Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Proses


__ADS_3

Tak hanya Revalina yang bingung melihat Rival, Sarah pun nampak kebingungan juga.


"Ada apa ya Reva?" ucap Sarah bertanya-tanya.


"Entah," sahut Revalina sembari mengangkat sedikit kedua bahunya.


"Tapi Kak Yakub ada di belakang Mbak?" tanya Revalina mulai coba untuk menebak-nebak kemana arah perginya "Iya dia di belakang," jawab Sarah dengan wajah kebingungannya.


Meski sangat penasaran, ia pun memilih untuk menunggu Rival kembali dari pada harus menyusulnya ke belakang takut menganggu privasi Kakak beradik itu.


Tak lama akhirnya yang ditunggu-tunggu telah tiba, Rival dengan pembawaan yang berbeda lebih tepatnya seperti ke settingan awal terduduk dengan tenang dan mulai mengajak seluruh anggota keluarga termasuk Revalina untuk berbincang.


'Tumben, biasanya yang mau mendudukkan masalah cuma Kak Yakub. Ada apa ini,' ucap Revalina dalam hati.


"Aku mau bicara sama kalian semua, ada kabar yang harus aku sampaikan malam ini," ujar Rival membuka pembicaraan.


"Kabara apa Val?" tanya Sarah sembari mengerutkan keningnya.


Belum apa-apa Sarah sudah panik membuat Revalina ikut tertular panik juga.


"Dalsa di hajar sama tahanan lain dan sekarang ada di ruang IGD," ujar Rival lirih lemas.


"Hahhh," desah Revalina dan Sarah bersamaan.


Keduanya shock mendengar kabar tersebut, meskipun sebelumnya saat Revalina berkunjung telah melihat luka lebah di beberapa titik tubuh Dalsa akan tetapi kabar yang dibawa Rival tak kalah mencengangkan.


"Gimana bisa Dalsa dihajar tahanan lain, apa di dalam mereka bertengkar?" tanya Sarah mulai dengan rasa panik dan cemas yang semakin tak terkendali.


"Sepetinya begitu, dan aku rasa dia sudah sering berantem karena sampai di pindah sel sama polisi di sana," jawab Yakub dengan wajah muram.


Ketika pandangan matanya beralih ke arah Yakub ketika mulut sang Kakak ipar itu terbuka mengeluarkan suara, saat itu juga ia baru menyadari bahwa Yakub nampak lebih terpukul dengan kabar ini dibanding dengan Rival.


'Nggak nyangka di balim ketegasan Kak Yakub ternyata dia sangat menyayangi Dalsa,' ucap Revalina dalam hati.


"Sekarang aku minta Kak Sarah yang kasih kabar ini langsung ke Mama dan bawa Mama kesana," pinta Rival menatap Sarah dengan tatapan sendunya.


"Baiklah, aku akan kasih kabar ini ke Mama," sahut Sarah menyanggupi permintaan Rival.


Malam itu Sarah dan Yakub berangkat bersama setelah melewati kesepakatan keduanya menaiki mobil berbeda agar Yakub bisa memantau dari jauh, semua sama-sama tahu jika Yakub dan Rival saat ini tengah berusaha menjaga jarak dengan Candini agar tak terjadi hal-hal yang tak diinginkan seperti kemarin, sampai semuanya mereda barulah mereka bergegas untuk segera mendekat ke Candini.


Sementara itu di rumah tinggal Revalina dan Rival berdua saja, dengan rasa takut-takut Revalina enggan memulai perbincangan dengan Rival yang terlihat masih pusing memikirkan adiknya yang kini tengah berada di rumah sakit.


"Nanti setelah Mama keluar dari rumah sakit, kita besuk Dalsa ya," ajak Rival membuka pembicaraan lebih dulu.


"Iya Mas," sahut Revalina tersenyum lega.


Ia lega karena akhirnya setelah dua hari Rival bersikap cuek padanya kini mulai mengajaknya berbicara.


"Apa nggak lebih baik setelah ini kamu minta polisi buat pindahkan kamar khusus tahanan buat Dalsa, Mas?" tanya Revalina mengusulkan idenya.


"Nanti aku tanyakan sama Kak Yakub, kalau dia setuju aku akan minta polisi buat proses secepatnya termasuk proses tahanan yang menghajar Dalsa sampai seperti sekarang," jawab Rival dengan sisa amarah yang masih menggebu.

