Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Kemarahan Rival


__ADS_3

Chesy kembali memeluk Revalina dengan sangat erat, ia seperti seorang ibu yang akan kehilangan anak meski pada kenyataannya dia hanya kehilangan untuk sementara waktu, bertemu pun masih sangat leluasa. 


"Umi jaga diri baik-baik, nanti Reva bakal sering-sering kesini juga," ucap Revalina pada Chesy menatap sedih.


"Iya Nak, kamu juga jaga diri baik-baik," sahut Chesy kembali mengusap pipi Revalina dengan tangan lembutnya.


Beberapa jam kemudian mereka selesai berkemas, semua barang yang ia bawa terkemas dalam koper berukuran sedang. Ia sengaja tak membawa banyak, sebab merasa ia tak selamanya berada di rumah mertuanya. Semoga ini akan menjadi jalan terbaik untuknya bisa dekat dengan Rival. Juga memperbaiki hubungannya dengan sang suami.


"Jaga diri baik-baik, titip salam buat Candini," ucap Chesy mengantarkan Revalina sampai ke depan rumah.


"Ya, Umi. Doain Revalina ya, Umi."


"Tentu, Nak."


Di depan Rafa sudah sigap memasukkan koper Revalina ke dalam bagasi, juga telah memanaskan mobilnya.


"Siap Umi," sahut Revalina sambil tersenyum manis ke arahnya.


"Assalamualaikum," ucap salam Revalina mencium punggung tangan Chesy.


"Waalaikumsalam," jawab salam Chesy membalas ciuman itu dengan mengecup kening si putri bungsunya.


Setelah berpamitan mereka pun bergegas menuju ke rumah Candini, lagi-lagi Rafa berperan sebagai perwakilan keluarga untuknya.


Ditengah rasa malu Chesy akan kesalahan yang sudah ia perbuat kemarin, Rafa justru masih berdiri tegap, siap dengan apa yang akan terjadi di depan sana seolah sudah tercipta menjadi tameng untuknya.


Selama dalam perjalanan tak sekalipun Revalina tak mengagumi Kakaknya sendiri, dia begitu baik bahkan sangat amat baik.


"Kak, terimakasih ya sudah mau antar Reva ke rumah Mama Candini," ucap Revalina pada Rafa.


Rafa justru terkejut melirik Revalina berulang kali sambil harus terus fokus mengemudikan mobil.


"Seperti dengan siapa saja kamu ini Reva," sahut Rafa menatap bingung.


Revalina masih terpaku menatap Rafa, bertahun-tahun lamanya baru kali ini ia menatap Kakak sendiri seperti ini dan baru kali ini juga ia coba memahami kebaikan-kebaikan yang sudah Rafa lakukan dalam hidup untuk adiknya ini.


"Aku baru sadar kalau Kakak itu seorang Kakak yang penyayang, dan aku baru sadar kalau di luaran sana banyak seorang Kakak yang acuh ketika Adiknya tertimpa musibah. Aku bersyukur sekali memiliki Kakak seperti mu," ucap Revalina dengan kedua mata berkaca-kaca tanpa ia sadari.


Rafa kembali terkejut melirik Revalina berulang kali, tak lama tangannya mulai menggenggam punggung tangan sang adik, mengusapnya dengan lembut seolah tengah transfer energi agar Revalina bisa kuat tak menjatuhkan air matanya untuk yang kesekian kali.


"Mana ada begitu, semua Kakak pasti peduli sama adiknya tapi caranya beda-beda saja. Mungkin cara orang membiarkan itu tepat supaya adiknya bisa bangkit sendiri, dan ada juga yang seperti nggak bisa lihat adiknya rapuh sendiri, mungkin kalau di lihat mereka, cara ku lemah, nggak mendidik, tapi inilah caraku. Semua punya cara masing-masing," jelas Rafa tak menyalahkan salah satu pihak yang ada di dalam cerita Revalina.


