
Rival tidak mungkin menolak permintaan Revalina meski yang diminta adalah berlian. Menolak permintaan wanita di hadapan banyak orang hanya akan menjatuhkan harga dirinya. Apa lagi tatapan si pramuniaga tampak menelisik dan menilai- nilai. Menatap kemeja Rival yang dipastikan harganya mahal, maka ia meyakini permintaan Revalina pasti dituruti.
Kenapa Rival harus memikirkan penilaian orang lain? Bahkan jika dipikir- pikir, ia tidak mengenali pramuniaga itu, seharusnya ia tidak perlu terpengaruh atas penilaian si wanita. Tapi entahlah, tatapan mata orang lain selalu saja mengecohnya. Membuatnya harus berpikir dua kali untuk bertindak.
"Aku mau ini. Nggak perlu pesan cincin yang aneh- aneh apa lagi sampai pesan yang limited edition. Ini aja cukup." Revalina menunjuk sebuah cincin berlian.
Terbuat dari apa isi kepala Revalina sampai berani meminta berlian pada dosennya sendiri?
"Bisa belikan nggak?" tanya Revalina di depan para pramuniaga yang berdiri mengamati sejak tadi, juga pramuniaga lainnya yang berseliweran di sekitar sana, sesekali menatap ke arahnya. Belum lagi konsumen lainnya yang sejak tadi juga menatap ke arahnya.
Kenapa mendadak Rival menjadi bahan tontonan begini? Apakah ia terlihat cukup menarik?
"Berapa harga cincin itu?" tanya Rival.
"Tiga ratus tujuh puluh juta, Pak."
Jawaban mencengangkan. Hanya untuk benda sekecil ini saja Rival harus merogoh kocek sangat dalam. Bagaimana untuk hal lainnya? Baru mahar, sudah segitu.
"Baik." Rival menggemeletuk geram meski kesannya menyetujui pembelian itu. Ini di luar nalar. Dan ini tentu saja menguras saldo tabungan Rival yang tidak seberapa.
Ingat, di sini manusia yang memiliki uang banyak adalah Yakub, bukan dirinya. Dia sedang merintis. Semuanya mesti diirit- irit. Pekerjaannya di dunia bisnis belum dimulai, dia hanyalah seorang dosen. Tapi Revalina sudah menggetoknya dengan permintaan begini.
"Saya bayar via transfer saja." Rival mendekati kasir.
Revalina meminta pramuniaga mengemas barangnya. Ia menunggu dengan setia di sisi pramuniaga yang tengah mengemas kotak perhiasan.
"Maaf, sepertinya ada masalah dengan mobile banking saya," ucap Rival yang mendapat pemberitahuan bahwa saldo tidak cukup. Ia mengecek angka saldo setelah menekan fitur mata supaya angka di rekeningnya muncul. Jeng jeng.... Ternyata saldo memang kurang dua puluh juta.
Lagian kenapa Revalina meminta mahar semahal ini? Waktunya mendadak lagi.
"Sebentar ya, Mbak!" ucap Rival mulai gelisah sambil sesekali melirik Revalina yang berdiri agak jauh darinya. Di saat begini, rasanya harga diri Rival seperti sedang terjatuh. Inilah letak harga diri lelaki, ketika kemampuannya diuji. Sanggup atau tidak.
Rival menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia cepat menelepon Yakub.
"Mas, duh lama sekali jawab teleponku?" ucap Rival panik ketika di seberang sana Yakub baru menjawab telepon setelah nada dering berlangsung cukup lama.
"Ada apa?"
"Aku minta kirimin uang dua puluh juta sekarang. Nanti kalau ada uang pasti aku ganti," bisik Rival.
"Dua puluh juta? Untuk apa?"
"Kirim saja sekarang. Aku benar- benar butuh."
__ADS_1
"Hei, aku ini kan sedang mempersiapkan pernikahanmu, aku butuh uang banyak. Jangan mengganggu keuanganku dulu. Ini juga persiapan untukmu," ucap Yakub.
"Tolong jangan membuatku mengemis. Urusan persiapan bisa nanti, ini urgent. Pokoknya aku minta kirim sekarang!" tegas Rival kemudian memutus sambungan telepon.
"Pak, udah selesai pembayarannya?" tanya Revalina enteng sekali. Seakan tidak punya dosa, padahal ia baru saja memalak Rival dengan uang sebanyak itu.
"Kamu tunggu di mobil saja!" ucap Rival datar.
"Saya di sini aja."
"Ini ada masalah dengan mobile banking ku. Jadi butuh proses."
"Kenapa dengan mobile banking bapak? Coba sini saya bantu." Revalina menyodorkan tangan hendak meraih hp Rival.
"Sudah, jangan sentuh milikku!" Rival menjauhkan hp nya dari tangan Revalina. Pria itu menggeser posisinya agak menjauh dari Revalina. Sebentar- bentar ia mengecek mobile banking, belum ada uang masuk. Notifikasi juga tidak ada.
Ah, kemana Yakub? Lama sekali dia?
"Bagaimana, Pak? Apakah proses pembayarannya bisa dilakukan?" tanya Kasir.
"Iya sebentar." Rival makin bingung. Kalau sampai ketahuan tidak bisa bayar, malunya akan sampai ke ubun- ubun. Huh, ini gara- gara gadis cabe itu. Minta dibeliin cincin mahal segala. Nilainya ratusan juta. Kampret!
Ting.
Dengan gembira, Rival membuka notifikasi. Ya ampun, pesan dari operator selular. Huh!
