Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Hukuman Untuk Rival


__ADS_3

Revalina berhasil membekap mulut dan hidung Rival berusaha menekan agar tak ada celah sehingga dia menghirup obat bius di sapu tangan itu, sialnya Rival meronta menarik tangan Revalina dengan tenaga yang tersisa.


Namun tak lama Rival menyerah, bius di dalam sapu tangan itu sudah dihirupnya mustahil dirinya tak jatuh pingsan.


"Hah, bagus. Sekarang saatnya aku bawa dia ke gedung tua," ucap Revalina membuang sapu tangannya secara asal.


Ia pun bergegas menancapkan gas dalam-dalam melajukan mobil dengan sangat kencang menuju ke gedung tua yang sudah Akram siapkan


Setibanya di sana Revalina dengan hati-hati memarkirkan mobil di tempat yang tak akan terlihat dari arah jalanan yang ada di depan sana. Kedatangannya disambut oleh Akram.


Klekkk.


Akram membuka pintu mobil sisi kiri, di saat yang bersama Revalina keluar dengan wajah cemas.


"Reva, bantu aku angkat dia," pinta Akram mengira-ngira dirinya tak akan kuasa mengangkat tubuh Rival seorang diri.


"Mana kuat aku," sahut Revalina menolak halus permintaan Akram.


"Kuat," ucap Akram dengan tegas.


Melihat ketegasan Akram, Revalina tak bisa menolak lagi terpaksa ia ikut membopong tubuh Rival membawanya masuk ke dalam gedung secara perlahan.


"Jauh sekali ruangan yang kau pilih buat sekap ini orang," gerutu Revalina dengan nafasnya yang mulai terengah-engah.


"Biar aman," sahut Akram singkat.


Setelah beberapa lama tersiksa akhirnya mereka tiba di salah satu ruangan yang dijadikan Akram sebagai ruang penyekapan, setelah berhasil mendudukkan Rival di kursi, Akram pun dengan sigap melilitkan tali ke seluruh tubuhnya mengingat kuat pada tangan dan kakinya sebisa mungkin meminimalisir Rival bisa kabur dari penyekapan ini.


"Tutup matanya!" perintah Akram.


Tanpa basa-basi Revalina langsung menutup mata Rival dengan kain yang ia punya, saat tengah mengikat penutup mata itu tiba-tiba ada setitik rasa kasihan pada Rival namun sekejap rasa kasihan itu musnah ketika teringat gedung ini adalah tempat di mana dia melakukan hal keji itu pada Rajani.


"Aku membenci mu," ucap Revalina lirih menatap tajam Rival dari belakang.


***


POV Rival


Ctangggg.

__ADS_1


Tiba-tiba suara benturan besi membangunkan Rival, reflek kepalanya berdiri tegak menyisakan rasa sakit yang luar biasa pada leher belakang dan juga kaki yang terasa perih. Rival masih terdiam, kebingungan dengan posisinya sekarang yang tak bisa melihat apapun selain kegelapan sementara rasanya tubuh terikat dengan posisi tangan dibelakang saat itu juga ia sadar jika tengah disekap.


Seketika ingatannya terbawa di mana dirinya terakhir kali tersadar, teringat jelas bahwa Revalina membawanya ke jalanan sepi lalu membekap mulutnya dengan sapu tangan. Saat itu hati terasa remuk redam sekaligus bingung dengan maksud Revalina melakukan semua ini padanya, entah salah apa yang sudah ia perbuat padanya.


"Bukankah semalam kita baik-baik saja Reva, nggak ada perdebatan serius di antara kita tapi kenapa tiba-tiba kau melakukan ini padaku," ucap Rival lirih sedih.


Sekejap kesedihannya sirna, merasa tak guna jika hanya menangis di ruangan ini sampai kiamat pun tak akan terbebas jika dirinya selemah ini.


"Reva, Reva keluarlah aku tahu kamu di sini," teriak Rival menggema dalam ruangan itu.


"Reva," teriak Rival kembali.


Srkkk srkkkk.


Terdengar suara langkah menyeret makin lama semakin terdengar jelas.


"Reva, apa itu kamu?" tanya Rival membuka telinganya lebar-lebar.


"Reva, aku mohon jangan lakukan hal ekstrim ingat kau adalah orang baik bukan orang jahat," teriak Rival berharap Revalina mengurungkan niatnya.


