
"Kau seorang pembunuh, Dalsa!" Rival muak.
Dalsa menelan saliva. Bagaimana bisa Rival mengetahui semua kebusukannya selama ini yang disimpan dengan rapi, tentu saja sudah ada yang membocorkan informasi tentang kematian Rajani.
Ditambah Rival yang amat mencintai Revalina, tentu saja Dalsa tidak mampu berkutik sama sekali. Sekalipun sang ibu, Candini berada di pihaknya. Hingga ingatan Dalsa kembali disaat tengah dihadapkan oleh kemarahan Reval.
Sebuah tamparan yang begitu keras mendarat dengan pas di wajah cantik dan mulus Dalsa, ketika Dalsa melihat siapa yang melakukan hal itu, seketika amarahnya pun kian membara.
“Apa yang kakak lakukan?” pekik Dalsa tidak terima akan apa yang telah Rival lakukan padanya dan menatap tajam sang kakak.
“Cih! Kamu masih bisa bertanya apa yang aku lakukan? Coba kamu tanya pada dirimu sendiri, apa yang telah kamu lakukan?” teriak Reval dan ingin melayangkan tangannya. Namun, sebelum mendarat kembali ke wajah Delsa. Candini berhasil menghentikan tindakan Reval.
Candini menatap tajam Reval, ia tidak suka dengan cara putranya tersebut yang mengunakan kekerasan.
“Tenang Reval!” pinta Candini mencoba menenangkan Reval, tapi sayangnya lelaki itu tidak bisa menahan emosinya setelah mengetahui bahwa dalang dari kematian Rajani adalah adik kandungnya sendiri.
“Ini hasil didikan Mama! Dalsa telah menjadi seorang pembunuh!” pekik Reval nyaring.
Candini agak tersentak dengan apa yang dikatakan oleh Reval dan menatap ke arah Dalsa, seolah meminta penjelasan.
Namun, Dalsa hanya bisa diam seribu bahasa dan menggigit bibir bawahnya menahan rasa perih setelah ditampar oleh sang kakak.
Mana mungkin Dalsa mengakui semua kejahatannya, bisa-bisa dirinya akan berakhir di balik jeruji besi nantinya.
“Kenapa? Mama gak percaya dengan apa yang aku katakan?” tanya Reval yang melihat sebuah guratan ketidakpercayaan sang mama, atau lebih tepatnya ketidakmampuan wanita itu untuk menghadapi kenyataan pahit ini.
Reval amat kenal sang mama yang amat mencintai dan menyayangi Dalsa, bahkan melebihi dirinya. Namun, Reval ingin melihat. Bagaimana kali ini wanita itu membela anak kesayangannya itu. Apalagi masalah yang telah ditimbulkan oleh Dalsa bukan hal yang kecil.
Dalsa telah membunuh Rajani, saudara kembar Revalina. Tentu saja Reval tidak akan pernah bisa memaafkan adiknya itu untuk hal apapun juga, sekalipun sang mama menangis darah memohon padanya.
“Apa buktinya, Reval? Mana mungkin Dalsa melakukan hal itu! Untuk apa?” bantah Candini berusaha membela Delsa.
Reval tersenyum sinis, ia sudah mengira akan hal ini. Sang mama akan membalas Dalsa, sekalipun telah melakukan kesalahan.
“Oke! Aku akan memberikan semua bukti yang Mama inginkan!” kata Reval dengan sungguh-sungguh seraya menarik tangan Dalsa dengan kasar.
“Ayo ikut aku! Kita harus ke kantor polisi!” perintah Reval.
Dalsa yang mendengar hal itu menjadi ketakutan dan meminta tolong kepada sang mama yang menangis, entah karena kasihan atau merasa terpukul dengan kejadian ini.
“Reval, tolong hentikan!” pinta Candini seraya menarik tangan Dalsa yang satunya.
Reval seperti orang kesetanan, ia tidak mau mendengarkan apa yang diucapkan oleh sang mama dan terus menarik Dalsa yang meraung-raung ketakutan.
“Kamu harus bertanggung jawab atas kematian Rajani!” kata Reval dengan menekankan setiap kata yang diucapkan. "Atau kamu boleh tinggalkan rumah ini sekarang juga, kau bukan adikku!"
Rival benar-benar marah dengan Dalsa hingga tega mengusir adiknya itu di waktu hampir menjelang tengah malam, bahkan ucapan dan perkataan Candini pun tidak dia hiraukan.
