
"Mas, apa yang kamu lakukan? Kamu bisa membunuh Dalsa. Istighfar!" Sarah menahan badan Yakub.
Mendengar hal itu, Yakub pun menghela napas. Mengusap wajah kasar. Lalu beristighfar. Dia menatap Dalsa yang sudah babak belur. Lemas. Menggelepar di lantai. Tubuh itu melongok dengan kepala sedikit terangkat. Keluar darah dari sudut bibirnya.
"Mbak Sarah, aku mohon. Bantu aku!" Dalsa menangis.
Sarah membisu. Hanya menatap Yakub sekilas tanpa menanggapi perkataan Dalsa.
"Dalsa itu dalang pembunuhan Rajani, kembarannya Revalina. Bagaimana mungkin dia bisa tertawa tanpa mendapatkan hukuman dari kita sementara dia tidak menyesali perbuatannya itu. Dalsa menyuruh empat orang memperkosa Revalina, tapi salah sasaran dan malah Rajani yang menjadi korban sampai akhirnya meninggal dunia. Ini gila!" Yakub frustasi. "Aku selama ini diam karena aku memberikan kesempatan pada Dalsa untuk bertaubat, menyesali perbuatannya. Setiap manusia diberi kesempatan untuk bertaubat. Tapi mendengar dari Rival bahwa si licik ini sama sekali tidak berubah, aku jadi ingin mencincangnya."
Dalsa masih meraung. Tangisnya kejer. Entah menangis karena sedih, atau menangis karena fisiknya kesakitan babak belur.
"Mbak, tolong bantu aku. Aku diusir oleh Mas Rival, di sini pun Mas Yakub memukuliku. Tolong aku." Dalsa memohon .
Sarah menatap iba, namun hatinya juga getir. Perbuatan Dalsa tidak bisa dibenarkan, juga tidak bisa diampuni begitu saja.
"Aku tidak bisa berbuat apa-apa Dalsa. Kamu memang salah, jadi harus menanggung resiko atas perbuatanmu itu. Bersiaplah menghadapi resiko, termasuk bila harus mempertanggung jawabkannya di hadapan hukum." Sarah berbicara dengan datar.
"Tolong, Mbak. Jangan sampai aku masuk penjara. Aku takut." Dalsa menangis pilu.
"Semua perbuatan pasti ada konsekuensinya. Jangan menghindar. Hadapi dan jalani, itulah resikomu. Kamu sudah melakukan kesalahan besar." Sarah pasrah. Tak mungkin memberikan pembelaan pada Dalsa. Perbuatan Dalsa sudah sangat keterlaluan, menyangkut nyawa.
"Biarkan Revalina yang memutuskan, atau Mamanya Revalina, apakah mereka akan membawa kasus ini ke jalur hukum atau tidak." Yakub merasa begah.
"Tapi kalau Chesy membawa masalah ini ke jalur hukum, bukan tidak mungkin Mama Candini akan melaporkan kasus penganiayaan Rival ke jalur hukum juga. Revalina akan terjerat masalah juga. Jadi lebih baik jangan sampai ada yang tersangkut masalah hukum di kasus ini." Sarah menengahi.
"Dalsa harus mendapatkan hukuman. Dan mengenai Revalina, korban adalah suaminya sendiri. Rival pasti tidak akan mau melaporkan Revalina ke jalur hukum. Kalau Candini bersikeras melaporkan, Rival akan angkat bicara. Dia pasti akan memihak Revalina. Dia sebagai korban malah membela pelaku. Aku pastikan hal itu terjadi. Sekarang, suruh gadis ini pergi. Tinggalkan rumah ini." Yakub muak menatap Dalsa.
"Mas, aku mohon. Jangan usir aku. Kalau aku diusir juga dari sini, lalu aku harus tinggal dimana? Aku butuh kamu, Mas." Dalsa memohon sambil terus meraung dalam tangis.
