
Rival duduk santai di ruang tamu, kakinya menyilang dengan pandangan tertuju ke hp yang dia mainkan.
Suara pintu dibuka kemudian di tutup, dilanjutkan derap langkah sepasang sepatu high heels melenggang di atas lantai keramik.
"Aku mau bicara!" Pandangan Rival masih tertuju ke arah hp. Meski tanpa menatap sosok yang diajak bicara, ia tahu bahwa sosok itu adalah Dalsa.
Ucapan Rival membuat Dalsa berhenti dan menghampiri abangnya. "Ada apa, Mas?"
Rival memasukkan hp ke kantong celana, bangkit berdiri dan menatap Dalsa tajam.
"Revalina akan menjadi istriku. Apa kamu masih mau memberontak dan menolaknya?" tegas Rival membuat Dalsa mengangkat wajah dan mengangkat alis.
"Atas dasar apa Mas mau menikahi gadis yang jelas- jelas jadi musuhku? Mas bahkan kemarin ikutan marah sama dia saat aku bermasalah dengannya. Mas juga menghukumnya karena kesal dia udah bikin masalah sama aku. Lantas kenapa sekarang malah membela dia?" kesal Dalsa.
"Kamu bermasalah dengannya dan aku sudah berikan hukuman kepadanya sesuai aturan. Itu masalahmu, bukan masalahku. Kalau pun aku marah kepadanya, itu karena aku tidak suka dia menyakiti adikku. Tapi bukan berarti aku memusuhinya. Setelah hukuman dia terima, maka urusan selesai. Dan sekarang permasalahannya adalah dia akan menjadi kakak iparmu."
"Enggak. Aku nggak setuju."
"Aku tidak butuh persetujuanmu?" tegas Rival mendominasi.
"Aku nggak suka dengannya, Mas bisa cari yang lebih dari dia."
"Aku mau dia, sesuai seperti yang dikatakan Mas Yakub, bahwa bisnisnya akan semakin luas saat aku menikah dengan Revalina."
"Oh, jadi dia anak konglomerat? Itu sebabnya Mas mau menikahinya hanya karena urusan bisnis?" Dalsa berkata dengan nada tinggi.
"Ya. Aku mau menikah dengannya. Apa pun alasannya, dia akan menjadi istriku. Titik. Kamu harus menerima itu." Rival mempertegas ucapannya.
"Enggak."
"Minta maaf pada Revalina besok!" titah Rival dengan tatapan tajam bak pisau belati, suaranya keras dan tinggi, membuat Dalsa terdiam dan menunduk, takut. Sosok pelindungnya membentak dan menunjukkan kemarahan.
Ini adalah pertama kalinya bagi Dalsa mendapat makian dari kakaknya.
"Besok, kamu harus menemuinya dan minta maaf!" tegas Rival kemudian melenggang pergi, meninggalkan Dalsa yang membeku di tempat.
***
__ADS_1
"Salam!"
Revalina yang tengah duduk di salah satu meja kantin kampus, menatap pria yang duduk di hadapannya. "Akram!"
"Hm. Kamu apa kabar?" tanya Akram. "Setelah kamu tahu Pak Rival termasuk sebagai salah satu pelaku, apa rencanamu selanjutnya?"
"Biar ini jadi urusanku ya. Kamu nggak usah ikut campur. Aku nggak mau melibatkan kamu."
"Rajani itu adalah orang yang aku sayangi, sudah sewajarnya aku membela kehormatannya. Siapa pun yang menjatuhkan harga dirinya, maka aku ingin ikut campur." Akram mengusap wajah sedih. "Aku tidak bisa memaafkan kebiadaban itu."
"Aku masih harus mencari tahu melalui Pak Rival apakah ada orang lain lagi yang terlibat atau enggak."
"Maksudmu? Kamu masih mencurigai orang lain lagi selain Pak Rival?" tanya Akram.
"Bukan begitu. Aku merasa yakin bahwa mereka berempat nggak akan mungkin melakukan aksi keji itu tanpa suruhan orang lain. Barang kali ada orang yang menjadi dalang di balik semua ini. Dan aku harus temukan orang itu. Kalau Pak Rival sampai mampus, maka aku nggak bakalan bisa tahu siapa dalangnya. Aku harus dengar dari dia, atau minimal aku tahu dari alat elektroniknya atau apa aja."
