
"Ada apa Mbak?" tanya Revalina reflek ikut panik.
Sarah hanya melirik ke arah Revalina namun tak kunjung menjawab pertanyaannya, terlihat Sarah masih fokus dengan suara Yakub.
"Iya-iya aku kesana sekarang," ucap Sarah.
"Waalaikumsalam," ucap Sarah kembali, langsung menutup telfonnya.
Wait wajah Sarah begitu panik, tiba-tiba beranjak dengan kelabakan tangannya meraih ponsel yang baru dia geletakkan di atas meja.
"Mbak ada apa?" tanya Revalina kembali mengulang pertanyaannya.
"Mama," jawab Sarah dengan bibir gemetar.
"Mama kenapa?" tanya Rival baru mulai panik.
"Mama pingsan, gara-gara dapat surat undangan pengadilan," jawab Sarah lirih lemas.
Seketika ia dan Rival terkejut mendengar jawaban Sarah, akan tetapi Revalina memilih untuk diam. Ia merasa akan sangat bahaya jika mulutnya terbuka sedikit saja jika masalahnya sudah menyangkut Mama mertuanya ini.
"Aku pergi dulu ya, kasihan Mama," pamit Sarah.
"Mbak, tunggu dulu," henti Revalina baru berani bersuara kembali.
Dengan cepat Revalina meraih paper bag yang ada di dapur lalu memasukkan beberapa kue di dalamnya.
"Kasih ke Mama Mbak, aku titip salam saja takutnya kalau Mama lihat muka ku jadi makin drop," ucap Revalina memberikan paper bag berisi kue itu ke tangan Sarah.
"Aku pamit dulu," ucap Sarah bergegas pergi.
Sesat setelah Sarah mengerakkan kakinya tiba-tiba Rival langsung beranjak membuat Revalina cemas, takut ditinggal juga.
"Reva, aku juga pamit ya. Aku mau lihat keadaan Mama," pamit Rival dengan wajah paniknya.
Kalimat yang ditakuti Revalina akhirnya keluar juga, bingung harus jawab apa. Kalau ia melarang yang ada nanti jadi bertengkar tapi kalau ia mempersilahkan Rival pergi dirinya jadi di rumah sendirian.
"Emm, tapi jangan lama-lama ya Mas," sahut Revalina sedikit ragu.
"Iya, nggak akan lama," ucap Rival sembari mengusap-usap rambut Revalina.
Akhirnya Rival dan Sarah pun pergi bersama menuju ke rumah Yakub, tempat di mana Candini tinggali. Revalina melepas kepergian mereka dengan sedih dan takut, ia takut berada di rumah sendirian apalagi jika teringat dengan pohon bunga kamboja yang ditebang Yakub waktu itu.
"Nggak, aku nggak mau di rumah sendiri. Aku harus pergi ke rumah Umi sebelum di makan setan di rumah ini," ujar ketakutan Revalina.
Tanpa pikir panjang ia pun kembali masuk ke dalam rumah, mengambil tas dan banyak kue lalu ia berlari terbirit-birit keluar dari rumah.
Di jalan Revalina baru memberi kabar pada Rival bahwa ia pergi ke rumah Chesy karena takut sendirian di rumah, entah apa anggapannya setelah ini yang terpenting ia selamat tak lagi berada di rumah itu seorang diri.
Namun hingga ia tiba di rumah Chesy, Rival tak kunjung membalas pesan singkatnya. Hal ini sempat membuatnya berpikir bahwa Rival tak lagi peduli padanya, lalu sesaat ia tersadarkan dengan kondisi Candini yang mungkin saat ini membuat suaminya panik sehingga tak membuka ponsel sama sekali.
Tak ingin berpikir buruk, cepat-cepat Revalina mengalihkan pikirannya dengan fokus bercengkrama dengan Chesy dan Rafa.
__ADS_1
"Banyak sekali kue nya," tegur Chesy sembari mengeluarkan satu persatu kue salam paper bag besar itu.
"Nggak lah Mi, cuma berapa itu," sahut Revalina melirik isi paper bag yang ada di pangkuan Chesy.
"Banyak tuh," tunjuk Chesy.
"Memang dasar Reva tukang jajan," ledek Rafa sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Keturunan dari Kakak," sahut Revalina dengan nada kesal.
