
"Jadi bingung aku, kamu nggak merasa aku marah tapi tanya kenapa aku marah," gumam Yakub dengan raut kebingungannya
Perlahan Yakub mulai mengubah posisi duduk menghadap langsung ke arah Revalina, nampaknya dia akan membicarakan hal serius padanya.
"Jangan bilang kamu lagi resah setelah persidangan tadi dan merasa aku nggak ada di pihak mu setelah melihat aku duduk di kursi barisan belakang Dalsa," ujar Yakub mulai mengeluarkan dugaan dalam kepalanya.
Revalina terdiam, menunduk tak menjawab pertanyaan Yakub. Sekarang ia jadi serba salah, di satu sisi hatinya memang merasa tak enak ketika kejadian sidang tadi tapi di sisi lain bukan itu tujuan pertanyaannya.
"Harus berapa kali aku katakan kalau aku mengecam kelakuan Dalsa, kalau aku marah padamu nggak akan aku seret adikku sendiri ke kantor polisi dan nggak akan aku tolak tawaran lawyer itu untuk upaya pembebasan Dalsa," jelas Yakub panjang lebar.
'Kenapa jadi begini, padahal ujung dari pertanyaan ku tadi itu mau ke arah Mas Rival,' ucap Revalina dalam hati.
"Iya Kak, aku nggak meragukan soal ketegasan Kakak dan kebijaksanaan Kakak dalam masalah ini aku ucapakan banyak-banyak terimakasih," sahut Revalina mulai tak enak hati dengan Kakak iparnya ini.
"Terus, sekarang apa yang kamu pikirkan tentangku kenapa kamu bisa bertanya apa aku marah padamu?" tanya Yakub.
"Padahal aku tak pernah marah padamu sekali pun, bahkan saat Rival lumpuh pun aku tak marah padamu," jelas Yakub pada Revalina.
Secara bertubi-tubi Yakub terus memberi penjelasan pada Revalina dengan menunjukkan beberapa perkata yang jelas Revalina ketahui di depan mata kepalanya.
"Aku justru marah sama Dalsa sudah pasti tapi aku lebih marah sama Mama yang sampai sekarang masih mengupayakan untuk membebaskan Dalsa," ujar Yakub lirih sedih.
Agaknya perjuangan Candini pada Dalsa membuat hati Yakub terluka, sebagai seorang pengganti kepala keluarga dia terlihat sangat kecewa pada keduanya.
"Apa yang Kakak pikirkan tentang upaya itu?" tanya Revalina meski ia sendiri sudah tahu jawabannya.
Perlahan Yakub mulai menarik nafasnya dalam-dalam, lalu perlahan menghembuskan nafas secara perlahan sudah seperti orang yang mau melahirkan saja.
"Menurutku upaya pembebasan Dalsa dari jerat hukum justru nggak membuat Dalsa lebih baik, kecuali dia punya itikad baik sebelumnya, mau meminta denganmu dan keluargamu dengan tanda kutip sudah sangat menyesali perbuatannya. Pasti aku akan mengusahakan agar dia bebas bersyarat," jawab Yakub panjang lebar.
Mendengar jawaban Yakub seketika Revalina tersenyum lega, padahal sebelumnya Yakub sudah berulangkali menjelaskan namun baginya hari ini adalah puncak akhir dari segala ucapan yang pernah dia lontarkan pada Revalina.
'Syukurlah aku punya Kakak ipar seperti Kak Yakub, kalau bukan Kak Yakub pasti aku nggak akan dapat jawaban seperti ini,' gumam Revalina dalam hati.
"Sudah sekarang kau jangan banyak pikiran, nggak baik melamun di belakang rumah ada banyak hantu di sini," sambung Yakub dengan nada becanda.
Seketika ketegangan yang Revalina rasakan berubah jadi rasa takut yang semakin menjadi-jadi ketika melihat pohon bunga kamboja di halaman belakang rumah itu.
"Aaaa, jangan menakut-nakuti aku seperti itu," rengek Revalina ketakutan.
"Hahaha, makanya jangan melamun di sini," tegur Yakub diiringi tawa renyah.
Di tengah ketakutannya tiba-tiba Revalina baru teringat jika seharusnya setelah sidang ia tak kembali ke rumah melainkan kalau langsung ke kantor untuk mengurus pekerjaan yang sudah pasti menumpuk sore ini.
