
Cazim menatap mertuanya yang tampak semakin menua, termakan oleh waktu. "Abi, maafkan aku. Aku...."
"Sudah. Lupakan!" potong Yunus. "Kita lupakan keegoisan yang membuat kita merasa sakit hati, mendendam dan membenci satu sama lain. Jika hati kita ingin tenang, maka jiwa yang tenang pula yang harus digapai. Abi ikhlas. Abi ridha. Tidak perlu diingat lagi permintaan abi yang tidak sanggup kau penuhi. Seandainya saja kalian kembali bersama kemari seperti ini sejak dulu, abi pasti menerima kalian. Tapi abi marah karena Cazim datang sendirian. Sudahlah, apa pun masa lalu kalian, yang terpenting sekarang kalian sekarang hidup bersama dalam kebahagiaan."
Betapa Chesy terharu mendengar kalimat itu. Hatinya basah.
"Cazim, lalu bagaimana dengan kasus yang menimpamu? Apakah semuanya sudah selesai? Abi harap jangan sampai kasus itu membuat anak- anakmu terlantar, atau bahkan terkena mental atas kasusmu."
"Sudah, abi. Semuanya sudah selesai. Mas Cazim sudah urus dengan baik. Ke depannya, kesalahan yang sama akan menjadi pelajaran dan nggak akan terulang kembali," sahut Chesy cepat.
Cazim melirik istrinya yang gercep sekali dalam menyahuti.
"Kalian sudah makan? Kalau belum, ayo ke dapur. Abi dan Bik Parti tadi masak banyak. Entah kenapa abi minta pada Bik Parti untuk masak banyak. Ternyata kalian datang. Rejeki kalian itu." Yunus menawarkan.
"Oh, oke. Kita makan bersama," jawab Cazim.
"Aku panggil anak- anak dulu," sahut Chesy. Baru saja ia beranjak melangkah, terdengar suara teriakan dari arah ruangan tempat anak- anak bermain.
"Umiiiiiiii....." seru Rafa dengan jeritan keras diiringi suara teriakan Rajani yang terdengar histeris.
"Loh, ada apa itu?" Yunus panik.
Mereka bertiga berlari menuju ke sumber suara, tempat dimana anak- anak bermain.
"Ya Allah!" Chesy menjerit histeris melihat Revalina terkapar di lantai dengan lengan berdarah, cairan merah itu merembes mengenai lantai.
Cazim berlari cepat meraih tubuh Revalina. "Rumah sakit!" Ia menghambur keluar tanpa pikir panjang. Yang lain mengikuti.
***
__ADS_1
Chesy berdiri di rangkulan Cazim. Yunus duduk di kursi tunggu. Sedangkan Rajani dan Rafa berdiri berjejer di dinding depan Chesy.
Tangis Chesy tak terbendung. Mengingat Revalina terkapar dengan luka serius di lengan, juga memar di kepala belakang. Tatapan Chesy lalu tertuju pada Rajani dan Rafa.
"Rafa, apa yang terjadi? Kenapa Revalina bisa terluka begitu?" tanya Chesy. Biasanya Rafa lah yang kerap bertengkar dengan Revalina, mungkin ini akibat ulah Rafa.
Rafa menunduk dan diam.
"Rafa, jawab umi!"
Rafa tambah menundukkan kepala.
"Rajani, apa yang terjadi?" Chesy beralih menanyai Rajani.
"Tadi Revalina dan Rafa naik ke atas meja, mereka saling tarik baju, Revalina terjatuh ke lantai, lengannya langsung mengenai pisau yang tergeletak di lantai, kepalanya membentur lantai. Terus pingsan," jelas Rajani polos.
"Kenapa bisa ada pisau di lantai?"
Tatapan Chesy beralih pada wajah Rafa yang tertunduk. Ia mendekati Rafa. "Kenapa kamu nggak pernah bisa mengalah pada adik- adikmu? Kenapa kamu selalu mengajak mereka berantem? Ada apa denganmu? Mau sampai kapan umi mengajarkanmu bahwa bertengkar dengan saudara itu dosa. Kenapa kamu begini? Lihat adikmu, dia terluka parah. Bagaimana kalau terjadi hal buruk pada adikmu? Siapkah kamu kehilangan dia? Kamu akan umi kucilkan selamanya jika sampai terjadi sesuatu pada adikmu. Selamanya." Chesy memukuli lengan dan punggung Rafa.
