
POV Rival.
Rival menelan saliva dengan kasar, tahu apa maksud Candini, namun ia enggan memikirkan itu berharap kalimat itu tak membuatnya keder untuk melakukan apa yang Candini mau.
"Dalsa baik-baik saja Ma, dia cuma perlu istirahat nanti siang dia sudah bisa balik ke sel," ujar Rival.
"Kau pikir dengan bilang begitu bisa buat aku lega, salah. Aku justru makin kepikiran gimana kalau di sel dia di jajar lagi sama tahanan lain," sahut Candini dengan nada tinggi.
Andai Candini tahu, ia pun juga kepikiran akan hal itu namun sayangnya semua itu sudah jadi resiko seorang narapidana dan ia tak bisa melakukan apa-apa.
Sore harinya saat Rival akan pergi ke kantor untuk menjemput Revalina, tiba-tiba Candini keluar dari kamar menenteng tas jinjing berwarna merah, mengenakan pakaian rapi dan riasan tipis di wajah melenggang pergi dengan hentakan kaki yang terlihat tengah terburu-buru.
"Ma, mau kemana?" tanya Rival mulai resah mengingat Candini yang belum sehat betul.
"Aku mau ke rumah Pak Probo," jawab Candini terus melenggang pergi.
"Ngapain Ma?" tanya Rival kembali.
Tepat ketika Candini berada di tengah pintu, tubuhnya langsung berbalik ke arah Rival menatapnya lurus tanpa berkedip.
"Masih bisa kau bertanya aku mau ngapain, apa kau nggak lihat cuma Pak Probo yang bisa bantu adikmu," jawab Candini dengan nada kesal.
Setelah menjawab pertanyaan Rival, Candini pun kembali menyambung langkahnya. Sementara itu Rival terdiam kaku mendengar jawaban Candini.
"Bagaimana cara menyadarkan Mama kalau Dalsa itu salah dan patut dihukum," ucap Rival bertanya-tanya.
"Kasih Mama waktu," sahut Sarah.
Sontak Rival terkejut melihat Sarah yang tiba-tiba sudah ada di sampingnya, ikut memandangi Andini yang kini mulai mengeluarkan mobil dari garasi.
"Mbak," sebut Rival.
"Semalam Mama bilang kalau Mama tahu Dalsa itu salah tapi Mama nggak mau Dalsa tersiksa merasakan hidup di penjara," ujar Sarah sembari tersenyum.
Tak sadar kini mulut Rival ternganga cukup lama, baru saja mengeluh tak lama ia dapatkan secercah harapan.
"Mama bilang begitu Mbak?" tanya Rival dengan binar-binar matanya.
"Iya, makanya sabar aku juga minta Yakub buat bersabar jangan memancing emosi Mama," jawab Sarah.
Sungguh, saat itu Rival sangat bahagia karena pada awalnya ia berpikir masalah ini tak akan ada ujungnya melihat semua membawa ego masing-masing dalam permasalahan ini. Tapi ternyata Tuhan kasih tunjuk dengan kelembutan hati Candini sebagai seorang insan yang sadar akan sebuah kebenaran.
Sore itu dengan semangat Rival menjemput Revalina, setibanya di kantor tanpa menunggu lama akhirnya sang istri tercinta keluar dari kantor dan langsung masuk ke dalam mobil.
Bgghh.
Mobil tertutup, Revalina sudah berada di dalam mobil sibuk meletakkan tas nya ke belakang dan sembari mengenakan seatbelt.
"Let's go!" seru Revalina dengan cerianya.
Perlahan kaki kanan Rival mulai menancapkan gas, membawa mobil itu keluar dari kawasan kantor.
Di perhatiannya sejak tadi Revalina nampak begitu bahagia, tersenyum-senyum sepanjang jalan tak seperti biasanya. Melihat perubahan yang ditunjukkan Revalina menguatnya bertanya-tanya.
"Ada cerita apa hari ini?" tanya Rival ikut tersenyum ketika menatap Revalina.
__ADS_1
Sekejap pandangan Revalina beralih ke Rival, masih dengan senyuman yang sama bahkan makin lama makin melebar.
"Jadi tadi itu di kantor aku ketemu sama teman Almarhum Ayah, beliau cerita banyak tentang Ayah semasa muda. Kebetulan teman Ayah itu partner bisnis keluargaku sejak lama cuma baru kali ini aku melihatnya setelah sekian lama," ujar Revalina dengan cerianya.
