
Sontak Akram terperangah melihat sosok laki-laki tersebut yang setelah diamatinya dengan seksama seperti seorang petugas keamanan atau satpol PP.
"Sial, kenapa aku harus ketemu orang seperti dia," gerutu Akram lirih.
Enggan berpikir panjang Akram bergegas pergi berlari terbirit-birit dengan menyeret satu kakinya, di saat yang bersamaan laki-laki itu berlari mengejar Akram ditengah pengendaraan yang melaju kencang dari berbagai arah.
Akram masih tak mau menyerah dengan keadaan, dengan sisa-sisa tenaga yang ia punya berusaha untuk lolos dari pengejaran laki-laki itu.
"Kalau terus berlari aku yakin pasti ujung-ujungnya tertangkap juga," ucap Akram sembari melirik kakinya yang cedera.
Tak lama secara tak sengaja ia melihat tumpukkan sampah yang menggunung, tanpa buang-buang waktu lagi dengan cepat ia berbelok arah ke tumpukan sambau itu lalu bersembunyi di belakangnya.
Sesaat setelah bersembunyi di belakang gunung sampah tersebut Akram mencium bau busuk yang begitu menusuk hidung sontak ia pun menutup hidung dengan kedua tangannya, namun tetap bau itu mampu menembus hidungnya.
'Kambing,' umpat Akram dalam hati.
'Kalau terus-terusan di sini aku bisa muntah,' ucap Akram kembali dalam hatinya.
Belum ada semenit, tiba-tiba ia merasa seperti akan mual. Tak disangka dari arah timur terdengar suara hentakan kaki yang membuat Akram menahan rasa mualnya dengan sekuat tenaga.
Druk druk druk.
Suara hentakan kaki begitu keras dan semakin keras menandakan bawa petugas keamanan itu tak jauh darinya.
Karena penasaran Akram memberanikan diri melirik ke arah suara sepatu itu yang kini tak lagi terdengar, menurut dugaannya petugas keamanan itu tengah berhenti.
"Kurang ajar, kemana pengemis itu," geram petugas keamanan berdiri sepuluh meter dari tumpukkan sampah sembari meletakkan tangannya ke dua sisi pinggang.
Mendengar suara itu Akram langsung terdiam kaku, tak bergerak sedikitpun mengingat banyak sampah plastik di sekelilingnya yang bisa mimicu suara.
"Emmm busuk sekali sampah ini, memang warga nggak tahu aturan," gerutu Petugas keamanan.
Druk druk druk druk.
Kembali lagi terdengar suara hentakan kaki yang makin lama semakin terdengar samar-samar, saat itu juga Akram baru berani keluar dari tempat persembunyiannya dan lagi-lagi dengan kaki pincangnya.
Huekkk huekkkk.
Akram muntah sejadi-jadinya di tempat itu, kali ini ia tak sanggup menahan rasa muntahnya. Sampah ini sangatlah busuk bahkan bau-bau bangkai tikus pun tercium sangking buruknya tempat pengumpulan sampah dari masyarakat sini.
"Aku yakin kota ini bersih, cuma petugasnya saja yang malas sampai keduluan tikus ngobrak-ngabrik sampah. Mau mencela tapi lalau nggak ada sampah ini aku nggak selamet," gumam Akram seorang diri.
Tak lama Akram bergegas mencari tempat yang aman, pilihan pertamanya adalah Masjid pertama yang menjadi tempat beristirahat waktu itu tapi merasa tak pantas dengan pakaian lusuh yang jelas tak suci ini membuat Akram seketika mengundurkan niatnya.
Langkahnya kian panjang menyusuri kota itu, dengan langkah tanpa arah ia berharap mendapatkan tempat untuk berteduh malam ini.
Tak terasa di dalam langkahnya ia merasa lapar yang kembali datang setelah beberapa jam lamanya ia tahan, namun kali ini sudah menjalar hingga membuat tubuhnya terasa lemas.
"Aku harus cari makan," ucap Akram lirih.
Teringat hasil mengemisnya seharian di bawah lampu merah yang ia simpan dalam kantung celananya, dengan cepat ia mulai mengeluarkannya kembali mencoba menghitungnya untuk membeli makanan sebelum mencari tempat berteduh.
__ADS_1
"Lumayan juga, sepertinya aku bisa makan layak hari ini," ucap Akram lirih.
