
"Mang, Bik parti, belum pulang ya? Rebusin air, Mang! Cepetan. Aku nggak tau dimana letak ceret atau apalah itu yang untuk merebus air. Buruan!" seru Chesy.
Tak ada jawaban, Chesy melangkah menuju ke sumber suara, tak lain ke ruangan sebelah, tempat penyimpanan barang- barang dapur yang jarang digunakan.
Klek.
Chesy membuka pintu.
"Aaakh!" Ia membelalak kaget sembari melompat mundur.
Bruk.
Tubuh Chesy tersungkur, bokongnya menghantam lantai. Ngilu dan nyeri.
"Kamu kenapa di sini?" hardik Chesy menatap Cazim yang berdiri di tengah ruangan itu. "Apa yang kamu lakukan di rumahku malam- malam begini? Bahkan menyusup ruangan sampai sini? Dugaanku nggak salah, kamu pasti mau melakukan perbuatan jahat!" Chesy bangkit bangun dan menatap tajam lelaki yang berdiri di hadapannya itu.
Sebenarnya ia sangat ingin mengelus- elus bokongnya yang terasa nyeri bukan main, tapi mustahil ia mengelus bagian itu di hadapan lelaki ini.
Cazim masih diam, menatap mata bulat Chesy dengan datar.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan di sini? Jawab! Baiklah kalau kamu nggak mau jawab, aku akan teriaki kamu maling karena sudah menyusup rumah orang begitu saja!" hardik Chesy kesal sekali.
"Amnesia ya? Sudah menjadi istriku sekarang kan? Apakah ada hukuman buat menantu memasuki rumah mertuanya?" Cazim melewati Chesy begitu saja sambil membawa panci yang sejak tadi dia tenteng.
Ya ampun, Chesy benar- benar telah melupakan hal besar itu. Bagaimana bisa semua ini terjadi? Dia sampai lupa kalau Cazim adalah suaminya sekarang. Ia mengetuki kepalanya sendiri dengan kepalan tangan. Amnesia parah.
Chesy menelan dengan sulit sekali, membeku di tempat.
"Hei, pakai panci ini kalau mau merebus air." Cazim meletakkan panci ke meja dan melangkah pergi.
Chesy mendekati panci, memegang gagangnya sambil memutar- mutar benda itu.
Chesy merebus air. Sembari menunggu, Chesy memainkan hp, ia mengecek- ngecek kabar terkini. Tak lupa berfoto selpi, lalu mengupload foto ke sosial media. Mayoritas foto- dotonya tidak ada yang menampilkan wajah dengan utuh. Ia selalu menutup wajah dengan tangan, atau menutup sebagian wajah dengan telapak tangan, atau masker, atau hanya bagian samping dan belakang saja yang kelihatan. Foto wajahnya tidak pernah diunggah ke sosial media.
Senyumnya mengembang melihat hasil foto, bagus sekali.
Tunggu dulu, kenapa bau aneh ya? seperti bau gosong?
Chesy terkejut melihat air di panci sudah kosong dan panci tersebut sudah menghitam serta mengeluarkan asap bau.
__ADS_1
"Ya ampun, kenapa bisa begini?" Chesy mematikan api. "Rebus air aja bisa sampai begini. Begini nih kalau rebus air sambil mainan hape. sebel iiih." Chesy terpaksa mencari panci lain dan kembali merebus air. Kali ini airnya sedikit saja hingga ia tidak perlu kelamaan menunggu.
Sayangnya air tersebut malah terlalu sedikit, tidak cukup satu gelas saat dituang. akhirnya Chesy menambahkan air dingin saja.
Cangkir berisi teh itu pun dibawa ke depan. namun langkahnya terhenti ketika ia melihat Yunus tengah mengobrol dengan Cazim, mereka terlihat sangat akrab sekali, tertawa bersama dan saling sahut saat mengobrol.
"Terima kasih kamu sudah bersedia datang kemari atas permintaan abi," ucap Yunus dengan tawa kecil. "Kamu sudah tahu kamar kamu apa belum? Ya nanti biar ditunjukkan sama Chesy."
"Abi suruh aku menginap di sini?" tanya Cazim.
"Loh, iya. Mulai sekarang kamu tinggal di sini ya. Kamu jaga istri kamu. Kamu bimbing langkahnya. Abi mau kamu dekat dengannya, abi percayakan padamu, Cazim!"
"Ehm ehm!" Chesy berdehem, pura- pura batuk sambil berjalan membawa segelas teh. "Ini tehnya, Abi!"
"Loh, kok cuma satu? Untukku mana?" tanya Cazim dengan senyum skeptis.
Sialan! Beraninya dia!
Bersambung
__ADS_1