"Minta maaflah pada Tante Chesy, Rafa dan Revalina. Kalau pun mereka memaafkan, bukan berarti hukum tidak berjalan. Aku berharap hukum terus diproses."
"Setiap orang pernah salah, setiap orang juga pasti diberikan kesempatan untuk memperbaiki diri kan? Ijinkan aku memperbaiki semua ini."
"Pergilah ke keluarganya Revalina, mintalah maaf dan mohonkanlah pada mereka supaya tidak ada jalur hukum meski aku yang akan meminta mereka untuk memproses hal ini ke jalur hukum mengingat kasusmu ini harus ditangani serius supaya kau tahu efek jera. Jangan suka sombong dan berbangga diri." Yakub mencengkeram lengan tangan Dalsa dan menyentaknya kuat, menarik hingga tubuh Dalsa tertarik berdiri.
Dalsa tidak bisa bicara apa-apa lagi. Dia hanya bisa menangis dan pasrah saat Yakub menyeretnya masuk ke mobil milik Yakub. Berharap mendapat pertolongan saat mendatangi rumah Yakub, namun malah petaka baru yang dia dapatkan.
Sarah terburu-buru mengunci pintu dan menghambur mengikuti Yakub. Dia harus ikut bersama dengan Yakub, takut suaminya akan khilaf dan melakukan sesuatu yang berbahaya pada Dalsa hingga mengakibatkan masalah baru.
Sarah menyusul masuk ke mobil suaminya, duduk di jok belakang.
Sedangkan Yakub duduk di kemudi, tepatnya bersisian dengan Dalsa yang menangis sambil memeluk kedua lengannya yang ngilu dan lebam. Dia tidak tahu kemana perginya keangkuhan dan rasa bagaknya selama ini. Yang kerap muncul setiap kali ia berhadapan dengan semua orang.
Kini sikap itu hilang saat berhadapan dengan keluarganya sendiri. Berbeda situasinya ketika ia berhadapan dengan orang-orang seumuran di luaran sana, yang nyali dan kesombongannya langsung mengembang. Menghadapi keluarga, sama seperti menghadapi malaikat. Mati kutu.
Mobil melaju kencang hingga akhirnya sampai di rumah mewah milk Chesy. Rumah bercorak warna putih yang menawarkan kesan damai.
Sama seperti tadi, Yakub menyeret Dalsa keluar dari mobil dengan cengkeraman kuat. Langkahnya lebar hingga Dalsa terpontang-panting mengikutinya. Sesekali tersandung dan hampir terjatuh, untungnya ia masih bisa berjalan dengan sempurna.
"Chesy!" Yakub langsung masuk ke rumah, lupa mengucap salam. Emosi sudah menguasai. Lagi pula rumah itu sudah dianggap sebagai rumah sendiri mengingat Chesy adalah bagian dari keluarganya sekarang.
Sarah mengikuti. Bersiap menjadi perisai saat kondisi Yakub tidak terkontrol.
Chesy keluar. Menuruni anak tangga. Keningnya bertaut melihat penampilan Dalsa yang babak belur, menangis, dan meringis kesakitan. Wajahnya lebam, sudut bibir mengeluarkan darah, bibirnya pun sedikit pecah. Rambutnya berantakan.
"Ada apa ini, Yakub?" Chesy bingung.
"Dalsa akan minta maaf padamu. Dia harus memohon ampun atas kesalahannya yang seperti binatang. Dia dalang di balik kematian Rajani. Dia yang menyuruh empat lelaki memperkosa Rajani. Dan dia harus mendapatkan hukuman setimpal atas kebiadabannya itu." Yakub menunjuk- nunjuk muka Dalsa.
Yang ditunjuk hanya bisa diam tanpa mengatakan sepatah kata pun. Bibirnya gemetaran.
"Dalsa, cepat minta maaf. Bila perlu bersimpuh. Sejak kemarin kau sudah ketahuan sebagai pelaku, tapi sedikit pun tidak ada iktikad baikmu untuk meminta maaf. Kau malah terlihat seperti manusia tidak berdosa." Yakub menghardik keras.
