
Revalina mulai melipat kedua tangannya sembari terus membuang muka, ia jadi kesal teringat salah satu Dosennya menyukai Rival pada saat masih menjadi Dosen juga.
"Jangan marah begitu ah, nanti jelek," bujuk Rival sembari mencolek lengan Revalina.
Dalam keadaan marah sontak Revalina langsung menepis jari tangan Rival yang sudah mencolek lengannya.
"Apaan sih," gerutu Revalina kesal.
"Kamu cemburu ya kalau ada wanita yang suka sama aku?" tanya Rival dengan nada meledek.
Sekejap netra Revalina mengedar ke arah Rival, dengan edaran yang sangat tajam. Ia cukup terkejut dengan pertanyaan Rival kali ini.
"Mana ada aku cemburu, aku cuma kesal saja kalau kau sok kegantengan di depan banyak orang," elak Revalina dengan jelas.
Namun agaknya kejelasan ucapannya tak bersambut baik pada Rival, kini Rival justru berusaha menahan tawanya yang secara langsung sudah meledek Revalina.
"Ya itu namanya cemburu, Reva," jelas Rival tersenyum malu sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Enggak, nggak cemburu aku," elak Revalina untuk yang kesekian kali.
Sepanjang perjalanan keduanya terus mendebatkan hal ini sampai ke rumah, namun setibanya di rumah mereka justru kembali akur saling memeluk satu sama lain.
"Ya ampun, kalian tuh kalau mau mesra-mesraan di kamat saja kenapa sih jangan di sini," tegur Yakub melintas di hadapan kedua adiknya sembari membawa secangkir kopi panas.
Mendengar suara Yakub yang tiba-tiba memecah keheningan ruang tengah tersebut dengan cepat Revalina melepaskan pelukannya namun tidak dengan Rival yang kini beralih merangkul pundak Revalina.
"Kasihan sekali Kakak ku ini, tapi salah sendiri kenapa tadi nggak ikut menginap di sana saja," sahut Rival meledek Yakub.
Yakub terduduk di atas sofa, meletakkan cangkir kopi ke atas meja yang ada di hadapannya lalu perlahan membalas tatapan Rival dengan lebih tajam ke segala arah.
"Mana mau Mama ada aku di rumah itu," sahut Yakub dengan santainya.
Tak hanya untuk urusan menikah, mencari pasangan yang tepat dan damai, kali ini
"Nggak aku juga kali," sahut Rival mulai mengerakkan tungkainya ke arah Yakub.
Saat melihat hal itu Revalina sengaja masuk ke dalam kamar untuk memberi mereka ruang untuk berbincang dan berpikir mengenai permasalahan yang terjadi.
"Semoga masalah mereka cepat selesai, dan semoga Mama cepat sembuh," ucap doa Revalina
*******
POV Akram
Awal yang membahagiakan lolos dari security cafe dengan langkahnya yang tetap santai membawa makanan itu ke arah selatan.
Dapat ia pastikan saat ini wanita itu tengah terpontang-panting mengamuk di cafe sana karena kue dan kopinya kurang.
"Aku tak bermaksud mencuri, orang adik cantik tadi yang ambilkan," ucap pembelaan Akram terhadap dirinya sendiri.
Saat ini giliran ia bingung hendak menyantap makanan dan minuman mewah seperti ini di mana sementara semuanya sudah di padati dengan orang-orang.
__ADS_1
Di balik keberaniannya mengambil makanan dan minuman itu dalam hati Akram aslinya selalu berkecil hati dengan dirinya sendiri, ia selalu insecure padahal jutaan wanita selalu menjerit ketika melihatnya.
Hanya saja pada kasus kriminal yang terjadi, Akram di sorot dengan lain hal dan pandangan yang jauh berbeda makanya Akram sendiri juga berbeda, tak seperti dulu yang bar-bar.
Sat itu disaat yang bersamaan Akram melintasi Masjid, ia teringat dengan orang-orang yang berada di masjid adalah orang-orang yang santai dan tidak.
"Sepertinya aku makan di sini saja, aku masih harus minum karena haus," gumam Akram sembari terus memandangi Madjid tersebut.