"Gimana aku nggak makin sedih," rengek Revalina seketika menumpahkan air matanya, refleks ia pun memeluk Rafa dengan begitu erat.


Peluknya seperti orang yang akan pergi jauh dan tak akan kembali lagi, begitulah perumpamaan pelukan Revalina pada Rafa sekarang.


"Aduh-aduh kenapa jadi dramatis begini sih, kamu itu sudah seperti orang berangkat umroh tahu nggak," ledek Rafa sambil terkekeh mengusap kepala Revalina yang ada di pundaknya.


"Ihh, lagi sedih juga malah ngelawak," gerutu Revalina kesal langsung melepaskan pelukannya.


Sekejap Revalina langsung membenarkan posisi duduknya tak lagi-lagi memeluk Rafa, sudah cukup ledekannya menjatuhkan level sedihnya yang paling tinggi kini terperosok ke level yang paling terendah.


"Ya lagian kamu aneh, cuma pindah tempat tidur saja sudah drama begini. Sama persis kayak Umi, lah memang anaknya Umi ya," ledek Rafa kembali.


Selama dalam perjalanan mereka terus terlibat saling ledek hingga tiba di rumah Candini seketika wajah mereka jadi kaku dan tegang, mereka di dudukkan di ruang tamu tak lama ditinggal Candini ke dalam dulu.


"Reva, ini kita sampai kapan menunggu dia terus?" tanya Rafa berbisik lirih pada Revalina yang duduk disampingnya.


"Mana aku tahu Kak," jawab Revalina sedikit kesal.


"Ini kalau setengah jam lagi tetap begini, lebih baik aku pulang saja. Kau urus saja sendiri mertua killer mu itu," bisik Rafa kembali.


"Eh enak saja," gerutu Revalina mendelik, terkejut dengan ucapan Rafa.


"Kakak yang antar, ya Kakak juga yang harus selesaikan sampai tuntas," gertak Revalina menekankan kalimatnya dengan nada tegas.


"Iya-iya," sahut Rafa terpaksa.


Beberapa lama kemudian akhirnya Candini datang dengan wajah tak berdosanya, nampak berbeda dari yang tadi. Sekarang dia mengenakan riasan lengkap.


"Menunggu lama ya?" tanya Candini pada keduanya.


"Oh enggak Tan, sebentar kok," jawab Rafa sambil tersenyum lebar.


"Oh syukurlah, aku kira kalian menunggu lama. Aku takut kalian suntuk begitu," gumam Candini sambil membenarkan posisi bulu matanya.


'Nggak apanya orang dia saja dari tadi mengeluh mulu, memang dasar Kak Rafa benar-benar ya. Untung saja aku nggak ketawa tadi pas dia bilang enggak ke Mama,' gumam Revalina dalam hati.


Siang itu Candini memulai dengan perbincangan santai dengan Rafa, dan Rafa pun sebagai perwakilan keluarga dengan segala kerendahan hati menitipkan Revalina di sana. Candini pun mengangguk, menerima kehadiran Revalina karena memang dia sendiri yang menawarkan hal itu pada Revalina.


Di tengah pembicaraan tiba-tiba Sarah dan Dalsa datang secara bersamaan, saat itu juga Revalina bingung harus senang atau sedih melihat kehadiran mereka.


"Akhirnya Reva, aku senang kau ada di sini," ucap Sarah menebarkan senyum ke arah Revalina.


"Ih, Mama kenapa nggak ajak Dalsa bicara dulu mengenai hal ini," Dalsa merengek kesal.


"Ini yang terbaik buat Kakak mu," sahut Candini dengan tegas.


"Terbaik apanya sih Ma, justru adanya Revalina di sini bisa bikin Kak Rival celaka," ucap Dalsa berusaha meyakinkan Candini dengan anggapannya.


Tapi agaknya kali ini Candini tak terpengaruh dengan ucapan Dalsa, dia tetap memutuskan untuk Revalina tetap ada di sini. 