Dalsa melangkah maju. Mendekati Chesy. "Tante, aku minta maaf. Aku mohon ampun. Ampuni aku, Tante." Dalsa menangis sesenggukan.
"Chesy, kamu boleh laporkan Dalsa ke jalur hukum. Silakan lakukan. Aku tidak keberatan meski dia adalah adikku. Sepantasnya Nyawa dibalas dengan nyawa. Tapi semua terserah padamu," ucap Yakub geram.
Chesy terlihat tenang. Bahkan ia dengan rileks berkata, "Aku sudah ikhlaskan semua ini. Aku anggap kematian Rajani bagian dari takdir. Aku pasrahkan semua pada Tuhan. Biarlah pengadilan Tuhan yang akan mengadili. Biarlah."
"Kamu bisa saja bicara begitu, tapi apa jadinya saat Dalsa malah tidak bertaubat atas perbuatannya? Dia bahkan tidak datang padamu dan minta maaf selama ini. Dia selalu memusuhi Revalina. Ini bukan penyesalan bagi Dalsa. Dia malah melakukan kegilaan baru yang mengakibatkan trauma psikis bagi Revalina setelah kehilangan kembarannya."
"Yakub, aku sedih atas kejadian ini. Dalsa jelas terlihat sebagai manusia kriminal dan sadis. Tapi aku merasa hanya perlu mengikhlaskannya dan menganggap ini bagian dari takdir. Tidak ada yang bisa terjadi kecuali atas kehendak Tuhan. Maka kejadian ini pun pasti juga atas kehendak Tuhan. Aku takut hubungan keluarga antara Revalina dan Candini malah memburuk setelah Dalsa dilaporkan. Revalina adalah hartaku saat ini. Aku akan kehilangan harta kedua kalinya jika aku memperkeruh suasana. Keselamatan mental Revalina menjadi taruhan. Biarlah Tuhan yang menghukum Dalsa dengan cara Tuhan. Percayalah pengadilan Tuhan jauh lebih hebat." Chesy tampak lelah menghadapi semua ini. Kehilangan Rajani saja sudah cukup membuatnya frustasi. Jangan ditambah lagi dengan masalah baru.
"Tidak, Umi. Jika menjadikan Dalsa terkurung di balik jeruji besi adalah merupakan langkah hukum, maka biarkan aku yang melaporkan Dalsa."
Suara itu membuat sejurus pandangan tertuju ke sumbernya.
Rafa berjalan masuk ke rumah. Langkahnya tegas sama seperti ekspresinya yang juga tegas penuh makna. Entah sejak kapan dia menyimak pembicaraan itu di balik pintu.
"Aku serahkan masalah ini pada kalian. Kalian berhak memutuskan masalah ini. Kalian berhak mendapatkan keadilan." Sarah berucap lirih. Dia mendekati Chesy dan merangkul pundak sahabat yang kini sudah menjadi bagian dari keluarganya.
Dibalas dengan usapan lembut oleh telapak tangan Chesy.
"Kamu harus kuat, kamu harus bisa menjalani ini. Kalau kamu nggak kuat dan lelah mengutus kasus ini, biarlah Rafa, atau pun Revalina yang bergerak." Sarah menatap Sarah intens.
"Umi, aku akan bawa kasus ini ke meja hijau, dan apa pun resiko dari pelaporan ini, itu akan menjadi urusanku. Aku yang akan melindungi Revalina, adikku. Aku tidak mau membiarkan masalah ini berlalu begitu saja sementara Dalsa tidak mendapatkan hukuman. Biarkan dia membusuk di penjara." Rafa menatap jengah.
