
Dua minggu di rumah sakit membuat Chesy bosan sekali.
Selama itu, Cazim selalu di sisinya. Pria itu terus menjaganya.
Dan kini, sudah satu minggu Chesy kembali ke rumah pasca dirawat di rumah sakit. Kondisinya telah membaik. Gips di leher sudah dilepas. Ia juga sudah beraktifitas seperti biasanya. Ia pulang dari sekolah dengan mengendarai motor sendiri di hari pertamanya masuk kerja. Langkah lebar membawanya masuk ke kamar setelah memarkirkan motor di garasi.
Cazim tidak ada di rumah, pria itu tadi menelepon dan mengatakan kalau ia ada panggilan ke pondok pesantren.
"Assalamualaikum, Abi!" sapa Chesy penuh semangat.
Yunus yang sedang duduk menghadap laptop itu menjawab salam dengan senyum. "Alhamdulillah anaknya abi sudah mulai bekerja hari ini. Bagaimana kondisimu?"
"Seperti yang abi lihat." Chesy berputar di hadapan abinya. Ia terlihat bahagia sekali. Bagaimana tidak? Belakangan ini sikap Cazim tampak berubah. Pria itu setia menjaganya, merawatnya, dan bahkan yang tak terlupakan adalah ciuman itu. Ah, sulit melupakannya.
Chesy ingat pernah menanyakan satu hal pada Cazim setelah pria itu menciumnya untuk pertama kali di rumah sakit.
"Bagaimana dengan Senja? Apakah dia akan tetap kamu pertahankan? Ataukah dia akan kamu lepaskan?" tanya Chesy menatap wajah Cazim lekat.
Cazim memutar mata. Menggenggam tangan Chesy.
"Katakan, apa yang akan kamu lakukan kepada Senja? Aku nggak mau dimadu. Aku nggak mau berbagi suami. Sungguh pun ada dalil yang mengatakan lelaki boleh menikahi wanita lebih dari satu, itu dengan syarat berat yang pastinya sulit lelaki sanggupi. Dan kamu pasti nggak akan bisa memenuhi syarat itu, yaitu harus adil. Tetap manusia nggak akan pernah adil. Bahkan rasul pun nggak pernah menduakan istri pertamanya, yaitu khadijah. Nabi nggak pernah menduakan Khadijah hingga dia meninggal. Jadi, kalau berdalih dengan sunah hanya demi ingin memiliki istri lebih dari satu, maka ikuti rasul. Jangan pernah menduakan istri pertama. Tunggu istri pertama mati barulah menikah lagi, itu pun harus adil."
"Hei, kenapa ceramahmu panjang sekali? Aku tidak mengatakan kalau aku mau memiliki istri dua kan?"
"Kalau begitu bagaimana dengan Senja? Aku nggak mau ada wanita lain diantara kita."
__ADS_1
"Biarkan dia menemukan cinta yang lain. Dia masih muda, cantik dan pintar. Pasti dia akan bisa mendapatkan yang menarik," jawab Cazim.
Muka Chesy tampak tak nyaman. "Aku nggak suka kamu sebut dia cantik."
"Kau cemburu?" Cazim meniup wajah Chesy dengan mulutnya.
"Hei, aku ini istrimu. Dan aku juga udah mengakui kalau aku sayang sama kamu. Aku nggak suka kamu memuji wanita lain."
Cazim menggeleng pelan dengan senyum simpul.
"Tunggu dulu, bagaimana perasaanmu ke Senja? Kamu berat meninggalkan dia ya? Kamu masih sangat mencintainya?" tanya Chesy penuh selidik. Dia sangat ingin mengetahui isi hati suaminya.
"Lupakan. Aku sudah memiliki kehidupan baru, kau masa depanku."
"Chesy!"
Panggilan Yunus membuyarkan lamunan Chesy. Seketika bayangan itu memudar. Kejadian di rumah sakit itu sangat berkesan, membuatnya kesulitan melupakannya.
"Ya, abi?"
"Kok, ngelamun? Abi tanya sejak tadi, kamu sudah makan belum? Kok pulangnya sampai sore begini?"
"Belum, abi. Nanti aja."
"Tidak perlu menunggu Cazim kalau mau makan. Soalnya Cazim tadi sempat pulang sebentar dan bilang akan pulang larut malam."
__ADS_1
Sekilas di pikiran Chesy sempat terbesit pertanyaan, apakah Cazim pulang larut untuk sebuah pekerjaan, ataukah malah ada kegiatan lain selain itu, mungkin mengenai Senja. Ah, kenapa ia malah suudzon? Bukankah Cazim sudah bilang kalau dia akan meninggalkan Senja dan memulai semuanya dari awal bersama dengan Chesy? Tidak ada yang perlu diragukan mengenai Cazim.
"Oke, siap, abi. Aku mandi dulu." Chesy masuk kamar, melempar tas ke sembarang arah hingga tasnya teronggok di atas kasur. Memang selalu begitu kebiasaannya, lempar sana lempar sini. Ujung-ujungnya ia akan kebungungan sendiri saat mencari barangnya yang terselip.
Chesy menatap heran pada selembar kertas yang terletak di atas meja. Sebuah keryas yang diatasnya tertera tulisan berukuran besar.
'Nge date yuk!'
"What? Apa ini? Siapa yang menulis ini? Mustahil Bik Parti atau Mang Darel yang tulis."
Chesy membalikkan kertas, ada tulisan di sebelahnya.
'Kalau kamu mau nge date, datang ke kafe Berlian malam ini jam delapan ya. Aku tunggu.
By Suamimu.'
Chesy menjingkrak senang sekali. Ia mencium kertas itu dan melompat girang.
Ya ampun, nggak nyangka banget Cazim akan seromantis ini. Bisa-bisanya mengajak nge date pakai nulis kertas segala. Pria itu sungguh unik sekali. Mendapat tulisan itu, rasanya Chesy seperti menang undian milyaran rupiah. Menghebohkan sekali. Gembira bukan main.
Chesy menghambur ke kamar mandi untuk segera melaksanakan ritual mandi. Harus mandi yang benar supaya dakinya luntur dan wangi.
***
Bersambung
__ADS_1