Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Pertikaian S2


__ADS_3

“Kasian Umi, setiap hari sendirian di rumah,” celetuk Rajani yang duduk di sisi Revalina.  


“Terus, maksudnya Rajani mau bantu cariin jodoh buat Umi, gitu?” canda Revalina kemudian nyengir lebar.


“Enggaklah, Umi mana mau sih nikah lagi.  Cintanya Umi ke abi itu melebihi apa pun.  Nggak akan ada orang yang bisa menggantikan posisi abi di hati Umi.  Umi kan juga punya banyak harta, Umi nggak berkekurangan dalam hal menafkahi.  Maksud Rajani, Umi kesepian di rumah.  Dan Rajani juga nggak tahu mesti buat apa supaya Umi nggak merasa bosan.”


“Tenang aja, Umi imannya kuat kok.  Kalau bosan juga past Umi cari kesibukan sendiri, misalnya ke salon, menyantuni anak yatim ke panti asuhan, atau apa aja.”  Revalina mengedikkan pundak.  “Kita ke mall yuk.”


“Loh, ini kan mau kuliah, kok malah ngajakin ke mall?  Maksudnya, Revalina mau bolos ya?”


“Iya.”


“Mulai deh.  Rajani mau ke kampus sekarang, nggak mau bolos.”


“Wih, payah!  Ya udahlah, Revalina anter ke kampus, udah itu Revalina langsung ke mall.”


Rajani tidak menanggapi.  Ia sudah tahu persis sifat Revalina yang memang bandel dan nakal.  Dinasihati juga bakalan tidak mempan.  Rajani masuk ke kampus setelah diantar sampai depan gerbang.


Brak!


Sebuah mobil menabrak dari arah depan, menggores moncong mobil yang dinaiki oleh Revalina.


“Oh My God!  Beraninya tuh orang!”  Revalina kesal mobilnya ditabrak.  Ia turun dari mobil dan menghampiri si pelaku.  “Keluar!  Keluar cepat!”  Revalina memukul- mukul jendela.


Si empunya mobil keluar, malah jauh lebih garang.  Tatapannya tajam, sangar, pasang muka garang.  Namanya Dalsa, gadis galak yang ditakuti banyak orang karena kegalakannya.


“Aku buru-buru.  Mobilmu menghalangi jalan!  Bisa minggir nggak?”


Belum sempat Revalina menggertak, malah Dalsa lebih dulu menggertaknya sangat keras, mata melotot lagi.


Batin Revalina kesal melihat tingkah Dalsa, inilah definisi salah tapi malah nyolot.  

__ADS_1


“Kamu yang nabrak mobilku, seharusnya minta maaf.  Kenapa malah bentak- bentak?” hardik Revalina tak terima atas bentakan Dalsa.


“Sialan!  Beraninya membentakku!”  Dalsa naik pitam melihat sosok yang berani melawannya setelah selama ini hanya dia yang ditakuti orang.


Plak plak plak.


Dalsa memukuli Revalina, dibalas pula dengan pukulan oleh Revalina.  Baku hantam, saling tendang, saling pukul dan saling tampar.


Priiiiit… Satpam meniup peluit.


***


“Revalina, ke ruangan dosen sekarang!” Sosok dosen berdiri di ambang pintu.


Seruan itu membuat sejurus pandangan tertuju pada Revalina yang tengah duduk di salah satu kursi.  Semua orang tahu kalau Revalina baru saja baku hantam dengan Dalsa, mahasiswi yang disebut dnegan hulk karena sering mengamuk bila diusik.  Baku hantam terhenti setelah dipisah satpam.  


Terdengar kasak- kusuk anak- anak berbisik.  Membicarakan Revalina yang berjalan keluar mengikuti dosen yang memanggilnya.


Tatapan sang dosen langsung tertuju ke arah Revalina, tatapan itu terkesan tajam.  Belum pernah Revalina menghadap dosen yang satu ini.  Sesuai kabar burung, dosen yang satu ini terkenal dingin, tegas dan tidak main-main dalam segala hal.  Dia menjadi wakil rector.  Tubuhnya atletis dan gagah.  Rahangnya kokoh, aromanya wangi.  Dan satu lagi, tampan. Namanya Rival.