Namun, sebenarnya Rival ingin membuat Dalsa merasa jera dengan apa yang dia lakukan ini.
Rival ingin Dalsa merasakan rasa bersalah yang amat sangat hingga pada akhirnya dia sendiri yang ingin mempertanggungjawabkan kesalahan yang dia lakukan terhadap Rajani.
Walaupun tidak dapat dipungkiri juga dirinya begitu sakit hati dengan perbuatan adiknya itu.
"Tidak, Rival ... Jangan usir Dalsa, jangan suruh dia pergi dari rumah ini." rengek Candini pada putranya, namun tentu saja semua itu tak dihiraukan oleh Rival.
Pria itu mengarahkan kursi roda mendekati Dalsa dan menarik tangannya, memaksa Dalsa untuk segera melakukan apa yang dia katakan.
Setelah memasukkan semua barang-barang milik Dalsa ke dalam koper, Rival kembali menarik tangan Dalsa tanpa sedikitpun merasa iba pada adiknya.
Pria itu menarik tangan Dalsa menuju keluar, tempat dimana mobil yang biasa dipakai oleh Dalsa itu terparkir dengan rapi di sana.
"Pergilah cepat, aku tidak ingin melihatmu lagi di sini!" Rival berujar dengan ketus.
Baginya Dalsa masih cukup beruntung sebab dirinya mengusir adiknya itu dengan memperbolehkannya membawa kendaraan, bagaimanapun Rival masih memikirkan jika Dalsa adalah adiknya.
"Rival, tolong jangan usir adikmu, Nak ... Maafkan kesalahan yang dia lakukan, toh kamu juga pernah melakukan kesalahan bukan hanya Dalsa."
"Pergi Dalsa, cepat Pergi!" bentak Rival pada Dalsa tanpa mempedulikan Candini yang berdiri di belakang mereka sambil menatap penuh harap pada Rival agar tidak mengusir adiknya.
Namun semua sia-sia, Rival tetap dengan keputusannya untuk mengusir Dalsa.
Dalsa masih teguh pada pendiriannya, bertahan di sana.
Hingga tarik–menarik antara Reval dan Candini tidak terelakan, Dalsa merasa kesakitan karena kedua tangannya dicengkeram kuat oleh sang kakak dan mama.
Hal itu membuat Dalsa berteriak dan meronta-ronta sampai berhasil terlepas, Dalsa pun menangis sesenggukan. Mulai panik dengan situasi yang ada.
Otak Dalsa benar-benar kalut, setelah mobil dihidupkan. Dalsa pun segera tancap gas, sebenarnya Dalsa memang ingin pergi keluar. Namun dicegat oleh Candini tadi, hingga terjadi hal yang tidak pernah ia sangka.
“Dalsa! Dalsa!” teriak Candini yang ternyata mengejar mobil yang Dalsa kendarai.
Melihat hal itu, bukanya berhenti. Dalsa semakin menekan pedal gasnya sampai berhasil membuat Candini terjatuh sebab berlari mengejar mobil yang dikendarai.
Dalsa yang melihat keadaan Candini dari balik kaca spion hanya bisa tersenyum sinis, setidaknya saat ini ia aman. Candini pasti akan semakin menekan Rival setelah kenekatannya ini. Entah bagaimana dengan nantinya, sebab Dalsa yakin bahwa Rival tidak akan pernah mau berhenti.
Pada akhirnya Dalsa pun merasa aman dengan kondisinya saat ini, yang berhasil meninggalkan Rival, walaupun dia sendiri tidak punya tujuan untuk pergi kemana setelah itu.
Dalsa telah berhasil meninggalkan Rival, juga Candini yang menangis terisak-isak sebab tidak terima dengan kepergian salah satu putrinya. Tangis Candini pecah. Ia nyaris terlihat seperti seorang yang frustasi.
"Ini semua gara-gara kalian berdua Dalsa jadi pergi, dimana hati nurani kalian ha. Gimana kalau terjadi apa-apa sama Dalsa," teriak histeris Candini atas kepergian Dalsa.
Mata Rival memicing kebingungan, bingung dengan kalimat Candini yang rasanya tak pas. Sejak tadi pun tak ada yang pas namun kali ini lebih-lebih tak pas lagi.