Akram menghela napas. "Apa pun itu, aku dukung kamu. Hanya saja, aku merasa tidak terima saat Pak Rival masih berkeliaran dengan tenang sementara Rajani sudah lebih dulu meninggalkan kita akibat perbuatannya."
"Aku pasti akan berikan hukuman keras pada Pak Rival." Revalina mengangguk.
"Tentu. Makasih ya."
"Dan ingat, jangan nekat. Jangan sampai kamu merugikan dirimu sendiri apa lagi membuat semua orang curiga padamu jika sesuatu terjadi pada Pak Rival. Kamu harus berhati- hati."
"Aku paham. Justru itu aku nggak mau gegabah. Ini harus direncanakan secara matang. Pak Rival bukan orang bodoh. Dia juga pasti udah bikin pagar tinggi supaya dia nggak menjadi tertuduh."
"Sejauh ini apa yang kamu lakukan?" tanya Akram.
"Aku akan masuk di kehidupan Pak Rival."
"Caranya?"
Revalina tersenyum. "Kepo."
Akram tertawa. "Aku siap membantumu, apa pun itu. Bahkan kalau kamu mau aku bertindak untuk Pak Rival, aku akan melakukannya. Demi Rajani."
"Sesayang itu kamu sama Rajani."
__ADS_1
"Kamu belum pernah merasakan jatuh cinta, makanya kamu tidak tahu bagaimana rasanya kehilangan karena kebiadaban."
Sejenak merek diam. Meneguk minum masing- masing. Revalina meneguk jus. Sedangkan Akram meneguk minuman kaleng yang dia bawa.
"Aku duluan ya! Kamu panggil aja aku kalau butuh apa pun." Akram melenggang pergi.
Kanton mulai sepi. Kelas sebentar lagi akan dimulai. Revalina malas beranjak dari sana. Rasanya ia ingin secepatnya selesai dari urusan kuliah. Semenjak Rajani tidak ada, Revalina merasa ada yang kurang.
Tiba- tiba beberapa orang muncul dan mengelilingi meja tempat Revalina tengah duduk santai.
Pandangan Revalina mengedar pada orang- orang yang berkeliling di sekitarnya. Mereka semua berdiri mengelilinginya. Sedikitnya ada sekitar enam orang. Salah satunya adalah Dalsa.
Oh, rupanya kepala geng nya adalah Dalsa. Wajah- wajah di sekeliling Revalina itu mengikuti ekspresi wajah Dalsa yang tajam.
Revina menghabiskan jusnya melalui pipet dengan santai. Dalam hati ia mengumpat. Sialan, beraninya main keroyokan. Pecundang!
"Kalau kalian mau duduk, biar aku menyingkir." Revalina bangkit berdiri, namun langkahnya dihalangi oleh temannya Dalsa.
"Ini maksudnya apa ya?" Revalina menatap Dalsa jengah.
Dalsa memutari meja, mendekati Revalina. Kini ia berdiri tepat di hadapan Revalina.
Revalina sebenarnya ingin pergi menjauh, menjauh dari masalah. Tapi akses jalannya ditutup. Mereka melingkari tubuhnya hingga ia tidak memiliki jalan untuk keluar.
Tatapan Dalsa tajam. Ia tersenyum sinis kemudian berkata, "Apa yang kamu lakukan ke Mas Rival ku?"
"Tanyakan aja ke Lak Rival."
"Mas Rival segitunya mengharapkanmu jadi istrinya."
"Oh. Maaf, itu nggak penting bagiku. Aku udah tau itu sejak awal. Minggir! Aku mau lewat." Revalina sebenarnya merasa gentar melihat enam orang sadis yang siap menerkamnya itu. Bila saja mereka sampai mengeroyok dan khilaf sampai mengecornya ke dinding seperti pemberitaan yang baru saja viral, ia pasti tidak akan berkutik. Namun ia tetap memperlihatkan sikap berani.
Dalsa maju lagi, hingga akhirnya jarak mereka hampir terkikis, tersisa hanya sekitar satu jengkal saja.
Entah apa yang akan dilakukan Dalsa setelah ini. Revalina waspada, siaga dan siap pasang kuda- kuda.
Bersambung
__ADS_1