Dengan panik, Revalina berpamitan pada Yakub lalu berlari masuk ke dalam rumah mengambil sepatu, tas dan kunci mobil.
"Ya Tuhan, pasti Kak Rafa sama Pak Joseph sudah marah-marah di kantor," duga Revalina berjalan sembari mengenakan high heels nya satu persatu.
Kedua tangan penuh dengan barang bawaannya, Revalina sangat kelabakan sore ini hingga memantik tatapan kebingungan dari Sarah.
"Reva, kau ini mau kemana buru-buru sekali?" tanya Sarah menatap keheranan sembari mengerutkan keningnya.
"Mau ke kantor Mbak, aku lupa kalau seharusnya aku sekarang itu ada di kantor bukan malah balik ke rumah," jawab Revalina semakin panik.
Sarah mengawasi dengan tenang.
"Aku berangkat dulu ya Mbak," pamit Revalina.
"Nggak usah terburu- buru, bahaya di jalan kalau terburu- buru loh." Sarah mengingatkan sebagai wujud perhatian.
__ADS_1
"Assalamualaikum," salam Revalina sembari berlari keluar rumah.
"Waalaikumsalam," jawab Sarah. "Hati-hati ya jangan ngebut." Sarah berseru dari dalam rumah.
Kini Revalina sudah ada di luar rumah.
"Iya," sahut Revalina dengan keras agar Sarah mendengar suaranya.
Tanpa ia sadari dirinya belum berpamitan dengan Rival lalu tak lama ketika dalam perjalanan ke kantor ia baru teringat.
"Ya Tuhan, istri macam apa aku ini keluar rumah nggak izin suami," ucap Revalina terkejut dengan kecerobohan dirinya sendiri.
Tanpa pikir panjang saat masih mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi Revalina mulai menghubungi Rival melalui panggilan telepon.
Tuttt tutt.
Bunyi panggilan telepon berdering.
"Angkat Mas, jangan buat akau semakin berdosa," ucap Revalina semakin resah.
Rival: Assalamualaikum.
Revalina: Waalaikumsalam.
Rival: baru ingat kalau punya suami?.
Revalina: maaf Mas, aku tadi buru-buru. Aku izin sekarang ya aku izin ke kantor sebentar nanti kalau sudah selesai pekerjaan langsung pulang.
Rival: ya.
Revalina: jangan marah ya Mas, aku pergi ke kantor buat kerja.
Rival: ya.
Rival: ya.
Revalina: Kok ya ya mulu? Apa nggak ada kata- kata lain? Lempeng banget kedengarannya, Mas. Sebel iiih.
Rival: ya terus gimana kamu mau aku jawab enggak?
Revalina: enggak gitu juga dong, yang tadi saja lebih bagus jawabannya, nggak ada yang salah. Terimakasih Mas.
Revalina: Assalamualaikum.
Rival: Waalaikumsalam.
Revalina langsung menutup telponnya diikuti dengan hembusan nafas lega.
"Akhirnya dapat izin juga meskipun terdengarnya Mas Rival masih cuek," gumam Revalina.
Melesat menembus angin, sore itu akhirnya Revalina tiba di kantor dengan waktu delapan belas menit, tanpa menunggu lama lagi, ia pun bergegas masuk ke dalam kantor sembari memberi kode pada satpam untuk memarkirkan mobilnya seperti biasa.
Tibalah ia di lantai lima, terlihat lantai itu begitu sepi tak ada seorang pun yang lalu-lalang agaknya semua orang di lantai tersebut masih sibuk di ruangannya masing-masing, tak ingin pergerakannya ketahuan Joseph terlebih Rafa ia langsung berlari ke arah ruang kerjanya.
Klekk klekkk.
Pintu terbuka seketika Revalina melesat masuk ke dalam ruangan kerja dengan jantung yang berdetak begitu kencang, harap-harap cemas mengingat dirinya yang sudah lupa akan kewajibannya.
Tok tok tok.
__ADS_1
Tiba-tiba terdengar suara ketukan yang sontak membuat Revalina berjingkat, detak jantung yang semula mereda kini kembali berdetak lebih kencang dari sebelumnya.
Tok tok tok.
Ketukan pintu yang kedua kalinya.
Tak mungkin ia terus terdiam membiarkan orang di balik pintu itu berdiri di luar sana sembari terus mengetuk-ngetuk pintu, dengan terpaksa perlahan tangannya mulai menekan gagang pintu.
Klekkk.
