik badan besar Cazim mundur hingga pria itu kini berada di kursi belakang, di sisi pintu yang terbuka.
"Cepat!" ajak Chesy.
"Kau keluarlah duluan!" titah Cazim.
"Pintu sebelah sini nggak bisa dibuka karena terganjal ranting pohon dari luar. Pintu di sebelahmu yang bisa digunakan! Cepat turun!" Chesy meminta Cazim turun duluan.
"Kemarilah!" Cazim meraih tangan Chesy. "Aku akan membantumu keluar lebih dulu."
"Mas, kita nggak punya waktu banyak. Kalau aku yang keluar duluan, waktu akan terbuang sia- sia karena posisiku harus melewatimu untuk keluar dari mobil. Ini mempersulit. Cepatlah keluar duluan! Jangan buang waktu!" pinta Chesy.
Tak mau buang waktu, akhirnya Cazim pun keluar lebih dulu. Melompat ke tanah. Posisi mobil yang menggantung, membuatnya perlu mengerahkan tenaga supaya bisa mendarat dengan baik. Tubuhnya terjatuh di tanah, tergeletak karena kakinya yang sakit itu tidak kuat menopang badan.
"Aaargggkh..." Cazim mengerang.
Hujan deras mengguyur tubuh Cazim. Pria itu tak peduli dengan derasnya hujan.
Senja tertatih mendekati Cazim.
"Syukurlah! Cazim!" Senja memeluk Cazim erat. Menangis haru, pria itu akhirnya selamat juga.
__ADS_1
Tatapan Cazim tertuju ke arah mobil. Tampak tangan Chesy menggapai ke bibir pintu mobil, kepala wanita itu menyembul keluar. Tepat saat ia hendak melompat keluar, batang pohon yang sudah hampir patah itu pun benar- benar patah. Batang pohon terlepas dari pangkalnya, lalu terjun bebas jatuh bersama dengan mobil. Wajah Chesy tampak pasrah, ketakutan, dan menangis saat tubuhnya terbawa bersama dengan mobil yang melayang terjun bebas itu.
Bersambung