"Kenapa Mama tanya hati nurani ke kita? apalagi ke Reva, apa Mama nggak malu bertanya seperti itu?" tanya Rival terus menancapkan gas amarahnya. "Reva sudah kehilangaj saudara kembarnya atas perbuatan Dalsa. Buka mata mama lebar- lebar, Ma. Jangan hanya melihat sebelah pihak saja. Mama adalah seorang ibu yang melahirkan putri. Pasti mama tahu bagaimana kehilangan anak. Lihatlah mama menangis saat Dalsa lergi, bagaimana jika mama kehilangan anak untuk selamanya? Itulah uang dialami umi Chesy."
"Yang jelas hati nuranimu sudah tertutup untuk adikmu."
"Ya, Tuhan. Harusnya yang Mama tanya tentang hati nurani itu ya anak kesayangan Mama itu lah, kenapa harus kita. Dan satu lagi yang Mana harus tahu, Mama nggak perlu khawatir dia di luar bagaimana dia itu suhu Ma buktinya bisa bunuh orang tanpa ketahuan siapapun," sambung Rival dengan nada kesal.
"Terserah apa katamu, kamu sudah berubah, bukan Rival yang Mama kenal. Menyesal aku menjodohkan kamu dengan wanita ini," gerutu Candini melenggang pergi ke arah belakang.
Nampak kekesalan Candini tak dapat terbendung lagi, begitu pun Rival yang terlalu lepas mengeluarkan seluruh amarahnya hingga membuatnya cek cok dengan Mamanya sendiri.
***
Cukup lama Dalsa melajukan mobilnya mengelilingi kota, namun gadis itu tidak juga menemukan tempat untuknya singgah sementara waktu.
Terlebih di dalam dompetnya juga tidak ada cukup uang untuk menyewa kamar hotel, situasi itu tentu saja semakin membuatnya terkurung dalam kebingungan.
"Kemana aku harus pergi malam ini, tidak mungkin aku tidur di pinggir jalan meski berada di dalam mobil ... Orang-orang jahat akan dengan mudah menyerang ku jika begitu."
Dalsa begitu risau memikirkan berbagai kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi jika dia menempati mobil dan bermalam di pinggir jalan tanpa sadar jika dirinya sendiri juga salah satu bagian dari orang jahat yang sekarang dia takutkan.
Ditengah kebingungan yang melanda, tiba-tiba saja Dalsa teringat dengan Akram.
__ADS_1
Ya, orang yang juga sama-sama terlibat dalam kejahatan atas diri Rajani itu pasti mau menerimanya dengan tangan terbuka.
Mengingat mereka sama-sama melakukan kejahatan terhadap satu perempuan yang sama, pasti Akram akan bersedia untuk saling membantu menutupi kasus itu.
Tanpa berpikir dua kali lagi, Dalsa segera menginjak tuas gas mobilnya dan melajukannya menuju kediaman Akram.
Berharap apa yang dia pikirkan itu benar, pria itu mau menerimanya dan membantunya untuk masalah kali ini.
Namun ternyata semua tak sesuai dengan apa yang dia harapkan, saat sampai di kediaman Akram pria itulah justru menyambutnya dengan tatapan tidak ramah, bahkan terkesan keberatan dengan kehadiran Dalsa.
"Mau apa kamu datang ke sini!" ucap Akram saat melihat kedatangan Dalsa di depan rumahnya.
"Aku ... Eumh, bolehkan aku menginap di rumah mu malam ini?"
"Aku baru saja diusir oleh Rival dan sekarang aku tidak tahu mau tinggal dimana, kamu mau kan membantuku." Dalsa mencoba mengatakan apa yang menjadi tujuannya pada temannya itu, masih dengan harapan pria itu akan menerima kehadirannya di kediamannya.
"Lalu apa hubungannya denganku ... Yang diusir itu kamu, bukan aku!"
"Akram, tapi aku mendapat masalah ini karena kamu juga ... Lalu kenapa kamu tidak mau membantuku, bahkan untuk mengijinkan aku menginap di rumahmu!" ujar Dalsa yang merasa tidak terima dengan perkataan Akram.
Biar bagaimanapun dia berada di posisi ini itu juga karena pengaruh dari Akram, lalu dia dengan seenak jidatnya ingin lepas dari tanggung jawab.
"Aku tidak peduli Dalsa, yang jelas aku tidak ingin kamu berada di rumahku ... Dan satu lagi, kamu tidak boleh menyebut namaku jika ada yang bertanya tentang siapa saja yang terlibat dalam kasus kematian Rajani."
