
"Iya," jawab Rafa dengan raut wajah tak berdosanya.
Entah sebuah lelucon apa yang dimainkan Rafa sekarang, yang jelas Revalina hanya bisa menggeleng sebagai tanda penolakan atas ucapan yang berbau perintah itu.
"Nggak bisa kak," tolak Revalina sembari terus menggeleng.
Lantas Rafa kebingungan, mengerutkan keningnya dengan begitu tajam.
"Kenapa nggak bisa?" tanya Rafa bingung.
"Hey, kamu jangan lupa posisi mu di kantor itu adalah ajudan jadi memang seharusnya kemana CEO pergi kau harus ikut," jelas Rafa berusaha menjelaskan tugas Revalina.
"Aku tahu Kak, tapi kalau sampai keluar kota bersamanya aku rasa nggak bisa. Rival pasti keberatan," jawab Revalina mulai membuka alasannya menolak perintah Rafa.
"Oh itu, aku yakin kau belum bahas tentang ini. Coba bahas dulu baru bicara," ucap Rafa perlahan menurunkan nada bicaranya.
"Kalau Umi percaya Rival nggak akan menghambat karir mu," pendapat Chesy sambil tersenyum ke arah Revalina.
Lagi-lagi Revalina mendapatkan beban pikiran baru, setelah jam menunjukkan pukul 7.35 Revalina kembali pergi dengan alasan pulang. Semua menahannya untuk berlama-lama di rumah namun Revalina kekeh pergi mengingat jadwalnya bertemu dengan Dokter sudah tiba.
Revalina tetep pergi membawa mobilnya dengan kecepatan sedang, menembus dinginnya hawa pagi hari itu.
Tiba di rumah sakit, ia mendadak lupa ruangan Dokter Vandy, dokter yang hendak ia temui. Ia pun terpaksa bertanya-tanya pada resepsionis yang ada di depan.
"Selamat pagi," sapa Revalina pada resepsionis itu.
"Selamat pagi," sahut Resepsionis.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Resepsionis itu dengan senyum ramahnya.
"Mau tanya ruangan Doker Vandy ada dimana ya?" tanya Revalina.
Bersamaan dengan seseorang yang tiba di sebelah Revalina juga tengah menghadap ke resepsionis.
"Reva," panggil orang itu.
Mendengar namanya di panggil dengan cepat Revalina menoleh ke arahnya dengan raut muka kebingungan bercampur takut, takut orang lain selain Sarah dan Yakub tahu dirinya berada di rumah sakit.
Setelah dilihatnya, berapa terkejutnya ia mendapati Joseph ada di sampingnya tersenyum-senyum seperti orang yang baru saja menerima keberuntungan.
"Sempit juga dunia ini ya, hari libur begini bisa tetap ketemu kamu," ucap Joseph.
"Ada apa ke rumah sakit, apa ada yang sakit?" tanya Joseph mendadak serius.
"Nggak ada Pak, saya cuma mau konsultasi saja," jawab Revalina tak sadar jawabannya ini menjurus pada niat sebenernya.
__ADS_1
"Oh baik," gumam Joseph sembari mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Bapak sendiri kesini ada apa, apa Bapak sakit?" tanya Revalina balik.
Joseph tersenyum sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Enggak, aku beli vitamin cuma aku nggak tahu mau tebus obat itu di apotek mana katanya di sini ada," jawab Joseph kembali bingung dengan permasalahannya sendiri.
"Oh, kalau mau tebus obat ke sebelah selatan gedung ini nanti ada lorong menuju lorong apotek mengikuti petunjuk arahnya saja," ucap Revalina menunjukkan arah-arah pada Joseph.
"Oke terimakasih," sahut Joseph dengan senyuman termanisnya.
Tak lama dari depan meja resepsionis mereka pun berpencar menuju ke tempat yang ingin dituju masing-masing.
Sekelebat dalam kepalanya teringat dengan cerita Rafa yang habis begadang semalam akibat pekerjaan yang belum selesai, ia pun mengira hal yang sama sedang terjadi dengan Joseph hingga membuatnya drop.
'Semoga aku bisa jadi ajudan yang bisa diandalkan supaya Pak Joseph dan Kak Rafa nggak begadang sampai larut malam lagi, kasihan mereka,' ucap Revalina dalam hati.
Rasa tak enak hati itu kembali muncul ditengah keresahan hatinya memikirkan Rival yang diduga sudah jadi korban malpraktek rumah sakit ini mengingat hasil yang ditujukan tak selaras dengan kondisinya sekarang.
Saat ditengah jalan Revalina batu sadar kalau dirinya belum tahu ruangan Dokter Vandy ada dimana, terpaksa dirinya berjalan menuju ke ruangan yang biasa digunakan untuk fisioterapi.
Benar dugaannya ruangan Doker Vandy itu tak jauh dari ruangan fisioterapi, terlihat tak ada antrian Revalina langsung mengetuk pintu kayu itu.
Tok tok tok tok tok.
"Silahkan masuk!" seru seseorang dari dalam ruangan.
Perlahan Revalina pun masuk ke dalam ruangan, ia sedikit terkejut melihat Dokter itu tengah mengelap meja.
"Maaf Dok, apa saya mengganggu?" tanya Revalina yang merasa dokter ini baru saja sarapan.
"Oh tidak, silahkan masuk. Saya memang suka bersih-bersih meja kerja saya," jawab Dokter Vandy dengan tersenyum ramah.
"Baiklah," ucap Revalina lirih kembali mengerakkan tungkainya.