Bocah itu hanya diam dan terus menunduk tanpa memberikan perlawanan. Ia sadar sudah menjadi penyebab Revalina terluka parah. Bayangan mengerikan menari di kepalanya. Bagaimana jika Revalina mati? Bagaimana jika adiknya cacat? Ia merasa takut dan sangat merasa bersalah. Namun ia hanya diam.
"Sudah, Chesy. Sudah!" Cazim menarik tubuh Chesy supaya mundur.
Chesy menangis, menjatuhkan kening di fada bidang suaminya.
"Jangan sampai Rafa pun jadi sakit karena ini, kita tidak boleh kehilangan keceriaan dua anak. Revalina sedang sakit, bagaimana kalau Rafa juga sakit? Sudah! Kamu harus sabar!" Cazim menenangkan.
Rafa berlari pergi. Jongkok di koridor, menyandar di dinding. Menangis sendirian. Ia takut jika sampai Revalina kenapa- napa. Ia pasti akan dihukum berat oleh uminya kalau sampai ketakutannya terjadi. Ia takut Revalina benar- benar mengalami hal buruk. Ia akan menyesal sepanjang hidupnya jika itu terjadi.
__ADS_1
"Doain aja Revalina akan baik- baik aja. Doa kita pasti didengar Allah."
Bisikan itu membuat Rafa menoleh, menatap Rajani yang sudah duduk bersila di sisinya.
Rafa diam saja, mengusap air mata di pipi. Ini adalah pengalaman terburuk dalam hidupnya. Sebenarnya bukan kemarahan atau pun hukuman dari Chesy yang membuatnya terpukul dan takut, tapi kemungkinan buruk yang terjadi pada Revalina. Andai saja ketakutannya benar terjadi, maka dia tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri. Revalina adalah kembarannya, meski ia sering bertengkar dengan gadis cilik itu, tetap saja rasa sayangnya sangat besar. Dan rasa sayang itu ia sadari saat merasa takut kehilangan seperti sekarang ini.
***
"Revalina!" Chesy meraih tangan Revalina yang terbujur lemas di atas bed. Menciumi punggung tangan kecil itu penuh nuansa sayang.
Revalina mengedarkan pandangan, menatap satu per watu wajah di sekitarnya, ada Chesy yang duduk di sisi bed, Cazim, Yunus, dan terakhir Rajani. Tidak ada Rafa.
Sudah dua puluh empat jam Revalina tak sadarkan diri. Inilah pertama kali ia membuka mata. Wajahnya pucat, bibirnya pun pias. Ia lemas dengan peralatan medis menempel di tangan dan selang oksigen di bawah hidung.
"Alhamdulillah, kamu sudah siuman, sayang. Umi cemas, Nak." Chesy terharu melihat putrinya kembali membuka mata. Setelah ketakutan yang menghantui, akhirnya kini Chesy melihat putrinya sadar juga.
"Umi, Rafa mana?" lirih Revalina.
Loh, padahal Rafa sudah membuat Revalina menjadi terkapar begini, tapi anak itu masih mencari Rafa. Beginilah ikatan batin anak kembar, meski sering marahan, membenci satu sama lain, namun kasih sayang mereka jauh lebih kuat.
Chesy mencari keberadaan Rafa, yang ternyata bersembunyi di balik pintu, kepalanya nongol sedikit untuk mengintip.
"Sini, Nak!" Chesy melambaikan tangan ke arah Rafa.
Rafa menggeleng. Rasa bersalah membuatnya trauma dan takut.
Cazim berjalan menuju pintu, membujuk Rafa. Namun tetap saja Rafa tidak mau masuk ke dalam kamar. Ia rela menunggu di luar, tepatnya di dekat pintu. Cazim lalu menemani Rafa di luar.
Dokter mengatakan bahwa ada cacat di lengan Revalina, lengan kiri agak sulit digerakkan, bekas luka juga tidak bisa hilang sempurna.
__ADS_1
***
Bersambung