Saat itu Rafa yang menyaksikan sendiri bagaimana menyebalkannya sosok Dalsa mulai mengepalkan tangannya, Kakak mana yang rela adiknya mendapatkan perlakuan tak baik dari orang lain apalagi ipar menyebalkan seperti Dalsa.


Namun semua sudah sedikit membaik, Rafa memutuskan untuk cepat-cepat pulang. Sedangkan Revalina masih harus mengambil tas yang tertinggal di mobil.


"Kakak hati-hati ya di jalan," ucap Revalina sambil mencium punggung tangan Rafa.


"Pasti," sahut Rafa.


"Kau juga harus hati-hati ya, apapun yang terjadi sekecil apapun kasih tahu Kakak," ucap Rafa mengusap lembut kepala Revalina.


"Pasti," sahut Revalina meniru sahutan Rafa tadi.


Perlahan mobil Rafa mulai pergi menjauh dari pandangan matanya, tak terasa air mata mengucur ketika ditinggal pulang sang Kakak.


Terasa vibes kali ini seperti dulu ia diantar ospek sewaktu SMP rasanya mau menangis ditinggal, dan sekarang ia tengah di ospek oleh kejamnya hidup.

__ADS_1


"Reva," panggil Sarah dari belakang perlahan mengusap kedua lengan Revalina seraya menguatkannya.


"Sabar ya, mungkin di awal pasti berat pisah sama keluarga dalam keadaan begini. Tapi ketahuilah di depan sudah ada pelangi menanti mu, ayo berjuang sedikit lagi," bisik Sarah sambil tersenyum.


Mendengar bisikan Sarah membuat semangatnya seperti dicas kembali, ia pun segera menghapus seluruh air matanya menggantinya dengan senyum bahagia.


"Dalsa, Mama pergi dulu sebentar ada urusan," ucap Candini pamit pada putri bungsunya.


"Sarah, nanti jangan lupa tutup gerbang," ucap Candini para Sarah, menantu kesayangan katanya.


"Iya Ma," sahut Sarah sambil tersenyum.


Terlihat hanya Dalsa dan Sarah yang di sapa Candini padahal di sana ada Revalina, dari situ sudah terlihat jelas jika tawaran Candini tidak menjadi jaminan bahwa dia akan memaafkannya.


Setelah melihat Candini keluar dari pekarangan rumah, dengan cepat Sarah bergegas menuju ke pintu gerbang lalu segera menutupnya dengan rapat pagar besi itu.


"Aku lihat-lihat Kak Sarah di rumah ini banyak handle kerjaan rumah, beruntung Kak Yakub punya istri sebaik dan berbakti seperti dia coba kalau orang lain pasti nggak betah apalagi punya ipar seperti Dalsa," gumam Revalina lirih sambil memandangi langkah Sarah yang mulai mendekat ke arahnya.


"Ayuk kita masuk," ajak Sarah sambil mulai merangkul Revalina.


"Yuk," sahut Revalina perlahan mengerakkan tungkainya seirama dengan langkah Sarah.


Mereka pun masuk ke dalam rumah, saling merangkul satu sama lain sedang satu tangannya lagi sibuk mendorong koper berwarna silver itu.


Di dalam rumah Revalina mulai celingukan sebab merasa ada yang aneh dengan rumah besar itu begitu sepi tak seperti biasanya.


"Kak Yakub sudah berangkat kerja ya Kak?" tanya Revalina yang melihat rumah itu sepi seperti tak berpenghuni.


"Iya sudah, saat dia tahu kamu sudah dapat izin Mama buat tinggal di sini dia baru berani masuk kerja," jawab Sarah sambil tersenyum.


Sontak jawaban Sarah membuat Revalina tersentak, terkejut. Ia baru tahu jika selama ini Yakub tak berani meninggalkan Rival meski hanya untuk berkerja sekalipun, padahal mereka punya Dalsa yang tak punya kesibukan apapun sama seperti dirinya.


