Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Jawaban Tepat


__ADS_3

Sontak kedua mata Revalina terbelalak, terkejut dengan sorot mata Rival yang kini menusuk ke arahnya.


'Kenapa dia menatapku seperti itu. Pasti dia curiga. Baiklah, aku harus mencari jawaban yang tepat. Jangan sampai membuat mereka curiga,' Revalina bertanya-tanya dalam hati.


"Re, kau tadi pinjam ponsel ku untuk menghubungi Umi kan?" tanya Rival sambil menaikkan sebelah alisnya.


"Iya," jawab Revalina tenang.


Ekspresi wajah tegang Dalsa seketika berubah datar menatap Revalina sambil menghembuskan nafas berat.


"Benar cuma hubungi Umi saja?" tanya Rival kembali, memastikan kebenaran jawaban Revalina.


"Iya," jawab Revalina mulai malas harus menjawab pertanyaan yang sama untuk kedua kalinya.


Melihat Rival yang tak kunjung percaya dengannya, terpaksa Revalina mengiyakan kecurigaan Rival padanya.


"Tapi nyatanya ada chat dari nomerku ke Dalsa. Chat sudah terhapus."


"Jadi begini, memang tadi aku sempat chat ke Dalsa," ujar Revalina dengan santainya.


Berganti kini Dalsa terbelalak mendengar ucapan Revalina, begitu pun Rival. Dia lebih terkejut sekaligus kecewa.

__ADS_1


Keduanya berdiri kaku di hadapan Revalina, sama-sama menatap tanpa berkedip menunggu ucapan kembali Revalina.


"Itu aku salah kirim, tadinya aku mau kirim Umi tapi karena akun Dalsa di bawah Umi jadi salah pencet dan aku baru ngeh. Ya sudah, dari pada Pak Rival banyak tanya, makanya aku hapus. Itu aka sih," jelas Revalina dengan sejelas-jelasnya.


"Oh, begitu," ucap Rival menghembus nafas lega.


Rival pun beralih menatap Dalsa, dari bibir Dalsa nampak jelas ingin menyanggah pengakuan Revalina namun terbungkam paksa dengan kode tangan Rival untuk diam.


*Sekarang sudah clear tidak ada yang perlu di perdebatkan lagi," pinta Rival pada Dalsa.


"Memangnya kenapa kau chay begitu ke umi kamu? Ada apa dengan Rajani?" selidik Rival.


"Ada apa? Aku bertanya begitu karena selama ini umi kepikiran Rajani terus. Jadi aku selalu memastikan apakah Umi udah bisa melupakan Rajani atau enggak. Bagaimana soal Rajani? Apakah Umi masih terus kepikiran atau enggak? Begitu."


Good job! Revalina selamat dari teror pertanyaan Dalsa dan Rival. Sayangnya, sampai di sini ia belum bisa menangkap bukti tentang keterlibatan Dalsa. Musuh bebuyutannya itu sudah mengancam dan mengatakan kalau Revalina akan digilir empat pria waktu itu. Dan hal itu beneran terjadi.


Salah satu pelaku adalah kakaknya Dalsa sendiri. Apakah mungkin Dalsa tidak terlibat? Apakah Revalina tidak perlu mencari bukti lagi tentang keterlibatan Dalsa? Cukup yakin saja bahwa Dalsa memang terlibat. Huh, tapi Revalina tidak mau sampai salah sasaran. Dia harus mendapatkan bukti akurat, minimal pengakuan dari mulut Dalsa, atau dari mulut Rival.


Dalsa sudah tak lagi mampu berkutik lagi, apalagi ketika Rival menarik mundur Revalina dari ruang tamu berhawa panas itu.


Setelah urusan mereka selesai, Revalina bergegas pulang sebelum sorot mata elang dari adik Rival itu kembali menyerangnya secara brutal.

__ADS_1


Seperti biasa, Rival selalu dengan sopan mengantarkan Revalina sampai ke depan mobil, tak lupa menitip salam untuk Chesy.


Tiba di rumah, Revalina disambut dengan wajah sumringah Uminya yang asik memainkan ponsel di tangannya.


"Assalamualaikum," ucap Revalina, perlahan baru masuk ke dalam rumah.


"Waalaikumsalam." Chesy menyambut dengan senyum lebar. Senang sekali setiap kali melihat wajah putrinya kembali. "Halo, anak umi yang cantik! Kemarilah! Umi ada kabar baik untukmu." Chesy menepuk sofa di sisinya, membuat Revalina sontak duduk di sofa tersebut.


"Ada apa, Umi?"


"Ini soal pernikahan kamu dengan Rival, preparenya sudah delapan puluh persen. Tinggal finishingnya saja, yaitu menunggu hari pernikahanmu. Sebentar lagi kuliahmu kan sudah selesai."


Deg! Jantung Revalina berdetak. Kenapa tiba-tiba ia merasa tidak nyaman akan menikah dengan Rival? Benarkah ia akan menyandang status istri lelaki bejat itu?


Ah, ini sudah menjadi ketetapannya. Dia harus menguatkan tekad. Semua sudah separuh jalan, jangan sampai gagal. Hidup Revalina hanya untuk Rajani. Iya, Rajani.


Kembarannya itu menjadi korban juga karena Revalina, maka sudah sepatutnya Revalina menjadikan sisa umurnya hanya untuk Rajani.


"Loh, kok mukanya kaku begitu? Kenapa? Ini berita bagus kan?" tanya Chesy.


Revalina sontak mengubah ekspresinya. Lalu tersenyum. "Tentu, Umi. Makasih ya udah mengurus ini untuk Revalina."

__ADS_1


Bersambung


Maaf, update dikit. Mudah mudahan besok bisa update banyak. Kalau perlu bom update. Gak sabar nunggu semuanya kebongkar. Tangan gatel banget pingin melompat ke momen itu 🤭🤭


__ADS_2