Ketakutan mulai muncul pada wajah Dalsa. Bayang-bayang tentang kelamnya penjara menyumpal benaknya. Kemudian, Dalsa menghambur dan bersimpuh di depan kaki Rafa. Dia peluk kaki Rafa erat-erat sambil menangis pilu. "Tolong jangan penjarakan aku, Rafa. Tolong ampuni aku. Aku tidak mau dipenjara. Aku akan lakukan apa pun, asalkan jangan penjara. Sumpah, aku mau melakukan apa pun. Kalau kamu mau mencambukku, lakukanlah. Tapi jangan penjarakan aku."
"Teruslah menangis dan memohon ladaku, aku tidak akan berubah pikiran. Jiwa mu yang psikopat itu perlu siraman hukuman supaya jera." Rafa kesal. "Kemana kau selama ini? Kenapa baru memohon ampun sekarang? Sejak kemarin kau ditunggu intuk datang memohon begini, tapi tidak melakukan apapun. Justru kau ambil kesempatan saat mamamu membelamu. Mengancam akan memenjarakan Revalina juga jika kau dilaporkan ke polisi. Jika Revalina dilaporkan, maka aku yang akan menjadi perisai untuk melindungi dia. Rival boleh saja tutup mata dalam kasus ini karena menganggap Revalina sudah membuatnya cacat, tapi aku yang akan membuka mata hatinya, bahwa Revalina itu salah sasaran. Rival seharusnya tahu hal ini."
__ADS_1
"Aku mohon ampun, Rafa. Aku mohn ampun. Aku minta maaf. Tolong ampuni aku."
"Ya, aku akan mengampunimu setelah membawamu ke penjara. Ayo, ikut denganku!" Rafa menarik lengan Dalsa hingga tubuh itu terangkat dan berdiri.
"Jangan! Jangan bawa aku ke penjara. Aku nggak mau!" Dalsa menangis histeris. Membayangkan betapa buruk dan menakutkannya penjara saja sudah membuatnya bergidik. Bagaimana nasibnya nanti saat terkurung di sana bersama dengan orang-orang asing yang membuli dan menghajarnya nanti? Bagaimana ia akan menghabiskan waktu bertahun-tahun di penjara? Keinginannya untuk memiliki suami dan menghabiskan sisa hidup bersama dengan sang suami seperti lee min hoo akan pupus, malah berakhir di dalam penjara yang menakutkan. Masa depannya benar- benar suram.
Melihat Dalsa ketakutan, Rafa makin senang. Pembunuh ini harus menerima hukuman berat. Rafa menarik Dalsa kuat, Dalsa terus memberontak dan memohon. Ketika sudah ditarik sampai ke halaman rumah, Dalsa makin ketakutan, semua bayangan buruk tentang penjara mengganggu pikirannya.
Lalu dengan keras, Dalsa menendang kaki Rafa dan menggigit tangan Rafa yang mencengkeramnya. Cengkeraman tangan itu sontak terlepas. Dalsa langsung kabur. Berlari dengan kencang meninggalkan Rafa, melewati pintu gerbang secepat kilat.
"Hei, jangan kabur!" Rafa kesal, mengejar Dalsa. Namun kakinya terasa ngilu, membuatnya tidak punya kesempatan untuk mengejar. Larinya pincang.
Yakub berlari keluar saat mendengar kegaduhan.
"Dalsa kabur!" ucap Rafa membuat Yakub kaget.
"Biar aku kejar pakai mobil." Yakub langsung masuk ke mobil, mengejar Dalsa. Sayangnya ia kehilangan jejak, entah kemana arah larinya Dalsa. Ada banyak gang di sekitaran sana. Entah Dalsa melewati gang mana. Batang hidungnya sidah tidak kelihatan.
***
Malam itu Revalina tak bisa berbuat apa-apa yang ada dalam hatinya hanya rasa takut dan takut, ketik Rival meminta kembali ke kamar pun dia hanya menuruti membawanya ke kamar tanpa kata.