“Kalian tahu kenapa dipanggil kemari, kan?” Suara Rival tegas dan mendominasi.  Tatapannya menusuk.


Dalsa tidak mengangkat wajah.  Menundukkan kepala terus, berbeda halnya dengan Revalina yang sesekali mencuri lihat, menatap wajah Rival. 


“Berantem di kampus.  Memalukan!  Ini kampus, bukan taman kanak-kanak.  Kalian sudah dewasa.  Isi kepala kalian harus berbeda dengan anak- anak,” geram dosen muda itu.


“Revalina menghalangi mobil saya untuk masuk ke gerbang, Pak!” Dalsa membela diri dengan kepala masih menunduk.


“Dalsa menabrak mobil saya!”  Revalina tak mau kalah.


Brak!

__ADS_1


Rival memukul meja, membuat Revalina dan Dalsa terkejut, tubuh keduanya melompat sedikit.


“Kalian di sini bukan untuk membela diri.  Tidak peduli siapa yang salah dan benar, tapi berantem di kampus menunjukkan kualitas kalian.  Paham?”  Rival mendominasi.


Semuanya diam.


“Dalsa, keluar!” titah Rival yang langsung dipatuhi oleh Dalsa.  Gadis itu keluar sambil menendang kaki Revalina.


Dalam hati, Revalina mengumpati gadis itu.  Semoga saja kakinya pincang sehingga tidak bisa menendang lagi.  Sumpah serapah menari-nari di benaknya.  Bagaimana mungkin Revalina akan mengerti dengan cara menjadi seorang pemaaf jika setiap pelajaran akhlak, ia selalu mengantuk, bolos, atau bahkan main game di hp.  itulah sebabnya Revalina kerap kali emosi, marah dan menyumpahi siapa saja berbuat jahat terhadapnya.


“Re, kau panggil orang tuamu untuk menghadap aku.  Jika dalam dua kali dua puluh mepat jam, orang tuamu tidak datang, maka bersiaplah untuk mendapatkan skors!” ucap Rival dengan tegas.


Revalina mengangkat wajah, menatap Rival dengan tajam.  “Kenapa hanya orang tua saya saja saya yang dipanggil?  Terus itu si Dalsa kenapa enggak?  Dia Cuma disuruh keluar doang?”


“Kau di sini bukan disuruh untu protes, aku tidak pernah memintamu bicara.  Patuhisaja aturan ini!  Di sini aku yang mengatur!  Bawa surat ini dan berikan kepada orang tuamu!”  Rival menggeser sebuah kertas di meja ke arah Revalina.


Sialan!  Ternyata begini cara lelaki ini mempermainkan kekuasaannya.  Awas kau!  Revalina menatap kesal, kemudian melengos keluar setelah menyambar kertas itu.  dan apa tadi?  Lelaki sialan itu memanggil Revalina dengan nama singkat Re.  Memuakkan!


Setelah menutup pintu, Revalina menatap sekilas isi surat, berupa surat panggilan orang tua. 


“Mampus!  Suruhlah orang tuamu mencium kaki dosen!”  Senyum Dalsa mengembang.  Rupanya gadis itu masih menunggu, berdiri dekat pintu hanya untuk mengejek Revalina. “Kamu sudah bikin masalah denganku.  Kamu juga sudah merusak nama baikku di depan dosen Rival, kamu akan tau akibatnya.”


“Kamu bukan malaikat, kamu nggak bisa melakukan apa pun terhadapku!” geram Revalina.


“Oh, masih nantingin rupanya!  Jangan nangis kalau sampai terjadi hal buruk padamu, empat lelaki akan menggilirmu!”  Dalsa memainkan lidahnya, menjilat dari sudut bibir ke sudut lainnya.  Kemudian melenggang pergi.


***


 


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2