Dalsa terkekeh sesaat setelah mendengar perkataan yang dilontarkan oleh Akram, kini dia tahu jika laki-laki itu keberatan dengan kehadirannya semata-mata hanya karena dia takut Dalsa akan menyebutkan namanya jika dia tertangkap nanti.
"Jadi kamu tidak mau menerimaku karena kamu takut aku mengatakan pada semua orang jika kamu juga terlibat dalam kematian Rajani?"
"Akh, aku tidak percaya dirimu sebrengsek ini Akram." Akram seketika merasa tidak terima dengan apa yang dikatakan oleh Dalsa.
Terlebih saat pria itu mengatai dirinya brengsek.
Padahal kenyataannya memang begitu, Akram memang laki-laki brengsek yang tidak mau mempertanggungjawabkan perbuatannya sendiri.
Pria itu terlalu takut dengan bayang-bayang penjara hingga membuatnya bersembunyi tangan dari kejahatan yang telah dia lakukan.
Membiarkan Dalsa menanggung semua itu seorang diri.
"Aku tidak brengsek Dalsa, tapi aku pintar ... Sayang sekali kamu tidak bisa bersikap sama sepertiku, kamu tidak bisa menyembunyikan kesalahan yang kamu lakukan dengan baik." Kekehan yang terdengar seperti sedang meledek terdengar dari mulut Arkam.
Membuat Dalsa semakin dilanda emosi hingga tanpa sadar tangan pria itu terangkat dan mengayunkan tinju di wajah Arkam dengan begitu keras, bahkan Arkam sendiri sampai terhuyung ke belakang karena serangan yang tiba-tiba di wajahnya.
"Apa maksudmu menyerangku seperti itu Dalsa!" Akram segera bangkit berdiri dan menyerang balik Dalsa setelahnya, membalas melayangkan tinjunya di wajah Dalsa.
Persis seperti apa dilakukan pria itu sebelumnya.
"Itu balasan karena kamu ingin pergi dan melarikan diri dari masalah yang sedang menimpaku!" Dalsa berucap dengan dingin sambil mengusap sudut bibirnya, dia memang sengaja tidak menghindar dari serangan yang dilakukan oleh Akram hingga akhirnya membuat sudut bibirnya mengeluarkan sedikit darah.
"Aku tidak melarikan diri, Dalsa ... Bukankah aku memang terlibat membunuh Rajani, kamu yang telah membunuhnya!" ucap Akram yang semakin membuat emosi Dalsa berkecamuk.
"Ya, memang aku yang membunuhnya ... Tapi semua itu juga karena kamu, Arkam!"
Dalsa dan Arkam masih terus saling menyalahkan, bahkan mereka kini saling adu tinju yang mengenai wajah dan tubuh masing-masing.
Dalsa yang tidak terima dengan sikap Arkam terhadapnya, dan Arkam yang tetap dengan pendiriannya sendiri.
Tidak ingin terlibat dalam urusan apapun yang menyangkut tentang Rajani lagi.
"Percuma saja kamu membuatku bonyok sekalipun, Dalsa ... Aku tetap tidak akan mengijinkan kamu berada di rumahku meski hanya lima menit."
Arkam memilih untuk segera memasuki rumahnya sedangkan Dalsa dia biarkan bersandar di mobilnya di luar rumah.
Pria itu benar-benar tidak ingin lagi terlibat dengan apapun yang menyangkut Rajani, dia begitu takut jika berdekatan dengan Dalsa hanya akan membuatnya mendekam dibalik jeruji besi.
Terlebih sekarang Rival sudah tahu jika Dalsa adalah laki-laki yang membunuh kembaran istrinya, bukan tidak mungkin jika nantinya dia akan dilaporkan ke polisi oleh Revalina, atau Rival. Entahlah.
Jika hal itu terjadi, maka sudah dipastikan jika Arkam akan ikut terseret di dalamnya, sebab itulah pria itu lebih memilih untuk pergi dan tidak ingin lagi mengenal Dalsa di hidupnya.
Semua itu semata-mata karena dia tidak mau ikut terseret jika nantinya Dalsa harus masuk ke dalam jeruji besi.
Kini Dalsa hanya mampu terdiam di tempatnya dan kembali merenung di dalam mobilnya, memikirkan kemana dia harus pergi setelah Arkam jelas-jelas mengusirnya.
