
Kejadian tadi siang yang ia maksud adakalanya kejadian di mana dirinya dan Joseph terlibat adu pandang yang sangat dekat, bullshit jika Rival tak kesal melihat kejadian itu.
"Terus apa yang kamu harapkan dari respon ku?" tanya Rival balik.
Revalina mendadak bingung dengan Rival yang malah bertanya padanya dan anehnya mempertanyakan harapannya.
"Kenapa jadi tanya ke aku, jawab dulu pertanyaanku tadi," ucap Revalina dengan nada kesal.
"Kalau kau mau jawab pertanyaanku kali ini, kau akan dapat jawabannya," sahut Rival tak mau kalah.
Kini ia mulai menarik nafasnya dalam-dalam, berusaha mengontrol emosinya yang hendak meluap akibat saling serang dengan membawa senjata ego masing-masing.
"Baiklah aku akan jawab pertanyaan nggak jelas mu itu," ucap Revalina masih dengan nada kesalnya.
"Aku tak berharap respon apa-apa tapi saat kejadian tak sengaja itu kau diam yang aku permasalahan itu kenapa giliran di depan banyak orang di depan keluargamu kau justru menyindir-nyindir begitu," jawab Revalina dengan sejelas-jelasnya.
"Ya gimana masa harus aku pukul CEO mu itu, nggak mungkin kan," sahut Rival.
"Asal kau tahu, aku cemburu Reva," jelas Rival menatap begitu dalam kedua mata Revalina.
Seketika Revalina jadi tersipu malu mendengar kalimat itu, dan saat itu juga ia baru sadar jika suaminya ini tengah cemburu.
Malam itu mereka telah selesai melepas permasalahan hari ini sebelum menjelang tidur, upaya Rival berhasil membuat hubungan mereka kembali harmonis.
Pagi harinya masing-masing sibuk dengan urusan masing-masing, Rival dan Yakub terlihat masih santai karena jadwal fisioterapi mereka masih agak siang berbeda dengan Revalina yang jam masuknya pagi-pagi sekali.
Setelah Revalina menyelesaikan pekerjaan rumah, melihat Sarah ada di dapur tengah menghidangkan masakannya ke piring perlahan ia coba mendekatinya dengan dalih mengambil air minum untuk semua.
"Mbak, nanti kamu ikut antar Mas Rival terapi?" tanya Revalina lirih.
"Iya," jawab Sarah lirih.
"Setelah jam istirahat kantor, kita bisa ketemu?" tanya Revalina kembali.
"Aku usahakan," jawab Sarah.
Hari ini Revalina berangkat ke kantor seorang diri, rasanya begitu hampa dan berbeda. Ketika langkah kaki mulai menapak masuk ke dalam kantor semua pasang mata lagi-lagi menyorot ke arahnya sama seperti pertama kali dirinya membawa Rival ke kantor.
'Pasti mereka lagi bertanya-tanya kenapa aku ke kantor sendirian,' tebak Revalina dalam hati.
"Selamat pagi Bu Reva," ucap salah satu karyawan yang berada dalam satu lift.
"Pagi," sahut Revalina sembari tersenyum ke arahnya.
__ADS_1
Ting.
Pintu lift terbuka, dengan cepat Revalina keluar dari sana bergegas menuju ke ruangan kerjanya. Melintasi ruangan Rafa terlihat dari pintu kaca tak terlihat adanya Rafa di sana.
"Yah padahal aku mau bicara sama Kak Rafa mumpung nggak ada Mas Rival," gumam Revalina sembari memandangi ruangan Rafa dari luar.
"Bu," panggil office boy.
"Iya," sahut Revalina seketika beralih menatapnya.
"Bu Reva lagi cari Pak Rafa ya?" tanya office boy itu sembari tersenyum.
Tak langsung menjawab ia lebih dulu memandangi office boy yang ada di hadapannya dari ujung kaki hingga ujung rambut, mendapati tangan sang office boy masih menggenggam alat kebersihan.
'Pasti dia habis bersihkan ruangan-ruangan di lantai ini,' gumam Revalina dalam hati.
"Iya, aku lagi cari Pak Rafa tapi ternyata di ruangannya nggak ada," jawab Revalina.
"Pagi ini Pak Rafa ada di ruangan Pak Joseph, saya barusan bertemu dengan beliau," ujar office boy.