Tiba di kamar, dengan telaten Revalina memijit kaki Rival dengan minyak khusus. Di saat itu tiba-tiba Rival kembali membahas perihal Dalsa, saat itu juga ia merasa jika tadi Rival belum menumpahkan semua amarahnya.
"Bisa-bisanya aku kecolongan, aku menyesal kenapa aku nggak memprotek dia dengan kuat," ucap Rival sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Revalina masih terdiam, fokus mengurut kaki Rival dengan sangat hati-hati.
"Oh iya, aku belum tanya pada mu. Kamu dan juga Dalsa di video tadi bahas tato, memangnya aku punya tato apa?" tanya Rival kebingungan.
Melihat Rival bingung, Revalina pun ikut tertular kebingungannya. Bagaimana bisa seseorang yang memiliki tato di tubuhnya bertanya pada orang lain.
"Lah, di punggung mu kan ada tato Mas," jawab Revalina masih dengan tatapan kebingungannya.
"Aku nggak merasa bikin tato," ucap Rival sambil mengerutkan keningnya.
"Kalau nggak percaya, sini aku foto kan punggung mu," ucap Revalina mulai meraih ponselnya yang tergeletak di atas ranjang.
Rival pun mau bekerja sama, membalikkan badan menunjukkan punggungnya. Dengan cepat Revalina menangkap gambar itu, menunjukkan jelas tato di punggung Rival.
Setelah berhasil mengambil gambar dari punggung Rival, Revalina langsung memberikan ponselnya pada Rival.
Sontak kedua mata Rival terbelalak hampir saja lepas dari dua kelopak matanya, ia sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya saat ini.
"Nih, lihat ada tato di punggung mu aku nggak mengada-ada ya. Dengan punggung yang begini jelas aku mikir kamu itu pelakunya," ucap Revalina mulai sedikit-sedikit menjelaskan pada Rival.
"Sumpah Rev, demi Allah aku nggak pernah tato badanku," ujar Rival lirih lemas.
"Coba ingat-ingat lagi, masak kamu lupa pernah tato punggung," pinta Revalina untuk Rival kembali mengingat-ingat.
Namun Rival langsung menggeleng sambil memandangi foto punggung di ponsel Revalina, tampak lamas tak berdaya tersandar di tumpukan bantal.
"Sumpah demi apapun aku nggak pernah, tapi kalau datang ke tempat tato pernah," ucap Rival mulai teringat sesuatu.
Mendengar hal itu tiba-tiba perasaan Revalina jadi tak enak, ia merasa ada yang janggal di sana meski Rival belum melanjutkan ceritanya. Kini ia mulai menaikkan atensinya, menyimak baik-baik cerita lanjutan Rival di tempat tato itu.
"Terus terus?" tanya Revalina penasaran.
"Sebentar awalnya itu aku di ajak Akram, dia minta aku antar kesana dan aku cuma mengantarnya sampai depan tapi tiba-tiba dia membujukku untuk masuk ke dalam dengan alasan lihat-lihat saja nggak ada maksud buat tato badan. Saat itu aku cuma menunggu di ruang tunggu, nggak lama Akram datang bawa makanan habis itu aku lupa intinya aku sempat ketiduran di sana," jelas Rival menceritakan semua yang ia ingat mengenai tato.
"Dan kau makan makanan itu?" tanya Revalina berusaha memastikan.
"Iya, aku makan," jawab Rival tanpa keraguan.
Seketika Revalina langsung menghembuskan nafas beratnya, sekarang ia tahu kenapa bisa ada tato di punggung Rival.
"Ini ulah Akram, dia yang coba adu domba kita Mas. Sebenernya dia pelakunya tapi sejak awal dia nafsu sekali untuk menghabisi mu," ucap Revalina dengan linangan air mata.
Melihat bulir-bulir air mata itu Rival langsung mengusapnya lembut, lalu makin lama makin deras saja. Tak tinggal diam Rival akhirnya menarik tubuh Revalina dalam pelukannya.
