
Kali ini Chesy tidak menyetir mobil sendirian, ada Cazim yang duduk di bagian kemudi. Sedangkan di belakang, Rajani duduk di tengah- tengah, sebagai pengaman. Antara Rafa dan Revalina harus dipisah. Jika tidak, mereka akan sering berantem.
Hari libur, Cazim sudah janji akan mengajak anak- anak jalan- jalan. Dan ia menepatinya. Untungnya hari ini ia tidak ada tugas.
Setelah mengaji, anak- anak tadi dimandikan oleh Chesy, kecuali Rafa yang dimandikan oleh Cazim. Chesy memasangkan baju anak- anaknya, sedangkan Cazim memasak sarapan.
Ketika Cazim selesai membuat sarapan, anak- anak pun sudah tampil cantik dan ganteng dengan baju bagus.
Mereka sarapan bersama, tak lupa pula celetukan Revalina membuat gaduh, hingga terjadi adu mulut antara Rafa dan Revalina di meja makan. Selalu begitu kejadiannya, dan Cazim menjadi penengah, memberi pengertian supaya damai. Cazim mencuci piring ketika Chesy menggiring dan mengatur anak- anak untuk masuk ke mobil.
Rutinitas keseharian mereka dikerjakan bersama, tidak pakai pembantu.
“Mas Cazim, maukah kamu membawa anak- anak menemui kakeknya?” tanya Chesy.
Cazim yang sedang konsentrasi menyetir itu pun menoleh. “Maksudmu, abimu?”
“Iya.” Chesy teringat terakhir kali bicara dengan abinya, yang marah karena Cazim tidak bisa memenuhi kesepakatan. “Abi marah padamu, dan aku takut untuk menemuinya sendirian. Aku lebih memilih nggak menemuinya dari pada harus menemuinya sendirian dan membuatnya tahu posisimu yang ditahan. Menjaga nama baikmu di hadapan abi lebih baik, meski aku harus dinilai minggat.”
Satu tangan Cazim menyentuh tangan Chesy, menggenggam erat. “Ya. Tentu. Abi adalah kakeknya anak-anak.”
“Apa nggak lebih baik kita ke sana aja sekarang?”
__ADS_1
“Tapi kita tidak bawa pakaian ganti untuk anak- anak. Semua perlengkapan tidak ada yang dibawa. Kalau ke rumah abi, setidaknya kita menginap kan? rencananya tadi aku hanya akan bawa anak- anak ke mall untuk berbelanja.”
“Nggak masalah, mereka bisa beli baju di toko terdekat nantinya.”
“Oke. Jika itu maumu.”
Senang sekali permintaannya dituruti begini oleh suami. Cazim memang awalnya memiliki sifat keras dan kejam, namun ternyata semakin ke sni, ia semakin paham dnegan ajaran agama. Mana yang mesti diutamakan, dan mana yang mesti dihindarkan.
“Kok, lama banget perjalanan nya sih, abi?” tanya Revalina yang mulai jengah duduk terlalu lama di dalam mobil. Perjalanan sudah memakan waktu cukup lama. Bahkan mereka juga sudah sempat berhenti makan siang tadi.
“Masih lama lagi ya, abi?” tanya Rajani.
“Sebentar lagi sampai,” jawab Cazim.
“Kita mau ke rumah kakek,” jawab Chesy sambil menoleh dengan senyum kea rah anak- anaknya di kursi belakang.
“Hah? Ke rumah kakek? Kok, kita baru tau kalau kita punya kakek?” tanya Rajani polos.
“Kakek kan jauh tuh alamat rumahnya, kemudian juga kalian kalau diajakin main ke rumah kakek pas masih kecil, kalian pasti nggak akan ingat, makanya diajakinnya pas udah gede begini,” jawab Chesy.
“Oh iya.” Rajani mengangguk.
__ADS_1
“Yaaah… mana seru. Masak liburan malah nemuin kakek kakek. Kan nggak asik. Bukannya enakan main sama anak- anak ya?” protes Rafa.
Cazim terkekeh mendengar celetukan itu. Anak kecil memang selalu punya cerita. Cazim mengernyit menatap Chesy yang malah kelihatan tegang, padahal suasana sedang renyah- renyahnya. Tidak ada senyuman di wajah Chesy.
“Chesy, ada apa? kau kelihatan tidak nyaman?”
“Aku merasa canggung dan takut ketemu abi. Setelah sekian lama kita nggak ketemu, apakah abi mau menerima kita? Terakhir kali, abi marah di telepon.” Chesy resah.
“Kau punya niat untuk menemuinya kan? maka jangan resah, jalankan niat baik itu. lagi pula kita datang tidak hanya berdua, tapi bersama dengan anak- anak. Kalau pun abi marah, apakah mungkin kemarahannya tidak luntur saat bertemu dengan cucu mereka?” Cazim bijak.
“Tapi ini kasusnya berbeda. hati abi sudah terluka parah. Dia ditinggal istri dan anak, lalu satu- satunya anaknya yang masih hidup pun meninggalkannya juga. Dia sebatang kara. Dia benar- benar sendirian.”
“Tenanglah, kita akan hadapi ini bersama- sama.”
“Bismillah aja ya.”
“Nah, pintar.” Cazim tersenyum. Dia benar- benar tampak tenang, tapa kegelisahan. Semuanya dihadapi dengan setenang itu.
Kecepatan mobil berkurang ketika sudah hampir sampai ke alamat tujuan. Chesy menegakkan punggung, menatap ke luar ketika mobil berbelok memasuki halaman luas rumah.
Ya Allah… Chesy kembali ke rumah abinya yang sampai detik ini tidak ada perubahan sama sekali meski sudah hampir sembilan tahun ditinggalkan.
__ADS_1
Bersambung
Taraaa... Emma Shu Crazy Update, seneng gak nih? 🥰🥰 salam sayang selalu, semuanya buat kalian.