
"Mama memanggilku. Aku harus segera siapkan semuanya." Revalina menghambur turun dari ranjang. Buru- buru mengambil jilbab dan memasangnya asal.
"Mas, mau sarapan dulu atau mandi dulu?" tanya Revalina dengan terburu- buru, sambil menatap Rival yang terduduk di atas ranjang dengan muka bantalnya.
"Emhhh," Rival menggeliat.
"Aku mau nonton televisi dulu sambil kumpulin nyawa," jawab Rival dengan nada malas.
Revalina sekejap terdiam memicingkan mata, heran dengan pilihan Rival yang tak ada dalam list pertanyaannya. Tapi syukurlah ia bisa punya waktu untuk memasak pagi ini.
"Ya sudah kalau begitu aku tinggal ke dapur dulu ya, tak bikin teh sama cemilan," ucap Revalina bergegas keluar kamar.
Untungnya mertuanya tidak ada di depan pintu kamar. Aman.
Setibanya di dapur, Revalina memulai aksinya dengan mengeluarkan bahan-bahan dari kulkas yang akan ia masak pagi ini. Setelah semua bahan yang ia butuhkan berada di atas meja barulah Revalina beralih membuatkan teh hangat untuk sang suami, cara ini ia lakukan untuk menghindari suara-suara yang akan membuatnya kesal.
'Sepertinya mama tidak akan menjangkau dapur. Lebih baik siapkan makan seadanya dulu.' gumam Revalina dalam hati.
Merasa aman, Revalina segera kembali ke kamar untuk menghidangkan teh dan cemilan itu ke Rival setelah menaruh sebagian makanan ke meja makan, khusus untuk mertuanya.
"Teh dan cemilan sudah datang," ucap Revaina dengan senyum cerianya masuk ke dalam kamar membawa satu nampan beris satu gelas teh dan sepiring cemilan.
"Terimakasih," ucap Rival membalas senyuman Revalina dengan senyum tertahan.
Revalina mulai meletakkan nampannya ke atas meja sisi kanan Rival, kemudikan langsung beranjak.
"Mas, aku tinggal ke belakang dulu ya," pamit Revalina.
"Iya," sahut Rival mengangguk.
Tak langsung ke belakang, Revalina terlebih dahulu mengambil tumpukan baju kotor yang ada di keranjang kamar mandi, membawanya ke belakang. ketika sudah berada di belakang, secara kebetulan Candini juga membawa keranjang baju kotornya.
"Tuh, sekalian cucikan," perintah Candini.
"Iya Ma," sahut Revalina menunduk di hadapannya.
"Kalau ada apa-apa jangan bawa ke laundry, aku nggak suka baju ku di laundry," tegas Candini lalu melenggang pergi meninggalkan Revalina.
Seketika Revalina menatap bingung, tak mengerti dengan isi kepala Candini saat ini.
Kini ia mulai memasukkan baju-baju miliknya dan juga memilik Rival ke dalam mesin cuci, pas sekali mesin itu hanya muat baju satu keranjang terpaksa baju Candini ia cuci nanti setelah baju-bajunya sesekali.
__ADS_1
Sembari menunggu Revalina bergegas kembali ke dapur memasak makanan sesuai dengan instruksi Candini sejak saat itu.
"Sebenarnya sarapan itu paling enak sama roti, tapi ya sudahlah hari aku terima Kak Sarah saya bisa terima," gumam Revalina lirih sembari memotong-motong brokoli.
"Reva," panggil Candini dari arah ruang tengah.
"Iya Ma," sahut Revalina dengan tatapan mata menyorot ke arah Candini.
"Ini rumah belum kamu bersihkan?" tanya Candini dengan nada kesal.
"Belum Ma," jawab Revalina lirih takut.
Tiba-tiba Candini berhenti berbicara namun masih menatap Revalina dengan sorot mata tajam, seketika Revalina langsung salah tingkah takut hingga pada akhirnya memilih menunduk.
"Nanti Reva bersihkan sehabis masak Ma," ujar Revalina cepat-cepat.
"Begini nih kalau bangun mu kesiangan, harusnya dari jam 3 sudah bangun urus suami, urus rumah. Jangan bilang kau nggak bisa apa-apa," tegur Candini ketus.
