
"Oh enggak aku cuma bosan duduk. Lanjutkan Reva aku masih bisa menunggu," jawab Joseph.
"Oh," gumam Revalina lirih.
Dengan cepat ia pun segera menyelesaikan pekerjaannya, lalu mencetak semua file dan memasukkan satu persatu lembar berkas itu ke dalam map.
Akhirnya untuk pertama kalinya Revalina pergi berdua dengan Joseph siang itu ke salah satu resto cukup jauh dari kantor.
"Pak, ini kalau meeting di luar dan jauh tempatnya sepetinya nggak bisa balik ke kantor tepat waktu," ucap Revalina khawatir.
"Nggak papa Reva, meeting di luar itu hitungannya kita lagi kerja," sahut Joseph dengan santai. "Kau pergi meeting dengan atasan. Bukan dengan orang sembarangan. Jadi aman. Mungkin kita akan sampai jam dua siang atau paling lambat jam tiga, jangan khawatir. Dulu saja aku pernah dari pagi sampai sore," ucap Joseph.
"Ya Tuhan, itu meeting atau apa bisa selama itu?" tanya Revalina terkejut sekaligus bingung.
"Ya Meeting lah," jawab Joseph sembari terkekeh. "Masak bikin bakpao."
Tiba-tiba tatapan Joseph berubah menjadi begitu teduh, makin lama ia baru sadar Joseph tak berkedip menatapnya sejak tadi.
"Kenapa Pak?" tanya Revalina sedikit risih. Ia menelan saliva.
"Nggak papa, aku cuma semakin kagum saja dengan mu. Bisa-bisanya seorang Putri pewaris perusahaan takut terlambat padahal terlambat pun itu karena urusan pekerjaan," jawab Joseph sembari tersenyum-senyum. "Ini luar biasa. Kamu itu sangat komit dengan waktu."
"Padahal aslinya sering terlambat masuk mana nggak ikut meeting pula," sahut Revalina meledek dirinya sendiri.
"Ah kalau itu aku bisa mengerti, kau itu mengurus rumah sendiri juga mengurus suami mu. Kalau aku jadi kamu pasti sampai kantor pas jam istirahat," ucap Joseph.
Selama dalam perjalanan mereka terus bercanda, pembahasan makin merembet kemana-mana sampai tak sadar kini telah tiba di resto.
Mereka bergegas keluar dari mobil membawa laptop dan beberapa berkas penting, sebelum masuk ke dalam resto terlebih dahulu Revalina mengubah settingan suara pada ponselnya, mengaktifkan mode diam agar tak menganggu meetingnya siang ini.
'Biar Kak Rafa nggak tanya-tanya terus aku ada di mana,' ucap Revalina dalam hati kesal.
Siang itu tak lama klien datang dan akhirnya mereka memulai meeting sembari makan siang bersama, seiring waktu berjalannya meeting banyak perbincangan santai yang terselip mengurangi ketegangan di antara mereka.
Beberapa lama kemudian akhirnya meeting selesai juga, klien pun pamit pergi sebelum menghabiskan makan siangnya mereka terlihat tengah terburu-buru.
"Biasa orang sibuk suka begitu, tapi kalau aku mau sibuk atau enggak tetap sama. Sama-sama santai," ucap Joseph memandangi ke arah punggung kliennya.
"Pak Joseph bisa saja, santai-santai karena ketika kerjain sesuatu selalu cepat dan tepat," sahut Revalina melirik ke arahnya.
"Ah tidak juga," elak Joseph.
Selain cerdas ternyata CEO muda ini begitu rendah hati tak pernah mengunggulkan dirinya sendiri tapi justru selalu memuji Revalina tanpa henti.
"Kalau saja ada nominasi CEO terbaik saya pasti akan vote Pak Joseph," ujar Revalina sembari menatap Joseph dengan sangat dalam.
"Hahahaha, ada-ada saja kamu mana ada nominasi begitu," ucap Joseph tertawa lepas mendengar ucapan Revalina.