Hari itu setelah diizinkan tinggal di rumah Candini, Revalina segera membawa kopernya ke dalam kamar Rival.


"Mas, sudah sarapan belum?" tanya Revalina sambil menutup pintu kamar.


Rival mengangguk tanpa suara.


"Ya sudah kalau begitu, aku beres-beres kamar mu," ucap Revalina mulai meletakkan tas dan ponselnya ke atas meja tepat disebelah ranjang Rival. Ia mulai mengelap rak-rak yang berisi buku dan miniatur, lalu menata ulang satu persatu.


"Ting ting ting ting," dering ponsel.


Revalina tak menggubris, mengira itu adalah dering telfon milik Rival.


"Reva, tak dengar ada telfon?" tanya Rival dengan nada kesal.


Mendengar hal itu Revalina segera menoleh ke belakang dengan kedua tangan yang terlanjur kotor.


"Dari siapa Mas?" tanya Revalina.


"Huh," desah Rival mengeluh, namun netranya langsung melirik ke layar ponsel Revalina.


"Dari Umi," jawab Rival dengan nada kesal.


"Angkat saja Mas, aku mau ke kamar mandi dulu tangan ku kotor," ucap Revalina bergegas menuju ke kamar mandi meninggalkan Rival dan ponselnya di sana seolah tak ada beban, tak ada yang ia sembunyikan lagi dari siapapun itu.


Dengan berat hati Rival mengangkat telfon dari sang mertua, sebenarnya ia sangat malas sebab menurutnya dengan begini seolah menunjukkan pada Chesy bahwa mereka sedang baik-baik saja.


"Kalau bukan karena aku respect sama Umi, nggak mau aku kau suruh-suruh angkat telfon," gerutu Rival.


Rival mulai mengangkat telfon.


Rival: Hallo, assalamualaikum Umi.


Chesy: waalaikumsalam.


Chesy: ini Nak Rival ya?


Rival: iya Umi, maaf jadi Rival tadi Reva baru saja masuk ke kamar mandi. Takut penting jadi Rival yang angkat.


Chesy: oh nggak papa nak, Umi cuma mau tanya Reva sudah sampai rumah kamu belum soalnya belum kasih kabar dari tadi.


Rival: Alhamdulillah sudah Ma.


Chesy: syukurlah kalau begitu, Umi titip Reva ya nak. Kalau ada apa-apa hubungi Umi biar Umi marahi dia.


Rival: siap Umi.


Chesy: ya sudah kalau begitu. Assalamualaikum.


Rival: waalaikumsalam.


Chesy menutup telfonnya.


Seketika Rival langsung menatap layar ponsel Revalina yang tak memakai sandi apapun, sekejap netranya terpejam meratapi kebodohan sang istri.


"Bisa-bisanya ponsel nggak di kasih sandi, kalau begini orang mudah bajak ponsel dia," gerutu Rival kesal.


"Memang dasarnya anak ceroboh, Umi sendiri saja dia lupa nggak kasih kabar. Aku tebak pasti di rumah Umi sudah wanti-wanti minta Reva langsung kasih kabar ketika sudah sampai, tapi gimana orang ceroboh," gerutu Rival kembali.


Kini Rival mulai mengembalikan ponsel itu ke atas meja yang ada di sebelahnya, namun tak sengaja jarinya mengeklik salah satu aplikasi di ponsel itu. Tak penasaran dengan isinya Rival kembali meraih ponsel itu untuk mengeluarkan aplikasi yang tak sengaja dibukanya. Saat jari hendak menekan tombol back tiba-tiba ia ada salah satu file yang membuatnya salah fokus. Ia melihat folder dengan judul nama "kumpulan bukti kesadisan Dalsa."


Melihat judul folder itu seketika Rival teringat dengan ucapan Revalina di rumah sakit sakit waktu itu yang mengatakan jika dia melakukan semua ini karena ingin membalaskan dendam Rajani dan mengatakan jika dalang atas kematian Rajani adalah Dalsa. Saat itu Rival tak menggubrisnya segala alasan yang keluar dari mulut Revalina, ia hanya berfokus pada rasa sakit yang ia rasakan.


