Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Dilempar Bola


__ADS_3

Ternyata menunggu momen terkuaknya dalang kematian Rajani cukup membuat Revalina geregetan. Ia sangat ingin melakukan apa saja terhadap Rival. Mungkin menyiksanya, atau apa pun itu.


Bagaimana caranya supaya Rival bisa mengakui apa penyebab dia melakukan kegilaan itu? Mungkin karena terlalu sayang pada Dalsa sehingga memilih untuk menyakiti Revalina, yang sayangnya malah salah sasaran.


Revalina mendatangi rumah Rival pagi itu. Alasan ingin berangkat ke kampus barengan. Anggap saja ia menjemput sang calon suami. Biar kampus heboh sekalian melihatnya datang bersama dengan idola kampus.


Asisten rumah tangga mempersilakannya masuk.


"Saya panggil Mas Rival dulu ke dalam," ucap pembantu.


"Nggak usah, Bik. Saya masuk dan cari sendiri aja." Revalina berjalan masuk. "Pak Rival dimana?"


"Tadi ada di ruang kerja, Non." Pembantu kemudian memberikan arahan letak ruang kerja Rival yang ada di lantai dua.


"Aku ke sana aja." Revalina menaiki anak tangga yang meliuk di rumah besar itu. Dan ia kini sudah berdiri di depan pintu ruang kerja yang disebutkan pembantu. Ia memegang handle pintu lalu menekannya.


Pintu baru saja terbuka sedikit, namun ia gagal masuk dan memilih untuk berdiri di pintu. Mendengarkan perbincangan serius antara Dalsa dan Rival.


"Mas, aku tidak mau Mas Yakub sampai harus menebus rasa bersalah pada Revalina dengan cara menikahkan kamu sama gadis itu," tegas Dalsa.


"Mas Yakub masih punya nurani."

__ADS_1


"Revalina itu adalah korban salah sasaran atas perintah Mas Yakub, kemudian kamu yang disuruh mengeksekusi pun juga tidak sadar bahwa orang yang kamu kerjain itu bukan Revalina. Dan sekarang Mas Yakub mau bawa Revalina masuk ke rumah kita. Entah itu untuk menebus rasa bersalahnya karena menyesal, atau karena Mas Yakub punya rencana lain." Dalsa kesal. "Aku tidak sudi Revalina menjadi bagian anggota keluarga kita."


"Mas Yakub akan membalaskan dendam pada Tante Chesy yang pernah menolaknya, juga pada keturunan Almarhum Om Cazim. Jadi Revalina dibawa masuk ke sini bukan untuk bersenang- senang, tapi untuk memulai penderitaan. Kau tenang saja."


"Sungguh?"


"Ya."


"Lalu kenapa Mas Rival mau mengikuti kemauan Mas Yakub?" tanya Dalsa menggebu-gebu.


"Karena aku punya banyak alasan. Gadis itu memang sasaranku sejak dulu."


Revalina menyentak pintu hingga menghantam dinding, membuat Rival dan Dalsa langsung menoleh. Keduanya terkejut.


"Bagus! Kalian sudah membongkar kartu kalian sendiri!" Revalina tersenyum santai.


"Kebetulan sekali. Kalau begitu mendingan kamu mampus sekarang saja." Dalsa melempar Revalina dengan bola kasti yang baru saja dia sambar dari meja.


Kejadian sangat cepat hingga Revalina tidak sempat berkelit.


Plak!

__ADS_1


Bola tepat mengenai pipi Revalina.


"Aduh!" Revalina memegangi pipi yang sakit seiring dengan suara sayup-sayup Rafa memanggil.


"Revalina! Hei, Revalina! Bangun!"


Tubuh Revalina diguncang dan gadis itu terjaga.


"Hah?" Revalina terjaga, langsung duduk.


Ya ampun, hanya mimpi! Syukurlah. Revalina mengedarkan pandangan ke sekitar. Ia berada di atas kasur, baru saja bangun tidur. Tangan masih mengusap pipi. Pipinya masih sakit. Kalau hanya mimpi, kenapa pipi rasanya seperti ditabok bola beneran?


Rafa tersenyum memegangi sendok. "Sorry, aku tepuk pipimu pakai sendok. Drai tadi dibangunin tidak bangun juga."


"Huh, kebiasaan. Bangunin pasti pakai cara jelek," rutuk Revalina.


"Cepetan, sudah siang ini. Mau ke kampus apa tidak?" Rafa melenggang keluar kamar.


"Iya. Mandi dulu." Revalina melompat ke kamar mandi sambil berpikir tentang mimpi tadi. Ah, itu hanya bunga tidur.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2