Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Gedebug


__ADS_3

“Tunggu, ada kembaliannya, Mas!” teriak penjual bubur.


“Buat Mang saja!” ucap Cazim sambil melangkah pergi menuju ke motornya.


Chesy terdiam di kursinya.  Dadanya terasa panas sekali atas perlakuan Cazim terhadapnya.  Lelaki itu melarangnya berkata kasar, namun justru dia sendiri berkata sangat buruk di depan orang lain.


Lelaki bej*t!  Bener- bener lelaki jaha…  Ah, hati Chesy kesulitan melanjutkan kata- kata itu.  bisa- bisanya Cazim mengamuk saat ia menuntut untuk tahu banyak hal tentang keluarganya CAzim.  Wajar saja sebagai istri ia ingin tahu tentang seluk beluk keluarga suaminya, lalu kenapa Cazim sampai harus marah begitu?  


Dari sikap Cazim, jelas lelaki itu ingin meghindar.  Dia tidak ingin Chesy tahu banyak tentang keluarganya Cazim.  


Chesy bangkit dari kursi, berjalan dengan langkah lebar melewati Cazim yang sudah duduk di atas motor.


“Hei hei, ini helmnya!  Cepat naik!” titah Cazim, namun Chesy terus berjalan tanpa menggubris teriakan Cazim.


Chesy setengah berlari meninggalkan Cazim.  Membiarkan Cazim membeku di tempatnya.

__ADS_1


Tanpa diantar Cazim, Chesy juga bisa sampai ke sekolah hanya dengan berlari.  Dan ternyata Cazim tidak mengejarnya.  Ia terus berlari sampai jauh, wajah Cazim pun tidak lagi terlihat olehnya.  


Keterlaluan Cazim!  Dia membentak dan seenaknya saja memaki.  Apa salahnya Chesy ingin mengetahui seluk beluk keluarganya Cazim?  Hanya karena ia menanyai tentang keluarga lelaki itu, dengan mudahnya Cazim memakinya.  Sungguh kelewatan!


Suara nyaring cicitan rem motor berbaur dengan suara benturan keras.


Gedebug!


Chesy terbanting ke aspal sesaat setelah sebuah motor menabraknya.  Sosok lelaki yang menunggangi motor pun terbanting.  Ia sebenarnya sudah banting setir tapi terlambat.  Kecelakaan itu tidak bisa dihindari.  


Beberapa orang dari pihak sekolah yang menyaksikan hal itu pun segera membawa Chesy ke UKS, termasuk lelaki yang menabrak Chesy.  Mereka diobati di UKS.  Duduk berhadapan di atas bed hijau.  


Perawat sudah selesai mengobati lawan yang menabrak Chesy.  Kini giliran Chesy yang tengah diobati oleh perawat.  UKS sekolah memang menyewa jasa perawat.  


“Adudduh!”  Chesy merintih merasakan siku tangannya yang diberi obat merah lalu dibalut perban.

__ADS_1


“Maaf soal kecelakan tadi.  Aku pas mau belok ke arah gerbang sekolah, dank au juga menyeberangi jalan mau masuk ke tempat yang sama, aku benar- benar tidak bisa menghindari tadi!” ucap lelaki yang masih duduk di bed itu.  Dia adalah Yakub, abangnya Rival, anak paling bandel di sekolah. Bukan hanya sekali atau dua kali saja Rival membuat onar di sekolah sehingga bolak- balik wali murid dipanggil ke sekolah.  Dan Yakub menjadi korban panggilan sehingga ia mesti bolak balik mendatangi sekolah.


Sampai- sampai hampir seluruh personil sekolah mengenali Yakub saking lelaki itu terlalu sering mendatangi sekolah.


“Nggak apa- apa sih.  Anggap aja kecelakaan.  Tapi kan nggak ada yang mati.  Nggak ada yang parah juga.”


“Kamu yakin tidak apa- apa?” tanya Yakub.


“Santai aja.  Ini lagi diobati. Cuma lecet dan nyeri aja.  Benatran juga sembuh kok.”  Chesy sering berinteraksi dengan Yakub karena beberapa kali pria itu ke sekolah dan berbincang untuk urusan sekolah, tentu membahas hal berkaitan dengan Rival.  


Selain TU, Chesy juga menjabat sebagai penasihat atau yang sering dikenal BP oleh anak- anak sekolah.  Jadi anak- anak bandel sering kali berurusan dengannya.


 


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2