Dan benar akhirnya Masjid Agung itu menjadi tempat tujuan Akram, dengan cepat ia pun masuk ke dalam menuju ke lorong tepat dimana seseorang mengambil air wudhu. Di sisi lorong terdapat beberapa lorong mati yang tak terpakai lagi, melihat hal itu Akram pun bergegas menuju kesana.
Setibanya di sana terlebih dahulu ia menengguk ice coffee itu dengan rasa di tenggorokan yang tak bisa di up, dengan alasan ia tak ingin tahu sedikitpun tentang dirinya sekalipun hanya rasa haus saja.
Siang itu ia menyisihkan kue untuk ia makan pada malam dam pagi besok, ia membuat garis pada kue itu agar pas.
"Hidup begini amat perasaan, tapi kalau masih makan minum enak its okey lah aku masih terima asalkan nggak berada dalam penjara," gumam Akram.
Semakin lama kini siang perlahan menjadi petang, Akram sudah melewatkan beberapa kali waktu shalat namun ia masih dengan santainya tidur di pinggir lorong sepanjang hari di dalam kegelapan dan kelembapan lorong tersebut.
Suara gemercik air terus terdengar di telinganya, menunjukkan bahwa selalu ada orang yang sholat di sana kapanpun itu hingga waktu magrib tiba semakin ramai orang yang berkunjung ke Masjid.
Meski begitu gemercik air wudhu dan suara Adzan yang didengarnya sebanyak 3 waktu di tempat yang sama tak membuat hatinya terketuk untuk ikut sholat.
Banyak orang yang baru saja berwudhu menggunjingnya namun Akram tetap pulas tertidur di sana tak peduli dengan omongan orang.
"Tidurlah kau sampai Malaika Izrail menjemput," ucap salah satu jemaah Masjid dengan nada kesal.
Akram yang baru saja hendak kembali masuk ke dalam mimpi indahnya seketika terbelalak dan langsung beranjak dari tidurnya setelah mendengar ucapan seorang laki-laki tadi seperti sangat kesal.
Sesat setelah bangun dari tidurnya Akram langsung celingukan mencari seorang laki-laki di sana, namun dalam area wudhu itu ia tak menemukan satu orang pun ada di sana.
Tiba-tiba sekujur tubuhnya terasa merinding, tengkuknya terasa sangat dingin, saat itu juga Akram mulai ketakutan. Ketakutan dengan dirinya yang belum siap untuk kembali ke sang pencipta untuk sekarang.
Tanpa berpikir panjang ia pun bergegas mengambil air wudhu, lalu bergegas menyelenggarakan sholat.
Di tengah sholat berjamaah yang berlangsung, perlahan kemenangan diiringi rasa sabar serasa menyelimuti.
Setelah sholat jamaah berlangsung, Akram mulai ikut namun memilih di barisan paling belakang. Ia enggan karena ada orang memerhatikan wajahnya, bahkan ia menjadi pusat perhatian di sana.
'Kalau bukan gara-gara kalimat orang itu, entah mimpi ku atau bukan yang terlalu menyeramkan itu, aku nggak akan mungkin sholat,' ucap Akram dalam hati.
Meski sudah sholat pun hati Akram terus kaku.
Sesaat setelah salam, ia langsung menutup wajahnya dengan masker lalu Bubar mengikuti jemaah yang lain.
Ia bergegas menuju lorong tadi untuk makan malam dengan rotinya tadi, dalam setiap langkah lidahnya sudah mampu membayangkan enaknya roti itu kali ini.
Melintasi jemaah-jemaah yang lain, Akram begitu bersemangat menuju lorong wudhu pria.
Setibanya di sana, sontak kedua matanya terbelalak melihat tak ada bungkus roti dan sisa kopinya. Karena panik, ia pun mencari-cari ke sekeliling di sepanjang lorong tersebut.
"Di mana ini, perasaan aku taruh di sini," Akram bertanya-tanya.
__ADS_1
Wajah Akram semakin pucat, perutnya sudah sangat lapar sementara roti itu adalah harapan terakhirnya.