Ia tak terkejut lagi mendengar hal ini, memang sudah hal biasa Rafa sering ke ruangan Joseph meski kali ini agaknya terlalu pagi.
"Oh di ruangan Pak Joseph ya, ya sudah kalau begitu terimakasih," ucap Revalina kembali melanjutkan langkah kakinya beberapa langkah lagi untuk menuju ruangan Joseph.
Tiba di ruangan Joseph, terlihat pintu ruangannya masih setengah terbuka. Nampak dari celah pintu keduanya tengah berbincang namun tak terdengar oleh Revalina.
"Pasti Kak Rafa yang ceroboh nggak nutup pintu ini dengan benar," ucap Revalina lirih.
Tok tok tok tok.
Revalina mulai mengetuk pintu ruangan kerja Josep, menjaga kesopanannya meski pintu tersebut sedikit terbuka.
"Masuk Reva!" seru Joseph dari dalam ruangan.
Mendengar seruan Joseph, dengan cepat Revalina melenggang masuk ke dalam ruangan tak lupa menutup pintu itu kembali.
"Ada yang bisa aku bantu Reva?" tanya Joseph begitu antusias.
Wajah Rafa langsung menunjukkan keterkejutannya, seketika menatap Joseph dengan tatapan kebingungan.
"Hey, kebalik hatinya Reva yang tanya begitu. Kau itu tugasnya suruh-suruh dia," tegur Rafa pada Joseph.
"Reva yang kesini berarti kan ada perlu Pak," sahut Joseph lirih.
__ADS_1
"Nggak ada kok Pak, aku cuma mau tanya berkas yang kemarin ada kesalahan pengerjaan apa enggak," jawab Revalina.
Sebenarnya niat hati hanya ingin bertemu dengan Rafa namun melihat Joseph yang begitu antusias dengan kedatangannya bahkan menanyakan keperluannya sungguh membuatnya tak enak hati.
"Oh yang kemarin itu sudah bagus, salut aku kamu bisa kerjakan di detik-detik akhir jam kerja," ucap Joseph sembari tersenyum.
"Terus ada lagi?" tanya Joseph.
"Aku minta materi yang bakal aku bawakan buat presentasi di luar kota nanti," pinta Revalina.
Joseph mendadak gusar, membuka satu persatu laci mejanya. Namun tak lama kedua tangannya berhenti mencari, pandangannya pun kembali tertuju pada Revalina.
"Bukannya aku sudah kasih filenya?" tanya Joseph menatap bingung.
'Bodoh, aku lupa kalau aku sudah dikasih file itu,' ucap Revalina dalam hati baru tersadar.
Terpaksa ia harus memutar otaknya dengan cepat mencari alasan lain tentang file tersebut. Tatapan Joseph kini semakin membuatnya tak nyaman, apalagi tatapan Kakaknya sendiri.
"Hilang Pak, aku lupa save," jawab Revalina lirih sedih.
"Yah, file itu ada di flashdisk dan aku lupa di mana aku taruh," ucap Joseph lebih sedih lagi.
"Sepetinya ada di ruangan ku," ucap Rafa setelah sekian lama terdiam menyaksikannya Revalina dan Joseph berbincang.
Seketika sorot mata tertuju pada Rafa, ada rasa lega dalam dada mendengar alasannya membuat peluang untuk bisa berbincang dengannya.
"Warga hitam bukan Pak Joseph?" tanya Rafa pada Joseph.
"Iya betul," jawab Joseph.
Akhirnya yang di tunggu-tunggu tiba Rafa mengajak Revalina menuju ke ruangan kerjanya dengan tujuan mengambil flashdisk tersebut.
Tiba di dalam ruangan kerja pemilik saham terbesar perusahaan tersebut Revalina langsung disodorkan flashdisk milik Joseph yang tersimpan di laci.
"Nih, bawa saja. Kembalikan kalau kau sudah simpan baik-baik file itu," ucap Rafa.
Revalina tak langsung mengambil flashdisk itu, ia justru duduk di kursi yang ada di depan meja kerja menatap Rafa yang masih berdiri tegap dengan kening yang mulai mengerut tajam.
"Kak, aku itu sebenarnya mau bicara sama Kakak," ujar Revalina mulai mengeluarkan niatnya.
"Hah, mau bicara apa?" tanya Rafa kebingungan.
Bersambung
__ADS_1