Sampai tiba-tiba dirinya teringat dengan tempat tinggal kakak pertamanya.
Ya, sepertinya untuk saat ini hanya di sana dia bisa mendapatkan tempat tinggal.
***
“Sialan! Kenapa bisa sampai begini, sih?” Dalsa berteriak seraya memukul stir mobil, ia tidak menyangka kalau semuanya akan terbongkar begitu cepatnya. Padahal, menurut Dalsa dirinya sudah merahasiakan kasus pembunuhan Rajani sebaik mungkin.
Namun, bak kata pepatah. ‘Sepandai-pandai tupai melompat, pasti jatuh juga’. Dalsa amat merasa geram, seakan tidak ada rasa penyesalan sama sekali atas perbuatan keji yang pernah dilakukannya .
Dalsa diselimuti oleh perasaan yang tidak menentu, sampai mobil yang dikendarai oleh Dalsa pun berjalan tanpa tentu arah. Disebabkan oleh pengemudinya yang seperti orang linglung dan tidak memiliki semangat hidup.
“Hufh, aku harus bagaimana?” gumam Dalsa pelan.
Hingga ingatan Dalsa tertuju kepada satu nama yang ikut serta dalam pembantaian Revalina, di mana lelaki itu yang telah memulai semuanya.
Dalsa segera membawa laju mobilnya ke suatu tempat di mana orang itu berada, orang yang telah memperkosa Revalina dan ikut dalam pembunuhan tersebut.
Dalsa tidak mungkin menanggung semua ini seorang diri, ia akan menyeret Arkam juga. Mana mau Dalsa membusuk dipenjara seorang diri, Arkam harus ikut menanggung semaunya.
Hingga mobil yang dikendarai oleh Dalsa sampai disebuah apartemen Arkam, bergegas Dalsa turun dari mobil setelah memarkirkannya dan bergegas menuju ke lift.
Selama di dalam lift Dalsa semakin gusar, keringat mengucur deras bahkan nafasnya naik-turun tidak beraturan.
Bukan karena ingin menemui seorang wanita yang gugup ingin bertemu dengan pacarnya, melainkan Delsa gugup dengan masalah yang menyeretnya dan Arkam.
Sampai suara lift terdengar dan pintu pun terbuka, Delsa mempercepat langkahnya menuju ke kamar Arkam.
Berkali-kali Dalsa menekan bel, tapi tidak ada jawaban ataupun kemunculan lelaki itu, hingga Delsa memilih untuk menelpon Arkam terlebih dahulu.
Cukup lama Dalsa menunggu sampai panggilannya di angkat, ia merasa kesal dengan sikap Arkam yang seolah menghindarinya.
“Kamu di mana? Aku ada di depan pintu apartemen, kamu, nih!” pekik Dalsa dengan geram setelah Arkam menjawab panggilannya.
Tidak berapa lama pintu terbuka dan tangan Dalsa di tarik oleh Arkam secara tiba-tiba, Dalsa yang terkejut sontak saja berteriak.
“Aaaa … ampun! Aku masih mau hidup!” pekik Dalsa dan membuat Arkam memukul kepalanya cukup kerasa agar tersadar.
“Berisik!” teriak Arkam tepat di depan wajah Dalsa.
“Hujan lokal Arkam!” balas Dalsa sengit. Keduanya saling menatap lekat dengan sorot mata tidak bersahabat.
Sebenarnya Arkam tengah bersembunyi dari kejaran seseorang, sebab Arkam sudah mengetahui bahwa dirinya dalam bahaya.
__ADS_1
Arkam yang menjadi eksekutor dalam kasus pembunuhan Rajani tentu saja selalu diselimuti oleh rasa takut dan hidupnya tidak pernah tenang.
“Ngapain kamu ke sini?” tanya Arkam seraya melipat kedua tangannya di dada.
Dalsa memutar bola matanya, malas. Lalu memilih duduk di atas sofa panjang yang terdapat di ruangan tersebut.
Kepalanya terasa pusing dan pipinya juga masih terasa kebas akibat ulah sang kakak ditambah pukulan dari Arkam tadi.
“Dalsa! Kamu dengar tidak? Kenapa kamu ke sini?” tanya Arka yang tidak menyukai kehadiran Dalsa di apartemennya.