"Oh ya, terus sekarang beliau sudah tahu kalau kamu sudah menikah?" tanya Rival sembari mengangkat sebelah alisnya.
Dengan bibir merah tomat, malu-malu Revalina menjawab "sudah, dan aku juga bilang kalau suami ku Dosen ku sendiri."
"Sudah begitu saja?" tanya Rival menatap heran pada Revalina.
"Iya," jawab Revalina sembari menganggukkan kepalanya.
Anggukan kepala Revalina seperti anggukan tanpa dosa, bisa-bisanya dengan pertanyaan nya yang seperti ini Revalina masih tak peka.
"Kamu nggak bilang kalau suami mu tampan, baik, perhatian dan penyayang?" tanya Rival secara terang-terangan menanyakan hal yang sebenarnya ingin dirinya dengar dari Revalina.
"Hahahaha," tawa Revalina lepas tak terkendali.
Terbahak-bahak setelah mendengar pertanyaan Rival, pipi merahnya pun tak lagi terlihat. Sementara itu Rival perlahan ikut tertawa juga.
"Kenapa kau jadi tertawa?" tanya Rival diiringi dengan kekehan.
"Habisnya kamu kepedean sekali, bilang saja ngarep dipuji-puji begitu," jawab Revalina dengan nada meledek.
"Aku nggak ngarep, aku cuma tanya loh tadi kalau enggak kan ya sudah nggak papa," sahut Rival mengelak jawaban bermaksud tuduhan yang disampaikan Revalina.
Tawa canda terus berlanjut sampai tiba di rumah keduanya terus melanjutkan candaan tanpa ujung, hingga pada saatnya ketika Revalina telah selesai bersih-bersih dan makan malam barulah Rival mencoba untuk membujuk dan merayunya.
Tepat di ruang tengah ketika keduanya tengah bersantai sembari menonton televisi, Rival mulai membuka pembicaraan ke arah yang serius.
"Sayang," panggil Rival.
Sembari memainkan rambut lembut Revalina Rival kembali berucap "aku mau bahas tentang Mama dan Dalsa boleh?"
Suasana dalam rumah itu mendadak hening, televisi yang menyala dan mengeluarkan suara itu pun tak mampu mengusir keheningan malam itu. Pertanyaannya tak kunjung di jawab juga oleh Revalina, membuat Rival merasa deg-degan.
"Kalau kau nggak mau bahas ya sudah nggak memaksa," ujar Rival dengan nada bicaranya yang lembut.
"Kamu mau bahas apa tentang mereka Mas?" tanya Revalina.
Tiba-tiba saja setelah Rival mengatakan kerelaannya jika Revalina enggan membahas, tak disangka dia langsung mengajukan pertanyaan tentang hal itu yang artinya mau masuk dalam pembahasan ini.
"Setelah jenguk Dalsa kemarin, menurut kamu apa maksud ucapan dia?" tanya Rival dengan nada santai.
"Emm, yang dia bilang kalau dia sudah kena karma bukan?" tanya Revalina sembari mendelik ke atas seakan tengah mengingat-ingat kejadian kemarin.
"Iya," jawab Rival sembari mengedipkan kedua matanya.
Revalina terdiam beberapa saat, di sela-sela keheningan Rival mencoba untuk menyakinkan dirinya bahwa Revalina akan menyadari bahwa Dalsa sudah bertaubat.
Detik demi detik menunggu suara keluar dari bibir manis sang istri membuat jantungnya berdegup kencang secara tiba-tiba.
"Emm menurutku dia sudah sadar kalau apa yang dia alami di dalam penjara itu bagian dari karma, maksudku balasan setimpal dari Tuhan. Dia sudah sadar dengan kesalahannya,," ujar Revalina dengan begitu tenang tanpa beban.
"Sudah itu saja?" tanya Rival mengangkat satu alisnya.
__ADS_1
"Iya sudah," jawab Revalina menganggukkan kepalanya.
Seketika Rival pun mendengus kesal, sungguh apa yang disampaikan Revalina masih sangat kurang memuaskan, namun ia tak ingin berkecil hati meski begitu Revalina telah menyadari kalimat Dalsa kini giliran menanyakan pertanyaan pamungkas.
"Menurut kamu kalau Dalsa minta maaf, apa kamu bakal maafkan dia?" tanya Rival dengan degup jantung yang makin tak karuan.
"Sudah lama pertanyaan ini aku jawab, entah siapa yang bertanya aku lupa dan jawaban ku tetap sama. Aku akan maafkan dia tapi hukum terus berjalan," jawab Revalina dengan lugas dan jelas.