Kali ini tak hanya di lorong saja, di seluruh bahkan di dalam area wudhu laki-laki Akram mencari rotinya. Menyusuri tempat sampai satu per satu dia buka, namun tak ada roti miliknya bahkan bekas bungkusnya pun tak ada.
Salah seorang petugas Masjid yang ada di sana tengah memandanginya dengan tatapan iba, mereka saling berbisik ketika Akram tengah mengorek-ngoreknya sampah dan Akram Tahu itu akan tetapi ia merasa rotinya lebih penting dari apapun sekarang.
"Arghhh, kenapa juga tadi aku tinggal harusnya aku bawa saja terus," gerutu Akram dengan nada kesal.
Ada rasa penyesalan, namun bukan menyesal telah melakukan sholat ia justru menyesal karena tak membawa roti dan kopi itu ikut bersamanya meski ujung-ujungnya akan dilarang oleh petugas juga.
"Sial, terus kalau sudah begini aku mau makan apa," ucap Akram bertanya-tanya.
Merasa sudah tak bisa dirinya terus berada di sini, orang-orang hanya menatap iba namun tak menentu apa-apa, percuma saja.
Tanpa pikir panjang Akram bergegas pergi dengan tekad dan semangat untuk mencari makanan di luar sana.
Di tengah kebisingan malam itu Akram melintas di trotoar menembus dinginnya angin malam seorang diri lontang-lantung mencari tempat sampah.
Ia sudah mulai jauh dari tempat awal, saat ini ia merasa seperti hampir di tengah kota saat melihat orang-orang di sana yang berpenampilan keren dan rapi, ditambah banyaknya bangunan gedung-gedung menjulang tinggi.
Hanya sekilas pemikiran Akram di tengah kebingungannya mencari makanan, dari tempat sampah satu dengan tempat sampah lainnya ia tak kunjung menemukan makanan yang masih layak untuk di makan bukan basi apalagi busuk.
"Aku masih gelandangan baru jadi nggak sepantasnya makan makanan seperti ini," gerutu Akram menutup kembali pintu tempat sampah dengan kasar.
Malam itu Akram masih berusaha keras untuk mencari makanan, lalu tak sengaja ia melihat sebuah rumah makan kecil yang di dalam sana tak ada seorangpun membeli di sana.
"Wah, sepertinya rumah makan itu butuh penglaris. Aku bisa jadi penglarisnya," ucap Akram dengan kedua mata berbinar-binar.
Di liriknya kesana kemari, ia melihat tak ada lagi orang yang memperhatikan rumah makan tersebut apalagi dirinya. Semua berada di jarak yang cukup jauh.
Melihat situasi yang sudah kondusif, tanpa pikir panjang ia bergegas menuju ke rumah makan sederhana tersebut.
"Selamat Malam, mau pesan apa Kak," ucap pelayan dengan senyum ramahnya.
"Malam," sahut Akram tersenyum sembari mengangguk tipis.
"Saya mau pesan makan dia bungkus masing-masing pakai lain ini, ini dan ini," ujar Akram menunjuk beberapa menu melakui kaca.
"Baik, di bungkus semuanya ya?" tanya pelayan.
"Iya, di bungkus semuanya sama sekalian air mineralnya dua," jawab Akram.
Sebenarnya apa yang ia lakukan terlalu beresiko, akan tetapi dengan adanya orang-orang di rumah makan ini justru membuat dirinya semakin terancam.
"Sudah selesai, totalnya 40," ujar pelayan sembari menyodorkan dua box makanan lalu tersusun di bungkus plastik.
"Oke," sahut Akram menarik kantung itu sembari tangannya merogoh uang di saku celananya.
"Bu, pesan makanan di sini," ucap salah seorang laki-laki paruh baya.
Melihat fokus pelayan yang sudah terpecah belah dengan adanya konsumen baru, dengan cepat Akram keluar dari rumah makan tersebut, berlari sekencang-kencangnya El sebagai arah dan tujuan
__ADS_1
"Woi maling!" teriak pelayan.
Bersambung