__ADS_1


Jauh dari lubuk hati terdalam Revalina merasa puas dengan cara kerja Tuhan melalui alam semesta ini dengan mengirimkan orang untuk memberi pelajaran pada kedua pelaku di saat yang bersamaan, siksa keduanya berjalan selama hampir seminggu dan salah satunya telah menyerah akan hidup. 


Idenya untuk memindahkan Dalsa ke kamar khusus bukan tanpa alasan, di balik rasa kecewa dan amarahnya pada adik iparnya itu ia masih menginginkannya tetap hidup dan menjalani hukuman sampai tuntas sampai dia menyesali semua perbuatannya.


"Aku juga ada kabar untukmu Mas," ucap Revalina.


"Apa itu?" tanya Rival penasaran.


"Akram sudah ditemukan, dan sekarang Polisi sedang melakukan proses penjemputan yang katanya memakan waktu," ujar Revalina dengan wajah datarnya.


"Alhamdulillah, yang penting sudah tertangkap tinggal di proses setelah ini," sahut Rival sembari menghembuskan nafas leganya.


Reaksi Rival kurang lebih sama dengan reaksi Revalina ketika mendengar kabar yang terbagi dalam dua kalimat dengan sengaja memberi jeda, persis dengan apa yang dilakukan Rafa padanya.


"Tapi dia ditangkap dalam keadaan sudah meninggal Mas," sambung Revalina dengan jelas.


"Hah?" desah Rival terkejut hingga membelalakkan kedua matanya. "Innalilahi wainnailaihi raji'un." nafas Rival rasanya tinggal setengah. "Tapi ya sudahlah. Ini adalah bagian dari rencana Tuhan. Kematiannya sudah takdir, tidak bisa dicegah lagi. Anggap saja dia sudah menghadap Tuhan untuk kemudian mempertanggung jawabkan perbuatannya. Kita serahkan semua pada Tuhan."


Saat itu juga Revalina mulai menceritakan apa yang terjadi pada Akram sesuai dengan yang ia ketahui, dengan adanya dua kabar buruk hari ini membuat komunikasi Revalina dan Rival menjadi membaik.


Beberapa jam kemudian akhirnya Yakub menghubungi Rival bahwa Sarah dan Candini sudah selesai membesuk Dalsa, mendengar hal itu Rival langsung mengajak Revalina untuk membesuk adiknya.


Sebagai seorang istri tentunya Revalina hanya bisa mengangguk dengan ajakan positif seorang suami, meski dalam hati sangat berat menjalani.


'Kalau saja bukan karena Mas Rival yang mengajak aku nggak akan sudi menjenguknya, biar aku suruh Almarhum Rajani saja yang menjenguk sekalian jemput,' ucap Revalina dalam hati.


Sedetik kemudian ia langsung sadar dengan ucapannya yang sudah kelewat batas dan terbilang sangat tidak pantas.


"Mas, kamu ini kenapa tengok saja tengok sini?" tanya Revalina kebingungan.


"Aku lagi cari toko buah sekitar sini perasaan kemarin ada," jawab Rival masih menengok kesana kemari.


Mendengar jawaban Rival seketika membuat Revalina teringat dengan proses ketika dirinya masuk untuk membesuk Dalsa harus melalui penjagaan yang begitu ketat hingga melakukan penggeledahan pada seluruh tubuhnya apalagi barang yang dibawa saat itu.


"Kamu yakin mau bawa buah buat Dalsa, apa nggak takut di rampas polisi?" tanya Revalina menatap Rival sembari mengerutkan keningnya.


"Orang cuma buah masa di rampas, lagian aku kan Kakaknya mana mungkin mau kasih racun atau barang-barang haram di dalam buah itu," jawab Rival dengan santainya.


Ucapan Revalina ternyata tak mempan, Rival tetap membelokkan mobilnya ke arah toko buah di pinggir jalanan kota.


"Aku tunggu sini saja Mas," ucap Revalina enggan turun mengikuti Rival memilih parcel buah untuk Dalsa.


"Ya sudah," sahut Rival dengan nada lembut.


"Kamu mau buah juga nggak?" tanya Rival.


"Enggak," jawab Revalina dengan ketus.


"Ya sudah aku tinggal dulu sebentar ya," pamit Rival bergegas keluar dari mobil.


Pintu mobil tertutup dari luar, Rival bergegas masuk ke dalam toko buah dengan langkah cepat.

