Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Cemburu


__ADS_3

Chesy terdiam menyaksikan Cazim yang sedang makan disuapi oleh Senja. Pria itu dalam posisi setengah duduk, nyender di bantal yang disusun tinggi.


Terdengar tawa renyah dari keduanya, mereka tampak sangat akrab sekali, bahkan tatapan Cazim pada Senja tampak berbeda, bukan tatapan seorang teman, tatapan yang lebih dalam dari sekedar itu.


"Kamu sakit tapi makannya banyak. Bagaimana kalau tidak sakit? Pasti akan menghabiskan nasi sebakul. Malu- malin aku saja." Senja menyeletuk sambil terkekeh.


Cazim pun tertawa renyah. "Aduh!" Cazim memegang perutnya sambil meringis.


"E eeh, tuh kan hati- hati dong. Kamu belum bisa tertawa sehebat itu, perutmu masih sakit loh." Senja meraih pundak Cazim. Mengelusnya pelan.


"Kau jangan membuatku tertawa, nanti aku bisa tertawa dan kesakitan lagi. Ini perutku benar- benar sakit. Aku bahkan sampai tidak sadar sudah berapa lama aku tidak sadarkan diri di sini."


"Aku tidak suka kamu sakit begini. Aku benci dengan keadaan ini. Kamu tahu tujuanku kemari apa kan? Aku hanya ingin melihat kamu baik- baik saja, sekalian membantu keuanganmu." Senja kembali menyuapi Cazim.


"Terima kasih, Senja. Aku pasti akan cepat sembuh jika kau yang merawatku."


"Hei, kamu punya istri. Dan istrimu adalah orang yang menginterogasi aku tempo hari. Bukan aku yang seharusnya merawatmu, tapi istrimu."


"Tidak. Aku maunya dirawat olehmu." Cazim meraih lengan Senja.


"Hm? Aku bukan tipe wanita yang diinginkan orang tuamu."

__ADS_1


"Aku yang menjalani hidup, kenapa mereka yang repot?"


"Ayolah, jangan mencoba untuk bermain api. Kamu sudah menjadi menantu ustad saat ini."


Chesy mundur selangkah, menyenderkan punggung ke dinding dekat pintu. Tak tahu kenapa, hatinya nyeri sekali seperti diiris iris sembilu. Pedih.


Apa itu? Kenapa ia merasa sedih bercampur kesal melihat Cazim bersama dengan wanita lain? Ini adalah rasa yang berbeda dari rasa apa pun. Dan baru pertama kalinya Chesy merasakan ini. Apakah Chesy cemburu?


Oh ya ampun, sejak kapan ia merasa cinta pada Cazim sampai akhirnya kini terselip rasa cemburu dalam benaknya? Bahkan Chesy pun tak sadar kapan rasa itu muncul. Sebuah rasa yanga ajaib dan sulit dipahami dengan akal sehat. Baru saja ia merasa sangat membenci pria itu dengan sejuta kebenciannya, dan hanya dalam hitungan hari, keadaan hatinya berubah seratus delapan puluh derajat. Yang bahkan ia sendiri pun tidak menyadari kapan ia cinta itu hadir. Cinta memang misteri.


Chesy mengusap air bening yang mengalir di pipinya dengan punggung tangan. Beberapa kali diusap namun air itu membandel. Terus saja mengalir.


Sejak kapan Senja menemani Cazim di sini? Setiap malam Chesy tidak pernah mendatangi kontrakan itu karena ia menjaga supaya abinya tidak curiga. Ia hanya menjenguk Cazim saat pagi dan sore saja, tepatnya sebelum masuk kerja dan sepulang kerja.


"Sudah selesai makan. Sekarang mau apa lagi?" Suara Senja terdengar merdu.


"Aku mau kau di sini. Ya sudah, duduk saja. Temani aku sampai aku tertidur kembali," jawab Cazim.


"Seharusnya kamu panggil istrimu dan biarkan dia yang menemanimu."


"Aku maunya kau. Aku akan merasa damai saat tidur ditemani olehmu. Rasanya seperti ada peri yang menjaga."

__ADS_1


Terdengar suara renyah tawa Senja. "Sejak dulu kamu memang tidak berubah. Selalu begini. Oh ya, aku kemarin sempat dikerjain oleh istrimu, dia mengaku kalau kamu sedang ke luar kota, lalu dia menginterogasi aku. Dia sangat ingin tahu banyak hal tentangmu. Dia kan istrimu, sebaiknya kamu terbuka kepadanya. Posisinya sangat tidak enak."


"Hei, gadis bawel! Pikirkan saja tentangmu. Kenapa kau harus memikirkan orang lain? Biar itu menjadi urusanku!"


"Ck ck ck... Papamu kemarin menemuiku dan menanyakan keberadaanmu padaku. Dia mengira kamu bersamaku," kata Senja.


"Lalu kau jawab apa?"


"Kamu pasti tahu apa jawabanku, mana mungkin aku kasih tahu dimana keberadaanmu. Papamu sangat berharap kau bisa hidup bersamanya."


"Dan itu tidak mungkin." Cazim meneguk minum dibantu oleh Senja.


"Aku bawa gelas dan piring kotor ini ke belakang dulu. Biar aku cuci."


"Tidak usah dicuci. Ada Alando yang akan mengerjakan pekerjaan itu. Kau hanya perlu merawatku saja, bukan untuk beres beres rumah."


"Aku sudah mengelap badanmu tadi, sudah menyuapimu, sudah melakukan apa saja untukmu. Jadi tugasku sudah selesai bukan?"


"Belum. Aku belum tertidur. Temani aku!" Cazim menarik tangan Senja dan meminta supaya gadis itu tetap di sisinya.


Tepat saat itu, Chesy pun melangkah masuk setelah ia berhasil menyingkirkan buliran air mata.

__ADS_1


Bersambung


klik like dulu


__ADS_2