Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Kebingungan


__ADS_3

Chesy menyerahkan segelas kopi ke hadapan Fatih yang tengah duduk menyantap bakso.


"Ini kopi buat ayah."


Fatih mendongak dan menatap kopi dengan tatapan awas.


"Tenang ayah, ini kopinya pahit-pahit manis kok, bukan asin. Aku udah cicipin." Chesy tersenyum.


"Ayo makan! Ambil saja bakso di belakang. Tinggal racik sendiri saja sesuai selera. Kuah, bakso dan mie ada di dapur."


Mendapat tawaran itu, Chesy senang sekali. Fatih sudah mulai membuka sedikit pintu hatinya untuk menerima Chesy.


"Oke, aku ambil ke belakang sendiri." Chesy menghambur ke dapur, tak lama kemudian kembali membawa semangkuk berisi kuah dan bakso tanpa mie. 


Fatih terbengong melihat isi mangkuk Chesy yang membubung tinggi. Selain bakso raksasa, Chesy juga mengambil bakso kecil-kecil.


"Ini pasti enak banget ya, yah." Chesy menyantap bakso dengan lahap. Sebelumnya, ia tidak pernah berselera begini saat makan. Tapi kali ini ia mendamba bakso. Mungkin efek hamil muda.


Fatih mengangguk-anggukkan kepala melihat Chesy penuh semangat saat menyantap bakso buatannya.


"Berarti ayah bisa menyantap bakso setiap saat ya, sampai blenger pastinya tuh," ucap Chesy.


"Enggak juga. Ayah yang membuat produksi bakso ini malah nggak begitu berminat dengan bakso, soalnya sudah eneg sendiri mencium aromanya saat mentah," ucap Fatih. "Ini karena sedang gabut aja."


"He heee... Ayah gaul juga. Bisa pakai bahasa gabut." Dalam sekejap, makanan di mangkuk Chesy ludes. Ia pun heran kenapa sampai semangat begini makan bakso. "Mas Cazim sejak pagi tadi kemana ya, Yah? Aku nggak lihat dia. Setelah salat subuh tadi, aku langsung tidur lagi soalnya, jadi nggak tau Mas Cazim pergi kemana. Aku chat tapi nggak dibalas. Aku telepon tapi nggak dijawab. Apa mungkin hp nya disilent kali ya? Atau Mas Cazim tadi ada pamit sama ayah?"


Fatih menggeleng. "Mungkin dia menemui papanya."


"Kenapa dia nggak ngajakin aku?"

__ADS_1


"Mungkin dia merasa lebih nyaman menemui orang tuanya sendiri supaya bisa menyelesaikan masalahnya tanpa canggung saat ada kamu. Bisa jadi kan. Tapi entahlah."


Chesy senang sekali bisa mengobrol dengan baik bersama mertua angkatnya begini.


"Ayah! Ayah!" 


Suara dari luar membuat Chesy dan Fatih bertukar pandang.


"Siapa itu yang panggil-panggil ayah?" tanya Chesy.


"Itu suara Senja," jawab Fatih.


Perasaan Chesy mulai tidak nyaman. Wanita yang didambakan Fatih untuk menjadi menantu malah hadir disaat begini. Ini tidak tepat. Sangat tidak tepat. Padahal Chesy baru saja mendapatkan simpati mertuanya, tapi malah terganggu oleh kedatangan Senja. Ada apa lagi sih tuh cewek tengil?


Chesy menyusul Fatih menuju ke ruang tamu.


"Ada apa, Senja?" Fatih menyambut Senja yang nyelonong masuk seperti sudah sangat familiar dengan rumah itu. 


"Kabar apa? Ayo duduk dulu di sini. Kalau ngomong yang tenang toh Nduk, jangan panik begini." Fatih mempersilakan duduk, memperlakukan Senja seperti anak sendiri. 


"Om, ini darurat. Duh, aku bingung mau ngomongnya dari mana."


"Tarik napas dulu." Fatih menyarankan.


Chesy berdiri di balik pintu, mengintip dan nguping.


"Memangnya ada kabar buruk apa?" tanya Fatih.


"Anu itu... Anu, Om. Aduuuh... Lidah belibet banget." Senja manyun.

__ADS_1


"Kalau masih gugup, kamu ndak akan bisa ngomong. Ayo, tenangkan diri dulu."


Perhatian Fatih terhadap Senja memang besar. Dilihat dari sikap dan tutur katanya jelas kelihatan.


"Mm... Chesy ada di sini kan, Om? Dia tinggal sama om kan?" tanya Senja.


"Iya. Kamu kenal sama Chesy?"


"Iya, Om. Aku mau ngomong sama dia."


"Biar Om panggil dulu." 


"Nggak usah, Om." Chesy sudah lebih dulu muncul sebelum Fatih bangkit. Ia yang sejak tadi ngumpet di belakang pintu tentu lebih cepat muncul. "Ada apa Senja?" 


Perasaan Chesy tidak enak.


"Mm... Anu itu... Cazim."


"Cazim kenapa?" 


"Cazim ditangkap."


Chesy membelalak kaget. "Ditangkap gimana maksudnya?"


"Aku tadi kebetulan satu restoran sama dia. Terus tiba-tiba polisi datang dan menangkapnya."


Bagai disambar petir, Chesy membeku di tempat. Sebenarnya ia sudah mempersiapkan mental dengan keadaan itu, sebab ia tahu suatu saat kejadian itu pasti akan terjadi. Tapi ternyata mental yang ia siapkan tidak tepat. Tetap saja ia syok saat mendengarnya. 


"Loh, kok bisa? Polisi ditangkap polisi?" Fatih kebingungan. Selama ini, yang dia tahu adalah Cazim sosok yang berjasa untuk negeri ini. 

__ADS_1


***


Bersambung


__ADS_2