Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Ingin Adik


__ADS_3

Beberapa tahun telah berlalau, anak- anak sudah tumbuh semakin besar. Mereka mengenakan seragam setingkat SMP. mereka sekolah di Islam Terpadu, dimana sekolah lebih memprioritaskan ajaran agama.


Cazim telah membuka hatinya untuk Diatma. Dia beberapa kali menjenguk papanya itu bersama dengan anak dan istrinya. Hatinya sudah mencair, memaafkan papanya. Ia juga membawa Diatma dan Rebecca menemui Yunus. Keluarga besar itu berfoto bersama. Termasuk cucu mereka, semua wajah di foto itu tersenyum gembira. 


Kebahagiaan terbesar bagi Yunus bisa bertemu dengan besannya yang ternyata bukan sembarang besan. Diatma berasal dari kalangan kelas atas. Namun tetap bersahaja dan ramah.


Setelah pertemuan keluarga itu, Cazim dan Chesy membawa anak-anaknya kembali ke rumah. Sekarang ketiga anaknya tidur di kamar sendiri- sendiri. 


"Chesy, apakah menurutmu anak- anak tidak perlu dibikinkan adik?" Cazim melempar bantal ke kasur. Ia sudah berada di kamar, lelah setelah perjalanan lumayan jauh dari rumah Yunus.


Chesy membelalak. Dibikinin adik? Pertanyaan konyol.


"Tuhan udah kasih tiga anak lelaki dan perempuan, komplit sekali jalan. Jadi kupikir nggak perlu dibikinin dedek. Lagi pula kamu juga udah selalu usaha bikin tiap malam, tapi gk berhasil."


"Hei, jangan sebut aku tidak berhasil, tapi memang kamu yang selalu minum pil kontrasepsi untuk menghalangi tumbuhnya penerus berikutnya." Cazim menyusul Chesy ke atas kasur, menelungkup dengan kepala mendongak menghadap Chesy yang berbaring menelentang. 


Chesy menatap wajah tampan di atasnya. Menatap betapa tajam mata sang suami, wajah tegas dan galak. Namun sekeras- kerasnya sosok Cazim, ternyata ada sisi kebaikan yang tak bisa dijabarkan dengan kata- kata, dia selalu mengutamakan keluarga, mengutamakan istri dan anak, dia juga menjadikan Chesy sebagai prioritas, selalu menuruti apa pun yang menjadi keputusan dan kemauan Chesy. Padahal casingnya Cazim itu sangar dan galak, tapi siapa sangka pria itu memiliki kelebihan yang tak dimiliki suami lain.


Chesy membingkai wajah suaminya dengan telapak tangannya. 


"Aku nggak pernah menolak untuk memiliki anak lagi, aku suka dengan keramaian anak-anak, aku suka dengan anugerah berupa titipan anak, tapi dokter bilang akan ada resiko besar jika aku hamil lagi dikarenakan ada masalah dengan kondisi kandunganku. Dokter menyarankan supaya aku nggak hamil lagi, nyawaku taruhannya. Begitu katanya," ucap Chesy sambil menatap mata indah suaminya di jarak sangat dekat. Posisi itu membuatnya merasa seperti jatuh cinta kembali. Jantung deg- degan, hati pun berbunga.

__ADS_1


Dahi Cazim mengernyit. "Aku bisa pahami itu. Jika memang resiko besar yang harus kau hadapi, aku merasa cukup dengan tiga putra pitri kita." Cazim meletakkan pipinya ke dada Chesy. Enak sekali dia nyandar begitu. "Mereka itu sangat lucu. Memyenangkan. Mereka sudah cukup melengkapi kebahagiaan kita."


Kepala Cazim bergerak naik turun seiring dengan tarikan napas Chesy. 


Chesy mengelus rambut suaminya. 


"Sewaktu pertama kali memergokimu seperti preman, kukira kamu tuh orangnya sangar dan jahat. Tapi ternyata setelah mengenalmu begini, aku menemukan sisi lain dalam hidupmu, aku bahagia banget punya suami kayak kamu."


Cazim tersenyum. "Ngomong- ngomong, yang di bawah sana meronta. Posisi ini membuatku jadi ingin." Cazim mengangkat kepala, dengan cepat menyambar bibir istrinya.


Kehangatan pun dimulai, Chesy merasa tertantang membuka pakaian untuk suaminya. Ini adalah kehangatan yang selalu tercipta di setiap kebersamaan. Namun kali ini terasa berbeda. Cazim lebih banyak pasif, membiarkan Chesy aktif dan menantang. 


"Umiiii...." 


"Suara Revalina." Chesy berhenti. 


"Bukannya dia sudah tidur tadi?" Cazim mendadak frustasi, gantung alias belum kelar.


"Mungkin terjaga."


"Umi, remot Ac di kamar Revalina mana?" seru Revalina yang sudah berada di depan pintu kamar.

__ADS_1


Cazim tak mau kalah dengan keadaan, ia membalikkan situasi dan memilih untuk aktif, menyelesaikan kegiatannya dengan kilat.


"Umi, cepetan. Keburu ngantuk ini. Kamar panas, nggak bisa ngatur suhu!" imbuh Revalina berteriak.


Cazim menghambur ke kamar mandi usai menyelesaikan pekerjaannya yang kilat itu. Chesy memakai baju, membuka pintu. 


"Bantu cari remot ya, Umi!" ucap Revalina, tersenyum manis membuat Chesy tak sanggup bila harus merasa kesal. 


"Iya, Umi bantu ya. Revalina masuk kamar aja lagi. Umi yang cariin remotnya." Chesy menggandeng tangan Revalina memasuki kamar. Membimbing bocah itu tidur ke kasur, lalu Chesy mencari remot di sekitaran kamar. Setelah mendapatkan remot, ia pun mengatur suhu supaya agak dingin. 


Chesy mendaratkan di kening Revalina sambil membenahi selimut.  Kemudian keluar kamar.  Cazim menunggu di pintu.


“Sudah tidur?” bisik Cazim.


Chesy mengangguk.  Ia meraih handle pintu, namun tidak langsung menutupnya.  Pandangannya tertuju pada Revalina yang terpejam pulas.


“Dia sudah tumbuh semakin besar,” lirih Chesy dengan senyum manis.


“Aku menunggunya tumbuh dan menjadi sepertimu.”  Cazim menatap ke arah yang sama, pada bocah yang pula situ.  Tangannya meraih pundak istrinya, mengelus singkat pundak itu dengan jempol, lalu mengecup singkat pucuk kerudung istrinya.


***

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2