
"Nggak! Aku nggak akan kasih kunci ini ke kamu. Karena kamu hanya akan pergi untuk mengantar Senja," balas Chesy.
Ekspresi wajah Cazim langsung berubah merah padam. "Apa hakmu melarangku?"
"Aku ini istrimu."
"Kemana saja kau selama ini? Kenapa baru kau katakan itu sekarang? Aku hanya suami pajangan dan kau tidak perlu melarang langkahku dalam segala hal. Urusanku adalah urusanku, dan urusanmu adalah urusanmu."
"Hentikan pemikiran konyolmu itu! Aku berhak melarangmu meski kamu beranggapan bahwa kita ini hanya suami istri yang nggak sebenarnya. Segala urusan suami juga urusanku. Dosamu juga menjadi bagianku," ucap Chesy tak kalah tegas.
"Aku ini suami. Bagaimana pun buruknya seorang suami, itu bukan urusan istri. Dan jika kai beranggapan bahwa kau ini istriku, maka kau harus tahu satu hal, bahwa seburuk- buruknya aku, tetaplah aku adalah jalan menuju surga bagimu. Ketaatanmu, baktimu, kesalihahanmu padaku, itu adalah jalan menuju surga bagimu. Cukup itu saja yang perlu kau pikirkan, itulah ranahmu. Kau pasti paham tentang hukum itu kan? Kau pelajari saja hukum tentang seorang istri, tidak perlu masuk ke ranah tentang kewajiban suami."
Chesy tersentak. Kok sakit banget rasanya diginiin suami? Dulu, andai saja Cazim mengatakan hal itu, pasti tidak akan dipedulikan oleh Chesy. Bodo amat. Tapi sekarang beda, rasanya seperti diiris sembilu.
"Benar. Dosa suami adalah dosanya sendiri dan ditanggung olehnya sendiri, istri nggak akan terseret dan menanggung dosa suami. Surgaku juga jalannya adalah ada pada suami. Tapi saat kamu menggandeng atau bahkan membonceng wanita lain disaat status kita adalah suami istri, aku wajib menjaga kehormatan keluargaku dari fitnah dan aib. Maka aku nggak ijinkan kamu membawa wanita lain demi kehormatan keluargaku. Ingat kamu membawa nama baik abi. Saat kamu ketahuan oleh orang- orang bahwa kamu bersama dengan wanita lain, maka yang menanggung malu adalah aku, juga abi," tegas Chesy.
"Kau berbicara tentang kehormatan bukan? Kaulah yang seharusnya menjaga kehormatanmu sebagai istriku. Apa yang harus dan tidak harus kau lakukan terhadap suamimu. Itu yang perlu kau jaga. Kau tenang saja, aku bisa menempatkan diri. Meski Senja adalah wanita yang aku sayangi, tapi aku bisa menjaga supaya tidak diketahui oleh banyak orang." Cazim melangkah masuk ke rumah.
__ADS_1
Apa tadi? Wanita yang disayangi? Dan itu Senja? Mungkin cazim beranggapan bahwa Chesy tidak peduli dengan pernyataan itu, mengingat selama ini hanyalah kebencian yang ada di kepala Chesy. Tapi hati Chesy rasanya terbakar. Karena ternyata lelaki yang dia cintai mengakui bahwa dia mencintai wanita lain secara terang- terangan.
Tak lama kemudian Cazim keluar lagi, pria itu memasuki garasi, masuk ke mobil milik Yunus dan langsung menyetirnya keluar. Rupanya ia masuk ke rumah untuk mengambil kunci milik Yunus.
Mobil bergerak sangat cepat meninggalkan rumah. Gerakannya kasar dan menunjukkan kemarahan.
Cazim menyambar ponsel di kantong celana dan menelepon Senja.
"Senja, apa kau sudah di tempat yang kita janjikan? Maaf aku lama. Ada sedikit masalah. Aku akan segera datang padamu. Aku akan mengantarmu pulang ke perbatasan kota. Baiklah, tunggu aku di situ," ucap Cazim.
Cazim memundurkan mobil menghampiri Senja, ia menurunkan kaca mobil dan menganggukkan kepala mengajak gadis itu masuk ke mobil.
Senja masuk. "Kok, kelewatan?"
"Rem mobilnya kurang makan."
Senja menatap Cazim dengan tatapan sedih.
__ADS_1
"Kenapa menatapku mendung begitu?" tanya Cazim.
"Ayahmu meneleponku dan terus saja menyalahkan aku. Mengira aku yang menyembunyikanmu. Ayahmu marah padaku. Dia mengatakan bahwa aku membawa pengaruh buruk padamu." Tangis Senja pecah. "Aku tidak mau mendapatkan penilaian seburuk itu dari ayahmu. Bagaimana aku memberikan kepercayaan padanya?"
Cazim meraih pundak Senja dan menarik ke arahnya, memeluk wanita itu, lalu mencium keningnya.
"Tidak apa. Suatu saat nanti aku yang akan menjelaskan kepadanya," ucap Cazim menenangkan.
Plok plok plok...
Suara tepuk tangan dari arah belakang membuat Cazim dan Senja terkejut, keduanya menoleh. Tampak Chesy duduk santai di kursi belakang dengan kedua tangan menyilang di dada, kaki pun di posisi menyilang pula.
Diam-diam Chesy tadi ikut menyusup masuk ke mobil bagian belakang saat Cazim terburu- buru masuk ke bagian kemudi. Pria itu tidak menyadari masuknya Chesy ke mobil karena Chesy sengaja menutup pintu bersamaan dengan Cazim saat menghentaknya.
"Jadi ini yang kalian lakukan di belakang istri sah?" tegur Chesy santai sekali.
Bersambung ...
__ADS_1