Dalsa mendesah berkali-kali sebelum menceritakan apa yang telah dirinya alami sebelum datang ke tempat Arkam.
Tentu saja, apa yang diceritakannya oleh Dalsa sesuatu yang tidak baik. Arkam pun semakin gusar dan tidak tenang.
“Jadi, Reval sudah tahu akan kasus pembunuhan Rajani?” tanya Reval setengah berteriak.
Dalsa mengangguk lemah dan menampakkan wajah yang frustasi dengan apa yang tengah mereka hadapi.
“Apa yang harus kita lakukan?” tanya Dalsa dengan suara lirih.
“Kita?” pekik Arkam nyaring.
“Sorry, kali ini gak ada kata kita,” tambah Arkam. Kemudian dengan teganya Arkam mengusir Dalsa dengan alasan tidak ingin ingin ikut campur dengan masalah yang tersandung oleh Dalsa, padahal dirinya ikut terlibat dalam kasus tersebut.
Dalsa amat marah dengan apa yang dilakukan oleh Arkam yang hanya ingin melindungi dirinya sendiri dengan cara mengorbankan orang lain.
“Kamu gak bisa gitu dong, Arkam!” pekik Dalsa. Namun, seperti tuli. Arkam menarik tangan Dalsa dan mendorong tubuh Dalsa keluar dari apartemen miliknya.
Tentu saja Dalsa tidak terima dan marah, tapi Arkam tidak peduli. Sebab, ia tidak ingin terkena masalah karena adanya Dalsa di tempatnya.
“Arkam! Apa yang kamu lakukan?” teriak Dalsa marah.
Namun, Arkam tetap tidak peduli dan mengusir Dalsa dengan kasar seraya berkata, “Aku tidak ingin ikut campur dengan masalah kamu! Lebih baik anggap saja kita tidak pernah saling mengenal!”
Kemudian Arkam menutup pintu apartemennya dengan keras membuat Dalsa begitu terkejut seraya mengelus dadanya melihat kelakukan Arkam yang demikian.
Kini Dalsa benar-benar tidak memiliki siapa-siapa lagi untuk membantunya menyelesaikan masalah yang tengah ia hadapi.
Arkam benar-benar tidak bisa membantu dirinya, dengan langkah gontai Dalsa melangkah menuju ke lift.
Pikirannya berkelana entah ke mana, sampai teringat kepada Yakub. Kakak tertuanya itu mungkin saja bisa membantunya, entah seperti apa nantinya ia mengatakan keadaan yang tengah dihadapi.
Namun, kalau tidak mencoba. Maka tidak tahu seperti apa hasilnya nanti, membuat Dalsa segera menuju ke area parkir dan membawa mobilnya menuju ke rumah sang kakak.
Selama diperjalanan Dalsa memikirkan serangkaian kata yang akan disampaikan kepada sang kakak, entah seperti apa reaksi Yakub nantinya.
Dalsa membuang nafas panjang, “Pokoknya aku harus bisa membujuk Kak Yakub,” batin Dalsa.
Dia sudah berniat akan melakukan apapun, asalkan Yakub mau membantunya. Sekalipun bersujud di bawah kaki sang kakak. Dalsa tidak peduli, sebab yang penting saat ini adalah keselamatan dirinya.
Hingga tidak terasa mobil Dalsa sudah berada di depan halaman rumah mewah dengan gaya klasik, Dalsa menarik dan membuang nafas secara kasar. Entah mengapa nyalinya menciut seketika.
Paham akan posisinya yang memang salah, tapi tidak ingin disalahkan membuat Dalsa tidak memiliki pilihan lain.
“Semoga saja aku tidak dibunuh Kak Yakub,” gumam Dalsa seraya memarkirkan mobilnya dengan cantik di halaman rumah sang kakak.
Namun, baru saja Dalsa hendak turun. Tiba-tiba saja suara yang begitu familiar menggelegar membuatnya terlonjak kaget.
“Dalsa!”
Suara siapa itu?
Kenapa kedengarannya seperti geledek? Dalsa ragu hendak turun dari mobil. Namun kemudian ia melompat turun ketika Suara yang memanggilnya itu terdengar makin keras.
Itu suara Yakub. Tapi kedengaran asing gara-gara sedang dalam mode emosi.
Apakah aku akan dicincang? Tapi kenapa bisa begini kejadiannya?