"Apa memang benar Dalsa yang melakukan itu, tapi kenapa Kak Yakub nggak membahas ini denganku bukannya dia sudah tahu beberapa bukti di ponsel Revalina waktu itu," ucap Dimitri bertanya-tanya.


Penasaran dengan isi folder itu, dengan cepat ia mulai membukanya. Nampak ada banyak foto dan beberapa video berderet dalam isi folder itu.


Satu persatu mulai dibukanya, ia mendadak tegang melihat bukti foto-foto dan gong nya ada di video yang berlokasi di hotel tempat ia dan Revalina melangsungkan pernikahan.


Rival terngaga, terbelalak matanya sampai rasanya mau keluar melihat dan mendengar Dalsa mengatakan sendiri jika dia lah yang menyuruh 3 orang pelaku itu dan tak lama membahas tato yang ada di punggungnya.


"Hah, tato. Tato apa aku nggak ada tato perasaan," ucap Rival kebingungan dengan perbincangan Dalsa dengan seseorang lewat telfon itu.


Tak terasa tiba-tiba Revalina sudah ada disampingnya, melangkah pelan lalu berakhir duduk di atas ranjang bersamanya.


"Kamu baru tahu Mas?" tanya Revalina lirih lemas.

__ADS_1


Rival mengangguk, menatap Revalina dengan tatapan bersalah. Ia baru sadar acuhnya selama ini telah membuat hancur perasaan istrinya yang sesungguhnya hanya ingin memperjuangkan keadilan untuk saudara kembarnya.


"Kenapa kamu nggak bilang ke aku?" tanya Rival menatap sedih melihat kedua mata Revalina yang mulai berkaca-kaca.


"Aku sudah katakan sewaktu di rumah sakit tepat ketika kamu sudah dipindahkan ke kamar rawat inap, aku sudah katakan semuanya Mas," jawab Revalina dengan jelas.


"Aku lagi kalut saat itu, yang aku tanyakan kenapa kamu nggak coba bicara lagi dengan ku?" tanya Rival kembali memperjelas pertanyaan awal.


"Takut, takut kamu semakin jauh dan aku kira kau terlalu sayang sama Dalsa," jawab Revalina menunduk sedih.


Melihat Revalina seperti ini rasanya hati ikut hancur, ia mampu membayangkan bagaimana ada diposisi Revalina saat ini.


Tanpa banyak bicara Rival dengan sisa-sisa kekuatan yang ada mulai menyeret tubuhnya untuk mendekat ke arah Revalina, seketika langsung mendekapnya tanpa kata.


"Bahkan aku nggak berani bahas Dalsa di hadapan kamu Mas, aku takut. Aku lebih takut kehilanganmu dari pada harus kembali berperang kembali sama senjata dendam ku," ucap Revalina dalam dekapan Rival.


"Maafkan aku, selama ini aku sudah acuh. Wajar kalau kamu takut bahas hal ini, memang ini kesalahanku, aku salah menempatkan posisi kekesalan ku kemari dan aku sudah salah lebih tepatnya gagal mendidik adik ku sendiri. Maafkan aku Reva," ucap Rival lirih sedih.


"Aku juga minta maaf Mas, karena kebodohan ku kau jadikan seperti ini. Kau lumpuh gara-gara aku," sahut Revalina sambil terus terisak tangis.


Pagi itu untuk pertama kalinya mereka berpelukan, menangis bersama dan saling meminta maaf satu sama lain dan mulai membangun kembali kepercayaan antara satu sama lain.


Malam harinya setelah makan malam Rival tetap memilih duduk di kursi rodanya, menunggu kepulangan Dalsa dan Candini yang sudah ia nantikan sejak pagi.