"Maafkan aku Mas, aku nggak cari tahu dulu," ucap Revalina sambil terisak-isak.
"Nggak papa, aku tahu posisi mu Reva. Nggak gampang jadi kamu yang sudah tahu tato itu ada di punggung ku," ucap Rival dengan suaranya yang teduh menenangkan hati.
"Tapi aku sudah membuat mu cacat," ucap Revalina kembali menangis tersedu-sedu.
"Ini sudah takdir ku Reva, insyaallah kalau aku ditakdirkan bisa kembali jalan aku pasti bisa jalan lagi," sahut Rival.
Mendengar sahutan Rival yang terus tenang dan tak menyalahkannya atas peristiwa itu justru membuat tangisan Revalina semakin deras, rasa penyesalan itu semakin membesar setiap kali usapan lembut tangan Rival pada kepalannya.
Tetap saja, Revalina tetap bersedih dengan keadaan yang menimpa Rival. Meski bukan tangannya yang menghantam kaki Rival namun dirinya ada di sana menjadi bagian dari orang yang menyiksanya.
"Maafkan aku," ucap Revalina berulang-ulang.
"Aku sudah memaafkan mu," sahut Rival lirih lembut, diiringi usapan tangannya pada rambut lurus Revalina. Tatapannya teduh, suaranya pun menenangkan.
Kalimat itu yang ia tunggu-tunggu sejak lama, tak diduga akhirnya keluar juga dari mulut Rival. Jika ditanya kapan hari paling bahagia dalam hidupnya dengan tegas ia katakan "hari ini." Matanya berembun hendak menangis. Keharuan yang tersisa. Suasana mendadak mengharukan. Jati Revalina pun terasa basah.
Malam itu Revalina dan Rival berbincang banyak hal, termasuk memperbincangkan Dalsa yang menjadi topik utama malam ini.
"Dalsa itu tempramen. Hanya karena aku melawannya saat mobilku ditabrak olehnya, dia langsung menjadikan aku sebagai musuh," ungkap Revalina. "Bahkan dia mendendam padaku sampai akhirnya merencanakan hal hina untukku, dan malah Rajani yang menjadi korban."
__ADS_1
"Aku pastikan Dalsa akan mendapatkan balasan setelah diusir dari rumah. Entah apa yang akan terjadi di luar sana." Rival geram.
"Tapi aku merasa sedikit iba sekarang. Setelah kamu memihakku begini, bahkan setelah orang-orang yang menyayangiku mendukungku, aku pasrah pada Tuban. Aku ingin Tuhan saja yang memberikan hukuman kepadanya. Dia tidak menyesali perbuatannya."
"Aku seharusnya tau sejak awal. Dalsa harus menerima hukuman."
"Sudah. Soal Dalsa kan kamu sudah kasih pelajaran. Nanti pasti Tuhan akan berikan hukuman setimpal, Tuhan itu adil kan. Dan satu lagi, Akram. Banyak kejahatan telah dia lakukan sekaligus. Memperkosa Rajani, menyebabkan kematian Rajani, berbohong padaku dengan menyembunyikan dirinya sebagai pelaku, bahkan malah memfitnahmu, sekaligus berniat melenyapkanmu." Revalina menghela sedih.
"Tidak perlu kamu mengotori tanganmu dengan melukai atau bahkan mendendam pada Akram. Biarkan Akram menjalani hukuman di penjara. Kita laporkan dia."
Revalina memegang tangan Rival. "Aku minta maaf, karena aku menjadi bagian penyebab kesusahanmu. Aku termakan oleh keadaan, aku terhasut oleh Akram. Aku sangat ingin menghajar Akram dan mematahkan semuanya miliknya." Revalina menatap kosong ke depan dengan pandangan geram. Seolah dia tengah menatap Akram di depannya.
"Sudah. Jangan lagi menaruh dendam dan melampiaskannya dengan mengotori tanganmu, itu justru akan membuatmu menjadi seorang kriminal."