Perlahan dengan sangat amat perlahan Revalina membuka pintu ruangan kerjanya, netranya coba mencuri-curi pandang ke arah sosok di balik pintu.
"Lama sekali, buka pintu pakai di slow motion segala," gerutu Revalina menerjang masuk ke dalam ruangan.
Melihat sosok di balik pintu itu adalah Rafa, sontak Revalina terkejut dengan membelalakkan kedua matanya.
'Sial, berarti Kak Rafa tadi lihat aku baru datang,' ucap ketakutan Revalina dalam hati.
"Tutup pintunya aku mau bicara," perintah Rafa pada Revalina dengan wajah kusutnya.
Setelah memberi perintah, Rafa langsung menuju ke sofa panjang, dengan cepat menundukkan pantatnya di sana diiringi dengan kibasan jas yang tak terkancing itu.
Sementara itu, Revalina yang mendengar perintah Rafa, cepat-cepat melaksanakannya lalu menghampiri Rafa dengan perasaan yang campur aduk.
'Kalau sudah begini berarti dia lagi marah sekali,' tebak Revalina dalam hati.
"Ada apa Kak?" tanya Revalina memasang muka polos, berusaha menutupi kesalahan yang ia perbuat hari ini.
Tatapan Rafa lurus ke depan tanpa titik tuju, terlihat seperti tengah melamun namun dengan membawa gemuruh dalam kepalanya.
Melihat Rafa yang seperti ini membuat ketakutan Revalina semakin menjadi-jadi, meski terbilang sosok Kakak yang sayang dengan adiknya tapi tak bisa dipungkiri jika ketegasan Rafa mampu menyaingi ketegasan Yakub.
"Aku tadi ke ruangan mu sudah empat kali tapi kamu nggak ada, aku hubungi juga nggak bisa," gerutu Rafa dengan nada kesal.
Seketika Revalina langsung menelan saliva dengan kasar, seperti dugaannya sejak pertama kali Rafa menapakkan kakinya masuk ke dalam ruangan ia sudah sadar bahwa Rafa akan membahas kesalahannya hari ini.
Salama beberapa detik ia berusaha memutar otaknya dengan keras mencari elakan jawaban yang aman untuk dirinya, akan tetapi setelah dipikir-pikir ulang tak baik juga berbohong pada Kakak yang sekaligus sebagai pengganti Ayah untuknya.
"Tadi aku lupa Kak, harusnya selepas sidang selesai aku harus balik ke kantor, tapi keterlambatan ku nggak lama kan? cuma beberapa jam saja," jawab Revalina sembari tersenyum-senyum.
Meski jujur ia masih berusaha membuat pembelaan diri, dan meskipun ia salah akan tetapi naluri sebagai seorang perempuan sejati enggan di salahkan sepenuhnya apapun kondisinya.
Sesaat setelah mendengar jawaban dari Revalina, Rafa langsung menunjukkan reaksi tak mengenakkan dari milik mukanya, terlihat kecut dan begitu menyebalkan.
"Bisa-bisanya lupa, padahal kita satu meja di persidangan tadi kenapa pas bubar kamu bisa hilang entah kemana," gerutu Rafa kembali.
"Aku kira kamu itu sudah pergi ke kantor ternyata malah pulang," sambung Rafa semakin kesal. "Ini kita ada kerjaan penting yang harus segera diselesaikan. Jangan sampai bikin perusahaan jadi kacau."
"Ya maaf namanya juga lupa, manusia wajar," sahut Revalina perlahan mulai menunjukkan kekesalannya. "Semua masih bisa diatur. Pekerjaan kan kita yang atur."
Beberapa menit pertama Rafa masih mendebatkan hal itu, dia nampak tak terima dengan Revalina yang seenaknya bekerja di kantor ini meski memiliki hal atas kepemilikan namun bagi seorang Rafa loyalitas itu penting.
Awalnya Revalina berpikir Rafa datang ke ruangannya hanya untuk marah-marah tak jelas seperti pada biasanya, namun ternyata ada hal penting yang ingin dia sampaikan.
"Aku punya kabar penting yang mau aku bahas sore ini juga dengan mu," ujar Rafa dengan nada serius.
Seketika suasana dalam ruang kerja terasa berbeda, entah kenapa sekujur tubuh Revalina mendadak merinding setelah mendengar satu kalimat itu keluar dari mulut Rafa.
"Kabar apa Kak?" tanya Revalina penasaran.
__ADS_1
Bersambung