Revalina pun ikut tertawa membayangkan adanya nominasi tersebut, di tengah tawanya tangan kanannya mulai mengambil ponsel dari dalam tasnya.
Seketika tawa lepasnya mendadak terhenti ketika melihat banyaknya Miss call dari Sarah dan Rival, saat itu juga baru tersadar jika pagi tadi ia menanyakan waktu pada Sarah untuk bisa bertemu.
'Ya Tuhan, bisa-bisanya aku lupa tapi mau gimana tadi masih meeting,' ucap Revalina dalam hati namun masih membela diri.
"Pak, saya ke toilet sebentar," izin Revalina pada Joseph.
"Oh iya, silahkan," sahut Joseph sesaat setelah menelan makanannya.
__ADS_1
Dengan cepat Revalina bergegas menuju ke toilet yang ada di sudut resto, tiba di sana ia langsung menghubungi Rival terlebih dahulu.
Tutttt.
Panggilan telfon tersambung namun tak kunjung di angkat juga.
"Kemana Mas Rival, apa jangan-jangan masih terapi," ucap Revalina bertanya-tanya.
"Lebih baik aku kabari dia melalui chat saja," ucap Revalina kembali.
Ia pun langsung memberi kabar pada Rival melalui chat, tak lupa untuk mengingatkan makan dan minum obat padanya setelah itu barulah Revalina beralih menghubungi Sarah.
Berbeda dengan Rival, Sarah langsung mengangkat telfon darinya.
Sarah: Hallo, assalamualaikum.
Revalina: waalaikumsalam.
Sarah: dari mana saja baru telfon balik?.
Revalina: maaf Mbak, aku tadi masih meeting jadi baru buka ponsel.
Sarah: oh, pantas saja.
Revalina: jadi gimana Mbak, bisa ketemu?.
Sarah: cuma sama aku saja?.
Revalina: iya.
Sarah: iya, aku ke kantor sekarang.
Revalina: assalamualaikum.
Sarah: waalaikumsalam.
Revalina langsung menutup telfonnya, sesaat ia baru tersadarkan akan suatu hal.
"Ya Tuhan, aku kan masih ada di resto kenapa aku oke-oke saja Mbak Sarah mau ke kantor," ucap Revalina dengan kedua mata terbelalak.
"Aku harus cepat-cepat balik ke kantor," ucap Revalina kembali, bergegas keluar dari toilet.
Tiba di ujung pintu yang memisahkan toilet perempuan dengan toilet lelaki, Revalina tak sengaja bersimpangan dengan seorang lelaki dengan memakai jaket dan masker hitam tengah memandanginya tanpa henti.
'Siapa dia, kalau kenal kenapa nggak langsung sapa saja tapi kalau nggak kenal kenapa segitunya menatap ku,' ucap Revalina dalam hati bertanya-tanya.
Tak lama laki-laki itu mempercepat langkahnya berbelok ke arah toilet laki-laki, saat itu juga Revalina bergegas pergi sembari membuang pikirannya tentang orang tak dikenalnya.
Setibanya di mejanya Revalina langsung meminta Joseph untuk kembali ke kantor dengan berbagai alasan namun tak langsung diterima sehingga mengharuskan ia berkata jujur pada CEO itu, akhirnya dia pun setuju untuk kembali ke kantor sekarang juga.
Di dalam mobil Joseph terus memberi perintah pada supirnya untuk menaikkan laju kecepatan, nampak dia begitu panik tak seperti biasanya.
"Tenang Pak," ucap Revalina justru berusaha menenangkan Joseph.
"Aku tahu jarak rumah kamu ke kantor itu lumayan dekat, kalau kita nggak buru-buru takutnya Kakak iparmu menunggu terlalu lama," ujar ketakutan Joseph.
Bukannya ikut panik, Revalina justru terkekeh melihat Joseph untuk pertama kalinya sepanik ini.