Revalina berkaca-kaca. Terharu. Rival kini berpihak padanya, bahkan mendukungnya.
Bagi Revalina sikap Rival tadi adalah sikap yang ditunggu-tunggu olehnya, sikap tegas selaku bagian keluarga berbeda dengan sikap Candini yang membuatnya kesal bukan main. Dia begitu memanjakan Dalsa, menyayangi Dalsa secara berlebihan sehingga tak nampak kesalahan dalam diri anak bungsu itu.
Namun sebagai seorang istri Revalina berusaha melihat dari sisi pandang Rival juga yang pastinya merasa berat hati jika harus menghukum adik sendiri.
"Mas, ini sudah malam. Apa kamu nggak mau telfon Dalsa?" tanya Revalina lirih takut, takut jika Rival nanti kebablasan menghakimi pada adiknya itu.
Seketika kening Rival mengerut tajam, mengedarkan pandangannya matanya kesana kemari.
"Kenapa aku harus telfon Dalsa?" tanya Rival balik, tak mengerti dengan pertanyaan Revalina.
"Apa kau lupa dia adik mu, lihat sudah tengah malam begini kau usir mau kemana dia. Wajar kalau Mama tadi marah besar," tegur Revalina pada Rival.
Namun bukannya menerima teguran Revalina, Rival justru meledek dengan edaran bola matanya yang memutar menukik tajam.
"Tumben kamu bilang begini bukannya kamu itu nggak suka sama Dalsa?" tanya Rival memasang muka meledek.
"Iya memang aku kesal sama Dalsa, tapi aku begini bukan karena perhatian sama Dalsa tapi sama kamu Mas," jawab Revalina tersenyum menatap Rival.
Seketika senyum itu menular pada Rival, dia pun ikut tersenyum-senyum tak jelas.
"Apaan sih kenapa jadi aku, nggak nyambung sama sekali," ucap Rival lirih menahan tawanya.
"Nyambung Mas, aku begini-begini tahu perasaan seorang saudara lihat saudara lainnya terpuruk itu bagaimana. Aku tahu kamu sangat menyayangi Dalsa jadi aku nggak berharap lebih, itu semua perasaan yang wajar antara saudara. Apalagi Mama, cuma nggak pas saja kalau masih membenarkan Dalsa apalagi terus menyalahkan almarhum Rajani," ujar Revalina panjang lebar.
Kedua mata Revalina dan Rival saling bertaut, lama-lama kornea mata Rival tak bergerak sekalipun. Mungkin inilah yang di namakan tatapan yang terpaku.
"Aku juga tahu rasanya jadi saudara melihat saudara yang lain terbunuh dengan cara sesadis itu," sahut Rival menirukan ucapan Revalina.
"Hm, kenapa jadi meniru kata-kata ku," gerutu Revalina.
"Hihihi," Rival terkekeh melihat ekspresi wajah mengenaskan seorang Revalina.
"Reva, jujur aku salut sama kamu. Sebesar itu rasa sayang kamu ke Rajani, tapi yang disayangkan cuma satu. Kenapa kamu jadi kesetanan begini, kita berdiri di negara hukum harusnya kau serahkan semua pada hukum di negeri ini," ucap Rival berujung menegur Revalina dengan nada bicara selembut mungkin.
Mendengar teguran Rival seketika membuat Revalina kembali tertunduk malu, ia malu dengan suaminya juga pada Tuhan yang selalu menyaksikan kebodohan demi kebodohan yang ia lakukan di dunia ini.
"Maafkan aku Mas," ucap permintaan Maaf Revalina yang ke seribu kali.
"Sudahlah aku bosan lama-lama dengan kalimat itu," ucap Rival sambil mengusap lembut kepala Revalina.
Setelah berbincang banyak dengan Rival, akhirnya mata hati Revalina terbuka mengetahui dunia luas dengan berbagai pemikiran yang menyertai. Menikah dengan pria yang lebih tua ternyata tak seburuk yang ia bayangkan, belum genap seminggu saja ia sudah merasakan hidupnya terarah jika bersamanya.