"Mas, istirahat yuk," ajak Revalina mengusap lembut bahu Rival.


"Kau saja duluan, nanti aku menyusul," sahut Rival dengan nada ketus.


Klekk.


Tiba-tiba pintu rumah terbuka, terlihat orang yang ditunggu-tunggu telah datang. Dalsa pulang dengan membawa 4 paper bag sekaligus menunjukkan jelas bahwa seharian dia dan Candini pergi shopping.


"Mana Mama?" tanya Rival bertanya pada Dalsa dengan nada tinggi.


"Masih di warung depan beli camilan, lupa kalau camilan di kulkas habis jadi beli di warung," jawab Dalsa dengan wajah tak berdosa.


Sedangkan tangan Rival mulai mengepal menahan kegeramannya, dalam hati ia ingin tak banyak bicara langsung menempeleng wajah Dalsa namun sekejap ia tersadarkan dengan status Dalsa adalah adik kandungnya, akan sangat tidak lucu jika ada berita beredar dengan timeline "seorang Kakak tega menganiaya adik kandungnya."


"Tadi katamu mau taruh lamaran pekerjaan, kenapa jadi belanja ria?" tanya Rival masih dengan nada ketusnya.


"Ya habis taruh lamaran baru belanja, refreshing Kak biar nggak stres," jawab Dalsa dengan santainya.


Rival mulai menggeleng-gelengkan kepalanya, rasa geramnya sudah berada di titik puncak tak tahan rasanya menahan kepalan kedua tangan ini secara terus menerus.


"Kamu cuma taruh lamaran pekerjaan saja mengeluh stres, tapi apa pernah kamu stres memikirkan orang yang sudah kamu bunuh?" hardik Rival dengan sorot mata tajam menghunus kedua netra Dalsa.


Seketika kening Dalsa mengerut tajam, menatap Rival dengan tatapan yang seolah menganggap Rival orang aneh.


"Kak, kau ini kenapa. Aku cuma shopping tapi amarah mu berlebihan sekali, biasanya juga nggak begini," gerutu Dalsa sedikit kesal.


"Masih bertanya kau ya, kau pikir aku nggak tahu otak kriminal mu," gerutu balik Rival.


Brummmm.


Terdengar suara mobil Candini mulai memasuki pekarangan rumah, refleks Dalsa melirik mobil Candini dari jendela rumah.


"Nggak habis pikir aku sekarang, kenapa kau bia setega itu bunuh orang. Adik yang selama ini aku rawat, aku ajari baik-baik soal keimanan dan etika tiba-tiba beranjak dewasa dengan otak kriminalitas," geram Rival mulai menunjukkan taringnya.


Revalina yang berdiri tepat dibelakang kursi roda Rival hanya bisa terdiam melihat seorang Kakak beradik tengah berdebat hebat membahas masalah kembarannya. Sejak tadi hatinya ketar-ketir ia takut dengan segala hal yang terjadi mengingat Candini gencar membela Dalsa, akan tetapi di satu sisi ia juga senang melihat sang suami membelanya seperti ini.


"Ada apa ini?" tanya Candini dengan nafas terengah-engah seperti orang yang baru saja berlari.


Sangking paniknya Candini sampai lupa mengucapkan salam, seketika tatapannya membidik Rival dan Revalina.


"Mama," rengek Dalsa cepat-cepat bersembunyi di belakang Candini.


"Mama masih tanya kenapa, anak Mama ini sudah bunuh orang Ma. Dia sudah bunuh saudara kembar Reva," Rival mulai mengadu pada Candini.


Saat itu tiba-tiba degup jantung Revalina makin tak karuan, ia sangat takut melihat ekspresi wajah Candini yang sudah terbayang apa reaksinya ketika anak bungsunya dituduh seperti itu.


"Jangan bilang Mama sudah tahu semua, sudah tahu buktinya tapi membiarkan Dalsa tetap di sini," ucap Rival dengan kedua matanya yang mulai memerah padam, dadanya kian membusung menampung segala amarah di dalam dada.