Dengan muka gugup, Dalsa turun dari mobil dan menemui Yakub yang sudah berdiri di pintu dengan muka merah padam.
Melihat mobil Dalsa yang terparkir di depan rumah, Yakub langsung tahu bahwa manusia yang datang itu adalah Dalsa, adik bungsunya.
Tatapan Yakub tajam, membuat Dalsa makin gugup. Situasi yang dijalani oleh Dalsa makin menghimpit. Dia benar- benar tidak menyangka jika akhirnya akan ketahuan seperti ini.
Dan akhirnya malah ia disudutkan oleh keluarganya sendiri. Dan saat ketahuan ia sudah berbuat kriminal begini, rasanya ia benar-benar takut. Ini di luar pemikirannya.
"Manusia laknat!" Yakub menghardik muak. "Kau sudah menghancurkan kehidupan Revalina dengan menjadi dalang pembunuhan Rajani, bahkan berencana memperkosanya hanya karena kau membenci Revalina,. Perbuatanmu ini pada akhirnya salah sasaran. Ini perbuatan Biadab!"
"Mas, aku minta maaf. Aku nggak bermaksud begitu. Aku hanya..."
"Hanya dendam?" potong Yakub makin muak. "Baru saja Rival.meneleponku dan menceritakan semuanya kepadaku tentang kebiadabanmu itu, aku makin geram jadinya. Aku bahkan sangat ingin membunuhmu." Yakub menampar Dalsa.
Dalsa memegangi pipinya. Ia menangis tersedu.
"Aku ke sini bermaksud ingin tinggal bersamamu, Mas. Aku diusir oleh Mas Rival. Aku kapok."
"Oh ya? Kapok? Tidak, Dalsa. Kamu harus mendapatkan balasan atas semua perbuatanmu yang seperti binatang itu!" Yakub menjambak rambut Dalsa, mengayunkannya kuat ke lantai.
Lalu dengan brutal, Yakub memukuli badan Dalsa. Sangat kuat. Pedih sekali rasanya, Dalsa meringis sambil menangis, tidak berani melawan. Ia menerima saja pukulan demi pukulan yang membuat tubuhnya terasa seperti remuk.
Bug bug bug .
Yakub kalap. Terus menghujani pukulan pada Dalsa.
"Ampun, Mas. Ampun. Aku minta ampun. Tolong jangan lakukan ini padaku. Aku kapok, Mas. Aku mohon ampuni aku."
"tidak ada ampun bagi pelaku kriminal sepertimu. Rajani itu perempuan, sama sepertimu. Tapi teganya kau hancurkan dia dengan cara hina. Keterlaluan. Jahat..kejam. Aku kasih waktu kepadamu untuk bertaubat, tapi malah kelakuanmu makin gila." yakub terus memukuli.
Tubuh Dalsa memar, sekujur tubuhnya terasa ngilu. Ia bersimpuh, ngesot dan memeluk kaki Yakub.
Yakub berjalan menjauh, namun kedua lengan Dalsa terus menggelayuti kaki itu dengan erat sambil terus menangis dan meraung. Memohon ampun.
"Tidak ada ampun bagimu. Ini belum seberapa. Ini belum apa-apa dibanding perilakumu yang biadab itu. Menjijikkan sekali." Yakub kesal sekali.
"Jangan sakiti, aku. Jangan! Aku mohon, Mas. Aku mohon lindungi aku. Aku hanya minta bantuan padamu. Tolong aku, Mas."
"melindungi penjahat? Tidak."
"Kalau bukan Mas yang melindungi aku, siapa lagi? Mas Rival aja udah usir aku. Aku nggak punya tempat tinggal lagi. Aku mau di sini."
Yakub menyentak kakinya hingga terlepas dari pelukan tangan Dalsa. Ia.lalu.menendangi badan Dalsa dengan bertubi-tubi. "Sebenarnya sudah sangat lama aku geram dan ingin melakukan ini padamu. Tapi kesempatan itu datang hari ini. Aku tidak akan melewatkannya."
"Berhenti, Mas. Berhenti!" Sarah tiba-tiba keluar. Menghampiri Yakub, dia menarik lengan Yakub menjauh dari Dalsa.
"Biarkan manusia jahat ini mampus." yakub naik pitam. Emosinya kalap. Ubun- ubunnya pun sudah mengepul seperti tungku yang dijadikan sebagai tempat untuk memasak.
__ADS_1
***