
Senja menunduk, memutar wajah ke arah depan. Ia tampak canggung dan malu.
"Cazim, aku akan turun. Aku akan pulang sendiri saja!" ucap Senja.
Cazim menahan lengan Senja hingga gadis yang sudah memegang handle pintu itu kembali menoleh pada Cazim.
"Aku tidak akan ijinkan kau turun dari mobil. Kau akan tetap stay di sini!" tirah Cazim. "Aku akan mengantarmu pulang!"
Chesy tergugu mendengar ketegasan Cazim. Pria itu dengan tegas dan terang- terangan mengatakan hal itu di depannya. Seperti ada ribuan jarum tak kasat mata menusuk- nusuk di hatinya.
Cazim kemudian menatap Chesy dan berkata, "Jika kau tidak suka melihatku mengantarkan Senja, kau bisa turun dan pulang."
Deg! Ini lebih menyakitkan dari sekedar ditampar monyet.
"Aku nggak perlu jelaskan berulang kali, dan kamu pasti paham!" balas Chesy masih terlihat tenang meski benaknya campur aduk. Ia benar- benar ingin menangis saat itu juga, tapi tangisnya ditahan, jangan sampai keluar.
__ADS_1
"Jika kau hanya mencemaskan tentang pandangan semua orang saat melihatku bersama dengan wanita selain istriku, maka percayalah ketakutanmu itu tidak akan terjadi. Tidak akan ada yang melihat aku bersama dengan Senja. Aku menjaga privasi ini. Jika sampai ada yang menggunjingkan mu karena suamimu bersama dengan wanita lain dan kehormatan keluargamu tercoreng, maka kau boleh lakukan apa pun padaku, termasuk mengusir aku dari rumahmu," ucap Cazim.
"Aku nggak mau apa pun, aku hanya mau kamu putar balikkan mobilnya dan biarkan Senja pulang sendiri. Dia bisa jaga diri!" tegas Chesy.
"Tidak!" Cazim kembali melajukan mobil dengan kencang. "Jika kau tidak mau turun, kau boleh ikut mengantar Senja. Tapi aku tidak menjamin kalau kau akan aman dari pemandangan dua manusia yang saling menyayangi. Aku tahu kau tidak akan peduli dengan semua itu, tapi tetap saja itu tidak baik untuk kesehatanmu."
"Cazim, apa maksudmu?" tanya Senja.
"Aku mencintaimu. Dan ini sudah sangat lama aku simpan," jawab Cazim dengan tatapan lekat.
Senja terkejut, ia tampak gusar dengan sesekali melirik Chesy di belakang. Ia tampak bingung. "Nggak seharusnya kamu bicara begini di depan istrimu. Walau bagaimana pun Chesy itu istrimu."
"Kalau begitu kenapa kamu menikahi Chesy? Apa pun alasannya, seharusnya kamu nggak sampai menikahinya."
"Kau tidak akan mengerti."
__ADS_1
"Jika kamu mencintaiku, kenapa malah menikahi Chesy? Lalu apa gunanya kamu menyatakan cinta kepadaku kalau akhirnya semua itu nggak berarti apa- apa? Kamu tetap bersama dengan wanita yang nggak kamu cintai, dan juga nggak bisa bersatu denganku."
"Kau mencintaiku kan?" tanya Cazim.
Senja diam, ia tampak kikuk dan melirik ke arah Chesy dengan sungkan.
"Kau tidak perlu pikirkan Chesy, dia tidak akan peduli dengan hubungan ini," ucap Cazim.
"Selagi kamu memiliki istri, dan kamu berhubungan dengan wanita lain, sama aja kamu zina, Mas!" tegas Chesy. "Silakan kamu berhubungan dengan Senja, tapi kamu boleh bunuh aku terlebih dahulu."
"Waow.... Luar biasa. Aku sama sekali tidak mengerti dengan jalan pikiranmu."
"Kamu pikir aku dan abi nggak akan menanggung malu saat ada yang tahu suamiku main belakang?"
"Berhentilah menjadikan itu sebagai alasan!" hardik Cazim membuat Chesy tersentak.
__ADS_1
Begini ngilunya saat dibentak oleh Cazim. Sakit sekali.
Bersambung