
"Apa lagi?" tanya Yakub.
"Aku ikut," pinta Rival.
Akhirnya mereka pergi bersama mencari Candini di rumah kerabatnya.
Revalina dan Sarah masih berdiri di teras rumah memandangi mobil Yakub yang perlahan menghilang dari pandangan matanya.
"Tumben Kak Yakub sama Mas Rival sampai mau jemput Mama di rumah saudaranya?" tanya Revalina keheranan.
Mulut Sarah mengecap disusul hembusan nafas berat lalu perlahan netranya melirik ke arah Revalina yang berdiri disampingnya.
"Aku rasa mereka sudah mulai resah sama Mama yang sering pulang malam dan jarang di rumah," jawab Sarah.
********
POV Dalsa.
Di kamar Kos Dalsa kembali dibuat bingung dengan Candini yang kembali mengunjunginya, membelikan banyak makanan dan baju ganti.
"Mama, katanya nggak mau sering-sering besuk Dalsa. Ini kenapa setiap hari Mama besuk?" tanya Dalsa lirih, takut.
Tiba-tiba wajah ceria Candini berubah jadi masam, makin lama keningnya semakin mengerut tajam serta bibir yang mulai bergetar.
"Kenapa kamu tanya begitu, memangnya Mama nggak boleh besuk kamu lagi?" tanya Candini sedih.
Mendengar pertanyaan Candini, ia mendadak gusar apalagi melihat kedua mata Mama kandungnya ini sudah mulai berkaca-kaca. Jelas sekali dia sedang syok dan sedih.
"Bukan begitu maksud ku Ma, aku cuma takut saja kalau Reva curiga Mama selalu pergi dari rumah terus pulang malam pula," jawab Dalsa menjelaskan dengan sejelas-jelasnya.
"Nggak akan, semua orang di rumah percaya kalau Mama sering pergi ke rumah kerabat kita jadi aman. Kamu tenang saja," ucap Candini.
"Syukurlah kalau begitu," sahut Dalsa sembari menghembuskan nafas lega.
Ia lega mendengar ucapan Candini namun menyandang status sebagai buronan tentu membuat dirinya selalu kepikiran dengan hal sekecil apapun, salah langkah sekali saja bisa membuat dirinya terjerumus ke dalam sel tahanan.
"Sudah, makan dulu. Kamu pasti belum makan," ucap Candini kembali tersenyum ceria.
Dengan cepat Candini mulai membuka satu persatu box dengan isian berbagai menu, dia begitu memanjakan Dalsa dua kali lipat dari biasanya.
Melihat perhatian Candini yang begitu besar justru membuat Dalsa bersedih, pasalnya ia merasa bahwa perhatian ini tak akan bisa berlangsung lama mengingat posisinya saat ini yang sudah seperti berada di pinggir jurang. Dia merasa ketakutan dan hidup dalam kecemasan.
"Ma, gimana kalau cepat atau lambat aku tertangkap?" tanya Dalsa ketakutan.
Seketika raut wajah Candini mendadak kaku dan tegang ketika mendengar pertanyaan Dalsa, netranya terus memandangi seluruh lekuk pada wajah anak bungsu ini.
"Jangan pernah bilang begitu, kamu nggak akan pernah tertangkap kalau sampai itu terjadi aku akan suruh Rival pisah sama Revalina," jawab Candini dengan tegas.
"Setiap hari aku susah tidur memikirkan masalah ini Ma, aku takut dipenjara tapi aku juga nggak mau terus-menerus hidup seperti ini aku juga mau bebas kemana saja," rengek Dalsa.
Perlahan tangan Candini mulai menggenggam kedua tangan Dalsa, mengusap punggung tangannya dengan sentuhan lembut.
"Percaya sama Mama, kamu nggak akan tertangkap. Nggak ada yang nggak mungkin," ujar Candini memberi kekuatan pada Dalsa.
Dalsa langsung menganggukkan kepalanya, hanya sebatas itu sementara dalam hati terus bergemuruh akan ketakutannya.
********
POV Rival
Masih dalam perjalanan ke rumah Cindy, Adik Candini satu-satunya kerabat Candini yang ada di kota ini. Sembari menuju ke rumah tantenya itu, Rival coba menghubungi.