__ADS_1
"Malah tertawa kamu ya," gerutu Joseph menatap bingung.
"Ya habis gimana Pak, Bapak aneh masa ada Kakak ipar ku datang langsung panik begini giliran aku bilang ada banyak kerjaan di kantor bilangnya santai-santai," sahut Revalina terus terkekeh.
"Ini beda, kalau yang kali ini kan nggak bisa ditunda sama sekali," jelas Joseph.
Raut wajah Joseph masih menunjukkan kepanikan hingga setibanya di kantor tetap panik, hingga tiba di depan ruangan kerja Joseph keduanya berpisah.
"Terimakasih Pak," ucap Revalina sembari tersenyum ke arahnya.
"Sama-sama," sahut Joseph membalas senyuman Revalina.
Setelah mendengar sahutan Joseph, Revalina pun kembali melanjutkan langkah kaki menuju ke ruangan kerjanya dengan jantung yang berdebar-debar mengingat apa yang akan ia perbincangan dengan Sarah.
Klekk.
Revalina mulai masuk ke dalam ruangannya, terlihat Sarah menunggu kedatangannya di sofa panjang sembari membaca majalah.
"Mbak, maaf ya harus menunggu lama," ucap Revalina tak enak hati dengannya.
"Nggak papa, aku juga baru sampai," sahut Sarah sembari mengerutkan keningnya.
"Aku tadi lupa kasih tahu kalau aku itu meetingnya di luar bukan di kantor jadinya makan waktu buat perjalanan pulangnya," ucap Revalina masih tak enak dengan Sarah.
"Its okey Reva, sumpah aku sendiri juga baru sampai," sahut Sarah.
Atas kecerobohannya ia begitu menyesal beruntung Sarah tak marah padanya meski mengatakan bahwa dia baru sampai, namun entah kenapa ucapan itu hanya sebuah ucapan penenang saja faktanya Sarah tiba sejak tadi.
"Tadi Mas Rival bagaimana Mbak?" tanya Revalina penasaran.
"Rival baik-baik saja, fisioterapinya lancar dan Dokter kasih banyak penjelasan dan menurutku bisa di pertimbangkan kalau bisa jangan pindah rumah sakit. Entah kenapa aku yakin saja Rival bakal sembuh melalui tangan Dokter dari rumah sakit itu," jawab Sarah dengan jelas.
"Kakak bilang yakin, memangnya sudah tahu gimana proses Mas Rival melakukan fisioterapi?" tanya Revalina sembari menaikkan sebelah alisnya.
Ia ragu Sarah melihat langsung proses Rival melakukan fisioterapi karena beberapa kali terakhir ini Rival menolak keras ditemani sampai ke dalam ruangan, karena dirinya yang juga sibuk alhasil waktu itu tak mempermasalahkan hal itu.
"Enggak," jawab Sarah.
"Tuh kan," ucap Revalina sembari menghembuskan nafas beratnya.
"Tapi Yakub masuk dan setelah dari sana dia bilang kalau rumah sakit itu bagus," ujar Sarah.
Sontak kedua mata Revalina terbelalak, terkejut sekaligus bingung dengan ujung kecurigaan mereka bertiga pada rumah sakit itu.
"Lah," ucap Revalina menatap bingung.
"Kau pasti bingung, aku juga begitu awalnya tapi lihat Yakub begitu semangat bahkan bilang kalau rumah sakit itu bagus aku jadi merasa percaya sekarang," jelas Sarah.
"Tahu ah aku jadi pusing," keluh Revalina.
"Sebentar, ini kau minta aku kesini cuma buat tanya-tanya tentang fisioterapi Rival?" tanya Sarah.
Seketika raut wajah Revalina berubah dengan serius, kerut-kerut di kening perlahan memudar mengikuti wajah kakunya sekarang.
"Bukan, aku minta Mbak kesini karena hal lain," jawab Revalina.
"Hal lain apa?" tanya Sarah menatap kebingungan.
__ADS_1
Bersambung