"Silahkan duduk," ucap Dokter Vandy mulai mempersilakan Revalina untuk duduk di hadapannya.
Perlahan dengan degup jantung yang mulai berdegup kencang Revalina duduk di kursi itu sembari menguatkan dirinya untuk bisa mendebat Dokter ini sebab tak akan mungkin Dokter ini jujur tentang kesalahan rumah sakit.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Dokter Vandy menatap Revalina dengan menaikkan atensinya.
"Ada Dok, saya cuma bukan cuma mau konsultasi hari ini tapi juga bertanya-tanya sedikit," jawab Revalina sembari menganggukkan kepalanya.
"Banyak juga tidak papa," sahut Dokter Vandy sambil tersenyum.
__ADS_1
Revalina terdiam sejenak, entah kenapa ia seperti tiba-tiba kemasukan setan gagu tak bisa bicara padahal di rumah sudah mempersiapkannya apa saja yang akan dirinya tanyakan pada dokter muda ini.
Dengan segenap jiwanya ia mulai mengumpulkan seluruh keberanian yang ada di dalam dirinya untuk berlaku tega pada setiap kalimat yang akan ia lontarkan pada dokter ini.
'Berani saja tapi kalau orang nge- hang mau gimana,' gerutu Revalina dalam hati, kesal ia masih sulit untuk membuka mulutnya.
"Saya baru ingat, anda ini keluarga dari Pak Rival pasien yang menjalani fisioterapi di rumah sakit ini kan?" tanya Dokter Vandy kembali memecah keheningan di ruangan ini.
"Betul Dok," jawab Revalina sembari menganggukkan kepalanya.
"Saya kesini mau tanya tentang perkembangan suami saya selama fisioterapi di sini, apa benar ada kemajuan yang pesat seperti di surat ini?" tanya Revalina sembari menunjukkan surat itu pada Dokter Vandy.
Sekilas Dokter Vandy melirik surat itu lalu kembali menatap Revalina sembari mengangguk, seketika membuat Revalina jadi makin kebingungan.
"Benar, memang Pak Rival mengalami kemajuan yang sangat pesat dilihat dari hasil fisioterapi yang dilakukan secara bertahap. Awalnya saya ragu dengan kesembuhannya tapi seketika dibantahkan dengan kuasa Tuhan," ucap Dokter Vandy.
"Maksud Dokter, ada kemungkinan suami saya sembuh?" tanya Revalina dengan wajah kebingungannya.
"Sangat ada," jawab Dokter Vandy dengan sangat yakin.
Sontak kedua mata Revalina membesar terkejut sekaligus kebingungan dengan jawaban Dokter yang seakan seperti tengah mengobrak-abrik kewarasannya.
"Dokter jangan bohong ya, selama ini saya nggak lihat perubahan apapun. Suami saya masih sangat kesulitan untuk berpindah duduk apalagi untuk berdiri dan jalan," ucap Revalina mulai berani menyerang dokter yang ada di hadapannya ini.
Rasa kebingungan itu langsung menular pada Dokter Vandy, beberapa detik dia terdiam memandangi Revalina dengan tatapan lain.
"Mana mungkin saya berbohong, rumah sakit ini sudah punya legalitas dan punya sertifikat sebagai rumah sakit terbaik di kota ini. Saya pun tidak mungkin asal-asalan dalam melayani pasien karena saya masuk ke rumah sakit ini dengan tes yang tidak asal-asalan pula. Kalau ada perubahan sewaktu di rumah ya bisa kita periksa kembali karena memang kedua kaki Pak Rival belum terlalu kuat, dan saran saya anda harus ikut masuk ketika terapi itu berlangsung," ucap Dokter Vandy panjang lebar dengan nada bicara yang sedikit tinggi.
Revalina sadar kalimatnya sudah menyinggung Dokter Vandy dan rumah sakit ini, entah kenapa ia jadi merasa bersalah padanya.
'Padahal tadi di rumah sudah di briefing Kak Yakub sama Mbak Sarah tapi kenapa sekarang aku justru langsung percaya dengan ucapan Dokter ini, wah jangan-jangan dia sudah pakai susuk,' ucap Revalina dalam hati.
Anggapannya membuat ia enggan percaya dengan semua kalimat Dokter itu, ia berusaha mendikte pikirannya agar tak gampang percaya.
"Saya tetap tidak percaya, saya yang tahu bagaimana keadaan suami saya sekarang jadi jangan coba membohongi kami," tegas Revalina kepalang tanggung melupakan amarahnya.
"Saya tahu itu, tapi saya di sini tidak berbohong. Lucu sekali seorang Dokter berbohong," jelas Dokter Vandy dengan tutur kata sopan.
Revalina menggeleng tak percaya, ia jelas tak percaya dengan penjelasan Dokter Vandy padanya. Semua yang dijelaskannya terlalu tidak masuk akal.
"Bisa saja berbohong supaya pasien nggak kabur ke rumah sakit lain," ucap Revalina tanpa menyaring sedikitpun kalimatnya.
Nampak wajah Dokter Vandy mulai memerah, perdebatan diantara keduanya terus memanas salah satunya menodong lawan logika penglihatannya sedangkan yang satu menepis lawan dengan menunjukkan hasil medis keduanya enggan mengalah hingga pada titik puncaknya.
"Demi kredibilitas rumah sakit dan kredibilitas saya, saya bisa tuntut kamu atas pencemaran nama baik," ancam Dokter Vandy sembari menunjuk muka Revalina.
__ADS_1
Bersambung