
Kali ini Cazim melakukan perjalanan menuju ke rumah Yunus. Perjalanan memakan waktu cukup lama hingga akhirnya ia sampai juga di tempat tujuan.
Cazim berdiri di pintu, menatap Bik Parti yang tengah mengepel lantai.
“Eh, Den Cazim. Ya Allah, mimpi apa Den Cazim datang ke sini? Mari masuk! Saya buatkan minum dulu.” Bik Parti menyambut kedatangan Cazim dengan ramah.
“Tidak perlu bikin minum.” Cazim melangkah masuk.
Bik Parti mengawasi badan tegap dan atletis Cazim yang tidak berubah, wajah tampannya juga masih sama. Terlihat cool.
“Chesy mana? Apakah Chesy ada di sini?”
Wajah Bik Parti langsung berubah. Ada kaget, juga bingung.
“Hei, aku bertanya padamu. Chesy mana?” ulang Cazim.
“Bukannya Non Chesy ikut bersama dengan Den Cazim ya?”
“Kalau dia bersamaku, mana mungkin aku bertanya kepadamu.” Cazim menatap tajam.
“Maaf Den, saya jadi bingung ini. Malahan saya nggak tahu dimana keberadaan Non Chesy. Setahu saya, semenjak Den Cazim pergi bersama dengan Non Chesy setahun yang lalu, Non Chesy belum pernah datang kemari.”
Mata Cazim membulat sempurna. Pikirannya mendadak kacau sekali. Chesy kemana? Di rumah Fatih tidak ada, bahkan di rumah Yunus pun tidak ada.
“Apa maksudmu mempertanyakan dimana putriku?” Suara menggemuruh geram terdengar dari arah belakang.
Cazim menoleh, menatap Yunus yang ekspresinya tampak dipenuhi kemurkaan.
__ADS_1
“Kemana kau terlantarkan putriku? Setelah sekian lama dia pergi bersamamu, sekali pun kau tidak pernah membawanya pulang kemari untuk menjengukku. Dan sekarang kau mempertanyakan dimana keberadaannya. Apa yang terjadi dengan putriku?” tanya Yunus dengan mata berapi- api. Kemarahan dan kecemasan membaur.
Cazim bingung harus menjawab apa. Dia bahkan tidak tahu dimana keberadaan istri dan anaknya. Selama ini ia tidak tidak tinggal seatap dengan istrinya, lalu bagaimana dia akan tahu kondisinya.
“Apa yang sudah terjadi dengannya? Ada masalah apa sampai kau mencarinya kemari sedangkan dia tidak ada di sini?” hardik Yunus lagi.
“Abi!”
“Masih berani kau memanggilku abi setelah permintaanku tidak kau patuhi, bahkan diam-diam kau membawa kabur anakku, menghilang begitu saja. kau beralasan akan membawa putriku untuk menemui orang tuamu, tapi nyatanya kau malah membawanya kabur dan menjauhkannya dariku. Sampai akhirnya aku putus komunikasi dengannya. Inikah yang dinamakan menantu? Aku menyesal menyerahkan Chesy kepadamu. Sekarang katakan kepadaku, dimana putriku? Apa yang terjadi padanya?” Yunus panik.
Ah, Chesy dimana? Kenapa dia menghilang? Apakah perkataan Cazim terakhir kali membuat dampak seburuk ini untuk Chesy? Sampai- sampai Chesy meninggalkannya, meninggalkan Yunus, juga meninggalkan Fatih.
“Aku tidak bisa jelaskan apa pun saat ini. Permisi!” Cazim meninggalkan rumah Yunus. Ia berpapasan dengan Mimin di depan rumah.
Janda mont0k itu itu membawa rantang. Isinya pasti gulai jengkol, aromanya sudah ketebak.
“Tidak ada siapa-siapa.” Cazim dingin.
“Syukurlah.” Mimin mengelus dadanya yang menonjol dengan telapak tangan. Tampak lega. “lalu kenapa kamu kembali kemari? Bukankah sudah sangat lama pergi meninggalkan rumah bersama dengan Chesy?”
Cazim melengos pergi, melewati Mimin yang melongo menatap kepergiannya.
Saat ini, pikiran Cazim diserang oleh pertanyaan besar, dimana Chesy?
***
Restoran Barisna gegap gempita oleh pengunjung yang ramai. Lampu- lampu yang menghias ruangan mengangkat nuansa mewah.
__ADS_1
Dentingan suara piring menambah keramaian.
Cazim tengah duduk di salah satu meja. Sesekali jempolnya bergerak di layar hp, mencari informasi tentang keberadaan Chesy. Setidaknya ada sedikit informasi tentang jejak istrinya itu. ia bahkan sudah meminta bantuan Hamdan dan segenap rekan kerjanya di kantor, namun tidak ada tanda-tanda ditemukannya keberadaan Chesy.
Ah, kemana kamu, sayang? Kenapa menghilang?
“Mau pesan menu apa, Mas? Silakan! Ini menunya.” Pelayan datang menunjuk kertas menu yang tersedia di meja.
“Nanti saja. Aku sedang menunggu teman,” jawab Cazim tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel. “Nanti akan aku panggil jika aku sudah mau pesan.”
Pelayan mengangguk dan pergi.
Cazim sudah janjian dengan Hamdan di restoran itu. Mereka akan makan bersama. Sekali gus Hamdan mengaku akan memperkenalkan istrinya kepada Cazim.
“Hai!” Hamdan muncul dan langsung bersalaman dengan Cazim dengan gaya mereka, tangan bersilang seperti sedang main panco, lalu berpelukan sebentar.
Hamdan langsung duduk, lalu menarik kursi di sebelahnya.
“Mana istrimu?” tanya Cazim.
“Tuh!” Hamdan menunjuk wanita yang baru saja datang menghampiri. “Duduk, Yang!” Hamdan menunjuk kursi yang baru saja dia tarik, mempersilakan istrinya.
Cazim tertegun menatap sosok wanita yang kini duduk di sisi Hamdan. Wanita itu tersenyum. Ini sungguh mengejutkannya. Kenapa Hamdan tidak bilang sejak awal?
Bersambung
Follow instagram @emmashu90
__ADS_1