"Tahu nggak Mas, aku itu juga berdosa sama Tuhan," ucap Revalina mulai mengadu pada Rival.
"Berdosa kenapa?" tanya Rival kebingungan.
"Sebenarnya dari jauh-jauh hari Tuhan sudah kasih isyarat dengan menunjukkan kalau kamu itu orang yang baik, selaku mengusahakan yang terbaik buat aku tapi bisa-bisanya aku tetap menganggap mu sebagai bagian dari pelaku," ujar Revalina menceritakan kebodohan kemarin.
Rival hanya tersenyum-senyum memandangi wajah Revalina, beberapa detik hanya terdiam lalu tak lama mulutnya kembali terbuka.
"Itulah kalau apa-apa dengar kata teman, dari awal aku sudah nggak suka kamu berteman sama dia. Karena setiap sama dia kamu itu selalu kasar dan susah di atur berbeda kalau sudah lepas dari bayang-bayang dia kamu jadikan wanita yang hebat, beretika dan punya hati," sahut Rival mengungkit beberapa moment di mana Revalina sering mengamuk bahkan ketika mengajaknya makan di pinggir jalan kemarin.
Meski tak menjelaskan secara detail tapi Revalina tahu arah pembicaraan Rival, ia itu tersenyum menandakan jika ia mengerti kejadian mana yang dimaksud Rival.
Revalina pun memanggut-manggut paham akan maksud Rival, ia malu mengingat semua itu. Mengingatnya kembali ia seperti melihat orang yang berbeda dengan dirinya sekarang ini.
"Iya ya, waktu itu bisa-bisanya aku marah karena kamu nggak ajak aku makan di resto, mana aku minta ganti cincin lagi benar-benar nggak tahu diri," ucap Revalina pada dirinya sendiri.
"Wajar sebenarnya, kau dibesarkan oleh keluarga mampu terus tiba-tiba sama aku makan di pinggir jalan kan jelas tertekan," sahut Rival terus menganggap semua yang Revalina lakukan itu normal.
Mendengar hal itu Revalina langsung menggeleng cepat, tak setuju dengan sahutan Rival dari awal sampai akhir.
"Alhamdulillah mampu sih mampu tapi bukannya nggak pernah makan di pinggir jalan, waktu itu memang akan lagi lebay saja sok-sok nggak mau padahal habis itu Ki ayam," jelas Revalina mengklarifikasi hal itu para Rival agar tak membuatnya minder dan semacamnya.
Malam itu setelah Dalsa di usir dari rumah, tak ada lagi suara Candini berteriak-teriak kesetaraan seperti tadi. Revalina Rival kini mulai merebahkan tubuhnya mengingat malam yang sudah semakin larut.
Mereka terbaring dengan tubuh yang saling berhadapan, lagi-lagi netranya kembali beradu pandang mereka benar-benar seperti pengantin baru yang sesungguhnya dari pada kemarin yang malah tidur dengan posisi saling memunggungi.
Jika teringat hal itu Revalina merasa menjadi orang bodoh di dunia, mengingat dirinya yang berulang kali berteriak ketika hendak mengganti baju di kamar sampai membuat Rival mengganti bajunya di kamar Yakub.
Tak hanya itu ia pun teringat akan kebodohan utamanya adalah yang membiarkan Akram menguasai pikirannya, mencuci dengan bukti-buktinya yang begitu terencana oleh dia.
"Bisa-bisanya di malam pertama kita waktu di hotel, aku malah di kamar mandi cukup lama alhasil aku jadi kecapekan terus tidur," ucap Revalina tiba-tiba flashback ke masa lalu.
"Oh kita nggak jadi waktu itu gara-gara kamu ke toiletnya lama," ucap Rival sambil mengangguk-anggukan kepalanya.
__ADS_1
Bersambung