Mendengar hal itu seketika hati terasa berbunga-bunga, tak terkira kebahagiaannya karena akhirnya setelah banyaknya drama yang begitu menguras air mata kini keharmonisan yang ia dambakan selama ini serasa sudah berada di depan mata.
Dengan Revalina dan keluarga memaafkan Dalsa berarti hal ini akan jadi pertimbangan hakim dalam memutuskan hukuman untuk adik kesayangannya itu.
"Terimakasih sayang, aku tak pernah meragukan kebaikan hatimu. Aku juga nggak meragukan didikan Almarhum Abi, Umi dan Kak Rafa untuk mu," ucap Rival sembari mengelus-elus kepala Revalina.
"Sama-sama," sahut Revalina tersenyum.
"Oh iya," ucap Revalina tiba-tiba merubah posisi duduknya sedikit serong menghadap Rival.
"Kalau soal Mama, apa yang mau kamu bicarakan?" tanya Revalina dengan menaikkan atensinya.
Kali ini Rival tersenyum tanpa beban, entah kenapa setelah mendengar penjelasan dari Sarah ia terus tersenyum-senyum jika mendengar Candini disebut apalagi disebut oleh Revalina langsung dengan penuh semangat.
"Tadi aku waktu mau berangkat jemput kamu Mbak Sarah bilang kalau Mama itu tahu Dalsa salah cuma nggak mau kalau Dalsa di hukum dalam penjara," jawab Rival sambil terus tersenyum-senyum.
Secara tiba-tiba Revalina memundurkan kepalanya secata perlahan menjauhi Rival, melihat hal itu tentu Rival jadi kebingungan.
"Mas, terus apa yang membuatmu tersenyum?" tanya Revalina kebingungan. "Mukamu kelihatan riang sekali pas lagi senyam senyum gitu."
Seperti orang yang terkena gangguan mental dengan kepribadian ganda, Rival yang semula tersenyum lebar kini mendadak terdiam kaku dengan wajah datar.
"Kamu masih nggak paham?" tanya Rival menatap bingung.
Tanpa bicara Revalina menggeleng-gelengkan kepalanya dengan posisi duduk yang sama dengan kepala yang terlihat menjauh ke belakang tepat di sebelah kaca mobil.
"Itu artinya Mama nggak membenarkan kelakuan Dalsa, Mama tahu jelas kalau Dalsa itu salah, berarti akal Mama itu masih jalan cuma terhambat perasaannya yang nggak tega lihat anak kesayangannya ada di tahanan," jelas Rival dengan sejelas-jelasnya. "Mama sudah sadar dan mengakui kalau Dalsa itu bersalah. Mama sudah membuka mata hatinya tentang itu."
"Ohh," desah Revalina mengangguk-angguk kepalanya.
Agaknya Revalina paham dengan apa yang ia katakan, terlihat dari pergerakan matanya dan gerak tubuhnya yang kini perlahan beralih kembali ke posisi semula.
"Kalau nggak percaya coba kau tanyakan sama Mbak Sarah, dia saja bilang kalau ada harapan," ujar Rival.
"Iya Mas, kalau soal Mama aku memang nggak terlalu mempermasalahkan wajar kalau Mama nggak mau anaknya di penjara. Cuma di awal aku agak shock saja Mama ikut menyembunyikan Dalsa selama ini," sahut Revalina dengan nada serius.
Rival mulai menelan saliva kasar.
"Apa yang kamu rasakan waktu itu?" tanya Rival.
"Aku kecewa Mas, aku bingung kok bisa Mama begitu," jawab Revalina.
"Tapi setelah dengar penjelasan mu tadi, aku jadi sadar ternyata Mama itu cuma tertekan sama perasaannya sebagai seorang ibu," sambung Revalina.
Mendengar penuturan Revalina barusan, rasanya ia seperti di bawa naik roller coaster naik turun berliku tajam. Setelah turun dengan kecepatan tinggi, di akhir ia di bawa naik dengan secercah harapan. Revalina memang menggemaskan. Kalau bisa dielus ususnya, maka Rival akan melakukannya.
"Terimakasih sayang, aku terharu kamu bisa sedewasa itu. Kamu hebat nggak semua orang bisa punya hati seluas dirimu," puji Rival pada Revalina setinggi langit. Dia usap pucuk kepala istrinya dengan kagum.
__ADS_1
Bersambung
Bucin ah bucin.