Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Terkejut


__ADS_3

"Apa sejak tadi malam dia nggak sadarkan diri?" tanya Chesy.


"Sering mengigau. Entah sadar atau tidak. Dokter tadi malam langsung kemari membawa semua perlengkapan yang dibutuhkan. Kondisinya kritis. Tapi sudah diberikan penanganan yang terbaik."


"Jika terjadi sesuatu yang buruk pada Mas Cazim, maka aku adalah orang pertama yang telah menjadi penyebabnya."


"Semua sudah terjadi. Kita hanya bisa berharap Bang Cazim baik baik saja."


"Aku pergi. Aku titip dia. Kalau ada apa- apa tolong cepat kabari aku!"


"Ya."


Chesy meninggalkan rumah itu.


Tidak ada lagi hal apa pun yang menyumpal di kepala Chesy kecuali tentang Cazim. Bahkan saat ia sudah berada di kantor sekolah pun ia kepikiran Cazim.


Mengingat kondisi Cazim yang kritis dan memprihatinkan, bahkan sampai harus dipasang peralatan medis lengkap, membuat Chesy semakin resah. Bekerja pun tidak bisa konsentrasi.


Bukan hanya hari itu saja, hari demi hari dia habiskan dengan cemas mengingat Cazim yang juga masih dalam kondisi kritis.

__ADS_1


Sudah tiga hari kondisi Cazim tidak ada perubahan. Pria itu masih terbaring tak sadarkan diri. Setiap pagi dan sore Chesy menjenguk Cazim. Setelah menjenguk Cazim di kontrakan, barulah ia pulang ke rumah.


Setiap kali Yunus menanyakan keberadaan Cazim, Chesy selalu bilang bahwa Cazim ada pekerjaan dan tidak pulang.


Malam itu, Chesy tidak bisa tidur. Kepikiran Cazim. Kenapa pria itu tak juga sembuh? Minimal kondisinya makin membaik. Tapi ini tidak ada tanda tanda akan membaik.


Chesy akhirnya memutuskan untuk menyambar kunci motor dan menghambur keluar.


"Mau kemana, Chesy?" tanya Yunus yang berpapasan di ruang tamu.


"Mau lihat rumah kontrakannya Mas Cazim. Kalau kotor biar diberesin," ucap Chesy.


"Orangnya kan lagi pergi sama Mas Cazim."


"Oh." Yunus mengangguk dan tersenyum. "Kamu percaya kan sama suamimu meski dia pergi dan tidak pulang?"


"Percaya aja, Abi."


"Abi takutnya kami curiga karena dia bekerja dan tidak pulang malam hari, dia menginap dan pikiranmu jadi tidak tenang. Kamu percaya saja sama dia ya."

__ADS_1


Chesy mengangguk.


"Oh ya, kenapa tidak besok saja kamu beresin rumah kontrakan itu? Ini kan sudah malam. Besok pagi sebelum berangkat kerja, kamu bisa beresin rumahnya."


"Takutnya besok pagi Mas Cazim pulang. Biar kalau pulang dan mampir ke kontrakan, matanya sedep lihat rumah nggak berantakan."


Yunus tersenyum. "Makasih ya akhirnya kamu mau menerima Cazim. Abi senang melihatmu begini."


Chesy hanya memutar mata, kemudian beranjak pergi setelah mengucap salam.


Chesy kali ini berjalan saja hingga sampai ke rumah kontrakan Cazim.


Keresahan dan kecemasan membuatnya tak bisa menunda hari esk untuk dapat melihat keadaan Cazim. Lagi pula ada sesuatu yang aneh bersemayam di benaknya, yaitu rasa ingin bertemu dan melihat wajah tampan yang menyebalkan itu. Aneh, kenapa ia merasa ingin bertemu begini?


Ia juga berkeinginan akan menginap di kontrakan Cazim saja. Ayahnya pasti tidak akan banyak tanya kalau ia menginap di kontrakan itu. Namanya juga hunian suami, tentu jika ia tidur di rumah tempat tinggal suaminya tidak akan menjadi pertanyaan bagi Yunus.


Langkahnya lebar hingga kini sudah berdiri di depan pintu kamar Cazim yang setengah terbuka. Pemandangan di depan mata membuatnya memaku di tempat.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2