Tiba-tiba secara tak terduga sekelompok anak muda dari arah belakangnya menyahut uang dalam genggaman Akram dnegan tawa kelakar.
"Hahaha, ini jadi milikku sekarang," ujar anak muda dengan tawa khasnya sembari memandangi uang hasil rampasan.
Sontak Akram terkejut sekaligus marah pada sekelompok anak muda itu terutama pada satu anak yang merampas uangnya.
"Hey kembalikan uangku," bentak Akram murka pada mereka semua.
"Nih ambil kalau bisa," sahut anak muda dengan wajah songongnya menyodorkan uang itu pada Akram.
Tentu Akram langsung melangkah cepat berusaha meraih uang itu.
"Kabur!" teriak aba-aba dari si pemegang uang.
Seketika semua berlari sekencang-kencangnya dengan tawa bahagia menoleh ke satu sama lain.
"Hey, dasar bocah kurang ajar kembalikan uang ku," teriak Akram histeris bukan main.
Kali ini ia tak tinggal diam, tak peduli kondisi kakinya yang tak memungkinkan untuk mengejar mereka Akram tetap mengejar mereka sampai ke ujung mana pun mengingat hanya itu uang satu-satunya yang ia punya.
Dengan kaki terpincang-pincang, sesekali menyeretnya setelah dirasa sudah terlalu sakit Akram terus mengejar sekelompok anak muda yang sudah menghilang dari pandangan matanya sejak tadi. Tak peduli bagaimana pun caranya ia harus bisa mendapatkan uang itu kembali.
Selama kaki melangkah susulan air mata terus mengucur deras membasahi pipi berikut dengan kucuran air keringat sisa perjuangannya seharian ini demi mendapatkan uang tersebut.
Semakin lama mengejar mereka semakin terkuras pula energi yang dimiliki Akram, tibalah ia di sebuah lorong jembatan yang terlihat sepi tak ada orang yang berlalu-lalang di bawahnya.
Perlahan Akram mulai terduduk di pinggir lorong jembatan itu lalu dengan perlahan pula ia membaringkan tubuh di sana, meringkuk menahan rasa lapar pada tubuh lemas itu. Agak gemetaran. Perut keroncongan. Tenaga pun seperti terkuras.
Begini rupanya jasib orang kelaparan. Lemas sekali.
**********
POV Revalina.
Sepulang dari persidangan Revalina memilih terduduk di halaman belakang rumah, memandangi tanaman-tanaman yang dirawat Sarah selama tinggal di sini.
Ia berusaha menenangkan pikirannya setelah menghadapi peliknya persidangan tadi juga peliknya menghadapi sikap Rival sejak kemarin.
'Aku yakin bukan masalah dari luar yang membuat sikap Mas Rival terus dingin padaku tapi memang dia ada masalah dengan ku, tapi apa," ucap Revalina dalam hati.
Otaknya terus berputar dengan cepat mencari kesalahannya di hari kemarin yang memicu kekesalan Rival, namun sayangnya ia tak juga menemukan masalah itu sampai lagi-lagi ia kembali menghubungkan sikap Rival dengan permasalahan hukum yang dijalani Dalsa.
'Apa iya Mas Rival kesal karena adiknya sudah mulai menjalani proses peradilan, tapi kenapa dia baru marah sekarang kenapa nggak dari kemarin-kemarin marah lalu mencegah ku untuk ikut memproses perkara ini,' ucap Revalina dalam hati bertanya-tanya.
Rasanya semakin lama semakin tak mengenal sosok Rival sekarang, Akibat permasalahan yang terjadi seolah semua itu mengikis sikap baik Rival yang selama ini ia elu-ulukan.
Tapi Ruval adalah sosok yang tegas, yang selallu komitmen dengan ucapannya. Tak mungkin pria itu mendadak plin plan dan berubah jalan arah pikirannya dengan mendukung Dalsa. Entahlah.
"Loh ternyata kau ada di sini, dicari Sarah dari tadi padahal," ucap Yakub tiba-tiba muncul dari arah dalam rumah lalu kini terhenti ditengah pintu belakang.
__ADS_1
Mendengar hal itu sontak Revalina terkejut, membelalakkan kedua matanya ke arah Yakub menunjukkan kepanikannya yang sudah tak tertahankan lagi.
"Iya kah?" tanya Revalina melongo.
"Tapi sudah selesai, tadi itu mau minta tolong buat jahitkan kain ternyata pas sudah aku bantu malah salah benang. Tuh lagi cari benang di toko depan," jawab Yakub perlahan mendekati Revalina.