__ADS_1
"Kenapa nggak dari tadi aku hubungi Tante Cindy, kalau ternyata masih ada acara kan kita yang malu nggak datang dari pagi tadi," gumam Rival sembari menunggu Cindy mengangkat telfonnya.
"Hubungi saja dulu, belum tentu Mama ada di rumah Tante Cindy," sahut Yakub sembari melirik Rival.
Mendengar sahutan sang Kakak, reflek kedua mata Rival menoleh keheranan ke arahnya. Justru semakin tak paham dengan jalan pikiran Yakub sekarang.
"Orang tadi pagi pamit mau ke acara syukuran Tante Cindy, nggak ada acara saja Mama bisa sampai malam pulangnya apalagi kalau ada acara begini pasti masih bantu-bantu beberes sekarang," jelas Rival tak ingin Yakub berpikir macam-macam tentang Candini.
"Kita lihat saja nanti," ucap Yakub dengan raut wajah gusar.
Rival semakin bingung dengan kepanikan Yakub sejak tadi tentang Candini, tak bisa dipungkiri memang seorang anak pertama kepeduliannya memang tinggi tapi entah kali ini terasa berbeda seperti ada ketakutan yang tengah menghantui Yakub sekarang ini.
'Sumpah sejak tadi dia terus saja panik, padahal ini belum seberapa malam ketimbang kemarin-kemarin. Orang Mama juga pergi ke rumah saudara nggak kemana-mana,' ucap Rival dalam hati.
Cindy tak kunjung mengangkat telfon, sampai keduanya kini tiba di rumahnya. Terlihat dari halaman rumah yang luas itu tak terlihat adanya mobil Candini melainkan hanya ada mobil-mobil milik keluarga Cindy saja.
"Sepetinya Mama sudah pulang Kak," ucap Rival tetap berpikir positif ketika tak mendapati mobil Candini di sana.
"Aku mau turun," ucap Yakub cepat-cepat melepaskan seatbelt yang melingkar di tubuhnya bergegas keluar dari mobil.
"Kak," panggil Rival dengan kedua mata terbelalak.
Ia terkejut dengan Yakub yang seperti tak bisa menahan emosinya, tanpa pikir panjang turun dari mobil padahal sudah jelas-jelas Candini tak ada di sana.
Tak ingin Yakub berbicara di luar batas, dengan cepat Rival membuka kaca mobil mengeluarkan kepalanya dari celah kaca yang terbuka itu.
"Kak, aku juga mau turun," teriak Rival.
"Hih, kenapa nggak bilang dari tadi," gerutu Yakub berbalik badan lalu bergegas kembali.
Dengan kondisi yang masih emosi Yakub masih begitu telaten dan sabar membantu Rival keluar dari mobil laku berpindah ke kursi roda.
"Harus jaga bicara pas ketemu Tante Cindy nanti," ucap Rival mulai mengingatkan Yakub.
Yakub mulai mendorong kursi roda Rival dengan begitu cepat, entah dia tengah tak sabar bertemu dengan Cindy atau Candini yang jelas-jelas tidak ada di sana.
Tibalah mereka di depan pintu utama rumah Cindy.
Tok tok tok tok tok.
Tangan kanan Yakub mulai mengetuk pintu kayu itu dengan keras, berulangkali sampai di pemilik rumah itu keluar.
Klek klek.
Terdengar suara putaran kunci pintu dari dalam, pertanda pintu itu akan segera terbuka.
Terlihat Cindy dengan pakaian tidur menatap bingung ke arah keduanya.
"Assalamualaikum," ucap salam Yakub dan Rival mencium punggung tangan wanita paruh baya itu.
"Waalaikumsalam," jawab salam Cindy.
"Akhirnya kalian main juga ke rumah Tante, Ayuk silahkan masuk," ucap Cindy tersenyum bahagia melihat kedatangan dua keponakannya.
Tak bisa dipungkiri ketika umur semakin tua akan semakin susah bertemu, tapi agaknya tidak bagi Candini dan Cindy yang selalu bertemu akhir-akhir ini.
"Terimakasih Tan, tapi kita kesini mau tanya Mama kita ada di sini atau enggak ya," ujar Yakub dengan senyum ramahnya.
"Mama kalian," ucap Cindy kebingungan.
Cindy melongo sembari menatap Rival dan Yakub secara bergantian dan berulang-ulang.
