Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Salah


__ADS_3

"Saya tunggu di kamar rawat." Suster pun melangkah pergi.


Cazim mendekati Chesy. Mendekatkan wajahnya ke wajah Chesy yang kini di posisi duduk.


Mereka bertukar pandang di jarak sedekat itu, Chesy menangkap manik mata cokelat yang bergerak di dalam sana. Mata itu tajam sekali.


"Apa yang kau lakukan? Kenapa berpura- pura tidur?" geram Cazim. "Kau tahu peristiwa yang baru saja terjadi itu tadi adalah pertaruhan nyawa bukan? Jantungku, nyawaku dan semuanya bahkan hampir melayang memikirkan semua ini. Kau tahu kalau aku mencemaskanmu. Aku sangat khawatir dan kau malah berpura- pura tidur. Apa- apaan ini? Kau pikir perasaanku yang khawatir ini pantas dibawa main- main? Sungguh ini tidak lucu!" Gigi Cazim menggemeletuk.


Chesy hanya diam mematung dan menatap saja, tanpa terlihat rasa takut. Dia tenang sekali.


"Aku pasti terlihat seperti orang bodoh. Kai sengaja mempermainkan aku dengan berpura- pura tidur padahal kau tahu aku di puncak kecemasan yang luar biasa setelah peristiwa yang menentang maut. Benar- benar tidak lucu!" Cazim menempelkan kursi roda ke ranjang bed dengan sentakan kuat hingga menimbulkan suara keras.


Brak!


Cazim mengangkat tubuh Chesy ke kursi roda. Mendorong kursi itu keluar kamar dengan gerakan kasar. Kekesalannya memuncak.


Chesy masih diam membisu. Gips di lehernya benar- benar membuatnya merasa tak nyaman.

__ADS_1


Cazim berhenti sebentar di depan security yang berjaga di lantai itu. "Kamar Melati nomer 56 mana?"


"Di sana, Mas," tunjuk Satpam ke arah lorong yang berlawanan.


"Makasih." Cazim memutar balik kursi roda dan mengarahkannya ke kamar yang ditunjuk. Langkahnya terdengar berat menapaki lantai lorong rumah sakit. Dari sentakan kakinya itu, Chesy tahu kalau suaminya sedang marah sekali.


Cazim berhenti saat sadar sudah sampai ujung lorong. Ya ampun, gara- gara emosi, ia sampai tidak menyadari sudah melewati kamar yang seharusnya dan kini malah sampai ke ujung lorong begini.


Cazim melepas kursi roda dan mendekati kaca jendela yang menjadi pembatas dan dapat menghubungkan pandangannya langsung ke luar.


"Aku hanya ingin melihat situasi di luar dari sini." Cazim ngeles. Padahal jelas ia kebablasan tadi, dan Chesy tahu hal itu.


Cazim menelan handle pintu kamar di nomer yang tepat. Lalu membawa Chesy masuk. Sudah ada suster yang menunggu di sana.


Cazim mengangkat tubuh Chesy dan mendudukkannya ke kasur.


Suster membantu memasang selang infus ke tiang gantungan. Ia mengecek tensi kemudian pergi.

__ADS_1


"Sudah? Puas? Sekarang jau boleh tertawa melihat aku mencemaskanmu setengah mati. Keterlaluan!" Cazim balik badan, kemudian melangkah menuju pintu.


"Mas Cazim!" Chesy tak tahu kenapa ia memiliki tenaga kuat untuk bisa turun dari bed, memeluk tubuh kekar pria itu dari belakang, melingkarkan erat lengannya pada perut rata suaminya.


Terpaku, Cazim membeku di tempat.


Chesy menyenderkan pipi ke punggung suaminya.


"Kamu bilang kamu ingin melihat aku marah lagi kan? Tapi kenapa malah kamu yang marah?"


Cazim masih membisu.


"Kalau aku mati, masalah akan selesai kan? Tapi kenapa Tuhan nggak kasih mati aja disaat aku mencintaimu dan kamu mencintai Senja?" sambung Chesy.


Dahi Cazim berkerut tajam. Menoleh ke arah kepala Chesy yang nyender namun ia hanya dapat menjangkau sebagian kerudung saja.


"Aku mencintaimu," lirih Chesy dengan jantung yang rasanya seperti lepas dari tempatnya. Sekujur tubuhnya mendadak seperti ringan setelah mengucapkan kalimat itu.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2