"Dih, enak saja keturunan dari aku. Dari Umi tuh yang ada," elak Rafa melempar ke Chesy.
Mendengar hal itu seketika Chesy tersentak terkejut "kenapa jadi Umi, yang jajan kalian jadi Umi yang kena."
"Bukan kita Mi, tapi Reva," ralat Rafa enggan disangkut pautkan.
"Tuh Mi, lihat kan sekarang siapa yang menyebalkan," tunjuk Revalina ke arah Rafa.
Malam itu di rumah Chesy ia dan Rafa terus berdebat kecil, meledek satu sama lain hingga tertawa bersama sampai tak terdengar pertanyaan Chesy tentang dirinya yang main ke rumah malam-malam begini.
*********
POV Candini.
Di kamar, ia telah terbaring lemas di atas ranjang dengan dikerubungi anak dan menantunya. Kepala masih terasa berat untuk beranjak duduk atau hanya sekedar mengalihkannya pandangan mata.
Terlihat samar-samar Sarah duduk di atas ranjang tepat di sisi kanannya sementara Yakub dan Rival duduk di sisi kiri.
'Bisa roboh ini ranjang, ya Tuhan ini mereka pada kenapa duduk di atas ranjang semua,' ucap Candini dalam hati.
"Masih pusing Ma?" tanya Yakub kembali.
"Masih," jawab Candini lirih.
Ia masih bingung melihat anak menantunya berdatangan menjenguknya, tak seperti biasanya bahkan Yakub terlihat begitu perhatian padahal hubungan di antara kita sedang tak baik-baik saja.
"Ngapain kalian di sini?" tanya Candini dengan nada kesal.
"Kita besuk Mama, tadi kata Yakub Mama pingsan," jawab Sarah dengan nada lembut.
Mendengar jawaban Sarah sontak membuatnya makin kebingungan, bingung sekaligus terkejut masih antara percaya dan tak percaya.
"Hah, masa aku pingsan," Candini bertanya-tanya.
"Hssssss," desis Candini tiba-tiba merasa kesakitan pada keningnya.
Desisannya seketika membuat semua panik, namun dalam kepanikan anak menantunya itu di saat yang bersamaan ia mendapat kekuatan untuk merubah posisi tidurnya menjadi duduk.
Dengan dibantu Sarah, ia pun akhirnya berhasil duduk dengan dua bantal menyangga di belakang.
Ia pun mulai mengingat-ingat aktivitas terakhir yang diingatnya sebelum tiba-tiba terbangun di atas ranjang kamarnya.
__ADS_1
Tak lama akhirnya ia mengingat bahwa sebelumnya ia sempat masak lalu mendengar tukang pos ia bergegas ke depan menerima surat dari pengadilan negeri, ia juga ingat apa isi surat tersebut.
Tiba-tiba dadanya terasa begitu sesak diiringi buliran air mata yang tak berhenti mengalir mengingat isi surat tersebut, ia merasa upaya yang ia lakukan sia-sia sudah.
"Ma, kenapa Ma?" tanya Yakub sembari mengusap air mata Candini dengan tangannya.
Seketika Candini langsung menyorot Yakub dengan sorot mata tajam tak hanya Yakub, Rival pun kena sorotan tajamnya.
"Jangan pura-pura nggak tahu kamu, kamu pasti tahu apa yang sudah buat aku shock sampai pingsan," todong Candini dengan kalimatnya.
Yakub langsung menunduk, terlihat wajahnya begitu sedih sesat setelah ia berucap. Namun wajah sedih Yakub tak akan membuatnya luluh karena baginya ini semua juga gara-gara Yakub dan Rival juga.
"Maafkan aku Ma," ucap Yakub lirih sedih.
"Pengadilan bukan akhir dari segalanya, Dalsa masih ada kemungkinan buat dapat keringanan. Kalaupun putusan masih kurang memuaskan Mama bisa ajukan sampai ke grasi," ujar Rival dengan jelas.
Sesaat setelah Rival bersuara perlahan Yakub kembali mengangkat dagunya, sekarang mereka seperti terbalik. Kini Yakub rapuh tapi Rival yang justru kuat berdiri dengan ketegarannya.
Candini menggeleng, menatap Rival dengan tatapan kecewa. Ia tak menyangka semudah itu Rival mengatakannya hal itu tanpa memikirkan Dalsa.