Byurrrrrr.


Secara mengejutkan Rival di siram air mengguyur wajah dan tubuhnya, tiba-tiba disusul kasarnya tangan seseorang dari belakang membuka penutup matanya.


"Reva," panggil Rival lirih, menatap Revalina dengan tatapan kecewa.


"Selamat datang mantan Dosen," ejek Revalina tersenyum sadis.


Dari arah belakang Akram perlahan mulai melangkah berpindah posisi tepat samping Revalina, hal ini pun kembali mengejutkan Rival.


Revalina mulai menyentuh dagu Rival, mengangkatnya sejajar dengan wajahnya.


"Masih ingat dengan gedung ini?" tanya Revalina sambil menaikkan satu alisnya.


Rival menggeleng tak mengerti apa maksud Revalina, ia sangat kebingungan dengan semua ini tiba-tiba saja dirinya di jadikan insan bersalah.


Sambil menahan kegeramannya Revalina kembali melanjutkan kalimatnya. "Masa kamu tidak ingat gedung ini, hayo coba diingat-ingat lagi bukannya gedung ini adalah tempat di mana kamu melakukan kebiadaban pada Rajani."


"Aku nggak mengerti apa maksud mu," sahut Rival kebingungan.

__ADS_1


"Jangan berlagak nggak mengerti, mengaku saja atau nasib mu akan sama seperti pelaku-pelaku yang lain," bentak Revalina geram dengan sahutan Rival.


"Sumpah demi apapun aku nggak mengerti apa maksud mu, kebiadaban apa aku tak pernah melakukan apapun pada Rajani," ujar Rival dengan nada bicara sedikit menekan berharap Revalina akan mempercayainya.


Namun terlihat dadanya mulai naik turun, gumpalan amarah yang berada di dalam dada itu mulai membuat nafas Revalina jadi tak beraturan.


"Akram, hajar dia!" perintah Revalina dengan garangnya.


Dari sisi belakang Akram mulai menyeret stik baseball, tak membuat ancang-ancang langsung memukul tubuh Rival secara asal.


Bughhhhhhh.


"Argghhhh," rintih Rival kesakitan.


Stik baseball itu tepat mengenai lengannya, rasanya tak sanggup di ungkapkan dengan kata-kata benturan itu terasa bergetar hebat sampai ke tulang-tulang.


"Katakan dengan jujur bahwa kau salah satu pelaku aksi kebiadaban itu!" perintah Revalina pada Rival, ia terus berlaku tegas dan terus mengingat mendiang Rajani yang harus ia perjuangkan keadilannya.


"Harus berapa kali aku katakan, aku nggak tahu semua itu. Kamu sudah salah sangka Reva sadarlah," ucap Rival sambil menahan rasa sakit pada lengan tangannya.


Bughhhhhh.


Stik baseball itu kembali menghantam kaki kiri Rival.


"Argghhhh," rintih Rival lebih keras lagi, untuk yang kali ini rasa sakitnya 3x lipat dari pada lengan tangannya.


"Argggggggghhhh," Rival terus meraung kesakitan.


Sayangnya hati Revalina terlanjur membeku tak luluh sedikitpun ketika mendengar raungan Rival, justru dia aktif memberi kode pada Akram untuk terus menghajar.


Baru beberapa menit Revalina mendesaknya untuk berkata sesuai dengan angan-angannya, dia sudah frustasi berjalan kesana kemari sambil sesekali mengusap keningnya sedang Akram mulai menyelinap dari belakang mendekatkan bibirnya ke telinga Rival.


"Rasa sakit yang Rajani rasakan lebih dari apa yang kau rasakan sekarang, tapi aku janji akan balaskan rasa sakit itu 10x lipat," bisik Akram.


"Aku tak pernah lakukan apapun pada Rajani, kau jangan pengaruhi Revalina dengan omong kosong mu," geram Rival, urat-urat lehernya meronta saat itu juga.


"Wihh takut, tapi bohong," ledek Akram.


"Selamat tinggal Pak Dosen, aku percepat ajal mu," ucap Akram bergegas menjauh dari Rival dan mulai mengayunkan stik baseball itu dengan ancang-ancang yang tepat.

__ADS_1


Bughhhhhh… bughhhhhh.


Bersambung


__ADS_2