Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Pesta Pernikahan


__ADS_3

"Eemmm," gumamnya ragu.


Tatapan Rival kini seakan menodong Revalina untuk menjawab, dia terus menunggu sebuah jawaban keluar dari mulutnya.


"Kita baru beberapa jam menikah," ujar Revalina, enggan menjawab pasti pertanyaan sang suami.


"Memang kalau baru beberapa jam kamu belum merasakan apa-apa?" tanya Rival kembali dengan senyum di kedua sudut bibir yang perlahan turun.


Revalina terdiam kaku, menunduk menatap muka putihnya. Memainkan jari-jari dibalik mukena sambil berbisik di dalam hati. 'aku harus jawab apa.'


"Sudahlah lupakan, aku keluar dulu cek persiapan pesta kita. Kamu istirahat tapi jangan tidur ini sudah sore," ucap Rival perlahan beranjak dari duduknya, meraih sajadah lalu berjalan menuju ke ujung ruangan.


Tak disangka Rival meletakkan sajadah itu ke posisi semula. Sementara itu Revalina hanya bisa menggeleng pelan melihat perbedaan Rival dengan laki-laki lain.


'Dia memang orangnya rapi, nggak kayak aku,' gumam Revalina mengalihkan pandang ke arah sajadahnya.


***


Setelah beberapa jam ditinggal lalu kembali untuk melaksanakan sholat bersama dan kembali lagi ditinggal, akhirnya Rival kembali lagi ke kamar ketika ia tengah di dandani oleh para perias yang kini tengah menyerbu.


Dengan keadaan jilbab masih terbuka Rival datang, sontak membuat Revalina panik bukan main. Reflek tangannya meraih sesuatu yang bisa menutupi auratnya.


"Hihihi," kikih para perias lirih.


"Assalamualaikum," ucap Rival masuk ke dalam kamar.


"Waalaikumsalam," sahut semua serentak.


"Masih suka lupa kalau sudah menikah," ledek Rival tersenyum melirik Revalina dari kaca rias.


"Aku cuma mau ambil sepatu, tenang saja aku ganti baju di kamar Kak Yakub," ucap Rival sambil melenggang masuk, meraih sepatu yang tergeletak di ujung lantai kamar.


Revalina hanya terdiam dengan masih mempertahankan majalah untuk jadi penutup kepala.


"Assalamu'alaikum," salam Chesy melenggang masukkan ke dalam kamar Revalina.

__ADS_1


"Waalaikumsalam," jawab semua serentak.


Nampak Chesy telah selesai berdandan, bagaimana tidak dia tak ingin dandan heboh seperti seorang Ibu dari mempelai wanita pada umumnya. 


Melihat wajah kusut Chesy membuat Revalina ketakutan, lantas ia coba membuat suasana tak sekaku wajahnya.


"Cantik sekali Umi," puji Revalina melirik wajah kusut Uminya dari kaca rias.


"Masyaa Allah aamiin, tapi Umi kesini bukan mau bahas itu," sahut Chesy tersenyum beberapa detik lalu kembali ke wajah masamnya.


"Hemmehh," Revalina mulai menghembuskan nafas berat, sudah bisa ditebak Uminya akan membahas masalah apa.


"Lalu?" tanya Revalina sembari menaikkan sebelah alisnya.


Chesy melirik ke seluruh perias yang tengah menyerbu Revalina, mendadak diam seribu bahasa lalu memilih duduk di sofa kecil tepat di depan ranjang.


"Umi harap kamu nggak lupa kalau kamu sudah menikah Reva, kamu sudah besar pasti tahu apa semua batasan yang kamu jaga selama ini boleh kamu lakukan sekarang tapi hanya dengan Rival," ujar Chesy secara halus meski terbaca jelas arahnya kemana.


Tak bisa bohongi hati, Revalina terkejut mendengar teguran Chesy di depan para perias yang notabennya adalah orang luar tak sepantasnya mendengar pembicaraan ini. Mungkin bagi sebagian orang terdengar lucu, tapi tidak dengan dirinya yang menaruh dendam terhadap Rival.


"Kalau sudah tahu harusnya dari siang Rival nggak di luar kamar terus, dan harusnya tadi dia nggak mengungsi di kamar Yakub kan," bantah Chesy telak.