"Kalau saja sebelum pengadilan kalian mau merubah keterangan BAP, pasti aku nggak akan jatuh pingsan tadi. Asal kau tahu adik kalian sekarang ini tak ada pegangan apapun," ujar Candini dengan terus menangis.
Tiba-tiba tak sengaja ia melihat wajah sedih Yakub langsung berubah, kini terlihat memerah padam seakan darahnya telah mendidih dan amarahnya mulai membumbung tinggi.
"Ma, lawyer yang Mama tunjuk itu sudah datang ke rumah dua kali dan yang terakhir Revalina tahu. Sekalipun Revalina nggak tahu aku akan tegas menolak apapun permintaan lawyer itu yang melenceng hukum," jelas Yakub dengan nafas tengah-tengah.
Melihat anak sulungnya berucap dengan suara, tatapan dan nada bicara yang seperti itu seketika membuat hatinya terasa teriris, bayi yang dulunya ia kandung 9 bulan dan ia besarkan dengan susah payah kini dengan lantang menolak keinginannya.
"Susah sekali ya kalian membahagiakan Mama, apa kurang selama ini kasih sayang Mama sama kalian semua. Mama ini cuma mau anak-anak Mama selamat dsn bahagia, apa salah kalau Mama ingin kita kembali berkumpul seperti dulu?" tanya Candini menembak pertanyaan pada kedua putranya dengan bertubi-tubi.
Mendengar pertanyaan Candini, Rival dan Yakub mulai gusar saling memandang melempar kode melalui mata sementara itu Sarah terus diam membisu sepetinya takut berucap dengan masalah internal seperti ini.
Seperti pada sebelum-sebelumnya, Candini sangat kecewa dengan kedua putranya sendiri yang seharusnya lebih memihak Dalsa adik kandung mereka sendiri dari pada membekas Revalina dan keluarganya yang notabenenya hanya orang lain.
"Ma, ini nggak bisa disamakan sama perihal membahagiakan Mama. Setiap anak nggak ada yang nggak mau membahagiakan Mamanya, tapi untuk kesalahan fatal yang Dalsa lakukan sekali lagi aku katakan nggak bisa disama ratakan," sahut Rival dengan tutur kata sopan.
Namun sesopan apapun tutur katanya tetap sama saja bagi Candini, karena yang ia dengar hanya yang sepaham dengannya.
"Benar kata Rival Ma, itu nggak bisa disama ratakan. Sekarang kalau aku sama Rival ubah keterangan BAP terus Dalsa bebas memangnya itu yang terbaik untuk dia, apa nggak kalah semakin brutal anak itu. Mengakui kesalahannya saja nggak mau apalagi meminta maaf sama keluarga Revalina," sambung Yakub setuju dengan ucapan Rival.
"Revalina, Revalina, Revalina terus yang kalian pikirkan. Apa kalian nggak berpikir kenapa Dalsa bisa melakukan itu, Rajani yang mulai semuanya tapi Reva dan keluarganya menutupi kesalahan Rajani pada Dalsa," ucap Candini berusaha mengenakkan keadilan untuk putri bungsunya.
Ia terus berusaha meski sampai detik ini kedua putranya terlihat sangat susah ditembus hatinya, berbeda dengan Sarah yang selalu merespon baik setiap kalimatnya tapi tetap sama saja tak ada aksi untuk membuat Dalsa bebas.
"Permasalahan Dalsa sama almarhum Rajani itu cuma persoalan sepele, bahkan sepetinya Rajani nggak tahu kalau Dalsa menganggap itu sebagai masalah. Memang Dalsanya saja yang gila," saut Rival memaparkan pendapatnya.
Candini kembali menggelengkan kepalanya, kini kepala rasanya seperti tertimpa beban yang sangat berat hingga membuatnya sangat pusing.
"Ma, Mama mau istirahat dulu?" tanya Sarah sigap merangkul Candini.
"Mama kecewa sama kalian berdua bukanya cari cara untuk membebaskan malah cari celah kesalahan adik sendiri," ujar Candini menatap kedua putranya di sela-sela rasa sakit di kepalanya yang semakin menusuk.
__ADS_1
Tiba-tiba pandangan Candini kembali kabur.
Bersambung