Seketika Revalina langsung menghembuskan nafas lega, akhirnya di saat Sarah tengah membutuhkan, ada yang membantu yaitu suaminya sendiri.
Kini Yakub duduk di kursi dengan jarak pembatas meja bundar yang berhiaskan vas bunga di atasnya, melihat Kakak iparnya duduk bersamanya tak membuat Revalina ketakutan sedikitpun melainkan hanya rasa sungkan tak tak dapat ia jelaskan apa persisnya.
"Lelah juga ya habis sidang, nggak menyangka aku kalau sidang itu akan selama itu menguras tenaga dan pikiran juga," keluh Yakub membuka obrolan di antara dirinya dengan Revalina.
Terdengar dari nada bicara Kakak iparnya ini seperti tak ada kekesalan apapun padanya, justru dengan santai membahas keluhannya pada sidang yang lama dengan sosok orang yang mendorong dik kandung dia sendiri ke penjara.
"Iya Kak," sahut Revalina lirih sembari tersenyum ke arahnya.
"Menurut kaca matamu hakim dan jaksa sudah termasuk bijaksana belum dipersidangan hari ini?" tanya Yakub kembali membahas lebih dalam lagi.
"Menurut ku masih belum kelihatan karena masih pertama kali sidang," jawab Revalina.
"Ih iya juga ya, manusia bisa berubah-ubah dan semoga berubahnya bukan karena sogokan, tapi karena menemukan pasal yang tepat untuk Dalsa," sahut Yakub sembari mengangguk tipis.
Sahutan Yakub seketika memantik rasa penasaran Revalina pada perasaan Yakub yang sesungguhnya dalam menghadapi persidangan hari ini, meski sudah ia tanyakan berkali-kali namun tetap saja ia masih ingin mendengarnya lagi untuk memastikan.
"Kak, boleh aku bertanya?" tanya Revalina dengan rasa takut-takut.
"Iya silahkan, bertanyalah, belum ada undang - undang yang melarang orang bertanya kok," sahut Yakub terdengar begitu terbuka pada Revalina.
Revalina mulai menarik nafas panjang berujung lekukan senyum di kedua sudut bibirnya sesaat setelah Yakub memperbolehkan dirinya berbicara.
"Kakak marah nggak sama aku?" tanya Revalina dengan nada lirih sedih.
Entah kenapa ia jadi sedih, terasa tak rela jika jawaban Yakub nantinya mengatakan bahwa dia marah pada Revalina. Ia sudah terlanjur menganggap Yakub sebagai Kakaknya sendiri.
Terlihat reaksi pertama yang dikeluarkan Yakub adalah terkejut, melongo dengan bibir terkunci.
"Kenapa kau bertanya begitu, apa ada sikap ku yang membuat mu bertanya seperti ini?" tanya Yakub mulai gusar.
"Enggak Kak, aku cuma bertanya saja siapa tau Kakak kesal denganku," jawab Revalina namun masih berusaha menodong Yakub untuk bisa menjawab pertanyaannya tadi.
Terlihat kebingungan Yakub semakin bertambah dua kaki lipat, kerut-kerut di keningnya semakin mengerut tajam sembari mengedarkan kedua matanya kesana kemari seakan tengah mencari jawaban yang tepat.
"Aku sama sekali nggak kesal padamu, kalau pun aku kesal pasti dari tadi aku nggak akan mau duduk bersama apa lagi berbincang dengan mu," jawab Yakub dengan jelas.
Mendengar jawaban itu seketika Revalina langsung menghembuskan nafas lega, lega akhirnya jawaban yang sudah ia duga-duga terjawab sudah.
"Kenapa kamu tanya begitu, memangnya aku pernah marah?" tanya Yakub masih sangat penasaran. "Bicara jujur saja. Ada apa sebenarnya Reva? Kau sedang bicara dengan kakakmu, jangan sungkan untuk bicara. Aku bukan orang lain."
Revalina kekeh menggelengkan kepalanya, secara tak langsung berkata tidak. Jelas, karena bukan itu yang memicu pertanyaan ini hadir.
'Aku bertanya seperti ini kan gara-gara sikap Mas Rival, bukan sikap Kak Yakub yang sebenarnya nggak ada masalah sama sekali,' ucap Revalina dalam hati.
__ADS_1
Bersambung