
Chesy yang sudah menukar pakaian pengantin dengan gamis itu pun menemui tamu di ruang tamu.
"Masyaa Allah ... Cantik sekali kamu Chesy. Sudah besar begini."
"Sini duduk dekat bibi, sini!" Wanita yang usianya di bawah Yunus memanggil sambil menepuk kursi di sebelahnya.
Semua orang menyambut Chesy seperti putri raja. Chesy menjadi pusat perhatian semua mata, membuatnya jadi salah tingkah dan juga bingung.
"Suamimu mana?"
"Kok nggak ikutan ke sini?"
"Maaf banget paman, bibi, dan semuanya, kondisi suamiku sedang buruk, nggak enak badan, jadi nggak bisa menemani," jawab Chesy. "Panas tinggi. Butuh istirahat. Lusa kalau dia sehat pasti akan nemuin bibi dan semuanya kok."
"Oh ya sudah, nggak apa apa. Jangan diganggu kalau sakit dan butuh istirahat. Masih banyak waktu lainnya."
Untung saja mereka bisa memahami. Chesy lega sampai di sini.
__ADS_1
Sejurus pandangan kemudian tertuju ke arah pintu dimana Alando muncul bersama dengan seorang dokter.
"Nah, itu dokter yang mau memeriksa Mas Cazim datang. Aku permisi dulu!" pamit Chesy yang langsung diangguki oleh semuanya. Chesy menyambut dokter dan mengajaknya memasuki kamar.
Saat masa pemeriksaan, Chesy mengunci kamar supaya tidak ada yang masuk dan melihat situasi yang sebenarnya.
"Dia adalah dokter kepercayaan Cazim," ucap Alando setengah menjelaskan.
Setelah melakukan serangkaian pemeriksaan, dokter berpakaian putih itu mengatakan, "Terjadi infeksi serius dan harus segera ditangani. Sementara ini bisa diatasi dengan obat obatan ini. Besok pagi pasien harus ditangani menggunakan peralatan medis yang lebih menjamin," ucap dokter.
Cazim diinfus, diberi suntikan obat, juga beberapa pil obat.
"Pil hanya akan diberikan ketika dia sudah sadar. Dan jika tidak sadarkan diri juga selama enam jam kemudian, maka dia harus diberikan pertolongan menggunakan alat alat medis yang semestinya. Pantau saja seterusnya."
Dokter kemudian berlalu setelah menyelesaikan pekerjaannya.
"Ini ada nomer ponselku, kau bisa menghubungiku saat ada apa apa. Aku akan cepat datang kemari," ucap Alando sambil menyerahkan kartu namanya.
__ADS_1
"Aku nggak menjamin semuanya akan baik baik aja saat Mas Cazim tetap stay di sini. Dia membutuhkan peralatan medis yang jauh lebih mendukung kesembuhannya."
"Tapi kita tidak bisa melakukan apa pun kecuali ini. Tenanglah, dokter sudah memberikan obat terbaik untuk Bang Cazim tadi. Bang Cazim itu fisiknya kuat, dia tidak lemah. Semuanya akan baik baik saja."
"Sekuat kuatnya fisik seseorang, kalau kena tembak bagian jantung juga bisa mati. Dan kita nggak bisa prediksi bagian mana yang terkena peluru. Kalau Mas Cazim nggak apa- apa, nggak mungkin kan dia sampai nggak sadar sampai selama ini?"
"Percayakan pada Hamdan dan dokter yang menanganinya, mereka akan menyelamatkan Bang Cazim."
Alando kemudian berpamitan pergi.
Malam itu Chesy resah sekali, sudah lima jam berlalu sejak dokter datang, tidak ada perubahan sama sekali dengan kondisi Cazim. Suhu tubuhnya pun tetap.
Pukul dua dini hari, Chesy sama sekali belum tidur.
Apa yang akan terjadi bila Cazim tidak juga sadarkan diri? Kalau sampai terjadi sesuatu hal yang buruk terhadap Cazim, hidup Chesy pasti serasa di neraka saat ayahnya ayahnya mencacinya. Masalah berat pun akan dia terima. Ini menakutkan sekali.
Chesy naik ke kasur, duduk di sisi Cazim. Ia meraih tangan pria itu dan mengangkatnya, menaruh di dadanya. Mata bulatnya itu mengawasi wajah Cazim yang pucat. Ketakutan menyelimuti benak Chesy, membayangkan kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi. Matanya berkaca- kaca.
__ADS_1
Bersambung