__ADS_1
"Iya Mama kita Tan, Mama Candini," sahut Rival memperjelas ucapan Yakub.
"Mama kalian nggak kesini sama sekali, aku kaget loh ini," jawab Cindy sembari memegang dadanya.
Agaknya jantung Cindy mulai berdegup kencang, terkejut sekaligus bingung dengan apa yang tengah dicari Rival dan Yakub.
Sementara itu Rival tak kalah shocknya mendengar jawaban Cindy, sebab dengan jelas tadi pagi ia dengar Candini pamit padanya untuk ke rumah Cindy.
"Lah tadi pagi-pagi buta Mama pamit pergi ke rumah Tante katanya ada acara syukuran dan sampai sekarang itu Mama belum pulang Tan," ujar Rival sembari mengerutkan keningnya.
Seketika Cindy makin bingung dengan ucapan Rival, perlahan kepalanya mulai menggeleng dengan wajah pucat pasi
"Nggak ada, Mama kalian nggak kesini hari ini bahkan tak pernah kesini semenjak kamu menikah," ucap Cindy sembari menunjuk Rival.
Sontak kedua mata Rival terbelalak mendengar hal ini, tanpa harus berpikir panjang ia sangat percaya dengan ucapan Cindy.
"Lah, terus Mama kemana," ucap Yakub bertanya-tanya.
"Aku juga nggak tahu Yakub, syukuran saja aku enggak bisa-bisanya Candini bohongi kalian. Lebih baik kalian cepat lapor polisi aku takut ada apa-apa sama Mama kalian," ucap Cindy.
Setelah mendapatkan jawaban dari Cindy, Rival dan Yakub bergegas mencari Candini dengan berkeliling mengunakan mobil sebab untuk langsung membuat laporan hilang harus menunggu 1x24 jam terlalu lama bagi mereka yang sudah terlanjur panik setengah mati.
"Mama kemana Ma," rengek Yakub dengan kedua mata berkaca-kaca.
Sementara itu Rival masih terdiam memandangi sekeliling jalanan kota, pinggir-pinggir trotoar yang ada di sana berharap langsung menemukan sang Mama.
'Aku masih nggak nyangka, Mama bisa bohongi semua orang di rumah. Untuk apa Mama bohong padahal aku nggak keberatan kalau Mama mau main sama teman-temannya atau shopping sekalipun,' ucap Rival dalam hati.
"Kenapa dari awal kita nggak curiga kalau Mama itu lagi bohong, seminggu terakhir Mama selalu pulang malam tak pernah Mama seperti itu. Ini salah kita sebagai anak yang nggak bisa jaga Mama," gerutu Yakub sepanjang jalan.
"Sudahlah jangan marah-marah terus, aku coba hubungi Reva siapa tahu Mama sudah pulang," sahut Rival pusing mendengar gerutuan Yakub yang tiada habisnya.
Rival mulai menghubungi Revalina, hanya menunggu beberapa detik saja Revalina langsung mengangkat telfon darinya.
Rival: Hallo, assalamualaikum.
Revalina: waalaikumsalam.
Rival: Mama sudah pulang?.
Revalina: belum Mas, ini aku masih menunggu sama Mbak Sarah.
Rival: ya sudah kalau Mama pulang langsung hubungi aku ya.
Revalina: iya Mas.
Rival: assalamualaikum.
Revalina: waalaikumsalam.
Rival pun langsung menutup telfonnya dan langsung beralih menatap Yakub.
"Gimana, belum pulang?" tanya Yakub menebak sendok jawaban Revalina.
"Belum," jawab Rival lemas.
"Ya Tuhan aku harus bagaimana, sudah malam begini Mama belum pulang juga kemana sebenarnya," keluh Yakub.
Mereka terus berkeliling di tengah kota, hingga tanpa sadar kini mereka sudah berada di pinggir kota. Saat itu juga Rival jadi teringat dengan ucapan Rafa saat itu yang mengatakan bahwa dia pernah melihat Candini membawa banyak belanjaan di pinggir kota.
Kepala rasanya mau pecah memikirkan hal ini, jika apa yang di katakan Rafa saat itu benar artinya dirinya sudah sangat berdosa telah mencurigainya sejak awal.
__ADS_1
"Kak, apa jangan-jangan ada yang Mama sembunyikan di daerah ini," ucap Rival melirik Yakub.
Bersambung