
“Badan Revalina jadi jatoh gara-gara Rafa, sakit tauk!” Revalina protes.
“Salah kamu!” sulut Rafa.
“Laki-laki nggak mau ngalah. Maunya kamu belakangan, jangan apa-apa di duluan terus!” hardik Revalina tak mau kalah. Dia memang selalu ingin yang terdepan, paling marah jika ada yang mendahuluinya, meski pun itu hanya urusan simpel seperti tadi.
“Diam! Rame mulu mulutmu!” Rafa mencubit lengan Revalina.
Dibalas dengan pukulan keras ke paha Rafa.
“Stop! Ayolah anak-anak manis, jangan berantem terus, dong!” pinta Chesy dengan lembut, namun seperti biasa, perkataannya tidak digubris.
Revalina dan Rafa masih terus bertengkar. Saling pukul dan saling tuduh.
“Ya Tuhan, kalia itu saudara kembar loh, jangan saling menyakiti. Allah nggak suka sama orang yang jahat. Menyakiti saudara sama saja berbuat jahat,” sambung Chesy, sayangnya suaranya kalah keras oleh suara keributan Rafa dan Revalina.
“Stop! Stop! Berhenti berantemnya!” teriak Chesy, siungnya akhirnya keluar juga, mobil pun berhenti mendadak. Chesy menoleh menatap anak- anaknya yang langsung terdiam.
Wajah polos ketiga anak itu menatap ke arah Chesy.
“Sudah berapa kali umi bilang? Jangan berantem terus. Berdosa loh saling menyakiti begitu,” tegur Chesy dengan kalem. Padahal ubun- ubunnya panas sekali. Memiliki tiga anak kembar benar-benar telah menguji kesabarannya.
“Rafa nih jahat, masak mau duluan terus,” celetuk Revalina menyenggol lengan Rafa dengan pundaknya.
“Revalina tuh yang nyolot terus, apa salahnya menyusul. Maunya Revalina juga duluan terus.”
“Rafa kan laki-laki.”
“Nggak harus perempuan yang mesti duluan.”
__ADS_1
“Stop! Stop! Kok berantem lagi sih?” Suara Chesy kali ini melengking keras.
Rafa dan Revalina pun membungkam, serasa mendengar suara geledek. Mereka belum tahu siapa uminya, kalau menjerit bisa bikin rumah roboh. Bahkan mentungin maling pun berani. Dan sialnya, sikap itu menurun pada Revalina.
“Bisakah kalian berdamai?” tanya Chesy setelah menarik napas berusaha menenangkan diri.
Semuanya diam.
“Baik, kalau nggak ada yang mau berdamai, maka kalian nggak akan mendapat uang jajan besok,” kesal Chesy.
Revalina dan Rafa bertukar pandang.
“Revalina minta maaf,” ucap si cantik dengan muka masam.
“Rafa juga minta maaf.” Rafa menyambut uluran tangan Revalina.
“Bagus! Hidup ini harus berdamai. Manusia yang suka pada pertengkaran, kebencian dan kemarahan adalah temannya setan. Apakah kalian mau berteman dengan setan dan iblis?”
“Bagus!” Chesy mengangguk. Ia kembali menjalankan mobil.
“Makanya, jangan menang sendiri!” bisik Revalina dengan sorot mata tajam, namun bola kelereng di matanya itu malah lucu.
“Dih, melotot gitu malah kayak dukun,” sahut Rafa yang juga berbisik.
“Lebih bagus dukun dari pada monyet. Rafa kayak monyet.”
“Revalina kok ngatain Rafa kayak binatang?” Suara Rafa kelepasan, agak keras.
“Rafa duluan yang ngatain Revalina.”
__ADS_1
“Berisik. Jauh sana!” Rafa mendorong revalina.
“Rafa yang jauh sana.”
Mereka saling dorong. Rajani yang sejak tadi diam pun menjadi korban, badannya penyet terdorong oleh punggung Revalina yang mendapat dorongan Rafa.
“Aduuuh. Sakit! Minggir!” Rajani protes.
“Jangan dorong-dorong!” Revalina menjerit.
“Sukurin!” Rafa tak mau kalah.
“Rafa jahat!”
“Revalina pun sama jahatnya.”
Ya Tuhan! Chesy tidak tahu harus berbuat apa lagi. Ia pun pasrah menikmati pertengkaran yang membuat suasana mobil menjadi semakin kacau. Boneka terbang menghantam dashboard, kursi diketokin, dan masih banyak drama lainnya.
Sudahlah, Chesy membiarkan saja. ia akan semakin frustasi jika menanggapinya.
Setiap hari inilah yang ia hadapi. Jangan tanya persoalan stress, tentu sangat stress. Mengurus tiga anak kecil kembar benar-benar menguras tenaganya. Chesy lelah berteriak dan bicara banyak untuk mengajarkan mereka bagaimana harus bersikap baik pada saudara kembar, namun semua itu tidak nyantol di kuping anak- anaknya. Mereka tetap saja seperti tikus dan kucing, kejar-kejaran, berlarian, berantem, saling tendang, saling ejek dan bahkan berakhir dengan tangisan.
Apa lagi mengingat saat mereka masih bayi. Chesy harus mengurus tiga bayi sekaligus. Hampir setiap malam ia tidak bisa tertidur pulas. Waktunya habis tersita untuk menyusui tiga bayi kembarnya, bergantian.
Untungnya, Chesy memiliki hormon yang berbeda dari kaum wanita biasanya. Produksi susunya membanjir hingga ia tidak kekurangan dalam urusan menyusui tiga bayinya. Tapi soal lelah dan depresi, jangan ditanya. Lelah fisik, lelah pikiran, juga tak ada waktu untuk beristirahat. Dia mampu mengurus tiga bayinya tanpa bantuan siapa pun. Semuanya dia lakukan sendirian.
***
Bersambung
__ADS_1
Super sekali ya Chesy. Siapa bunda² di sini yang seperti Chesy, semua serba sendiri tanpa bantuan suami?