Ting.
Kedua kalinya pesan masuk. Kali ini benar Notifikasi uang masuk, dua puluh satu juta. Rival tersenyum.
Disusul chat masuk dari Yakub.
.
'Tuh sudah kukirim. Satu jutanya untukmu jajan. Tapi ingat, jangan pergunakan uangnya untuk macam-macam. Kamu mau nikah, jadi harus paham menentukan mana yang harus dipergunakan dengan tepat dan mana yang tidak.'
.
Rival hanya geleng- geleng kepala. Ia kemudian segera menyelesaikan proses pembayaran.
Begitu pembayaran dilunasi, Revalina sudah diijinkan membawa perhiasan tersebut keluar dari toko.
"Saya mau beli sepatu dan tas, bapak antar saya ya!" pinta Revalina.
__ADS_1
Gila nih cewek! Matrenya kelewatan! Uang baru saja dikuras, bahkan ngutang, sisanya cuma ada satu juta pemberian dari Yakub. Apakah uang satu juta itu akan cukup untuk membawa Revalina berbelanja. Level gadis ini tidak main- main. Semuanya mahal. Mana mungkin uang segitu akan cukup. Rival ingin mengumpat.
"Aku sedang ada banyak urusan. Aku tidak bisa menemanimu." Rival melenggang cepat menuju ke mobilnya. Ia tidak menyangka akan terjebak dalam situasi seperti ini. Andai saja ia tahu Revalina akan meminta cincin mahal begitu, ia pasti tidak akan mau diajak ke toko perhiasan. Kapok pokoknya.
"Pak, beneran nggak mau menemani saya?" seru Revalina mengejar Rival.
"Pekerjaanku penting, bukan hanya sekedar shoping dan berbelanja hal- hal tidak penting." Rival menatap tajam ke manik mata Revalina. "Lagi pula aku heran padamu, kamu pasti dari keturunan baik kan? Dan orang yang paham dengan agama pasti ingin menjadi istri yang baik. Karena istri yang baik adalah penghuni surga. Dan kamu pasti pernah dengan ini, bahwa sebaik- baiknya wanita adalah yang tidak memberatkan maharnya. Tapi apa yang kamu lakukan? Kamu malah meminta mahar semahal itu."
"Tapi bapak kan juga pasti tau bahwa sebaik- baik lelaki adalah yang memuliakan wanita, termasuk yang memberikan mahar tertinggi sebagai wujud memuliakan wanita."
Duh, kalimatnya malah dibalikin.
"Lagian saya yakin saya nggak memberatkan bapak. Bapak kan punya banyak uang." Revalina tersenyum penuh arti. Dalam hati ia menghujat.
Rival tidak bisa membantah. Mana mungkin ia menjatuhkan harga dirinya sendiri dengan mengakui bahwa ia tidak punya uang banyak seperti yang dipikirkan Revalina.
"Tapi kamu pasti tau kan kalau bermewah- mewahan itu sama saja mendekati kekufuran. Sombong. Juga angkuh. Dengan kamu membeli perhiasan itu, sama saja kamu berfoya- foya. Sederhana itu lebih mulia," ucap Rival.
"Ini sebenarnya bapak ikhlas nggak sih kasih mahar ke saya? Mahar itu kan yang tentukan wanita. Kalau bapak nggak ikhlas, saya nggak paksa kok."
"Sudah, sudah! Aku ikhlas. Sudahlah. Aku ada pekerjaan. Aku harus segera pergi." Rival masuk ke mobil dan segera menyalakan mesin mobilnya. Ia membunyikan klakson, meminta Revalina supaya minggir dari depan mobilnya.
Segera Revalina menyingkir dan memberikan akses untuk mobil Rival melintas.
Senyum Revalina mengembang melihat kepergian mobil Rival.
Kena kamu! Ini belum seberapa. Nanti akan ada drama baru lagi.
Revalina masuk ke mobil, menjalankannya menyusuri jalan raya.
Alunan musik slow religi membuat kepalanya mengangguk- angguk menikmati lantunannya yang memukau hati.
Beberapa motor gede di belakang membuat Revalina mengernyit. Ada apa dengan empat motor itu? Kenapa mengikutinya?
Revalina jadi teringat dengan kejadian yang menimpa Rajani. Empat pria menggagahi kembarannya itu dengan keberingasannya. Lalu sekarang ada empat motor yang juga tengah mengikutinya. Ini sungguh tidak beres.
Jangan- jangan ada orang suruhan lagi yang akan mencelakainya. Atau ini murni kejahatan yang tanpa direncana? Barangkali mereka adalah komplotan orang jahat yang sedang mencari sasaran. Atau apa?
Revalina membelokkan mobil ke jalan lain untuk memastikan apakah empat motor benar mengikutinya atau tidak. Ternyata empat motor yang ditunggangi enam pria itu juga ikut berbelok semua.
Revalina mulai waspada penuh. Ia menginjak gas, namun dua motor melaju kencang, menyalip dan kini berada di depannya. Mereka perlahan memelankan motor, lalu berhenti.
Di samping, ada motor pula yang berhenti. Tak mungkin pula Revalina terus menginjak gas dan menabrak motor di depan, yang ada ia malah kena kasus. Dia memilih untuk menghadapi semua ini, meski sendirian. Nyalinya muncul begitu saja. Pengalaman buruk yang menimpa Rajani dan ia saksikan dengan mata kepalanya sendiri, membuat nyalinya malah terbentuk kuat.
__ADS_1
Bersambung