"Aku nggak usir dia Umi, dia sendiri yang bilang mau bantu urus acara pesta terus tadi juga dia sendiri yang mau ke kamar Kak Yakub," Revalina terus berusaha membela diri.


"Harusnya kamu itu peka, kalau suami lagi begitu kamu itu harus tahan dia suruh dekat-dekat denganmu jangan biarkan dia pergi. Masa begitu saja harus Umi ajari," tegur Chesy habis-habisan.


Mulut Revalina mendadak terkunci, ia tak mampu berkata-kata lagi. Akan percuma dan sia-sia jika ia terus membela diri sementara senyum para perias seolah membenarkan teguran Chesy sejak tadi.


Tak lama acara pesta pun di mulai, semua tamu undangan datang termasuk Akram. Sosok yang paling Revalina tunggu-tunggu kehadirannya dia nampak tengah berbaris bersama dengan barisan para alumni mahasiswa dan Dosen kampus berjalan menuju panggung singgasana, satu persatu teman Rival sudah berlalu dengan sambutan salam hangat darinya tanpa bersentuhan.


"Selamat Pak," ucap para Dosen menyalami Rival sambil menepuk bahunya.


"Terimakasih," sahut Rival dengan cerianya.


Tiba saatnya Akram menyalaminya, Revalina nampak mendekat dengan tangan yang siap menyambut tangan Akram.

__ADS_1


"Aku tak berhasil dapatkan kunci serep kamar Dalsa, kau harus sisipkan kamera itu beberapa menit lagi. Pantau pergerakan Dalsa," bisik Akram.


Revalina mengangguk sambil tersenyum manis.


"Terimakasih Akram atas doanya, terimakasih sudah datang. Silahkan nikmati hidangan, aku request es kul kul khusus buat kamu tuh," ucap Revalina dengan cerianya menutupi kecurigaan para keluarga yang rasanya sempat melirik dirinya tengah berbisik dengan Akram.


"Wih, gila. Aku harus ambil," ucap Akram dengan tatapan mata kelaparan.


Akram pun bergegas mengalami Rival dan keluarga, lalu bergegas menuju ke meja hidangan penutup.


Tak disangka Akram benar-benar kesana, mengambil es kul kul. Antara percaya dan tidak percaya sebab Revalina hanya mengarang sementara faktanya Akram suka mengeluh gigi ngilu karena makan es cream apalagi es kul kul begini.


Tapi hal itu tak membuat fokus Revalina berubah, sembari menyalami tamu, ia berulang-ulang melirik ke arah Dalsa yang sedang bercengkrama dengan kerabatnya tampak tawa lepas mengiringi alunan sholawat bersenandung lirih.


Dari pantauannya yang sudah berlangsung hampir 5 menit tak ada perubahan, namun tiba-tiba ia melihat Akram dengan membawa es kul kul di piring kecil berjalan mendekati Dalsa.


Tiba-tiba Akram menumpahkan semua es kul kul yang berbalut coklat itu ke gaun Dalsa.


"Ya Tuhan," teriak Dalsa kesal memandang gaun kotornya.


"Maaf-maaf, aku kesandung gaun mu tadi," ucap Akram dengan wajah panik memunguti es kul kul itu dari gaun Dalsa.


Jelas kepanikannya hanya sebuah settingan termasuk penyebab jatuhnya es itu karena jelas-jelas gaun Dalsa terhempas ke arah belakang bulan arah samping yang di gunakan orang-orang berlalu-lalang.


"Makanya kalau jalan itu hati-hati, sudah tahu bawa makanan. Apa kamu nggak tahu ini acara penting Kakak ku, gara-gara kamu jari rusak jadi kotor begini," gerutu Dalsa dengan nada bicara yang kian meninggi.


"Maaf, aku kan sudah minta maaf," sahut Akram dengan berani menatap Dalsa.


"Memang dasar temannya Revalina sukanya buat rusuh acara orang, sama persis seperti kelakuannya," gerutu Dalsa mencoba membersikan gaunnya dengan tisu yang diberikan kerabatnya.


"Kenapa itu Re?" tanya Rival mendekatkan wajahnya ke arah Revalina dengan maksud berbisik lirih sambil menyalami para tamu undangan.


"Gaunnya ketumpahan es kul kul," jawab Revalina dengan kening mengerut tajam.


Tiba-tiba Dalsa hengkang dari acara, menenteng bagian kotor pada gaunnya dengan kesal.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2