__ADS_1


"Harunya kalau mau nawarin itu nggak usah ada kata nggak, ya jadinya aku jawab enggak," gerutu Revalina kesal.


Padahal sejak pertama kali melihat toko buah itu mata Revalina sudah tertuju pada buah strawberry yang terpajang dengan mangkuk cantik bak buah primadona di jajaran meja tinggi itu.


Tapi gengsinya terlalu tinggi untuk mengatakan bahwa dirinya juga ingin buah sementara pertanyaan Rival dirasa kurang tepat baginya.


Tak lama Rival kembali ke dalam mobil dengan membawa parcel buah dengan ukuran sedang namun terlihat begitu mewah dilengkapi dengan hiasan unik yang menambah keindahan parcel buah itu.


"Sekarang kita ke rumah sakit," gumam Rival kembali melanjutkan mobilnya.


"Reva, tadi itu aku lihat ada strawberry besar-besar mana cantik pula. Tadinya aku mau beli tapi kayaknya kamu lagi nggak mau buah jadi aku nggak beli deh," ucap Rival berniat membuka obrolan di tengah keheningan malam.


Niat Rival meleset jauh, ucapannya saat ini seketika membuat darah Revalina terasa mendidih bahkan hampir meluap ke ubun-ubun.


'Bisa-bisanya nggak di beli, memang dasar suami nggak peka. Ih kesalnya aku,' geram Revalina dalam hati.


"Kamu itu harus banyak-banyak makan buah sama sayur biar nggak gampang ngambek," tegur Rival sembari tersenyum-senyum.


"Dih, bukannya kebalik kamu yang gampang ngambek," sahut Revalina menampik balik teguran Rival padanya.


"Kenapa jadi aku," sahut Rival sembari terkekeh.


Perbincangan mereka dalam perjalanan menuju ke rumah sakit semakin tak jelas, kalimat-kalimat yang keluar dari mulut Rival membuatnya terus menerus merasa kesal.


Sampai pada akhirnya tibalah mereka di rumah sakit, Rival terlihat begitu antusias dari ketimbang Revalina yang malas malasan membesuk Dalsa.


Terlihat dari luar ruang IGD dilakukan penjagaan ketat oleh beberapa polisi, meski dalam keadaaan sekarat pun seorang narapidana tetap dilakukan penjagaan.


"Lebay sekali polisi-polisi ini, siapa juga yang mau kabur. Nggak lihat apa kondisi Dalsa sekarang," gerutu Rival lirih kesal.


"Mas, jangan begitu mereka cuma melaksanakan tugas yang sudah jelas aturannya seperti ini," tegur Revalina lirih tak mau suaminya menyalahkan maksud para polisi tetap berjaga-jaga di depan.


Tiba tepat di ruang IGD, seperti yang dia duga sebelumnya tetap ada pengecekan barang bawaan keluarga narapidana yang hendak membesuk sekalipun di rumah sakit. Melihat h ini Revalina semakin malas untuk masuk ke dalam sana.


"Mas, aku tungguin di luar kau saja yang masuk besuk Dalsa," ujar Revalina sembari mengerutkan keningnya.


"Lah, kenapa nggak ikut masuk sudah di sini juga. 


Rival yang tengah di periksa sontak langsung menoleh ke belakang ke arah berdirinya Revalina.


Tanggung kalau nggak masuk," ucap Rival bertanya-tanya pada Revalina.


"Sudahlah kau saja yang masuk, aku lagi nggak mood cium bau rumah sakit," Revalina kekeh menolak ajakan Rival.


Pada akhirnya Rival masuk ke dalam ruang IGD seorang diri dengan membawa parcel buah yang sudah dibuka dan diobrak-abrik kedua polisi yang memeriksa.


'Semoga Mas Rival nggak lama-lama di dalam sana,' ucap dia Revalina dalam hati sembari memandangi punggung Rival yang perlahan menghilang di telan pintu ruang IGD.


Sembari menunggu Revalina coba mencari tempat duduk yang sedikit berjauhan dengan para polisi yang menjaga di depan pintu ruang IGD.


Tak lama ia pun menemukan salah satu barisan kursi di salah satu sudut ruangan, perlahan ia pun mengerakkan tungkainya melaju ke arah sana namun seketika langkahnya terpaksa terhenti setelah melihat ranjang mayat melintas di hadapannya dengan di kawal tiga orang polisi.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2