Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Pulang


__ADS_3

Chesy membantu Yunus duduk di sofa sesaat setelah turun dari kursi roda. Sudah beberapa minggu Yunus mendekam di rumah sakit merasakan sumpeknya ruangan bau obat itu. Sekarang ia sudah bebas dan menghirup udara segar.


Selama di rumah sakit, Chesy- lah yang mengurus dan merawat Yunus seorang diri.


Di situlah Yunus merasakan bahwa putrinya yang selama ini tidak pernah mengerti dengan tanggung jawab itu ternyata sudah mulai memahami arti sebuah tanggung jawab.


Dulu, Yunus tidak pernah melihat ketelatenan Chesy dalam pekerjaan apa pun. Boro- boro kerja, semua keperluan Chesy juga disiapkan oleh asisten rumah tangga. Dia tidak pernah bisa bertanggung jawab pada dirinya sendiri. Mulai dari persiapan baju sekolah, sepatu, buku sekolah, sampai urusan makan pun diurus oleh pembantu.


Dan saat dia kuliah, semua itu tidak pernah bisa lepas begitu saja. Ia tetap bergantung pada pembantu. Jangankan mengutus orang lain, mengurus dirinya sendiri pun ia tidak bisa. Namun kini, Yunus melihat sebuah perubahan, Chesy mulai terlihat bersedia mengurus keperluan orang lain, yaitu keperluan ayahnya selama di rumah sakit. Termasuk memapah Yunus saat ke kamar mandi, mengelapi badan Yunus, juga menyuapinya.


"Makasih ya, Chesy."


Chesy hanya memutar mata tanpa menanggapi. Baginya, Yunus seharusnya tidak perlu berterima kasih. Kalau setiap ada jasa mesti mengucapkan terima kasih, entah berapa kali Chesy mesti mengucapkan hal yang sama kepada ayahnya yang telah memberi nafkah kepadanya.


"Abi mau apa? Mau minum?"

__ADS_1


"Ya, boleh."


"Minum apa?"


"Teh hangat saja."


"Ya udah, biar aku ambilin dulu." Chesy melangkah menuju ke dapur.


Sepi.


"Bi Parti!" seru Chesy memanggil asisten rumah tangganya saat mengecek air di tumbler kosong, dispenser dalam kondisi tidak dicok sehingga ia tidak bisa mendapatkan air panas.


"Mang Darel!" Chesy berseru memanggil asisten rumah tangga lainnya.


Tidak ada sahutan.

__ADS_1


Huh, Chesy lupa kalau dua asisten rumah tangganya itu setiap malam pasti pulang ke rumah masing- masing. Mungkin mereka sudah pulang.


Tapi kan ini masih jam tujuh malam, masak sih mereka sudah pulang? Bukankah biasanya pulang jam sembilan malam?


Wah, mereka pasti pulang cepat, atau bahkan malah tidak datang ke rumah karena memang tidak ada kerjaan di rumah. Majikan juga tidak ada di rumah selama beberapa minggu. Tentu kerjaan mereka zonk. Palingan hanya Mang Darel yang datang untuk bersihin rumah.


Chesy seharusnya menelepon Bik Parti sebelum ia pulang tadi, meminta Bi Parti menyiapkan apa.saja keperluannya di rumah sebelum asisten rumah tangganya itu pulang. Tapi ia tidak mengabari asisten rumah tangganya sehingga mereka tidak tahu kepulangan Chesy. Lauk pauk di rumah pun tidak ada. Kadi malam ini ia mau makan apa?


Kletek kletek..


Suara benda bergesekan di ruangan lain membuat Chesy tersadar kalau dugaannya yang mengatakan pembantunya tidak datang ke rumah itu urung. Itu mungkin Mang Darel, biasanya Mang Darel memang pulang lebih akhir dari Bik Parti.


"Mang, Bik parti, belum pulang ya? Rebusin air, Mang! Cepetan. Aku nggak tau dimana letak ceret atau apalah itu yang untuk merebus air. Buruan!" seru Chesy.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2