Teguran Candini seketika menusuk dada dengan sangat dalam, mungkin di satu sisi ia belum bisa beradaptasi menjadi seorang istri dan seorang menantu di rumah ini tapi di sisi lain kalimat "nggak bisa apa-apa" membuatnya sedih.
Revalina terdiam, fokus dengan masakannya yang ia mulai kerjakan dengan kecepatan tinggi namun sangat berhati-hati agar rasanya enak.
Saat tengah sibuk-sibuknya memasak ini itu dari arah dapur tiba-tiba melihat Rival keluar dari kamar mengunakan kursi roda.
Tak terbayang bagaimana cara Rival berpindah dari ranjang ke kursi roda, sebagai seorang istri ia merasa lalai telah membiarkan suami kesusahan seorang diri.
"Aku bisa kan," ucap Rival sambil tersenyum bangga.
"Kenapa nggak panggil aku sih?" tanya Revalina menatap cemas.
Rival terus mengerakkan roda pada kursinya mendekat ke arah Revalina.
"Aku tahu kamu lagi repot masak, lagi pula aku bisa urus diriku sendiri," jawab Rival dengan santainya.
"Nggak repot Mas, kalau kau panggil aku pasti bisa bantu," sahut Revalina sembari mengerutkan keningnya.
Tiba Rival di luar meja bar yang ada di dapur, dia pun langsung menghentikan putaran kursi rodanya.
"Ada yang bisa aku bantu?" tanya Rival masih dengan senyum manisnya.
"Ada," jawab Revalina menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Seketika Candini melirik tajam ke arahnya, menganggap jawaban Revalina sungguhan.
"Apa itu?" tanya Rival dengan semangat, antusias.
"Duduk di situ sambil tersenyum," jawab Revalina sambil mengolak-alik adonan perkedel kentangnya yang sudah di bumbui.
"Ah, bantuin macam apa seperti itu tuh," gerutu Rival, seketika raut wajahnya berubah masam.
Pagi itu Revalina segera menyelesaikan masakannya sebelum mesin cuci menghentikan mencuci pakaiannya, dengan di temani Rival dan cerita-cerita lucunya akhirnya ia pun menyelesaikan masakannya.
"Sebentar ya Mas," ucap Revalina sambil membawa masakannya ke meja makan.
Satu per satu ia letakkan ke meja makan, tak lama Candini datang dengan wajah kusutnya.
"Lama sekali menunggu aku kira bakal masak banyak, ternyata cuma sup sama perkedel," ucap Candini kesal.
Revalina hanya tersenyum menutupi kegondokan dalam hatinya.
"Mama mau aku buatkan teh hangat, jus atau susu?" tanya Revalina cepat-cepat mengalihkan pembicaraan.
"Jus mangga nggak pakai gula, terus kalau Rival kasih dia susu," jawab Candini.
"Baik Ma," ucap Revalina berundur pergi kembali ke dapur.
Sebelum kembali berperang di dapur, terlebih dahulu ia membawa Rival ke meja makan. Melayani suaminya dengan baik mengambilkan makanan untuknya, begitupun mertuanya juga ia layani dengan baik. Melihat semua sudah terlayani ia pun bergegas kembali ke dapur.
"Eh mau kemana lagi?" tanya Rival pada Revalina.
Seketika langkah kaki Revalina terhenti. "Mau ke dapur buat jus sama ambil susu."
"Mas, makan duluan saja," sambung Revalina.
Grrkkkk.
Tanpa bicara Rival langsung mendorong piringnya, menjauhkan dari hadapannya.
"Aku menunggu mu," ucap Rival.
"Jangan Rival, cepat makan. Nggak lama lagi istri mu juga balik," tegur Candini.
Rival langsung menggelengkan kepalanya, tetap enggan menuruti teguran Candini. Melihat hal itu Revalina langsung bergegas ke dapur mempercepat aksinya memotong-motong buah mangga lalu memblendernya sampai halus, sembari menunggu ia berlari ke arah kulkas mengambil segelas susu dari sana.
__ADS_1
"Segitunya kamu ya, ketimbang makan juga pakai menunggu Revalina segala," gerutu Candini dengan nada kesal.
Gerutuan Candini itu terdengar sampai ke dapur.