"Terus maksud mu apa Rival, kau mau Dalsa kemana?" tanya Candini mulai meninggikan nada bicaranya, tahu akan kemana arah pembicaraan Rival.


"Ke kantor polisi lah Ma, dia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya," jawab Rival dengan jelas.


Seketika netra Candini berpindah ke arah Revalina, menatapnya dengan tatapan setajam silet diiringi deru nafasnya yang terdengar menakutkan.


"Belum ada sehari wanita ini tinggal di sini sudah mempengaruhi mu Rival?" tanya Candini dengan amarah membara.


Revalina langsung menunduk sedih, lagi-lagi ia kembali disudutkan oleh mertuanya sendiri. Melihat kemarahan Candini ketika putri bungsunya diusik tak membuat Revalina terkejut ia sudah hafal sejak awal tahu, berbeda dengan Rival yang kali pertama melihat Candini membela Dalsa mati-matian.


"Ini bukan salah Reva, dia sama sekali nggak bahas hal ini ke aku Ma. Justru aku yang lancang membuka-buka ponsel Reva, aku menemukan bukti-bukti kelakuan bejat Dalsa," tegas Rival dengan bibir bergetar.


Melihat Rival seperti ini Revalina jadi semakin takut akan kondisi kesehatannya, nampak gemetar pada bibirnya seperti isyarat yang menandakan bahwa emosinya sudah berada di puncak ubun-ubun.


"Mas, sudah," pinta Revalina, bukan apa-apa ia takut kondisi kesehatan Rival kembali menurun.


"Lihat," tunjuk Rival ke arah Revalina dengan tatapan menusuk ke arah Candini.


"Lihat Ma, dia sejak tadi meminta aku berhenti bicara. Kalau bukan karena Reva sudah ku gampar anak kesayangan Mama itu," ucap Rival menggigit geram dua sisi giginya.


"Jangan macam-macam kamu ya, jaga bicara mu dia ini adik mu adik kandung mu," bentak Candini tak suka dengan ucapan Rival kali ini.


"Hiks hiks hiks," isak tangis Dalsa sambil menyandarkan keningnya di bahu Candini.


Netra Candini lagi-lagi kembali beralih menatap Revalina, membuat Revalina semakin terpojok namun bedanya ia sekarang punya Rival yang siap membelanya.


"Selama ini anak-anak Mama selalu akur tak pernah bertengkar apalagi saling mengancam seperti tadi, semua ini terjadi setelah ada wanita ini," ucap Candini lirih menunjuk wajah Revalina, kalimatnya terdengar lirih namun terasa menusuk dalam ke hati.


"Gimana cara berpikir Mama, jelas-jelas sebelum aku menikah bahkan sebelum aku kenal sama Reva, Dalsa sudah lebih dulu bantai Rajani," jelas Rival dengan nada bicara yang menekan, menekan Candini untuk bisa sepemikiran dengannya minimal paham apa yang ia maksud.


"Sekarang gini, pikir saja pakai logika. Mana ada asap kalau nggak ada api, jelas Mama yakin seribu persen kalau apa yang Dalsa lakukan itu penyebabnya ya Rajani sendiri," ucap Candini mulai menyalah-nyalahkan Rajani.


Kedua kalinya Revalina mendengar Rajani kembali di sebut oleh Candini dengan memposisikan almarhum sebagai orang yang bersalah dalam kasus ini, seketika darahnya mendidih tak terima saudara kembarnya di salahkan. Kali ini ia tak akan tinggal diam siapapun orangnya akan ia lawan secara brutal.


"Bicaralah Reva, aku tahu kau sudah tak tahan. Bicara lah aku ada di samping mu," bisik Rival sedikit melirik ke belakang.

__ADS_1


Mendengar bisikan dukungan dari Rival seolah menambah bahan bakar yang ia punya untuk mengobarkan seluruh amarah dalam diri.


__ADS_2